Belajar Bahasa Inggris = Tidak Nasionalis?

Louisa Veronica Hartono (Nonik)

 

Sejak belajar di negeri yang terkenal dengan cokelat dan jam tangannya, saya sudah termasuk jarang membaca dan mengikuti berita di Indonesia, karena kebanyakan berita yang saya baca hanya membuat saya merasa miris dan meningkatkan rasa apatis serta pesimis bahwa bangsa ini bisa “diperbaiki”. Paling-paling saya hanya membaca berita kasus yang sedang heboh kejadiannya di Indonesia, itupun tidak secara langsung di website media yang bersangkutan, melainkan seringkali melalui situs jejaring sosial.

Namun hari ini, saya memutuskan untuk mengunjungi situs salah satu surat kabar ternama dan bersakala nasional di Indonesia, dan ada satu berita yang membuat saya merasa pedih dan tergerak untuk menulis “artikel tandingan”. Berita itu berjudul “Hapuskan Pelajaran Bahasa Inggris di SD” yang membuat saya mempertanyakan di mana logika para pembuat kebijakan politik kita untuk memutuskan hal seperti itu.

Saya tahu, tentu tidak semua pembaca sependapat dengan artikel tersebut, pun dengan artikel balasan yang saya tulis ini. Dan semuanya tentu berhak untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing, selama masih dengan cara-cara yang santun dan tidak menyerang pribadi orang lain. Saya juga masih muda dan belum berpengalaman seperti para warga Baltyra lainnya, oleh itu semua diskusi, opini, saran, masukan dan pendapat tentu disambut baik di sini, terutama berkaitan dengan tulisan saya ini.

Ada beberapa argumen yang hendak saya kemukakan di sini.

multi-lingual

Pertama, disebutkan di artikel tersebut bahwa masa pendidikan di sekolah dasar (SD) merupakan masa yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Dari kalimat tersebut, saya merasa bahwa sistim pendidikan di Indonesia itu termasuk berat, namun juga tidak relevan dalam konteks sekarang. Masa pendidikan awal, dari pra-sekolah, taman kanak-kanak (TK), dan SD harusnya adalah masa untuk “bersenang-senang” bagi anak-anak.

Tentu senang-senang dalam artian yang mendidik. Anak diajari belajar dengan metode-metode yang kreatif, yang memancing, mendorong serta memuaskan rasa ingin tahu anak. Dalam masa-masa itu, anak seharusnya belajar dengan cara yang menyenangkan, having fun pokoknya. Kalau anak sampai stress, akan sangat susah untuk menumbuhkan kembali semangat dan kecintaan anak terhadap yang namanya belajar.

Sepanjang saya bersekolah di Swiss, saya banyak berinteraksi dari teman-teman dari negara lain. Dari saling bertukar cerita itulah, saya menemukan bahwa rata-rata sekolah di Eropa (yang tergolong negara maju) lebih menekankan aspek fun kepada murid-muridnya, setidaknya sampai kelas 3 SD. Tidak ada penjejalan pelajaran nasionalisme ataupun kebangsaan, beda dengan di Indonesia yang masih dari kelas 1 SD sudah diberi pelajaran PPKn (Pendidikan Kewarganegaraan).

Otak saya yang juga tidak seberapa ini jadi mikir, emang anak SD tahu apa sih soal nasionalisme dan kebangsaan? Saya merasa bahwa semua itu lama-lama hanya jadi beban karena murid-murid kebanyakan cuma disuruh menghafal tanpa benar-benar mengerti esensi dari apa yang dipelajari. Hal ini lantas membuat saya berpikir lagi, sebenarnya tujuan kita mendidik anak-anak kita itu untuk apa? Kalau melihat artikel di surat kabar tersebut, tersirat bahwa tujuan utama dari pendidikan kita adalah untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme. Lhah ini kok seperti mundur di jaman pascakemerdekaan tahun 50-an dulu? Ini sudah zaman globalisasi, tapi kenapa esensi atau tujuan utama dari pendidikan malah mundur? Ini akan saya jelaskan lebih lanjut di argumen berikutnya.

 

Kedua, artikel tersebut mengatakan bahwa,

“di tengah arus globalisasi yang menguat saat ini, pendidikan justru menjadi tempat paling efektif untuk menanamkan ”glokalisasi” yakni mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa ke pentas dunia”.

