Salah Duga

Hennie Triana Oberst

 

Kadang karena rindu untuk pulang, aku sering memanfaatkan waktu di akhir minggu untuk menjenguk orang tuaku di Medan. Jarak tempuh Jakarta – Medan hanya dua jam terbang, ditambah waktu tunggu dan perjalanan ke bandara tidaklah berarti bagiku. Apalagi jarak bandara di Medan ke rumah orangtuaku ditempuh hanya kira-kira 15 menit. Jadi aku memang lumayan sering menjenguk mereka. Biasanya kalau tidak ada libur, aku terbang pada Jumat sore sepulang kerja langsung menuju bandara.

Ketika mulai memasuki pintu pesawat, seperti biasa crew pesawat menyambut penumpang, memberi salam. Dari tiga orang yang berjejer ada seorang lelaki yang berseragam pilot, gagah dan ganteng, (memang hampir semua pilot seperti itu kan ya).

tom-cruise-top-gun

Ia mengulurkan tangannya menyalamiku sambil berkata, “Hai, apa kabar?“

“Baik, terima kasih“, jawabku sambil tersenyum. Sambil berjalan menuju tempat duduk aku bergumam dalam hati, hmmm.. pasti lelaki ini adalah tetangga sebelah tempat kos ku. Ia penyewa rumah baru, pilot Garuda. Kadang aku lihat ia dijemput atau diantar, tapi kami hanya saling menyapa ala kadarnya. Sering Ibu kos ku menyampaikan salam dari lelaki ini. Lumayanlah sedikit ge-er dititipin salam dari lelaki cakep seperti dia.

Baru saja pesawat mengudara, seorang pramugari datang mendekatiku dan berkata:

“Mbak, diundang ke Cockpit oleh Captain“.

“Oh, saya? Ada apa?”, tanyaku dengan heran.

“Lho, bukannya mbak temannya Captain?“, si pramugari bertanya bingung.

“Oh, iya mungkin”, jawabku sambil beranjak dan menuju cockpit diantar mbak pramugari tadi.

“Silakan duduk”, kata pilot dan co-pilot berbarengan begitu aku memasuki cockpit. Kemudian mereka mengenalkan nama masing-masing.

pilot

“Bingung ya, kenapa diundang ke sini?“, co-pilot mengajukan pertanyaan yang makin membuatku heran.

“Dia (sambil menunjuk si pilot) cuma pingin kenalan aja”, co-pilot menjawab sendiri kebingunganku dengan tertawa lebar.

Aku menatap mas Pilot, dia senyum dengan wajah memerah.

“Saya kira kita tetanggaan”, kataku jujur.

Mereka berdua menggelengkan kepalanya.

“Boleh kenalan kan?”, akhirnya sang pilot mencairkan suasana.

cockpit-pilot

Mana mungkin aku bilang tidak kepada dua orang lelaki ganteng seperti mereka. Dapat kenalan dan diajak menikmati penerbangan dan duduk di cockpit. Tempat duduknya memang tidak nyaman, tapi perasaan ketika memandang ke luar itu yang menimbulkan sensasi (takut) yang luar biasa. Aku akhirnya pamit kembali ke tempat duduk ketika saat makan tiba. Setelah kami saling bertukar nomor telpon.

Aku ingat perkataan beberapa teman dan sahabatku, jika aku sering mengalami beberapa peristiwa menarik yang tidak umum dalam hidupku. Kadang menyenangkan, konyol, mengharukan dan kadang menyebalkan. Dan kali ini adalah peristiwa yang menyenangkan.

 

Nostalgie-GA (antara Jakarta dan Medan)

 

Catatan: Bandara di tulisan atas adalah bandara lama, Polonia. Sedangkan yang baru KNIA jaraknya jauh dari rumah mendiang orang tuaku

 

54 Comments to "Salah Duga"

  1. HennieTriana Oberst  7 March, 2014 at 08:25

    Linda, sepertinya begitu hehehe…
    Menarik dan mungkin sakelinya terjadi dalam hidupku.

  2. HennieTriana Oberst  7 March, 2014 at 08:23

    Dewi, emang enak… walaupun tidak sampai gila

  3. Lani  4 March, 2014 at 07:27

    DA : apane sing enak tur gilaaaaaaaaa?

  4. Dewi Aichi  4 March, 2014 at 05:47

    waaaaaaaaaaaa…enak gila..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *