Antalani Rindu Padamu, Ni

Atra Lophe

 

Tangis Antalani pecah, butiran bening itu jatuh lembut membasahi pipi. Sedu sedan bergema pada ruang bercat putih kapas itu. Menembus molekul-molekul yang terkandung di dalamnya. Sementara seuntai doa diucapkan lirih dari tenggorokannya yang tercekat. Terbata-bata, doa itu mengalun. “Tuhan, berikan keajaiban untuk dia”.

Begitulah, Tuhan menjadi tumpuan ketika tangan-tangan yang dipercaya mampu menaklukannya, terpaksa menyerah. Hidup dipertaruhkan dalam waktu sesaat. Bagaimana tidak, melihat ia terbujur kaku sementara bibirnya terus menyunggingkan senyum. Bukankah saatnya untuk memaksa Tuhan bekerja?

IMG00512-20131223-1520

***

Aku memanggilnya Ni, ejaan tearakhir dari namanya, Yani. Nuryani R.K Bara.  Wajahnya manis. Manis karena ia selalu saja menyunggingkan senyum saat aku mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Dalam senyumnya ia menyimpulkan segala jawaban atas pertanyaan itu. Senyuman itulah yang memanggilku untuk kembali memeluk raganya yang kaku dan mencium pipinya yang lembut. Senyum itu juga yang membawaku mendekatkan diri pada Tuhan, memaksa-Nya untuk memberikan kami mukjizat, aku dan Ni.

Ni masih berusia delapan tahun. Matanya bening, tubuhnya ringkih. Rambut yang tebal dan terus terurai, jatuh lunglai ke pundaknya. Rambut yang tetap saja tumbuh subur, meski tubuhnya tak mampu memberi banyak nutrisi. Rambut itu mungkin terlalu egois, tak peduli pada organ lainnya yang kini masih menjerit kesakitan.

Ni merupakan anak satu-satunya perempuan dari 4 bersaudara.  Dan juga  merupakan anak bungsu. Jika kebanyakan orang selalu mengistimewakan kedudukan sebagai anak tunggal perempuan dan anak bungsu, hal ini sangat berbeda dengan Ni , putri dari Pega Sabaora dan Magdalena Rambu Mboba Ngalabani.

Dilahirkan dalam keluarga yang sederhana bahkan nyaris disebut miskin, Ni terpaksa harus terpisah dengan keluarganya. Ia tinggal bersama keluarga lain, yang masih memiliki hubungan darah dengan ibu kandungnya. Seperti anak lain seusianya, pagi hari mereka akan berangkat ke sekolah dan pulang ketika posisi matahari tepat di atas ubun-ubun. Sementara, para orang dewasa akan pergi bertani pada pagi hari, dan pulang ketika hari beranjak malam. Keadaan inilah yang kemudian menjauhkan Ni dari kedua orangtuanya.

Tinggal di sebuah pedalaman di kampung Waerasa, Sumba Tengah, tak lantas membuat ia patah semangat untuk meraih cita-citanya. Kecerdasannya melampau anak seusianya. Bagi Ni, kelak jika ia menjadi orang yang sukses, segalanya akan dipersembahkan untuk kedua orangtuanya.

Namun mimpi itu seakan mulai buyar, ketika tiba-tiba tubuhnya mulai sering merasa letih tanpa sebab. Bernafas saja mulai sulit. Jantungnya terus berdegup kencang, kulitnya perlahan-lahan mulai menguning keemasan dan kemudian pucat. Pribadi yang lincah dan gesit hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanya tubuh yang kaku dan desahan nafas kesakitan. Ini adalah pertanda, sesuatu telah terjadi atasnya Tahun 2010 silam Ni dinyatakan menderita penyakit jantung.

Pernyataan menderita penyakit jantung hanya didiagnosis begitu saja, tanpa ada tindakan lanjutan. Keadaan ekonomi selalu menjadi kendala terbesar ketika orang miskin sakit. Mati seakan-akan pilihan paling bijak, mengingat penuhi kebutuhan perut saja sudah terlampau susah.