Saya sependapat bahwa kita harus mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa ke pentas dunia. Selama di Swiss, saya juga senang bila ketemu dengan sesama orang Indonesia dan ikut acara-acara yang berbau Indonesia, seperti Malam Indonesia, Indonesian Night, Indonesia Festival, dan lain-lain. Itu membuat saya bangga sebagai orang Indonesia, dan saya juga senang membicarakan dan mengenalkan negara saya yang gemah ripah loh jinawi itu kepada teman-teman saya dari negara lain. Masalahnya, untuk bisa mengangkat nilai-nilai luhur bangsa ke pentas dunia, dibutuhkan sarana komunikasi yang ampuh, dan media komunikasi yang pertama dan terutama itu adalah bahasa. Nah, bahasa apa yang mampu membuat kita berkomunikasi di pentas global? Tentu Bahasa Inggris!! Dan sekarang Bahasa Inggris mau dihapuskan dari kurikulum SD? Jujur saya tidak mengerti dimana logikanya. Ini gak nyambung.

Lagi-lagi, selama saya di Swiss, hampir 100% teman-teman saya di sini sudah bilingual sejak kecil, bahkan sebelum SD. Selain karena berbicara dengan dua bahasa di rumahnya dan dengan kedua orangtuanya, juga karena sistem pendidikan di negaranya yang mengajarkan bahasa kedua selain bahasa ibu sejak dini. Malah, hampir semua warga Eropa bisa berbicara dalam dua bahasa, banyak yang lebih. Saya rasa jumlah warga Eropa yang hanya bisa berbicara dalam satu bahasa (alias bahasa ibu mereka) sedikit sekali persentasenya, rata-rata juga warga generasi tua.

 

Ketiga, mengajarkan bahasa lain kepada anak-anak termasuk investasi yang menguntungkan bagi masa depan anak. Kenapa? Penelitian telah membuktikan bahwa otak anak-anak itu bagaikan spons dengan daya serap yang sangat tinggi, termasuk kemampuan berbahasa. Semakin lambat anak berbicara bahasa lain, semakin tinggi tantangannya. Pengalaman saya membuktikan, jauh lebih mudah mengajari anak SD, bahkan TK, belajar Bahasa Inggris daripada murid SMP – apalagi SMA – yang pengetahuan Bahasa Inggrisnya masih nol.

Welcome_multilingual

 

Keempat, belajar bahasa asing mempunyai banyak kentungan. Keuntungan bilingual atau polyglote (bisa lebih dari dua bahasa) memang tidak terasakan secara langsung, namun itu merupakan bentuk investasi yang sangat besar dalam diri seorang anak. Itu akan memudahkan dia untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Pepatah bilang, cara terbaik dalam mengenal budaya lain adalah dengan menguasai bahasanya, dan saya sependapat. Sekarang ini kemampuan menguasai bahasa asing merupakan syarat yang dicantumkan hampir di semua lowongan pekerjaan. Dulu, hanya menguasai bahasa setempat sudah cukup. Tapi sekarang jaman globalisasi, lingkup perusahaan tidak hanya lokal atau nasional, tapi juga sudah global. Nah, saya pikir, saat anak sudah tumbuh besar, dia bisa fokus untuk mempelajari keahilan lain dan tidak usah terlalu pusing untuk ambil kursus bahasa asing yang makan waktu, energi, dan biaya.

Saya sering sekali merasa iri dengan teman-teman saya yang bisa bicara dalam tiga, empat, lima bahasa atau bahkan lebih. Sedangkan saya? Untuk bisa ya harus belajar dari nol, harus ambil kursus. Buat saya, walaupun berguna, tapi ini juga buang-buang waktu dan uang. Perlu diingat bahwa bahasa asing yang dikuasai tidak melulu Bahasa Inggris. Memang bahasa Inggris merupakan bahasa pergaulan internasional, tetapi masih ada bahasa lain yang memiliki banyak penutur, seperti bahasa Prancis, Spanyol, Jerman, dan Mandarin. (Bahasa Indonesia juga iya, dan saya setuju jika bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar regional di Asia Tenggara, tapi ini untuk artikel lain lagi hehe). Intinya, orang yang bisa berbahasa lain selain bahasa ibunya, akan lebih mudah berinteraksi dengan orang-orang dan budaya lain.

 

Kelima, saya tidak melihat hubungan antara pelajaran Bahasa Inggris dengan rasa nasionalisme seseorang. Aneh benar, masak rasa nasionalisme orang ditentukan dari mata pelajaran apa yang diberikan di sekolah? Saya akan menjadikan diri saya sendiri sebagai contoh. Sejak umur 4 tahun, mama saya sudah ngajarin saya Bahasa Inggris dikit-dikit. Apanya yang salah dengan itu? Apakah waktu itu rasa nasionalisme saya lantas tergerus pudar? Nggak tuh. Boro-boro pudar…. Konsep nasionalisme aja saya belum ngerti waktu itu. Ketika saya makin besar, saya juga belajar bahasa Mandarin. Lalu saya belajar bahasa Jepang di sela-sela waktu kuliah. Sekarang di Swiss, saya belajar bahasa Prancis dan Jerman. Total sudah ada 6 bahasa lain yang saya pelajari dan saya berbicara empat di antaranya. Apakah itu membuat rasa nasionalisme saya pudar???!!! Kok saya tidak merasa pudar ya? Saya masih cinta dengan Indonesia!! Justru di akhir Januari lalu, saya menjadi pembicara di acara Indonesian Night yang 98% semua pesertanya orang bule. Dengan bahasa apa saya membawakan presentasi itu? Dengan bahasa Inggris! Mana mereka mengerti kalau saya berbicara dalam bahasa Indonesia?

