Lebih Baik Mati daripada Menjadi Budak

Abu Waswas

 

“Plat!” teriak seorang penjual budak itu. Namun budak yang dipanggil tidak juga berdiri.
“Kenapa kau tidak berdiri?” tanya si penjual itu.
“Namaku bukan Plat!” Maka ditamparlah budak itu. Seorang yang menjadi budak harus kehilangan namanya. Tak punya hak berbicara. Hak melawan. Bahkan hak untuk sekadar mendapatkan sabun untuk mandi.

Dengan materi ala Oscar, 12 Years A Slave jeli menggambarkan kehidupan budak di Amerika pada abad 19, tahun 1841.  Film dibuka dengan adegan para budak kulit hitam (kulit putih menyebut mereka “properti” atau julukan yang lumayan  “negro”) membabat kebun tebu dengan “sukacita” sembari bernyanyi. Plot mundur saat di mana Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) atau nama budaknya Plat dijebak oleh dua penipu yang sesumbar akan merekrutnya sebagai pemusik di sirkus lantaran Solomon piawai menggesek biola. Alih-alih menggesek biola, dia dikurung, dirantai, dan dirajam dengan papan hingga papannya hancur. Meski berkali-kali mengaku memiliki sertifikat bebas (orang kulit hitam yang punya kertas ini tidak menjadi budak) berkali-kali pula dia dihajar. Punggungnya berdarah-darah. Dia juga harus terpisah dari keluarganya di Washington dan menggarap lahan sebagai budak di Lousiana.

12-years-a-slave

Judul: 12 Years A Slave (12 tahun menjadi budak)
Sutradara: Steve McQueen
Skenario: John Ridley
Pemain: Chiwetel Ejiofor, Michael Fasbender, Lupita Nyong’o, Benedict Cumberbatch, Sarah Paulson, Brad Pitt.
Produksi dan distribusi: Summit Entertainment, Regency, Plan B
Berdasarkan buku dengan judul yang sama karya Solomon Northup.

Akting Ejiofor lumayan menjiwai dan makin kokoh dengan penampilan dari Lupita Nyong’o (budak bernama Patsy). Hampir setengah film penonton ditenggelamkan dalam tokoh Patsy yang merana. Patsy disukai tuannya, Edwin Epss (Fasbender), diistimewakan, dan ditiduri. Dia juga dicemburui istri tuannya, Mrs Epps (Sarah Paulson) yang zalim padanya. Dia dicambuk, ditusuk jarum pipinya, dihantam botol anggur mukanya oleh Nyonya Epps. Tangisan Patsy seperti meremas jantung penonton. Mungkin penonton kesal dengan orang kulit putih di film ini. Tapi kehadiran Brad Pitt (memerankan Bass) yang tidak begitu setuju dengan perbudakan bikin penonton lebih obyektif. Sayang kemunculan dia cuma sesaat.

Jempol untuk pencipta lagu dan kru di departemen musik yang membuat film suram ini terasa sedikit ceria–walau nggak dapat nominasi Oscar. Yang mana nyanyian para negro ketika membabat tebu maupun memetik kapas meniupkan angin keceriaan dalam duka. Cuma ada satu tenunan cerita yang serasa robek: perubahan fisik Solomon ketika menjadi budak selama 12 tahun. Mungkin Ejiofor bisa menguruskan badan supaya makin terlihat imej budak kurang makan, kurang tidur. Overall, cerita film ini solid, mudah diikuti, dan sukses bikin penonton iba.

TWELVE YEARS A SLAVE

Dari sisi gambar 12 Years A Slave cukup indah. Setting otentik abad 19, juga beberapa gambar yang sengaja dikendur-kendurkan. Contoh saat Solomon digantung seharian dan suratnya yang terbakar hingga titik api terakhir.

12 Years A Slave menggondol beberapa penghargaan bergengsi tahun ini di antaranya best film (drama) in Golden Globe, best film in BAFTA, best actor in BAFTA, best picture in Academy Awards/Oscar (nominasi), best actor in Oscar, Chiwetel Ejiofor (nominasi), best suporting actor in Oscar, Michael Fasbender (nominasi), best suporting actress in Oscar, Lupita Nyong’o (nominasi), best director in Oscar, Steve McQueen (nominasi), best adapted screenplay (nominasi).

 

Happy watching at theatre :) Follow my twitter @AbuSudar

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Lebih Baik Mati daripada Menjadi Budak"

  1. abu waswas  5 March, 2014 at 15:08

    James, setuju

    Alvina, aku sudah menduganya kalo film ini bakal memang OScar, juga akting Lupita yg gokil

    Terima kasih ceritanya Om dj, di sini juga gitu lah, pekerja selalu demo agar menjadi pegawai tetap bukan outsourcing, dan selalu menuntut gaji lebih banyak krn tuntutan hidup yg lebih tinggi.

    mbak dewi, mas Jc, dan jeng Henni harus sedia tius saat nonton

  2. Dewi Aichi  4 March, 2014 at 23:26

    Temanku malah ngga bisa tidur lihat film ini, terlalu berat kalau yang tidak tahan…tapi aku tetap penasaran…ingin segera menonton.

