Kalau Hidup Bisa Dipermudah, Kenapa Dipersulit?

Tjiptadinata Effendi

 

Saya sudah cukup lama kenal dengan Ibrahim, yang berasal dari Birma. Ibrahim pernah bekerja  di Kualalumpur 3 tahun, sebelum menetap di Australia. Jadi bisa sedikit sedikit bahasa Melayu.

Saya kenal Ibrahim, karena kami sama sama sering jumpa di U3A -University of the 3rd Age. Maksudnya tempat dimana orang orang yang sudah mendapatkan kartu senior dan berasal dari luar Australia, mendapat kesempatan untuk mendalami bahasa Inggris. Tetapi karena masih ada kursi yang kosong, maka pendatang yang belum mendapatkan kartu senior, diijinkan juga untuk bergabung. Termasuk Ibrahim.yang menurut pengakuannya berumur 58 tahun.

Di kelas ini, tentunya tidak seperti di bangku kuliah, karena pembahasan hanya pada materi materi yang sangat sederhana dan lebih banyak menyangkut aspek kehidupan, menetap di sini. Jadi nama U3A, menurut saya, hanya untuk memotivasi saja, agar para pendatang, tidak merasa malu belajar. Jadi istilahnya lebih tepat Universitas Terbuka.

 

MENGELUH TERUS

Sejak saya kenal dengan Ibrahim, hampir di setiap pertemuan ia selalu mengeluh. Dari mulai biaya hidup yang tinggi, hingga sulitnya menyesuaikan selera makan, teman-teman sekelas yang tidak selevel dan seterusnya…Saya lebih banyak jadi pendengar yang baik. Karena setiap kali, mau saya ingatkan, agar jangan selalu mengeluh, Ibrahim menunjukkan wajah yang kurang senang. Maka saya memilih diam. Saya takut melukai orang lain dan saya lebih takut lagi kehilangan teman.

Waktu berjalan terus dan tampaknya, saya adalah satu satunya sahabat Ibrahim di U3A. Karena setiap kali ia datang, teman-teman yang lain, secara halus menghindar. Rupanya, hal ini dirasakan juga oleh Ibrahim. Hingga suatu waktu, ketika coffee break, ia duduk di depan saya dan berkata: ”Effendi, anda adalah satu satunya sahabat saya di sini. Karena tidak ada orang yang mau bersahabat dengan saya. Padahal saya tidak tahu, apa salah saya?”

Saya tidak langsung menjawab, tapi menatapnya dalam-dalam.

“…Effendi..please.” katanya…Agaknya inilah kata: ”please” yang pertama saya dengarkan dari mulut Ibrahim”, karena biasanya pembukaan kata selalu: ” Menurut saya harusnya begini ….”Kasian saya lihat wajah Ibrahim yang biasanya sangar dan keren, hari ini kelihatan begitu terpuruk. Entah mimpi buruk apa ia malam tadi, saya nggak tahu…

“Anda serius Ibrahim…?” nggak marah, kalau  saya sebutkan kekeliruan anda?”

“Swear..” katanya, sambil mengangkat tangannya, mungkin meniru gaya di film film cowboy. Tapi saya tidak pikirkan hal itu.

“Ibrahim, anda masih ingat kemarin ketika, si Peter, yang orang Italia itu membacakan puisi di depan kelas?” Anda tertawa…walau cuma satu detik, tetapi fatal untuk Peter, karena ia kehilangan konsentrasinya, sehingga tidak bisa meneruskan pembacaan puisinya… Anda telah melukai hatinya dan hati semua orang yang ada di kelas…

“Lho, tapi saya tidak berkata satu katapun, saya cuma ketawa, ” kata Ibrahim membela diri. “Okay, kalau begitu pembicaraan kita hentikan sampai di sini ya..”, kata saya. Karena anda tidak senang saya menunjukkan salah anda.”

“Oo sorry sorry. .don’t like that Effendi’…kata Ibrahim.

“Okay, kalau begitu anda ijinkan saya berbicara. Kalau nanti anda tidak setuju, itu adalah hak anda. Saya bukan menghakimi anda, tetapi berdasarkan permintaan anda. Menunjukkan mana yang tidak pas anda lakukan, sehingga teman-teman menjauhi anda…”

“Minggu lalu, ketika teman kita..Eddy yang dari Spanyol, bercerita dengan gembira, bahwa ia baru saja membeli mobil bekas, seharga 5000 dollar, anda langsung mengatakan: ”Aduh, kenapa beli mobil rongsokan, bikin susah saja.” Mungkin saja, maksud anda baik, tapi cara menyampaikannya yang tidak pas..”