Saya tidak melihat adanya hubungan bahwa jika kita belajar bahasa lain, itu sama artinya dengan kita lebih bangga dengan budaya mereka daripada budaya sendiri, seperti yang dikatakan dalam artikel di surat kabar tersebut.

Intinya, menguasai bahasa asing itu lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya. Penjelasannya adalah seperti ini. Bila kita menguasai bahasa asing, itu akan mendekatkan kita kepada orang-orang dan kebudayaan bahasa tersebut. Kita akan lebih mudah masuk dan bergaul dengan mereka, mengenal budaya mereka, dsb. Menurut saya, itu adalah pintu masuk yang luar biasa untuk mengenalkan kebudayaan kita kepada mereka juga dan ini membawa keuntungan kepada kedua belah pihah. Di pihak individu, wawasan kita jadi bertambah luas.

Kita juga tambah koneksi, tambah kenalan, dan lebih merasa sebagai global citizen. Di sisi lain, identitas dan jati diri kita juga semakin dikenal oleh orang dan budaya lain. Disitulah terjadi pertukaran budaya dimana kita bisa mengenalkan budaya Indonesia dan mengangkatnya ke panggung dunia. Ini adalah keuntungan jangka panjangnya. Plus, kalau ada orang asing masuk untuk mempelajari budaya dan juga Bahasa Indonesia, mereka kan perlu diejelaskan dengan Bahasa Inggris dulu. Alasan kenapa bahasa Inggris lebih baik diberikan saat SD dan tidak dihilangkan dari kurikulum sekolah, silakan lihat kembali alasan nomor tiga dan empat di atas.

 

Keenam, sekarang ini jamannya teknologi. Dan kita tahu, bahasa standar yang dijadikan bahasa dalam pembelajaran dan penguasaan teknologi adalah Bahasa Inggris. Tentu nantinya itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lokal masing-masing, tetapi bahasa awalnya tetap dalam Bahasa Inggris. Dan lebih lagi, saat ini anak-anak tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Beri saja anak usia dua atau tiga tahun iPad atau game di Samsung Galaxy kita (tidak bermaksud promosi di sini), maka si anak dengan cepat akan menguasai cara bermain di alat komunikasi tersebut. Kalau mau disambung-sambungin dengan bahasa, secara tidak langsung anak juga sudah terpapar – atau kalau dalam konteks surat kabar tersebut, “terkontaminasi” – dengan Bahasa Inggris. Mau dari game kek, internet kek, apapun itu, kita tidak bisa lepas dari Bahasa Inggris. Itulah yang membuat saya tidak mengerti, kenapa Bahasa Inggris harus dicabut dari kurikulum dengan alasan untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme.

 

Ketujuh, rasa nasionalisme kita sama sekali tidak ditentukan oleh pelajaran Bahasa Inggris, melainkan oleh bagaimana negara, melalui pemerintah, berpihak kepada warga negaranya. Apakah rakyat bisa mengakses hak-hak dasarnya, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur berupa jalan dan jembatan?  Apakah rakyat bisa mencari pekerjaan dengan mudah? Apakah aparat pemerintah melakukan tugas mereka dengan baik layaknya pegawai negara untuk melayani kebutuhan masyarakat? Apakah masih ada suap menyuap dalam mengurus birokasi, seperti akte kelahiran, akte kematian, akta pernikahan, dan lain-lain? Bila semua itu belum terasa, jangan heran dan jangan salahkan bila rakyat beralih rasa cinta dan kesetiaannya kepada negara lain.

Oke gak usah bicara jauh-jauh soal mereka yang berhasil di luar negeri. Tengoklah saudara-saudara kita yang ada di Kalimantan Utara sana, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Mengutip artikel lain dari surat kabar yang sama, dada mereka mungkin masih merah putih tapi perut mereka sudah menjadi perut Malaysia!! Perut mereka berisi nasi Malaysia dan bahan-bahan makanan lain yang dibeli di Malayisa. Banyak yang mencari satu dua ringgit di sana daripada rupiah di negeri sendiri, karena kondisi pekerjaan, jalan, dan infrastruktur lain yang lebih baik. Apakah mereka bisa bicara Bahasa Inggris? Kok saya ragu. Kayaknya enggak deh. Toh mereka juga masih sama-sama saudara serumpun dan masih mengerti Bahasa Melayu. Apakah mereka masih bisa disebut nasionalis atau tidak? Silakan dipikir sendiri jawabannya.

