Memaknai ‘Perjalanan Terakhir: Ritual Pemakaman di Bali’

Ary Hana

 

Tulisan ini saya maksudkan sebagai pelengkap, narasi, dari video seorang teman yang menggambarkan prosesi jelang hingga pemakaman di sebuah desa di pegunungan utara Bali. Selama ini awam selalu beranggapan kalau orang Bali meninggal ya diaben. Padahal ada dua cara umum perlakuan terhadap orang yang meninggal di pulau dewata ini: dikubur dan dibakar, baru kemudian diaben.

Kawan saya, Erlin Guntoro, kebetulan merekam prosesi pemakaman. 

Dalam video berdurasi 12 menit sekian detik ini, Erlin ingin menekankan bahwa kematian, sebagaimana kelahiran dan pernikahan, adalah bagian dari kehidupan yang mesti dirayakan. Kematian bagi sebagian orang merupakan peristiwa kehilangan, berpisah, keterpaksaan untuk melepas kemelekatan: kenangan-kenangan indah masa lalu, harapan indah akan masa depan, sehingga kehadirannya dirayakan dengan tangis, dukacita.

Di bagian lain, kematian adalah perjalanan berikutnya dalam proses penciptaan alam dengan manusia sebagai bagiannya, bagian dari siklus kehidupan besar -makrokosmos- yang kita tak tahu akan menuju ke mana. Sebagian manusia percaya kematian hanyalah jalan menuju kesempurnaan, kemanunggalan dengan pencipta. Walau, sebagian lain  percaya kematian berarti menuju kepada ‘masa penghukuman’, ‘punishment’, menuju surga atau neraka.

ritual pemakaman bali

Apapun makna kematian itu, masyarakat Bali menyambutnya lewat ritual, di antaranya diisi dengan jamuan makan dan musik, layaknya pesta besar. ‘Perjalanan terakhir’ dalam video ini tak melulu berisi kehilangan, tapi juga melukiskan kekompakan penduduk desa  dalam menyiapkan prosesi -biasa disebut ngayah, kerja bakti- mulai dari usaha memotong bambu untuk membuat tiang sesaji, pikulan keranda, peti mati. Juga mereka yang memasak, mempersiapkan jamuan bagi para tamu yang datang, hingga para pemain angklung dan gong.

Angklung -semacam gamelan bertangganada empat- sendiri memainkan lagu ‘kejar-kejaran’, yang menggambarkan proses raga si mati dan rohnya yang saling mengejar menuju ‘rumah terakhir’. Kadang raga menunggu roh, tak jarang roh mendulu meninggalkan raga, dalam perjalanan menuju rumah terakhir tadi. Itu sebabnya tempo angklung biasanya lambat lalu perlahan cepat, dan semakin cepat.

Filosofi ‘ala saya’ dari permainan angklung ini adalah, raga tak benar-benar mati ketika terpisah dari rohnya. Raga yang kemudian membusuk, menunjukkan proses ‘kehidupan’ juga, bahkan ketika akhirnya menjadi debu, bersatu dengan tanah sebagai zat hara. Raga si mati akhirnya bagian dari kehidupan, yang menyokong kehidupan,

Begitupun roh yang akhirnya mencapai tempat tertinggi. Kelak dia mungkin akan moksa atau dilahirkan kembali -reinkarnasi- sesuai kepercayaan Hindu Bali.

Anda boleh tak setuju dengan filosofi ala saya. Saya hanya mencoba mengurai sedikit pelajaran yang saya dapat dari ritual ini, mencoba memahami keberagaman di Nusantara, sebelum terjerumus dalam tinggi hati, menang sendiri, dan sikap ‘chauvinis’.

Salam,

 

Hari itu istri kepala desa adat (pakraman) di Munduk meninggal. Sebelum jenazah dari rumah sakit sampai di rumah, pihak keluarga pun bersiap. Mengosongkan sebuah ruang di rumah samping, menyiapkan tempat tidur, plastik, kain berwarna putih dan kuning, serta dupa.

Kerabat dekat pun berdatangan. Yang perempuan dan berumur menyiapkan sesaji -banten dan canang- sedang yang lelaki memotong batang pisang, bambu, untuk tiang sesaji. Sebagian orang mulai memenuhi dapur, memasak minuman seperti kopi, teh,  nasi beserta lauk pelengkapnya.

Akhirnya jenazah datang. Para tetua adat termasuk bendesa (kepala desa adat) berembug untuk mencari hari baik buat mengubur jenazah. Diputuskan tiga hari lagi jenazah akan dikuburkan. Itu berarti selama 4 hari sejak hari itu akan terjadi kesibukan yang luar biasa di rumah itu.

Para tamu berdatangan. Yang perempuan membawa gula, dupa, beras, mie, atau kain. Tamu lelaki umumnya usai mengucapkan bela sungkawa akan menuju meja minuman, menyeruput kopi dan penganan, lalu menuju meja makan untuk mencicip hidangan. Begitu juga tamu perempuan. Usai makan, tamu lelaki segera menuju dapur, mengeluarkan lading dari belakang punggungnya, lalu membantu memasak. Mencacah daging babi, membuat tum, dan sayur. Memarut kelapa hingga menanak nasi. Tamu perempuan menuju dapur juga, namun mereka menyiapkan sesaji. Ada pula yang memasak jajanan tradisional dan minuman.

