Sepasang Mata

Fidelis R. Situmorang

 

Aku baru saja menutup telepon dari Martha, ketika dia datang ke mejaku dan tiba-tiba nyerocos.

“Suatu hari saya menerima undangan dari seorang teman untuk menghadiri acara ulang tahun gerejanya.”

“Suatu harinya kapan?”

“Udah lama. Waktu masih kuliah.”

“Oh… terus?”

“Di acara syukuran itu, hadir seorang gadis yang bersaksi tentang kebaikan Tuhan dalam kehidupannya. Ia bersaksi melalui sebuah lagu. Ketika dia hendak tampil, saya terkejut, karena tenyata gadis itu buta. Dia berjalan dituntun oleh seseorang sampai ke bagian panggung kecil di depan mimbar. Semua mata yang hadir di acara itu tertuju kepadanya. Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri, ia mulai menyanyikan satu lagu pujian untuk Tuhan.

sepasang mata

‘Kucari wajahMu, temukan kasihMu. Kau bukan Tuhan yang jauh dariku…’

Suaranya bagus sekali. Tapi melihatnya bernyanyi sebagus itu, tiba-tiba hati saya merasa amat sedih. Dengan sepasang matanya yang tak dapat melihat, ia mengarahkan wajahnya ke atas seperti sedang mencari wajah Tuhan. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya, menggerakkannya seolah membentuk satu lambaian lembut memanggil, seperti ketika kita sedang melihat seseorang yang kita sayangi.

Hati saya dilamun sedih. Ini tidak adil, kata saya dalam hati. Kenapa Tuhan menciptakan gadis bersuara bagus itu dengan sepasang mata yang tidak dapat melihat? Kenapa matanya tidak diciptakan Tuhan sama seperti mata saya atau mata orang lainnya yang sehat? Saya sedih bercampur marah kepada Tuhan. Kenapa harus ada kebutaan dalam hidup ini?

‘Sungguh indah Kau Tuhan, penuh kasih dan sayang
Kau tempat penghiburan bagi setiap hati yang teluka’

Dia terus bernyanyi dengan wajah bahagia. Tapi hati saya malah dipenuhi kekecewaan dan kemarahan kepada Tuhan. Aneh sekali Tuhan ini, ucap saya dalam hati. Saya memejamkan mata, membayangkan kegelapan yang ada padanya.

Sampai acara syukuran selesai, saya masih memikirkan gadis itu. Tidak terima dengan ketidakadilan Tuhan. Saya terus memikirkannya sepanjang perjalanan pulang. Hati saya meradang.

Keesokan harinya, sepulang kuliah, saya berjalan menyeberangi jalan menuju halte tempat saya biasa menunggu angkot untuk pulang. Tiba-tiba saya rasakan sesuatu yang keras menerjang saya. Terdengar suara teriakan-teriakan perempuan dari halte. Semuanya terjadi begitu cepat. Yang saya sadari kemudian saya telah tergeletak di aspal. Lalu saya mencoba untuk duduk. Saya melihat ke sekeliling, masih bingung dengan apa yang terjadi. Ada motor Vesva tergeletak tak jauh dari saya.

Saya memeriksa keadaan tubuh saya dan mencoba untuk bangun, lalu meraih tas yang terlepas dari tubuh saya. Bagian depannya rusak. Ada garis-garis kecil membentuk robekan panjang. Ternyata saya ditabrak sepeda motor dan terseret sampai beberapa meter. Seseorang datang membantu, membopong saya sampai ke trotoar. Tidak ada darah yang keluar. Saya tidak terluka.

“Situ meleng sih…” kata seseorang menghampiri saya. Dia memegang lengannya yang terluka.

“Kamu sudah nabrak, ngotot lagi!” kata seorang bapak membela saya. Dia lantas diam. Seseorang membangunkan motor Vespa yang tergeletak di tengah jalan, lalu membawanya ke pinggir, ke dekat kami.

“Makasih, Pak,” kata pemilik motor kemudian mencoba menghidupkannya. Setelah beberapa kali hentakan kaki, motornya menyala kembali. Dia kemudian menghampiri saya.

“Tangan saya luka, Mas,” katanya menunjukkan lengannya kepada saya. “Sekarang kita bagaimana? Saya harus buru-buru, ibu saya sedang sakit.” katanya lagi.

Saya perlahan bangkit berdiri, memeriksa lagi tubuh saya yang syukurnya tak ada luka walaupun tadi terseret beberapa meter. Hanya tali tas saja yang putus dan bagian punggung saya terasa seperti pegal. Saya hanya melihat ke matanya. Otak saya sepertinya kosong, tak bisa berkata apa-apa.

Dia kemudian meminta maaf, tapi sepertinya ingin segera meninggalkan tempat itu. Mungkin takut jika polisi datang, tak mau urusan jadi panjang. Orang-orang yang tadinya menolong kami dan yang berkerumun ingin tahu apa yang terjadi, pergi satu per satu mengetahui tak ada yang terluka parah.

