Perjalanan Terakhir (13)

Wesiati Setyaningsih

 

“Menurut Yang Kung, semua itu akan berhasil?” tanyaku sambil menatap Yang Kung.

Yang Kung mengangkat bahu.

“Entahlah,” katanya, “yang penting kamu sudah usaha. Masalah hasilnya kita serahkan pada Tuhan saja.”

Aku tersenyum. “Baiklah,” kataku.

“Sekarang semua urusanmu benar-benar sudah selesai,” kata Yang Kung.

“Dan itu berarti aku harus pergi sekarang?”

Yang Kung menggeleng.

“Kamu masih punya waktu sampai 40 hari. Sudah berkurang sehari, berarti masih ada 39 hari. Nikmati saja. Enggak usah buru-buru. Kecuali memang kamu sudah ingin pergi.”

“Baguslah. Berarti aku masih punya waktu. Gara-gara melihat Bu Nina dan suaminya tadi, aku jadi merasa kalo masih ada urusan yang harus aku selesaikan, tapi kurasa enggak sampai butuh 39 hari untuk menyelesaikannya.”

“Urusan apa?”

“Aku..” jawabku ragu,”rasanya aku belum sempat bilang sama orang-orang yang selama ini sayang sama aku.”

“Bilang apa?”

“Kalo aku sayang sama mereka,” kataku malu-malu. “Sama Ibu aja aku kayanya belum pernah benar-benar bilang kalo aku sayang sama Ibu. Kalo cuma memeluk dan mencium, aku sering. Tapi benar-benar mengatakannya sama Ibu, ‘Bu, aku sayang sama Ibu’ gitu, aku belum pernah.”

Senyum lebar penuh dengan kelegaan tampak di wajah Yang Kung.

“Dan sekarang kamu ingin mengucapkannya pada semua orang? Bagus lah. Sekarang nggak perlu ada malu lagi, kan?”

“Aku enggak biasa mengucapkan kata sayang. Jadi dulu aku malu. Tapi sekarang tidak. Cuma mungkin kalo pada semua orang, tidak akan sempat. Aku akan mulai dari orang-orang terdekatku dulu. Seperti Ibu dan Bapak, juga teman-temanku yang dekat dengan aku. Yang lain nanti kita pikirkan caranya.”

“Bagus. Sekarang maumu gimana?”

“Tadi waktu aku menemui Bu Nina dalam tidurnya, aku terpikir untuk melakukan hal yang sama pada Ibu, juga teman-temanku. Setidaknya aku bisa menyampaikan pesan terakhirku untuk mereka sebelum aku pergi lewat mimpi. Iya, kan?”

“Bagus,” kata Yang Kung senang.

“Rencanaku nanti malam aku akan mengundang roh Ibu dan Bapak, berdua sekaligus. Aku mau nyoba.”

“Selalu bisa. Apapun yang kamu inginkan pasti bisa, asal kamu yakin.”

Aku mengangguk mantap.

“Jadi nanti malam aku akan menemui Ibu dan Bapak. Lalu aku akan menemui teman-teman. Habis itu kita bisa pergi.”

“Rencanamu bagus sekali. Kalo memang urusanmu selesai sebelum 40 hari, memang tidak perlu menunggu sampai selama itu. Asal kamu sudah ingin pergi, kamu tinggal pergi saja. Masa 40 hari itu batas waktu untuk mereka yang masih ingin tinggal dan belum siap pergi.”

“Siap!”

***

Ibu sedang sibuk memasak ketika aku datang.

“Sibuk apa bu?” sapaku dari belakang.

“Ini menyiapkan masakan buat nanti malam Dalam rangka tujuh hari..” kalimatnya tak selesai.

Ibu menatapku kaget sekaligus senang dan terharu.

“Robi,” katanya sambil memegang kedua lenganku.

“Ini benar-benar kamu?” matanya sangat tak percaya.

Aku tersenyum.

“Ada apa?” tiba-tiba Bapak muncul dari belakang.

Aku membalik menatap Bapak. Bapak melihat aku di situ dan mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

“Kamu kan..”

Aku tersenyum pada Bapak yang melongo menatapku. Kini Bapak dan Ibu ada di samping kanang dan kiriku.

“Aku di sini, mau bilang sama Ibu,” aku menoleh pada Ibu, kutatap matanya dalam-dalam-dalam.

Ibu balas menatapku dengan pandangan penuh tanya.

“Aku sayang sama Ibu.”

Begitu selesai mengatakannya kulihat mata Ibu berkaca-kaca. Aku segera berpaling ke arah Bapak.

“Aku juga sayang sama Bapak. Maaf dulu aku sudah marah-marah sama Bapak.”

Bapak tertegun seperti orang yang lidahnya menempel di langit-langit.

“Robi..” aku mulai mendengar Ibu menangis.

“Iya, Bu. Aku pernah marah dalam hati sama Bapak. Karena Bapak jarang sekali ada bersama kita. Tapi sekarang, aku tidak marah lagi. Aku tidak mau pergi membawa kemarahan. Semua sudah selesai.

“Ibu, Robi juga sayang sekali sama kamu. Jangan pergi..” isak Ibu.

