Istri Kedua

Ida Cholisa

 

Sahabatku Aisyah tak biasanya menyambangi rumah kecilku pagi ini. Jarum jam baru saja bergerak ke angka sembilan. Pagi masih berselimut dingin sisa hujan semalam.

“Idaaaa……” suaranya terdengar sangat riang seiring deru mesin mobl yang maraung perlahan kemudian mati.

Aku berjalan cepat memburunya. Ia terlihat sangat gembira. Wajahnya merah merona, lebih cantik dari yang biasa aku lihat.

“Masuk,” aku menyalami tangannya, merangkulnya seperti biasa.

“Tumben pagi-pagi ke sini, pasti ada kabar gembira, ya?” aku sedikit menggoda.

“Begitulah,” ia tersenyum kecil sembari mneyeruput teh panas yang aku hidangkan.

“Kau tak berubah, Ida. Teh buatanmu selalu mantap. Ini teh dari kampung, ya?”

“Iya, dua hari lalu saudaraku datang dari Pemalang. Bawa kacang dongkal, kamir dan satu pak teh tubruk. Yang namanya oleh-oleh dari kampung itu beda ya, selalu lebih mantap.”

Sahabat karib masa SMP itu, Dewi Aisyah, menjungkirbalikkan anggapanku tentang seorang gadis desa yang cantik, pintar,  jujur dan lugu. Waktu mengubah segalanya. Tiga tahun duduk di kelas yang sama, bangku yang sama, temtu mendekatkan diriku secara fisik dan emosional dengannya. Jalan hidup kami saja yang berbeda, sesudahnya,  mengantarkan kami pada kehidupan yang berbeda pula.

 

Hingga delapan bulan yang lalu kami tak sengaja bertemu di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan. Seseorang menepuk pundakku saat MC memanggil namaku untuk maju ke depan. Keberhasilanku mengelola bisnis multilevel marketing membawaku pada posisi manager.

“Ida? Kamu Ida kan?”

Aku berhenti beberapa jenak. Samar bayang wajah gadis manis SMP berkelebat di depan mata.

“Aisyah? Dewi Aisyah?”

Ia tertawa. Kami berangkulan. Tak pernah kami sangka bahwa puluhan tahun perpisahan  akan berujung pada pertemuan.

***

Sudah lama kamu menekuni usaha itu, Da?”

Aisyah mendatangi rumahku pasca pertemuan di hotel itu. Ia datang dengan Brio putihnya yang  mengkilat.

“Yah…. iseng aja, Aisyah. Daripada bete.”

“Kesibukanmu segudang, Ida. Nggak capek?’

Aku tersenyum.

“Aku selalu menikmati pilihanku, Aisyah.”

Ia diam, menatapku dengan pandangan rasa heran.

“Aku senang me;lihat kehidupanmu, Ida. Suamimu sangat baik, anak-anakmu gagah dan cantik. Aku iri, Ida.”

Aku tertawa.

“Aisyah, seni menikmati hidup adalah sabar dan syukur. Aku justru iri melihat kamu. Semua serba ada. Apa yang kurang dalam hidupmu, Asiyah?”

Ia hanya tersenyum. Senyum yang kecut.

***

Semua tentang Aisyah terpampang jelas di mataku kini. Ia bukanlah sahabat masa SMP yang berhasil meraih kehidupan dengan sangat baik. Ia hanya seorang gundik, istri simpanan yang tidak dinikah secara resmi. Bosnya di perusahaan tempatnya bekerja memfasilitasinya dengan banyak kemewahan.

“Ia menikahiku secara diam-diam, Ida. Ia memberi semuanya tanpa aku minta. Tapi hatiku gersang, Ida.”

“Oh. ya?”

“Hatiku gersang oleh cinta. Suamiku hanya membutuhkan ragaku, tapi ia mengabaikan hatiku. Bahkan kejinya, ia tak mengijinkan aku hamil.”