Dia kemudian menyalami tangan saya dan memberikan selembar uang. “Maaf ya, Mas,” katanya lagi.
“Ini pegang saja uangnya. Untuk ibu kamu,” kata saya. Dia bingung tapi segera mengambil kembali uang itu lalu cepat-cepat pergi bersama motornya.

Saya duduk kembali di trotoar, mencoba menenangkan diri. Baru kali itu saya mengalami kecelakaan, ditabrak sepeda motor. Selama ini hanya melihat di berita televisi, tak menyangka kejadian itu akan menimpa saya. Beberapa orang di halte masih memandangi saya. Rasa sakit pegal di punggung mulai bercampur dengan rasa malu.

Setelah mulai merasa tenang, saya kemudian berjalan menuju ke halte lalu cepat-cepat menaiki angkot yang berhenti. Saya asal naik saja, tak perduli tujuannya kemana, yang penting saya bisa cepat meninggalkan tempat itu. Masih agak malu, merasa seakan-akan semua mata di situ seperti memandang kasihan kepada saya.

Sesampai di rumah punggung saya makin terasa pegalnya. Saya lihat dengan membelakangi cermin, ternyata terdapat memar di situ. Cuma pegal, sebentar lagi juga sembuh, pikir saya.

Lalu saya mencoba memikirkan apa yang terjadi sepanjang hari itu. Pagi hari saya tidak lupa berdoa, mengucap syukur untuk hari yang baru dan memohon penyertaanNya di sepanjang hari itu.

Saya juga menjaga sikap dan perkataan saya tetap baik. Tapi, kenapa sore harinya sesuatu yang buruk menimpa saya? Kenapa saya sampai ditabrak motor? Saya heran. Saya rasa Itu tak seharusnya terjadi. Saya sudah memenuhi segala kewajiban saya kepada Tuhan dengan baik. Bukan hanya hari itu, tapi juga hari-hari sebelumnya.

Tiba-tiba saya teringat protes saya pada hari sebelumnya kepada Tuhan. Lalu saya berpikir, bahwa mungkin lewat kejadian itu, Ia sedang mengatakan sesuatu kepada saya; kalau Dia tak melindungi saya, mungkin beberapa tulang saya sudah ada yang patah dalam kecelakaan itu. Atau kalau Dia ijinkan, saya juga bisa terlahir dengan sepasang mata yang buta seperti gadis yang bersaksi kemarin, karena sesungguhnya, hanya Dialah yang berkuasa penuh atas kehidupan ini.

Kemudian saya menyadari bahwa ternyata gadis itu juga tetap berada dalam pemeliharaan tangan kasih Tuhan, yang karenanya dia bisa tetap bersyukur walaupun keberadaannya seperti itu. Ia tahu bahwa Tuhan selalu ada di dekatnya.

Saya jadi malu, gadis itu mengerti cara untuk bersyukur. Bersyukur dalam keterbatasannya, dalam kekurangannya, dalam kebutaannya. Saya menyesal, lalu berdoa meminta ampun kepadaNya. Saya merasa diri saya ditegur dan diberikan sepasang mata yang baru untuk melihat apa yang selama ini tak bisa saya lihat. Sejak saat itu, saya berkata kepadaNya, terserah Engkau saja, Tuhan… Terserah padaMu. Engkaulah pemilik hidupku.”

Ia menghentikan ceritanya, lalu mereguk kopinya yang sudah mulai dingin.

“Apa maksud dari ceritamu ini?”

“Tidak ada. Hanya ingin bercerita saja. Apa setiap cerita selalu menyimpan maksud jika ia disampaikan ke orang lain?”

“Tidak…”

“Nah!” Dia mendekatkan lagi cangkir kopi ke mulutnya.

 

5 Comments to "Sepasang Mata"

  1. Dj. 813  4 March, 2014 at 20:12

    Bung Fidelis R. Situmorang…
    Terimakasih untuk cerotanya.
    Banyak orang yang bisa melihat dengan matanya, tapi buta mata hatinya.
    Lebih baik buta matanya, tapi bisa melihat dengan mata hatinya.
    Dan kemuliaan TUHAN ada dalam kehidupannya.

    Shalom…!!!

  2. Handoko Widagdo  4 March, 2014 at 17:45

    Terimakasih Lae Situmorang. Ceritamu selalu indah dan tidak mempunyai maksud tertentu.

  3. Matahari  4 March, 2014 at 14:00

    ringan..enak dibaca…sarat makna…selalu jauh dari kesan menggurui apalagi pamer……bang Fidelis memang beda….

  4. J C  4 March, 2014 at 11:21

    Fidelis, as always, ceritamu mengalir enak dan menyentuh…

  5. Lani  4 March, 2014 at 09:11

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.