Kupegang tangan Ibu namun Ibu menarikku dalam pelukannya. Kami jadi berpelukan lama sekali. Kurasakan hangat cintanya yang selalu besar untukku. Tanpa Ibu katakan pun aku sudah tahu Ibu sangat sayang padaku. Pelukan ini memberitahu aku semuanya.

Cukup lama Ibu terisak dalam pelukanku hingga kemudian melepaskannya.

“Bu, aku memang harus pergi. Tolong relakan aku.”

Tangis Ibu makin deras. Aku menoleh ke arah Bapak.

“Pak, tolong jaga Ibu. Aku sayang sama Ibu. Aku juga sayang sama Bapak. Bapak dan Ibu bisa bergantung satu sama lain kalo aku sudah pergi nanti.”

Bapak masih tak bisa berkata-kata tapi matanya mulai basah. Aku tidak akan tega melihat hal seperti ini kalau aku masih di dunia jasad. Di sini, aku mampu menyaksikan semuanya. Entah kenapa meski rasanya dadaku penuh, aku bisa mengalami ini semua tanpa ikut menangis. Aku memang sedikit sedih, tapi semua tetap terasa ringan.

Kupeluk Bapak untuk terakhir kali. Entah kekuatan dari mana aku bisa memeluknya.

“Maafkan Bapak Robi,” akhirnya muncul kalimat itu.

Kulepaskan pelukanku,

“Sudah, pak. Nggak pa-pa kok. Semua sudah selesai.”

Aku tersenyum lega. Sepertinya sudah saatnya berpamitan. Aku menoleh Ibu. Kulihat senyumnya sudah mengembang. Air matnya tak ada lagi bahkan wajahnya segar tidak seperti orang yang habis menangis. Lega aku melihatnya.

“Aku pergi dulu.”

Kucium tangan Ibu dan kucium kedua pipinya yang hangat. Kulihat senyumnya melebar.

“Hati-hati di jalan.”

Aku mengangguk. Kucium juga tangan Bapak, lantas kupeluk dia.

“Selamat jalan Robi,” pesannya.

Aku mengangguk dan menatap mereka berdua untuk terakhir kali. Lalu tiba-tiba aku tersedot ke tempat lain. Aku seperti ada di rumah yang besar bagai istana. Atau setidaknya begitu menurutku yang belum pernah melihat rumah sebesar ini.

Ruang tamu yang luas dengan kursi tamu yang mewah. Tiang-tiang besar seperti menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Lebih masuk lagi ada ruang tengah yang dilengkapi dengan tv set mewah, di sebelahnya ruang makan dan dapur bersih.

Aku melihat di ruang makan ada Very sedang duduk di situ menikmati makannya. Di depannya ada Mama dan Papanya juga sedang makan. Mereka bertiga ngobrol dengan asyik seperti dalam film-film Amerika, bukan seperti sinetron Indonesia yang meski di meja makan tetap saja cemberut dan penuh amarah satu sama lain.

Tidak ada sama sekali wajah murung dan terluka, atau wajah kaku penuh rasa kesal. mereka tersenyum gembira. Tiba-tiba Very menoleh ke arahku seperti tersadar aku ada di situ.

“Robi!” dia bangkit dari tempat duduknya dengan sangat gembira.

“Duduk Rob, kita makan,” ajaknya.

Aku menggeleng.

“Aku cuma ingin pamitan, aku mau pergi jauh.”

“Nah, kan mau pergi jauh, makan dulu. Biar nggak lapar di jalan nanti,” dia mendesak.

Aku tetap menggeleng. Mama dan Papa Very ikut bangkit.

“Kamu mau ke mana, Robi?” tanya Mama Very.

“Pergi jauh, Tante. Saya titip Very ya Tante. Kalo saya pergi nanti, pasti Very kehilangan teman curhat. Tolong Tante gantiin saya jadi teman curhat dia, ya?”

Mama Very mengangguk mantap, “Pasti.”

“Tenang aja Rob,” Papa Very menepuk pundakku, “Kami sayang sama anak kami sendiri, kok. Mumpung kami masih diberi waktu untuk bersama. Kami belajar dari kamu, yang….”

Papa Very tidak menyelesaikan kalimatnya dan tiba-tiba wajahnya tampak bingung. Aku menatap Very dalam-dalam.

“Very, aku sayang sama kamu.”

Dalam kehidupan di alam fana, tak mungkin aku mengatakan seperti ini sama Very karena pasti aku segera mencurigai diriku sendiri seorang homo. Aku malu kalau dianggap homo karena orang-orang selalu memandang negatif cinta sesama jenis.

titik akhir

Di alam ini aku tak merasa seperti itu lagi. Aku toh tidak akan bertemu siapa-siapa lagi jadi aku tak perlu peduli pada apa yang akan di katakan orang. Very pun menyambut pelukanku seperti seorang sahabat yang akan ditinggalkan. Kami berpelukan erat karena sama-sama tahu kami akan berpisah. Setelah puas berpelukan, kami melepaskan pelukan dan memberikan senyum untuk terakhir kali. Berikutnya dengan lega aku segera meninggalkan tempat itu.