Singkat cerita, keadaan Ni semakin parah. Tubuhnya kering dan tak bergairah. Pada November 2013 lalu, entah malaikat apa yang mengunjungi ibunya, mereka berdua kemudian nekat menjalani perawatan di Bali. Bermodalkan harapan kesembuhan, keduanya nekat menerobos keterbatasan dan ketakutan. Di sanalah, bukti cinta ibu begitu besar. Ia mengalahkan keraguannya sendiri, demi melihat putrinya tersenyum dan tak menjerit lagi.

Selama hampir dua bulan menjalani perawatan di ruang picu jantung, Ni kemudian berangsur-angsur sembuh. Matanya mulai bening dan memancarkan suka cita. Ketika aku mengunjunginya, ia sering berkelakar mengajaku untuk menyentuh alat-alat medis yang ramai mengerumuni tubuhnya yang ringkih.

yani

“Kak, kakak orang mana?” tanya Ni polos.

“Saya dari Manggarai, tapi kerja di Bali,” jawabku singkat.

“Kenapa kakak mau datang kesini? Kakak kan bukan keluarga saya,” katanya.

“Karena kakak sayang sama Ni,”

“Ni juga sayang sama kakak,”akunya.

Aku tersenyum. Matanya  bertemu dengan mataku, pandangan yang menusuk jantungku.

“Ni, sekarang sudah baikan sayang? Sudah sembuh?”tanyaku membuyarkan senyumannya.

“Kakak, saya lupa rasanya tidak sakit seperti apa. Saya rasa sakit terus di bagian sini dari dulu, tapi sekarang sakitnya semua badan. Sekarang kalau sakit lagi, saya biasa saja kak,” katanya sambil memegang dadanya.

Aku diam. Tertegun pada kalimat anak delapan tahun yang kini ada di hadapanku. Pernyataan itu membuatku bertanya, sebegitu menderitakah engkau adik manisku?

***

 

Januari 2014, suatu kebahagiaan untuk aku dan Ni. Ni diperbolehkan pulang, meski robekan di jantungnya masih ada.

“Kakak, saya mau jadi dokter,”katanya sebelum kami berpisah.

“Oh ya? Kenapa sayang?” aku kembali bertanya dengan antusias.

“Biar saya tidak sakit lagi. Kalau saya sakit, saya obat sendiri saja. Kalau dokter juga kan banyak uangnya. Nanti bantu mama supaya bayar utang, yang mama pinjam dari tetangga untuk obati saya ke sini,” katanya dengan logat Sumba yang kental.

Aku memeluknya erat. Perasaan haru menyelimuti jiwaku, hingga aku menangis. Beberapa saat kemudian, Ni beranjak pergi. Ia mencium pipiku. Hangat, hangat sekali.

“Kakak, nanti main ke Sumba,”ajaknya.

Aku mengagguk diam, mengiyakan aja kan itu sambi mengamininya. Ia melangkah pegi dan menghilang di balik lalu-lalang kendaraan. Ada sesuatu yang hilang dari lubuk hatiku, tetapi aku membiarkannya pergi. Di sini, aroma kebersamaan itu melekat erat. Ni, betapa aku merindukanmu.

 

Bali, Februari 2014

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Antalani Rindu Padamu, Ni"

  1. J C  4 March, 2014 at 11:18

    Sangat sedih membacanya. Memang di Indonesia orang miskin “dilarang sakit”…

  2. Dewi Aichi  4 March, 2014 at 01:08

    Terima kasih liputannya ya Atra, doaku, Ni cepat sembuh, cepat mendapatkan pengobatan yang layak untuk kesembuhannya.

  3. Matahari  3 March, 2014 at 21:48

    Kalau saya membaca cerita cerita sedih seperti ini…saya jadi semakin jijik dan muak melihat para koruptors dinegara kita…yang korup ratusan milliard agar bisa punya rumah 10…mobil mewah 40…istri simpanan dari kalangan artis disana sini..ngedrugs…nipu sana sini…..Harusnya anak seperti Ni berhak untuk mendapat kenyaman serta perobatan dinegri Indonesia karena NKRI juga milik dia….

