Berikanlah Hatimu Untuk Mencintai dan Tanganmu Untuk Melayani

Meitasari S

 

Menjelang awal-awal bulan Maret, umat Katolik di seluruh dunia memasuki masa yang disebut masa Pra-Paskah. Seperti layaknya umat Muslim mempersiapkan Lebaran, demikian juga umat Katolik mempersiapkan Paskah dengan berpantang, puasa dan mati raga. Masa Pra-Paskah dimulai dari Rabu Abu, dimana hari Rabu ini, dahi kita akan ditandai dengan abu. (baca artikel tentang Rabu Abu).

Dalam masa Pra-Paskah atau sering disebut juga sebagai Retret Agung, umat Katolik diharapkan dapat merenungkan serta menghidupi panggilannya. Merenungkan kasih Allah yang luar biasa dan membangun pertobatan terus-menerus melalui karya kepada sesama yang lemah, miskin tersingkir dan difabel (cacat).

Tema yang diambil oleh masing-masing Keuskupan berbeda, tergantung dinamika daerah setempat.

Untuk tahun ini, Keuskupan Agung Semarang mengambil tema seperti judul yang tercantum di atas. http://www.sesawi.net/2014/02/25/surat-gembala-prapaska-2014-keuskupan-agung-semarang/

Di dalam surat gembalanya, Uskup Agung Semarang mengajak umat untuk meneladan Bapa Paus Fransiskus yang mewartakan kasih Allah dengan mengunjungi tahanan membasuh kaki dan memeluknya. Melawat orang sakit dan memberi penghiburan secara langsung di tengah kesibukan beliau dan masih banyak lagi tindak nyata beliau.

Ada banyak kisah-kisah solidaritas di tengah bencana yang terjadi akhir-akhir ini, namun begitu bertubi kita dengar berita-berita tentang keserakahan, egoisme, mengejar kesenangan duniawi dan kepentingan pribadi.

Manusia cenderung menjadi sosok yang hidup untuk dirinya sendiri, menjadi mudah cemas dan sibuk memenuhi kebutuhan jasmani. Hal ini membuat manusia menjadi orang yang sulit bersyukur, enggan berbela rasa ambil bagian bertanggung jawab terhadap penderitaan orang lain.

Untuk itulah, Uskup Agung Semarang, Mgr. Johanes Pudjosumarto, mengajak umatnya mencanangkan tahun ini sebagai tahun  Formation Iman.

Formatio Iman adalah pembinaan atau pendampingan iman yang terus menerus kepada semua orang beriman dalam setiap jenjang usia, mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Pembinaan itu melibatkan keluarga, sekolah maupun paroki. Harapannya, melalui pendampingan iman yang terus menerus, kita semua bisa menjadi orang-orang yang beriman cerdas, tangguh dan misioner.

Dalam masa Pra-Paskah ini, umat diajak untuk:

–         mengolah iman agar menjadi rahmat yang membawa hidup kita menjadi penuh berkat,

–         meyakini bahwa Allah terus berkarya dalam hidup kita, dan menyerahkan hidup kita hanya kepada kehendakNya. Dengan demikian kita tidak kuatir dalam segala hal.

–         beriman yang akan membawa kita pada kesadaran bahwa hidup kita akan semakin berarti saat hati bisa mencintai dan tangan bisa melayani.

Akhirnya, Bapa Uskup mengajak kita untuk membangun iman dengan puasa, pengakuan dosa dan amal kasih.

Ada hal yang ingin saya bagikan dalam hal puasa, pantang dan mati raga.

Semasa kecil, saya diajari orang tua dan sekolah tempat saya belajar, untuk membuat kaleng selama masa puasa itu. Di setiap hari pantang yang jatuh pada hari Jumat, kami diajari untuk berpantang jajan. Dalam pantang tersebut mengandung nilai, pengendalian diri dan berbagi. Karena, uang jajan, kami sisihkan di kaleng tersebut. Pada akhir masa puasa, uang tersebut diserahkan pada sekolah yg diteruskan ke Gereja untuk disalurkan pada orang yang membutuhkan.