Sekejap kemudian aku sudah ada di sebuah taman. Monik dan Sandy sedang duduk di bangku taman berdua. Mereka terkejut melihat aku tiba-tiba duduk di hadapan mereka.

“Robi?” Monik terperangah.

“Mon, aku pamit ya? Aku mau pergi. Aku cuma mau bilang kalo aku tuh sayaang banget sama kamu.”

Dengan mulut masih ternganga Monik bangkit berdiri.

“Kamu sayang sama aku? Kenapa enggak bilang dari dulu?”

“Karena aku nggak berani.”

“Kenapa?”

Aku menggeleng.

“Terlalu banyak alasan yang kubuat-buat kalo kamu tanya kenapa. Yang jelas aku cuma pengecut yang tak berani memperjuangkan keinginanku sendiri. Dan kamu jangan sampai seperti itu, ya? Perjuangkan apapun keinginanmu.”

Monik diam tak mengatakan apa-apa. Aku tahu benaknya penuh dengan kata-kata tapi dia tak tahu harus mengatakan apa.

“Kaya aku, ya?”

Sandy ikut berdiri di samping Monik dengan wajah tersenyum tengil. Dia memang selalu begitu. Diam-diam aku suka pada Sandy yang tidak mudah tersulut emosi dan bahkan dengan mudah membalikkan situasi yang tidak enak menjadi nyaman dengan gurauannya. Aku makin rela meninggalkan Monik karena sudah ada Sandy yang akan selalu membuatnya bahagia.

“San, titip Monik, ya?”

Sandy mengangguk mantap dengan senyum lebar dan menonjok pelan dadaku dengan kepalannya.

“Pasti, bro!”

“Hai! Pada ngapain, di situ?” terdengar teriakan ceria Lala ditingkah tawa Niko.

Kami bertiga berpaling dan melihat Lala dan Niko sedang berlari-lari membawa tas plastik hitam.

“Kita bawa batagor, nih. Tapi cuma empat. Nggak tau kalo Robi bakal ke sini, sih,” kata Lala terengah-engah sambil menatapku dengan wajah meminta maaf.

“Santai aja, La. Aku mau pergi, kok. Aku cuma mau pamitan.”

“Hah? Mau ke mana?” Niko yang bertanya.

Aku tak menjawab. Dia pasti sudah tahu, tapi dia seperti lupa apa yang telah terjadi padaku hanya karena dia melihatku baik-baik saja di sini.

“Aku cuma mau pamitan sama kalian semua. Sebelum aku pergi, aku mau bilang kalo aku sayang sama kalian semua.”

Mereka diam dengan wajah heran dan tak percaya.

“Satu pesanku untuk kalian,” lanjutku, “Jangan pernah ragu memperjuangkan mimpi kalian, keinginan kalian, semustahil apapun keinginan itu tampaknya.”

“Maksudnya?” Lala bingung.

Aku tersenyum, tapi aku merasa tak perlu menjawab lagi. Dengan segera aku pergi meninggalkan mereka untuk mencari Yang Kung.

“Gimana?” tanya Yang Kung ketika aku menemukannya.

“Sudah,” kataku dengan puas. “Kurasa sudah semua. Aku sudah lega.”

“Bagus.”

“Semoga setelah ini, mereka bangun dengan perasaan lega dan bahagia. Setidaknya mereka sudah mendengar bahwa aku menyayangi mereka.”

Yang Kung ikut lega.

“Aku senang mendengarnya, Robi. Aku harap perjalananmu nanti menyenangkan.”

“Tapi, Yang..”

“Apa?”

“Adakah cara untuk mendoakan mereka semua sekaligus?”

“Mendoakan siapa?”

“Semua orang. Bapak, Ibu, teman-temanku yang pernah menjadi teman baikku, teman-teman yang pernah satu sekolah tapi tak pernah menyapaku, orang-orang yang pernah bertemu aku seperti ibu kantin, mas yang bersihin kamar mandi sekolah, penjual mie ayam langgananku, tetangga-tetangga sekitar rumah, dan…siapa lagi ya? Pokoknya semuanya.”

“Oh, begitu. Mudah saja. Kamu ingin bertemu mereka dalam mimpi lagi?”

Aku menggeleng.

“Mungkin tidak perlu bertemu dalam mimpi lagi. Tapi aku ingin mendoakan mereka agar mereka semua bahagia. Cuma gitu aja.”

“Gini aja. Mari kita berdoa bersama. Kita berdoa dengan yakin, berdoa agar mereka semua bahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan.”

Aku tersenyum senang.

“Idenya bagus sekali. Mari kita berdoa.”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Perjalanan Terakhir (13)"

  1. Lani  21 February, 2014 at 00:43

    Aku berdoa…………dan mendoakan semoga sukses lomba debatnya…….tp debat ttg opo disik? bukan debat sipat kucing to kkkkkkk…………..

  2. Alvina VB  20 February, 2014 at 21:44

    Lanjoetkan ceritanya…dan selamat mendampingi murid2nya dlm lomba debat, semoga sukses….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.