  4. Dj. 813  3 March, 2014 at 19:28

    Antra Lophe…
    Terimakkasih sama-sama…
    Dj. benar-benar terharu membaca artikel anda diatas.
    Dj. sudah akan selalu berdoa untuk Ni.
    Puji TUHAN…!!!
    Bila Ni sudah bsa sekolah kembali, semoga dia sehat selalu.
    Siapa tahu, satu saat kalau kami mudik, bisa sampai ke Suma Tengah.
    Siapa tahu bahkan bisa berjumpa dengan Ni….

    Kami akan tetap berdoa untuk Ni dan ibunya yang berjuang untuk Ni,
    tanpa mengenal rintangan apapun. Salut…!!!

    Salam Sejahtera sari Mainz.

  5. Atra Lophe  3 March, 2014 at 18:41

    hoollaaa, bang DJ. terimakasih untuk perhatiannya. Semoga DJ juga selalu dalam keadaan baik-baik saja dan terberkati.

    Ni tinggal di kampung Waerasa, Sumba Tengah. Disana alamat lengkap RT/RW, sangat jarang bahkan hampir tidak digunakan sama sekali.
    Sekarang saya sedang mencari tahu tempat tinggal saudara laki-lakinya di Bali, yang kebetulan ketika Ni dirawat, ia harus kerja untuk menghidupi ibunya yang menjaga Ni di rumah sakit.

    Informasi terakhir yang saya dapat kalau Ni memang sudah bisa masuk sekolah, dan melakukan aktifitas seperti biasa. Keadaan tersebut membuat saya bersyukur, karena dia bisa kembali bermain setelah hampir 3 bulan dirawat di ruang picu jantung.

    Tetapi, pada sisi lain saya masih tidak tenang, karena luka pada jantungnya masih ada dan sesekali bisa kambuh.

    Bang DJ, saya sangat terharu ketika saya meliput anak tersebut, saya baru tahu ternyata cinta sang ibu pada Ni sangat besar, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.

  6. Dj. 813  3 March, 2014 at 17:54

    Atra Lophe…
    Terimakasih untuk cerita yang sangat mengharukan.
    Dj. sendiri penderita jantung dan setiap hari, untuk jentung, Dj. harus minum obat
    5 butir ( 3 butir pagi, 1 butir siang dan 1 butir malam ) untuk seumur hidup.
    Dj. bisa bayangkan, bagaimana dengan keluaga Ni.
    Semoga Ni benar-benar sembuh dan tidak harus makan obat seperti Dj.
    Sayang Atra tidak ada kontak lagi, sungguh sangat disayangkan.
    Deandainya masih ada kontak, Dj. ingin minta alamat Ni di Sumba.
    Karena ada keponakan Dj. yang menikah dengan orang Sumba, walau mereka tinggal di Kupang.
    Namanya Alexander Ratu Lado ( orang Sabo ), mereka suami istri pendeta dan anak-anak mereka juga dua melayani di Gereja.
    Seandainya Atra ada tahu alamat mereka, Dj. ingin memilikinya.

    Terimakasih dan akan selalu berdoa untuk Ni.
    TUHAN MEMBERKATI . . . ! ! !

  7. Atra Lophe  3 March, 2014 at 16:46


    Alvian: Sebulan terakhir saya sudah tidak bisa menghubungi Ni dan keluarganya lagi. Kampung mereka di pedalaman Sumba Tengah, dan tidak ada signal.
    Sekarang saya kesulitan untuk mengambil data-data hasil pemeriksaan di rumah sakit yang sempat merawat Ni di Bali untuk dikirim ke Jakarta. Sangat kebetulan, ada seorang dokter jantung tergerak untuk membantunya mencarikan solusi.

  8. Alvina VB  3 March, 2014 at 14:11

    Terima kasih sudah berbagi cerita di sini Atra!
    Semoga Ni sembuh ya…Apakah Atra masih bisa kontak dgn Ni?

  9. Esti  3 March, 2014 at 12:23

    Smoga sungguhan sembuh ya Ni

  10. James  3 March, 2014 at 09:57

    1…….rindu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.