Theist Tidak Lebih Baik dari Atheist

Marhento Wintolo

 

Theist atau atheist sama-sama tidak beres. Keduanya tidak menjawab permasalahan kejiwaan. Dua-duanya menciptakan manusia pemuja diri sendiri. Alias pemuja berhala diri.

Mengapa saya bilang demikian? Mari kita amati.Saat seorang atheist berkata: “Aku atheist!”….”Aku theist!”…..Perhatikan kata pertama: ‘aku’……keduanya masih berpijak pada aku. Artinya keduanya masih berpijak pada lapisan kesadaran EGO.

Atheism-vs-Theism

Bentuk lapisan kesadaran paling luar. Badan. Lapisan kesadaran ini masih mengutamakan kekuasaan di dunia. Berbicara tentang kuasa dunia dapat dipastikan menyentuh keadaan bahwa ‘Aku lebih baik dari kamu’. Dengan kata lain, baik yang menganut faham theist ataupun atheist pasti menganggap yang dianutnya adalah yang paling baik. Keduanya masih belum mampu menjalani kehidupan berselaras dengan alam.

Apa yang dimaksud hidup berselaras dengan alam? Melakoni kehidupan selaras dengan alam berarti melakoni kehidupan sesuai kebutuhan. Bukan hidup berdasarkan keinginan. Hidup berdasarkan kebutuhan tidak akan mengganggu lingkungan. Yang membuat kerusakan lingkungan adalah keinginan yang berlebihan. Merasa diri paling hebat dan lebih dari orang lain adalah ciri sifat hidup yang tidak selaras dengan alam. Seperti juga yang mengaku diri sebagai theist sejati sering melakukan pelecehan terhadap mereka yang atheist.

Demikian juga sebaliknya. Keduanya merasa lebih baik dan lebih suci. Merasa diri lebih dari yang lain bukanlah sifat ilahiah. Ini masih merambah di ranah hewaniah. Sifat ilahiah adalah sifat alam yang senantiasa melayani dan berbagi.Jika benar-benar ia manusia Tuhan atau hamba Allah, tidak ada lagi sifat pengagungan ego pada segala perbuatannya.

Bukankah dalam kitab-kitab suci sudah jelas disampaikan bahwa: “Barang siapa meninggikan diri di dunia, maka ia akan direndahkan derajatnya di hadapan Tuhan.” Sayangnya kebanyakan manusia lupa pesan suci dari para nabi. Demikian juga yang merasa dirinya atheist kemudian demikian pongah dan merasa diri bebas. Ia tidak faham makna kebebasan diri.

Atheist-reasoning-vs.-theist-reasoning

Lucunya dengan memproklamirkan diri sebagai atheist ia bisa bebas dari kehidupan beragama. Ia lupa bahwa tidak ada manusia bebas. Ia lupa bahwa selama hidup di dunia, ia masih terikat hukum dunia bahkan alam semesta. Hukum sebab-akibat adalah hukum yang sedikit orang bisa melampaui. Tiada seorangpun bisa bebas selama masih pada kesadaran badan. Tingkat kesadaran paling rendah…. Apa yang dibanggakan? Atheist dan theist sama adanya. Masih berpijak pada EGO….

 

35 Comments to "Theist Tidak Lebih Baik dari Atheist"

  1. Our Daily Bread  22 May, 2014 at 05:47

    Berbahagialah orang yang percaya,tetapi tidak melihat ..!!!

  2. Zelot  17 May, 2014 at 00:27

    Jadi ngeri bacanya . . .
    Awal . . . kelahiran dan akhir . . . kematian
    Siapa yang memberi Hak , terus Kewajiban melu sopo

  3. anoew  3 May, 2014 at 20:49

    Cuma 1 “kitab” yang bener..

  4. anoew  3 May, 2014 at 20:35

    Sepakat.

    Ketidakpercayaan adalah sebuah keyakinan itu sendiri. Apapun yang Anda percayai, itulah keyakin Anda. Anda tak percaya adanya tuhan? Nah, itulah keyakinan. Dan, keyakinan seseorang itu wajib dihormati selama itu tidak mengganggu orang lain. Itu poinnya. Bedakan dengan yang mengaku theis namun, berperilaku seolah atheis. Tepatnya, mengaku bertuhan tapi kelakuannya tak bertuhan.

    Sedangkan agama adalah sebuah keyakinan terhadap sesuatu berdasarkan aturan-aturan (yang dibuat manusia). Di sana ada keseragaman, keteraturan, peraturan bahkan hukaman vs imbalan. Dan seseorang, berperilaku baik / buruk bukanlah berdasarkan ia beragama apa atau ia bertuhan atau tidak. Namun, semua itu berdasarkan hati nurani, moral dan budi pekerti.

    *Itsmi, jangan kau gebuk aku ya*

  5. Dewi Aichi  22 February, 2014 at 21:19

    Wah…Itsmi ngga mudheng(ngga ngerti maksud saya nih), Itsmi…lah…komentar belakangan itu ngga sportif? Maksudnya? Saya ya mengomentari saja komentarmu, ya jelas saya komentarnya belakangan setelah membaca komentarmu …gimana sih?

    Terus…yang menyatakan tulisan itu layak atau tidak kan dirimu, bukan akuuuuuuu….hehhhh…..pengen jitak kepala Itsmi pake palu nih….gregetan karena ngga mudheng.

    Bukankah Itsmi yang mengatakan tulisan Pak Marhento tidak layak muat, itu karena Itsmi tidak sependapat, terus misalnya aku juga baca tulisan Itsmi dan aku tidak sependapat, aku TIDAK akan mengatakan tulisan Itsmi tidak layak, tidak akan pernah mengatakan seperti itu, karena setiap orang punya gagasannya sendiri, idenya sendiri.

    Komentar komentarku lebih ke SIKAP Itsmi, bukan soal agama dan kepercayaan, soal kamu kritik kritik sana sini itu terserah, aku juga ngga menentang, hanya saja tidak setuju bahwa MENGHUJAT AGAMA= kritis.

    Post dulu biar ngga ilang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.