  3. J C  4 March, 2014 at 11:18

    Ini film’nya apik, yang resensi juga apik…nonton ah, atau beli DVD’nya…

  4. Dewi Aichi  3 March, 2014 at 21:20

    Suka dengan cara me-resensi film dari Abu Wawas keren…

    Film ini dapat oscar, untuk perang bantu , selain itu film gravity juga banyak mendapatkan oscar, aku udah nonton filmnya, pemainnya hanya 2 orang he he…Sandra Bullock dan George Clooney…

  5. HennieTriana Oberst  3 March, 2014 at 20:20

    Aku mau nonton film ini.

  6. Dj. 813  3 March, 2014 at 15:53

    Mas Abu Waswas….

    Jaman sekarangpun, masih banyak perbudakan modern….
    Pekerja yang tidak mendapatkan upah yang sebenarnya, karena terpaksa kerja lewat maklaar.
    Karena dipotong oleh maklaarnya, mereka didunia bisnis, juga hanya sebagia nomer saja.
    Mereka tidak mendapat jaminan sosial yang layak.

    Dulu di Jerman, kalau orang tidak memiliki pekarjaan ( pengangguran ), bisa mencari kekantor
    bagian pekerjaan. Disana, mereka akan mendapatkan pekerjaan, sesuai dengan bidangnya.
    Karena perusahaan yang memerlukan pekerja, akan memberitahu ke kantor tersebut.
    Jadi kentor tersebut akan mengiirim si penganggur ke perusahaaan yang memerlukannya, tanpa memotong gajih mereka. Karena ini dari pemerintah. Pekerja dikantor tsb. digajih dengan uang hasil pajak negara.
    Sekarang sudah diambil alih oleh kantor-kantor maklaar ( private )
    Mereka ( pekerja ) dengan pekerjaan yang sama dengan kolleganya, mendapat gajih yang hanya 60% dari teman sepekerja nya, yang masuk tanpa maklaar. Mereka tidak mendapat uang liburan dan tidak mendapat uang Natal.

    Tapi perusahaan, lebih memilih mereka, karena kalau ada pekerja yang sakit dan libur, maka maklaar
    automatis menganti dengan pekerja yang lain.
    Dengan demikian, maka perusahaan bisa menjalankan produksinya dengan lancar.

    Kalau melihat hal ini, maka tidak ada ubahnya dengan perbudakan masa lalu, hanya sekarang dijaman modern. Kelihatannya lebih manusiawi.
    Tapi dalam kenyataannya, mereka juga diperas .
    Dan hal ini tidak hanya untuk pekerja kasar saja, bahkan banyak lulusan sarjana yang belum mendapat pekerjaan yang stabil, mereka mau menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh banyaknya maklaar.
    Baik itu Arsitek, insinyur, juga banyak pramugari dan juga bahkan pilot yang bekerja melalui jasa maklaar,
    di Jerman disebut Leihfirma / Zeitarbeitfirma ( perusahaan / kantor yang meminjamkan pekerja )

    Dulu hal ini tidak ada dan sekarang untuk para pekerja yang kurang beruntung, mereka harus mau menerima kenyataan. Walau mereka setiap hari bisa berubah tempat kerjanya.
    Kalau dari Leih firma katakan anda harus ke Frima X, mereka tidak bisa menolak dan harus kerjakan.
    Apalagi bagi anak-anak muda yang tanpa ijazah pendidikan.
    Mereka bisa seperti bola, mereka harus menerima apa yang Leihfirma katakan.
    Bisa jadi setiap hari / Minggu / bulan, pindah tempat kerja.

    Nah dengan demikian, Dj. melihatnya, tidak ada ubahnya dengan perbudagan tempo doeloe.
    Hanya saja, ada dalam jaman modern saat ini.
    Bagaimana nanti dengan anak cucu kita nanti ??? Jangan anda berkata, anak-cucu saya akan aman-aman saja.
    Hal ini bisa saja terjadi pada setiap orang, karena dunia bukan semakin muda dan manusia rakus akan semakin banyak.

    Salam Damai Sejahtera dari Mainz.

  7. Alvina VB  3 March, 2014 at 13:50

    Film ini menang Oscar malam ini, utk best picture & supporting actress:Kenyan-Mexican actress Lupita Nyong’o

  8. James  3 March, 2014 at 09:59

    1………freedom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.