Sungguh suatu pengalaman yang mengesankan, dan hingga saat ini saya teruskan. Saya menyisihkan uang belanja yang biasanya untuk makan 3x, sekarang cukup untuk makan kenyang 1x dan sisanya saya masukkan ke kaleng.

Puasa dalam pengertian kami, bukan menahan lapar, tetapi mengendalikan nafsu diri, dan mereformasinya menjadi solidaritas berbagi.

Selamat memasuki masa Retret Agung-selamat berpuasa, pantang dan bermati raga. Mari berikan hati kita untuk mencintai, dan tangan kita untuk melayani.

 

Semarang – 4 Maret 2014

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

29 Comments to "Berikanlah Hatimu Untuk Mencintai dan Tanganmu Untuk Melayani"

  1. Nur Mberok  13 March, 2014 at 16:10

    Wah Linda, puasaku sangat sederhana.

    Paling ngerem marah, n ngurangi maem. Itu ada kotak yg disediakan paroki untuk menyisihkan uang belanja. Hahahaha tapi sering lupa. Xixixxi di rapel deh jadinya. PAdahal seharusnya kan ga begitu…..

    Selamat beretret agung….. sampai ketemu sooon !

  2. Nur Mberok  13 March, 2014 at 16:08

    Halo phie… tx much you too ya !

  3. Linda Cheang  12 March, 2014 at 09:02

    Meita ambil puasa apakah untuk ibadah Pra Paskah ini?

    AKu? Puasa, bukan puasa yang artinya nggak makan, tapi… puasa dulu dari ikut-ikutan spekulasi.

    DI grupo BBM banyak teman awam hobi spekulasi hilangnya MH370. Aku yang lebih tahu soal penerbangan memilih diam , nggak ikutan.

  4. Lani  11 March, 2014 at 13:31

    TM : jelas pernah mencoba dan makan “MALASADA” donut ini dijual tdk hanya pas ash Wednesday, akan ttp tiap hr ada di supermarket bahkan ada warung khusus yg jual Malasada, bentuknya macam2, rasanya/isinya jg bermacam-macam, akan ttp saya tdk suka yg diisi macam2, saya lbh suka yg plain dan ditabur gula halus………

    Saya tdk beli tiap hari, krn pd dasarnya saya tdk suka makan/jajanan yg manis2, pas dimakan dan nyruput kopi pait!

    Jd ditempat tinggalmu banyak immigrant dr Polandia????? Baru tau akan hal ini

  5. phie  10 March, 2014 at 23:38

    selamat menjalani masa pra-paskah mba meita

  6. TM  8 March, 2014 at 11:34

    Lani, saya sudah baca tentang malasada dari Wikipedia dan juga dimakan sebelum Ash Wednesday. Jadi , berarti punchki dan malasada sama hanya dalam bahasa masing-masing negara. Sudah pernah mencoba malasada? Nggak mau kali ya Lani? Soalnya banyak cholesterol. Kabar saya baik koq, Lani. Thanks for your greetings.

  7. TM  8 March, 2014 at 11:06

    Lani, banyak koq punchki dijual di grocery stores 1 minggu sebelum memasuki Rabu Abu. Suami saya suka ngingetin saya agar jangan lupa beli karena adanya setahun sekali. Saya belum tahu tuh Lani bahwa ada donut Portudis. Di Michigan banyak orang keturunan Polandia.

  8. Lani  8 March, 2014 at 05:59

    TM : apakabar? Baru tau ada donut model Polandia……sdg di Hawaii ada donat model Portugis……..dinamakan malasada

  9. Nur Mberok  7 March, 2014 at 10:25

    HAlo mbak Henie… masih di Shanghai ???

    Thank you ya mbak…. Bagaimana tuh rasa tiwulnya ??? Tetap enak yg segar ya mba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.