Di hari kedua angklung dimainkan. Disebut angklung karena gamelan ini hanya memiliki 4 nada. Hingga jelang jenazah dimakamkan, angklung dimainkan pagi, siang, dan petang, dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Di malam hari ada gamelan kebyar, kali ini tanpa joget atau tetarian.

Pagi jelang pemakaman, tandu disiapkan. Juga meja untuk memandikan jenazah. Pedande datang memimpin ritual dan membacakan doa-doa. Jenazah dikeluarkan dari ranjang, dipikul dengan bambu, lalu dimandikan di halaman oleh keluarga dekat. Ada kain putih membentang di atasnya. Usai dimandikan, dimasukkan ke dalam peti. Peti lalu dibopong menggunakan keranda beramai-ramai oleh para lelaki. Si anak bungsu lelaki naik ke atas, mengiringi ibunya menuju tempat peristirahatan terakhir.

Iring-iringan perjalanan menuju pemakaman dimulai dari keluarga dekat, penggotong peti, penabuh gamelan dan angklung, lalu masyarakat sekitar. Pada beberapa belokan jalan peti diputar-putar sebagai simbol agar si arwah bingung, tak kembali ke rumah. Akhirnya di kuburan, jenazah pun dimakamkan, ditimbun tanah. Kelak usai berbagai ritual, dia akan diaben, agar arwahnya mendiami pura sanggah.

Video ritual kematian itu dapat Anda nikmati via youtube di ‘The Last Journey‘ ini.

 

Bisa juga dibaca di: http://othervisions.wordpress.com/2014/02/19/memaknai-perjalanan-terakhir-ritual-pemakaman-di-bali/

 

6 Comments to "Memaknai ‘Perjalanan Terakhir: Ritual Pemakaman di Bali’"

  1. HennieTriana Oberst  25 February, 2014 at 20:36

    Ary, terima kasih penjelelasannya.
    Videonya kalau siang dan suamiku sedang tidak tugas luar aku berani buka hehehe…
    Berarti semua yang beragama Hindu Bali jenazahnya pada akhirnya akan diaben juga ya.
    Iya aku pernah dengar kalau untuk ngaben itu butuh biaya banyak banget. Ketika di Bali ada seorang gadis muda yang cerita dia sedang menabung uang untuk upacara ngaben ini, dan itu juga ngaben masal seperti yang kamu contohkan di atas.
    Menarik tulisanmu, suka sekali.

  2. ah  25 February, 2014 at 10:45

    videonya jauh dari hal seram. hanya melukiskan bagaimana memaknai kematian di bali. berisi jamuan, memasak, membuat sesaji, bahkan saat iring2an ke makam pun disertai iringan gamelan, angklung dll. tujuannya bahwa ritual kematian adalah satu kesatuan dg alam, hidup, bukan sekedar tangisan menyayat hati, atau kesedihan.

    hennie: benar. ada banyak jenis ngaben -bisa dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Ngaben. tujuan akhir ngaben adalah melepaskan atma untuk kembali ke pencipta-Nya (entah kemudian terjadi moksa atau reinkarnasi). ngaben juga bentuk kewajiban keluarga terhadap leluhurnya.

    namun ngaben kan tidak mudah dan murah. harus dilakukan pada waktu tertentu, menyediakan canang dan banten -sesaji- yang besar dll. paling sedikit butuh 60 juta buat upacara ngaben, itu sebabnya ada ngaben massal (yang dilaksanakan 5,7, atau 10 tahun sekali). dg ngaben massal keluarga yang diaben akan urunan buat upacara ini. jika ada 50 jenazah yg diaben, berarti mereka hanya menyumbang 2-3 jutaan. bahkan ada yang cuma menyumbang tenaga karena saking miskinnya.

    selain masalah finansial, ngaben juga tergantung bagaimana cara orang tersebut meninggal. orang yang meninggal dibunuh, tertabrak mobil, atau bunuh diri, biasanya tak bisa langsung diaben. banyak upacara yang mendahuluinya.

  3. HennieTriana Oberst  25 February, 2014 at 09:15

    Ary, aku nggak berani lihat videonya.
    Prosesi diaben itu sebenanrnya apa, Ary? Bukannya itu maksudnya dibakar? Selama ini aku pikir diaben itu artinya dibakar.

  4. ah  25 February, 2014 at 08:42

    lani: nggak dibalsem atau diapain, cuma ranjang di bawah jenazah diberi es batu. ada juga kejadian jenazah harus disimpan di rumah sampai sebulan lebih, karena keluarganya menganut kepercayaan membakar jenazah, sedang dia meninggal di bulan yang ‘tidak baik’ untuk pembakaran. jadi harus menunggu hari baik dulu.

  5. Lani  24 February, 2014 at 11:29

    AH : pertanyaanku……..namanya ndak ngerti bertanya bolehkan? Kamu tuliskan jenasah dikubur pd hari keempat, apakah selama itu dibalsem dulu atau pakai rempah2 gitu? Soale klu dibiarkan sampai bbrp hr kmd kamu katakan dimandikan, apakah tdk berbau?

  6. Lani  24 February, 2014 at 10:53

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.