Aku terperangah. Terbayang di mataku, sahabatku hanya menjadi sapi perah. Menjadi pemuas birahi belaka.

“Aku ingin cerai, Ida. Tapi aku tak memiliki selembar surat nikah pun. Kalau pun aku bercerai, bagaimana aku menghidupi diriku, Ida? Aku tak memiliki ketrampilan apa pun.”

Aku menelan ludah. Kisah sahabatku membuatku miris dan iba. Sangat disayangkan untuk seorang Aisyah yang cantik dan pintar terbelenggu oleh ketidakmampuannya untuk survive menjalani hidup. Dahulu, kecerdasannya hanya melulu soal pelajaran sekolah. Teori belaka. Aisyah tak pernah dipersiapkan untuk cerdas menghadapi pahit getirnya kehidupan. Bahkan saat bekerja pun ia tak mampu berprestasi dengan baik. Kecantikannya membawanya pada posisi naik, menjadi istri sang Bos. Meski hanya menjadi istri kedua. Bahkan istri simpanan.

Aisyah tak memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk sekadar bertahan hidup dari jerih payah tenaga sendiri. Ketidakmandiriannya secara finansial memaksa dirinya untuk pasrah dalam pernikahan yang tidak sehat. Berkecukupan materi tetapi gersang oleh cinta. Menjadi istri kedua, istri simpanan, adalah beban berat yang disandangnya sejak ia memutuskan menikah dengan lelaki beristri.

“Apa pun itu, sangat tak enak menjadi istri kedua, Ida….”

Kalimat Aisyah terekam jelas dalam ingatanku. Menjadi istri kedua itu sangat tak enak.

***

Kehidupan ini benar sebuah rahasia. Kemarin pagi aku masih berbincang dengan suami, tentang Aisyah. Kami berdialog tentang banyak hal. Kemarin pula kami merangkai banyak rencana, tentang masa depan anak-anak. Tetapi satu hari sesudahnya, siapa sangka suamiku tinggal nama. Ia berpulang begitu cepatnya.

“Tabah ya Ida…” sahabatku, Aisyah, mendatangiku usai pemakaman suamiku. Ia banyak menguatkanku. Ia banyak berbagi kata bijak denganku. Aisyah menjadi pelipur lara dan penyemangatku.

“Ida, kelak saat masa iddahmu selesai, aku akan mengatakan satu hal padamu.”

“Apa itu?”

“Tidak sekarang, Ida. Tunggu beberapa bulan lagi.”

“Kau mengatakan sekarang atau nanti, itu sama saja, Aisyah. Lebih baik kaukatakan sekarang saja.”

Ia terlihat memikirkan sesuatu.

“Baiklah, tapi janji kau tak akan berprasangka buruk padaku. Aku hanya memberi saran saja.”

Gila. Saran sahabatku kali ini sungguh gila.

***

Tiga bulan kepergian suamiku, aku telah mampu menata hatiku. Aktivitasku berjalan sepertii biasa. Tuntutan kerja dan kuliah membuatku bergerak meninggalkan rumah seminggu setelah suamiku berpulang. Aku tahu ini salah, meninggalkan rumah sementara aku dalam masa iddah. Tapi tak ada jalan lain. Urusan ngajar dan kuliah tidak bisa aku wakilkan.

Mudahkah aku melalui semuanya? Tak ada masalah. Allah tentu telah mengukur kadar kemampuan hambaNya. Aku yakin itu. Ia tak akan membebani hambaNya di luar batas kemampuannya. So, jika begitu banyak ujian dalam hidupku, tentu Allah juga telah membekaliku dengan segenap kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan. Hidup ini sederhana, sebetulnya. Kemampuan menyikapi segala suka duka, sebuah kunci untuk tetap bisa hidup bahagia, Mengapa hidup harus dibuat sulit? Yang mudah jangan dibuat sulit. yang sulit jangan semakin dipersulit. Begitu kira-kira.