“Anda tahu, Eddy merasa dipermalukan di depan teman-teman, rasa kebanggaannya, anda patahkan…” Lagi-lagi, anda tidak hanya menyakiti hati Eddy, tetapi menyinggung perasaan teman-teman yang hadir”

Sahabatku Ibrahim, berikanlah kesempatan orang lain merasa bangga pada dirinya.

  • Biarlah  mereka merasa lebih pintar dari kita
  • Atau merasa tahu lebih banyak
  • Toh, kita tidak akan rugi apapun

Saya diam sesaat…memperhatikan wajah Ibrahim merah padam..entah karena berangnya pada saya, ataupun malu pada diri sendiri, saya tidak tahu. Karena tidak ada reaksi, saya masih melanjutkan: “Ibrahim, anda tiap hari berkeluh kesah, tentang mahalnya biaya hidup dan sulitnya menyesuaikan selera makan. Anda tahu, saya tiap pagi hanya sarapan satu bungkus Indomie dan satu butir telur ayam…” Bukan karena saya pelit, tapi saya hidup menurut gaya hidup saya di Indonesia.

”Toh tidak harus, kita bergaya Australia, makan pagi  roti, keju, ham, sosis dan yakut, serta susu dan buah…: ”Kita tinggal di negeri orang, tapi tidak harus menjadi orang Australia. Always be yourself. Ibrahim, kalau boleh saya katakan pada anda: ”Bila hidup bisa dipermudah, kenapa anda membuatnya menjadi rumit?” Wajah Ibrahim jadi semakin tidak nyaman dilihat. maka saya hentikan pembicaraan. Ia menyalami saya. Tangannya terasa dingin dan pandangannya jadi nanar, entah apa yang dipikirkannya…

Sejak saat itu, seminggu Ibrahim tidak datang lagi. Perasaan saya menjadi tidak nyaman. Saya sudah ingatkan diri saya, agar jangan pernah melukai hati orang, tapi toh sudah saya lakukan..Jujur, saya takut kehilangan seorang sahabat. Walaupun Ibrahim bukan keluarga, tidak ada hubungan famili dan secara finasial, saya tidak pernah mengharapkan apapun dari Ibrahim.

emphaty-symphaty

 

AKHIRNYA SAYA LEGA

Kemarin seperti biasa, saya dan istri ke Perpustakaan. Disana kami duduk duduk, sambil membaca buku-buku yang bermanfaat. Suasana yang tenang dan nyaman. sungguh menciptakan suatu kondisi membaca yang sangat selaras.

Tiba-tiba, bahu saya ditepuk agak keras. Secara refleks saya berbalik dan saya melihat Ibrahim berdiri di depan saya, sambil mengulurkan tangannya dan kemudian memeluk saya sekuat-kuatnya….Ia menangis…: “Terima kasih Effendi….mohon maaf 3 hari saya marah pada anda…tapi tadi malam saya sudah sadari bahwa anda adalah sungguh-sungguh sahabat saya..” dan Ibrahim tidak mampu meneruskan kata-katanya lagi. Ia larut dalam keharuan….Saya bersyukur, tidak jadi kehilangan seorang teman…

 

Renungan:

Sesungguhnya teramat banyak hal yang menjadi alasan agar kita untuk selalu bersyukur, tapi kita sering melupakan karunia tak terhingga yang sudah diterima, karena merasa bahwa  belum semuanya “maunya” kita terpenuhi. Hidup itu sebenarnya bisa kita permudah, tapi sadar atau tidak, sering kali kita sendiri yang membuatnya menjadi rumit.

 

Wollongong, 23 Pebruari, 2014

Tjiptadinata Effendi

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

41 Comments to "Kalau Hidup Bisa Dipermudah, Kenapa Dipersulit?"

  1. tjiptadinata effendi  13 March, 2014 at 17:54

    foto yang saya posting adalah foto Ferry Indra putra pertama dari kakak kandung saya Yanita Effendi dan Herry Indra -putra kedua.mhn doanya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.