 

Kedelapan, bila kita ingin benar-benar mengerti dan memahami betul budaya bangsa, maka berikanlah pelajaran yang benar-benar lokal. Seperti cara bahasa daerah, bertanam kedelai atau tanaman lokal lain yang sesuai daerah masing-masing, cara bikin batik, cara memahat, bikin genteng, dan kearifan lokal lain. Hilangkan saja sekalian pelajaran IPA atau materi-materi lain yang dianggap antek-antek asing. Apa perlunya? Saya tahu saya bernada sangat sarkastis di sini, tapi saya merasa gemas sekali saat mendengar penuturan Direktur Eksekutif Reform Institute yang pendapatnya dikutip dalam artikel di surat kabar tersebut.

multilingual

Akhirnya, saya telah mengemukakan delapan argumen mengapa saya tidak setuju Bahasa Inggris dihapus dari SD. Pembelajaran Bahasa Inggris tentu juga perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat pendidikan anak, dengan cara yang kreatif, menarik, dan memancing rasa ingin tahu anak. Saya tidak mengatakan bahwa pemberian Bahasa Inggris lantas berarti bahwa kita tidak erlu lagi mempelajari budaya dan nilai-nilai lokal. Itu adalah dua hal yang terpisah.

Bila tujuan dari Kurikulum 2013 adalah untuk mempersiapkan generasi bangsa menjadi bangsa siap yang siap bersaing secara global, maka kebijakan untuk mencabut Bahasa Inggris di tingkat SD, atau memasukkan IPA sebagai ekstrakurikuler pilihan dan pramuka sebagai ekstrakurikuler WAJIB, hal ini patut dikaji dan dipikirkan kembali masak-masak (ngomong-ngomong, saya tidak mengerti bagaimana pramuka bisa mendongkrak generasi penerus untuk bisa bersaing secara global….). Apalagi baru-baru ini ada hasil tes PISA yang secara blak-blakkan menunjukkan bahwa murid Indonesia adalah murid terbodoh (sedunia?). sebagai orang Indonesia, saya merasa sakit hati membaca berita itu.

Kesimpulannya: belajar Bahasa Inggris sejak SD tidak berarti bahwa kecintaan kita terhadap Indonesia dan segala keluhurannya luntur. Kecintaan, atau rasa nasionalisme kita, barulah luntur bila pemerintah tidak melakukan apa-apa untuk menyejahterakan rakyatnya.

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

42 Comments to "Belajar Bahasa Inggris = Tidak Nasionalis?"

  1. Matahari  2 March, 2014 at 17:12

    Tadi nulisnya tidak panjang tapi muncul di komen jadi sepanjang ini…sorrryyyyyy

  2. Matahari  2 March, 2014 at 17:11

    Bahasa Inggris sekarang ini sudah banyak sekali dipakai dimana mana …buku buku berbhasa Inggris banyak dijual di toko toko buku…surat kabar berbahasa asing juga banyak dijual…ini menambah pengetahuan…heran saja kenapa pelajaran bahasa Inggris harus dihapuskan…dan malah bahasa Arab diajarkan disekolah negri.…Menurut saya bahasa asing sebaiknya diajarkan sejak dini…terutama Inggris untuk di Indonesia karena daya ingat dan daya tangkap anak anak terhadap bahasa asing jauh lebih kuat dan cepat daripada orang dewasa…bahkan mereka bisa mempelajari2-3 bahasa dengan cepat….Saya banyak mengenal wanita Indonesia yang dulu pernah menikah di Indonesia dan menikah ke dua kali dengan bule di Eropa…mereka ini membawa anak anak mereka disaat anak anak itu masih usia 5-8 tahun….dan hidup di Eropa dengan papa tiri mereka…Anak anak ini ketika datang belum bisa bahasa asing…masih bahasa Indonesia 100% ….8 tahun kemudian…anak anak ini sudah bicara bahasa asing seperti native speaker tapi….si ibu….bahasa asingnya masih sangat jelek…tata bahasa amburadul dan kacau balau…apalagi tidak bekerja…tidak banyak berinteraksi dengan warga local .Saya dan kakak kakak saya sudah kursus bahasa Inggris sejak kelas 1 SMP…beberapa pengajar native speakers…saya sebenarnya ogah ogahan….tapi saya kuat2kan untuk pergi ke kursus apalagi biaya sangat mahal dan memang banyak kegunaannya dikemudian hari..ini yang juga saya sesali kenapa dulu ogah ogahan……juga kursus masak sesudah SMA ( yang ini gagl total karena saya kurang suka masak) serta kursus menjahit juga disaat SMA ( yang ini juga gagal super total buat saya )..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.