“Ida, posisi di mana?”

Pesan singkat Aisyah muncul di layar hapeku. Satu yang tak kusuka dari sahabatku adalah pelitnya ia dalam mengirim SMS. Selalu pertanyaan singkat tanpa basa-basi “Ida, apa kabar? Lagi apa?’ Dan sebagainya.

“Lagi OTW,” jawabku tak kalah singkat.

“Ke mana?” sambungnya.

“Ke mana-mana.”

Aku tersenyum sembari meletakkan hape di samping jok tempat dudukku. Perhentian lampu merah adalah saat emas bagiku untuk membaca atau membalas SMS.

Pesan singkat Aisyah tak muncul lagi. Sudah kutebak, ia pasti mengajakku untuk ketemuan lagi.

***

Picanto-ku menyundul Mazda, kencang sekali.  Jalanan yang crowded membuatku lelah dan mengantuk. Konsentrasiku buyar. Sopir dan pemilik Mazda yang ternyata bapak-bapak, memintaku untuk minggir. Alamak habis aku dimaki-maki, kataku di dalam hati.

“Maaf Pak…” Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, pemilik Mazda yang ikut keluar bersama sopir  menyela ucapanku.

“Sudah… sudah.. nggak ada masalah.”

Aku terkaget-kaget. Antara bingung, ragu, takut dan harap. Mazda miliknya tergores oleh sundulan Picanto-ku. Tapi mengapa tiba-tiba ia memaafkanku padahal ia pula yng memintaku untuk meminggirkan mobilku?

Aku tetap memiliki itikad baik. Kuserahkan kartu namaku.

“Saya akan bertanggung jawab atas kerusakan mobil Bapak. Ini kartu nama saya, siapa tahu Bapak berubah pikiran.”

Lelaki separuh baya tersebut mengamati kartu nama yang kuberikan. Ia tak menghentikan pandangannya hingga aku berlalu masuk ke dalam kendaraan. Lega.

Melalui kaca spion aku masih melihat sopir dan Bapak tersebut berdiri mematung. Entah apa yang mereka pikirkan.

***

Aku boleh bernapas lega bahwa pemilk Mazda itu benar-benar tak menuntutku. Setidaknya aku tak membawa rasa bersalah itu sampai berhari-hari dan mengganggu tidur malamku. Aku selalu takut berbuat salah, hingga terkadang apa saja aku lakukan untuk menebus rasa bersalah itu. Memberi kartu nama pun inisiatif spontan yang aku lakukan di tengah rasa takut dan rasa bersalahku.

Ujung dari semua itu, Pak Rudy, pemilik Mazda tersebut kerap menghubungiku. Tak ada pesan khusus yang ia sampaikan, sekadar menjalin persaudaraan. Beragamnya kesibukan luar biasaku pun seolah turut mengabaikan perhatianku pada lelaki paruh baya tersebut.

Hingga suatu malam deru mobil berhenti tepat di depan rumahku.

Melalui celah korden jendela aku melihat bayangan Mazda putih. Jantungku berdetak kencang sekali.

“Pak Rudy?” desisku.

“Assalamu’alaikum…”

Aku bersembunyi di balik pintu. Bimbang membuka pintu atau tidak.

“Assalamu’alaikum….”

Bismillah, aku memberanikan diri. Kubuka pintu luar, kubuka pintu pagar. Seraut wajah menyunggingkan senyum kebapakan.

“Boleh saya masuk?”

“Silakan.”

poligami2

Aku menyuruhnya duduk di ruang tamu. Dara anak perempuanku dengan sigap nengeluarkan air minum. Gadis kecil itu terlatih menjamu tamu dengan baik. Teh buatannya mantap, mirip dengan teh buatanku, demikian kata Aisyah yang kerap datang ke rumahku.

“Putrinya pintar sekali, Bu. Berapa semua anak Ibu?”

