Meneguhkan Iman Umat Melalui Apresiasi Budaya

Kornelya

 

Ketika menghadiri misa  di gereja Hati Maha Kudus di Surabaya, dalam perjalanan saya ke Kediri dua minggu yang lalu,   saya menyaksikan keagungan budaya Jawa timur dalam inkulturasi liturgi gereja.  Betapa tidak, lagu dan puji-pujian dilantunkan dengan iringan gamelan dan gaya kroncong khas Jawa timuran bergantian. Bagi umat yg tinggal di Surabaya, hal ini mungkin sudah biasa, tetapi bagi saya hal ini merupakan pengalaman luar biasa.  Ada rasa bangga, haru sebagai orang Katholik, pada saat yang sama optimisme nasionalisme Indonesia bersatu dan damai membuncah. Perasaan terakhir itulah  yang membuat aku  menangis haru. Letak gereja ini, bersebelahan dengan Masjid  Agung Surabaya. Tidak seperti di Jakarta, dalam perayaan Ulang Tahun Paroki yang meriah ini tak nampak  aparat keamanan polisi atau satpol yang menjaga keamanan di sekitar gereja.

Saya beruntung, ternyata pengalaman di Surabaya ini terulang kembali di Bali. Hari ini 2 Februari 2014, saya menyaksikan misa inkulturasi Tionghoa di Katedral Denpasar Renon. Inkulturasi Tionghoa ini dilakukan untuk menghormati perayaan Imlek bagi umat yang beretnis Cina.  Saya pun memohon penanggung jawab tatalaksana upacara untuk mengijinkan saya meliputi upacara ini untuk Baltyra.

image_7

image_6

image_4

image_5

image_3

image_1

Perayaan misa agung ini dipimpin oleh uskup Denpasar  Mgr. Silvester Kiem San Tung, atau Uskup  Silvester San Tungga, dan didampingi oleh lima pastor konselebrasi. Diiringi tabuhan gendang  dua barongsai berwarna Kuning Emas dan Merah menjadi leader upacara prosesi dari halaman gereja.  Memasuki gereja, lagu pembukaan berbahasa Indonesia beraksen Cina dinyanyikan dengan sempurna oleh para anggota koor dari SLB Karya Murni Ruteng Flores NTT.  Bagi yang pernah ke Cina dan mengunjungi kuil-kuil pertapaan, bila anda memejamkan mata, intro music dan melodi mandolin yang dimainkan anak-anak cacat ini, mengingatkan anda pada tempat-tempat ini.

Selain menyanyikan lagu pengiring upacara misa Kudus, bacaan pertama dan kedua juga dibacakan oleh dua anak dari SLB karya Murni, dengan menggunakan huruf braile. Dalam homilinya Uskup mengatakan, membekali dan membangun  masa depan anak, tidak cukup hanya dengan menyekolahkan mereka hingga mencapai pendidikan tinggi, tetapi orang tua, gereja dan lingkungan social  juga harus mengajarkan kepada mereka untuk menghormati hidup orang lain, budaya sendiri, dan budaya orang lain dimanapun mereka hidup.

Tarian gemulai gadis-gadis berbaju ceongsam merah mengiringi persembahan.

image_1

image_2

image_3

image_2

Upacara misa kudus diakhiri dengan  lagu “Hormatilah Kehidupan”, dinyanyikan oleh anggota koor SLB Karya Murni yang didandan bak cici dan koko oleh panitya pelaksana. Inkulturasi Tionghoa tidak hanya pada tata upacara liturgy, pada sesi pemberkatan anak-anak kali ini, selain member berkat, bapak Uskup juga membagikan ang pao yang sudah disediakan untuk anak-anak kecil ini.

Sahabat Baltyra, kedua pengalaman saya tersebut di atas membuat saya yakin, kalau bangsa kita Indonesia, adalah bangsa yang besar dan kuat, jika kita saling menghormati, dan rendah hati.  Sikap arogansi bukan hanya menghancurkan saudara kita sendiri di Indonesia, tetapi juga dimanfaatkan  oleh bangsa lain untuk keuntungan mereka.  Hendaknya kita menjadi ksatria di hati keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Bukan ksatria titipan bangsa asing, atau ambisius politik  dengan rakyat sebagai tameng yang berujung menjadi korban.

image

image_4

image_5

image_6

image_7

Junjungi dan hormati kehidupan sesama bangsa kita, adat, budaya dan agamanya. Kiprah budaya, adat dan agama, bukan berarti kita harus menjadi sama seperti apa yang menjadi sumber kiprah kita.  Indonesia adalah Indonesia, BHINEKA TUNGGAL  IKA.  Menyangkal / menolak BHINEKA TUNGGAL IKA, bukan saja menjadi langkah mundur secara etika dan moral, tetapi juga menjadi rem dan destructor bagi kemajuan bangsa.

image

Gong Xi Fa Cai! Semoga sukses menunggang Kuda di tahun 2014. Jangan salah mengendalikan kekang, agar tidak terpelanting, bahkan ditendang kuda. Hai ya!!

 

Bali, 2 Februari 2014

 

Note: karena satu dan lain hal, Kornelya baru mengirimkannya setelah kembali ke Amerika, sehingga artikel ini baru bisa tayang sekarang.

 

43 Comments to "Meneguhkan Iman Umat Melalui Apresiasi Budaya"

  1. Linda Cheang  12 March, 2014 at 07:57

    Kakak Kornel, “Fu” artinya : keberuntungan, berkat. Dialek Hokian menyebutnya ” Hok” kelak jadi hoki.

  2. Kornelya  7 March, 2014 at 09:23

    Betul mba Elnino, gereja Ganjuran maksudnya. Hehehe

  3. Kornelya  7 March, 2014 at 09:21

    Mba Linda, aku tak mengerti karakter yg ada di baju para imam. Hahahaha , apa artinya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.