“Dua, Pak, yang sulung masih di kost.”

Ia terlihat mengangguk-anggukan kepala.

“Kasihan anak-anak Ibu, masih kecil sudah ditinggal ayahnya.”

Pak Rudy, pemlik Mazda itu, tahu benar cerita tentang suamiku. Sejak pertama ia mengirim SMS, ia tahu benar statusku. Bagaimana tidak, keinginannya saat itu untuk datang ke rumahku dan bertemu suamiku terjawab dengan kalimatku, bahwa suamiku sudah berpulang.

Aku tak bisa berlama-lama menemui laki-laki tersebut. Ada banyak pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Untunglah Pak Rudy memahami. Ia pun beranjak pulang.

***

Lama Aisyah tak berkunjung ke rumahku. Sakitkah? Teleponku tak diangkat, SMS-ku tak dijawab. Jangan-jangan ada sesuatu yang tak beres pada diri sahabat karibku.

Aku berencana menengoknya. Tapi.. sungguh keterlaluan diriku, alamat rumah Aisyah sama sekali tak terekam otakku. Saat itu ia lebih banyak datang ke rumahku. Sebaliknya, ia tak pernah memintaku untuk datang ke rumahnya.

Kucoba menghubungi lagi… tak tersambung. Ada apa gerangan? Aisyah sosok yang tertutup. Ia tak memiliki akun fesbuk atau twitter. Ia pun tak pernah mengenalkan atau menceritakan teman-temannya kepadaku. Satu orang saja yang kerap menjadi bahan keluh-kesahnya. Sang Bos, lelaki yang kini menjadi suaminya. Tapi… nama lelaki tersebut aku pun tak tahu. Bodoh sekali aku…. berbulan-bulan berinteraksi dengan Aisyah, tapi tabir tertutup tentangnya tak mampu disingkap.

“Bu Ida, sore nanti ada di rumah, kan? Saya mau mampir. Ingin ketemu anak-anak.”

Aku biarkan BBM yang muncul tanpa membalasnya. Pikiranku masih tertuju pada sosok Aisyah sahabatku. Benar saja. pukul empat sore lelaki paruh baya itu kembali mendatangi rumahku. Selalu dengan Mazda putihnya.

“Sepertinya sedang ada masalah,” lelaki itu seolah membaca pikiranku.

“Oh enggak, nggak apa-apa…” aku berusaha menutupi perasaanku.

“Syukurlah kalo nggak ada apa-apa. Cuma, wajah Bu Ida terlihat kurang cerah sore ini.”

Aku sedikit gelagapan.

“Iya, sedikit lelah.”

Lelaki itu menampakkan kepedulian yang sangat besar padaku. Tapi itu membuatku tak nyaman.

“Ibu perlu sedikit refreshing. Bagaimana kalau saya ajak Ibu dan anak-anak jalan keluar, sekalian nanti malam kita makan di luar saja.”

Aku terperanjat.

“Bu Ida…” Lelaki itu membetulkan letak duduknya. “Sudah lama saya ingin bicara empat mata sama Ibu.”

“Oh, ya? Tentang apa ya, Pak?”

“Ya… tentang Ibu.”

“Tentang saya?”

“Benar, Bu. Sekian bulan saya mengamati, saya merasakan… saya merenungkan… sepertinya saya perlu mengatakan ini semua pada Ibu, bahwa saya… ingin menjalin hubungan ini lebih dekat dengan Ibu.”

“Maksud Bapak?”

“Saya jatuh hati pada Ibu.”

Aku tersenyum, dugaanku benar.

“Pak Rudy, satu hal yang ingin saya tanyakan ke Bapak, mmm… Bapak masih memiliki istri, kan?”

“Oo… i… iya dong Bu Ida…”

“Terus, untuk apa Bapak ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan saya?”

“Bu Ida… saya yakin Ibu memiliki pengetahuan agama yang cukup. Dalam Islam laki-laki diperbolehkan menikahi istri satu, dua, tiga, bahkan empat, bukan?”

Hm, selalu ini yang menjadi senjata para laki-laki…

“Benar, Pak Rudy. Tapi tidak semudah itu, kan?”

“Sudahlah Bu Ida, kita tak perlu membahas soal ini. Rasa itu anugrah, Bu. Apa yang saya rasakan pada diri Ibu, rasa cinta saya, jatuh hati saya, tentu inu bukan kemauan saya. Allah yang menggerakannya, Bu Ida…”

Aku tertawa.

“Bapak koq yakin sekali, ya? Bagaimana jika rasa Bapak itu salah?”

“Maksud Ibu?” Ia lekay menatapku.

“Pak Rudi, bisa jadi rasa di hati Bapak itu rasa yang salah. Mengapa? Sebab Bapak pria beristri. Bagaimana mungkin Bapak jatuh cinta pada saya, sementara Bapak memiliki istri di rumah sana? Coba Bapak pikirkan perasan istri Bapak…”

“Bu Ida, saya ke sini bukan untuk mendengarkan petuah Ibu. Saya ke sini untuk mengatakan bahwa saya mencintai Ibu. Lagipula… bukan hal yang salah kan saya mencintai Ibu, mengingat status Ibu yang sekarang sendiri?”

“Pak Rudy, status sendiri saya tidak berarti saya sembarang menerima cinta laki-laki. Cinta bukan karena status, Pak Rudy. Kalau pun bapak mencintai saya kemudian saya pun mencintai Bapak, tetapi anak-anak saya tidak, apakah bisa Bapak mengambil saya? Tidak, Pak. Cinta seusia kita itu bukan cinta seperti muda-mudi yang tidak melibatkan unsur lebih luas. Istri, suami, anak-anak, keluarga besar masing-masing…”

‘Cinta itu bisa mengalahkan segalanya, Bu Ida…” lelaki itu masih saja membela diri.

“Betul, Pak Rudy. Tapi cinta yang benar, cinta yang direstui Tuhan, bukan cinta buta seperti cinta Bapak pada saya…”

Laki-laki itu terlihat gusar dan kesal.

“Sepertinya saya harus belajar lebih keras untuk mematahkan pendapat-pendapat Ibu. Saya semakin tertantang untuk bisa menaklukan Ibu.”

Aku tersenyum. “Silakan Bapak siapkan banyak argumentasi. Setelah siap, Bapak boleh datang ke mari lagi. Mari kita diskusi soal cinta, saya suka.”

Pak Rudy meninggalkan rumahku dengan muka merah padam. Ajakannya untuk makan malam di luar pun ia batalkan.

“Lusa saya ke sini lagi, Bu Ida.”

“Baik, Pak. Dengan senang hati saya menunggu Bapak. Mari kita berdiskusi lagi.”

Mazda putih Pak Rudy dalam sekejap menghilang. Lelaki itu pasti kesal sekali.

***

Aisyah seolah hilang ditelan bumi. Ke mana gerangan sahabat yang baik hati? Minggu demi minggu berlalu, kabar tentangnya tak seorang pun tahu. Gelisah menyergap hatiku. Ada sesuatu tak beres pada diri karibku.

 

13 Comments to "Istri Kedua"

  1. Nonik  26 February, 2014 at 21:47

    huwahahahahaha. Hampir jempalik aku baca komené Pak Han

  2. Dewi Aichi  24 February, 2014 at 07:03

    Duh…semoga bu Ida tahan godaan dan ngga mempan dirayu he he..kuat bu…bu Ida kan wanita mandiri, hebat…tidak bergantung pada pria…justru ibu bisa meluangkan banyak waktu untuk lebih banyak bersama anak-anak…

  3. phie  22 February, 2014 at 12:06

    waduuhh bu Ida…bahasa anak muda skrg sih modus nih…hehehe…hati2 ya bu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.