Jambo dan Dedi

Bayu Amde Winata

 

“Hallo, perkenalkan nama saya  Jambo.” Saya  adalah seekor anak gajah yang baru  berumur 5 tahun dengan berat 500 kg. Dapat di katakan sebagai putra daerah asli Gondai, Gondai adalah sebuah kampung yang terletak di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Dahulu saya memiliki orang tua. Mereka adalah gajah liar yang sering terlihat di perkampungan ini. Namun, tiba-tiba saja mereka  pergi. Keduanya tewas karena ulah manusia. Diracun. Dan sekarang saya adalah anak yatim piatu.

JD 2

JD 1

Saat mereka mati, perasaan saya hancur, berjalan tanpa arah dari satu kampung ke kampung. Melewati kebun karet, kebun kelapa sawit, dan hutan akasia. Dahulu, ibu berkata bahwa kami ini sudah dianggap sebagai hama. Saat itu, saya belum tahu apa itu hama. Anggapan saya hama itu sama seperti ilalang yang sering saya makan. Di dalam perjalanan tersebut, penolakan dari masyarakat terus terjadi. Saya diusir. Puncaknya adalah ketika manusia menangkap  dan membawa saya  ke suatu tempat. Saya mendengar perkataan “gajah ini akan dijinakkan dan dijadikan anggota flying squad.” Inilah awalnya.

JD 3

JD 4

Saya berkenalan dengan manusia yang bernama Dedi, dia masih muda, berkaki dua, kecil dan memiliki berat badan yang ringan. Mereka berkata bahwa dia adalah seorang penunggang gajah yang dikenal dengan sebutan Mahot.  Dari yang pernah saya dengar, mahot itu berfungsi sebagai pagar terakhir pengusiran gajah setelah pengusiran manual tidak bisa lagi di lakukan. Artinya, ada kemungkinan besar saya akan berhadapan dengan saudara-saudara dan teman-teman.

Setiap pagi dan siang, saya akan bertemu dengan Dedi. Dia sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri. Memandikan, memberikan makanan tambahan, mencarikan air saat musim kemarau, dan melatih adalah hal-hal  yang sering dia lakukan. Karena diajari oleh Dedi, saya bisa melakukan berbagai keterampilan yang dahulu hal tersebut tidak mungkin dilakukan.  Saya diangon di daerah yang masih terdapat pakan walaupun terbatas. Angon itu adalah pelepasan gajah di alam terbuka. Walaupun dilepaskan, kaki kaki kami akan tetap dirantai dengan rantai kokoh yang terbuat dari baja.

JD 5

JD 6

JD 7

Ada hari tertentu di mana nantinya saya akan berjalan mengelilingi daerah tempat saya diangon. Kata Dedi ini adalah patroli, saat patroli nanti Dedi akan menaiki  badan saya. Patroli adalah hal yang saya senangi, karena nantinya akan bertemu dengan abang Dono dan kakak Novi, kedua saudara angkat saya.  Kami akan berjalan selama beberapa jam untuk melihat kawasan yang kira-kira masih bisa kami tempati, apakah di sana masih ada rumput, tegakan kayu dan tidak bersentuhan dengan kebun penduduk. Oh iya, tentu saja mengawasi teman-teman yang masih liar. Apakah mereka masuk atau tidak ke perkampungan penduduk.

Berdasarkan percakapan antara Dedi dan mahot yang lain, saya  mendengar bahwa jumlah saudara-saudara saya tinggal 150 ekor saja. Dari dahulunya sekitar 1000-an ekor. Saya tidak mengerti maksud mereka, apa artinya itu semua, namun yang saya tahu, sebagian besar saudara saya sudah pergi. Mati.

Semua kegiatan yang saya lakukan selalu bersama Dedi, saya pernah mendengar perkataan dari seorang Mahot, “idealnya untuk membentuk flying squad, dibutuhkan empat gajah dewasa.“ Karena hanya ada saya, Kak Dono dan Kak Novi. Saya rasa, saya akan ada kedatangan saudara baru di sini.

JD 8

JD 9

JD 10

Sudah berjalan hampir satu tahun Dedi bersama saya, dari yang pernah saya dengar, bahwa masyarakat di desa Gondai ini, sudah mengerti  fungsi kami di sini. Saya senang, karena sudah tidak dimusuhi lagi. Dalam hati saya selalu berdoa, semoga manusia bisa hidup berdampingan bersama kami, dan  kejadian yang menimpa saya tidak terulang kembali.

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Jambo dan Dedi"

  1. bayu winata  14 March, 2014 at 07:55

    Mas JC: terima kasih mas, berita terbaru ada gajah yang mati di kawasan perusahaan besar di Riau (http://www.goriau.com/berita/riau/satu-lagi-gajah-mati-di-kawasan-konsesi-rapp.html). Prihatin sekali mas..

  2. J C  7 March, 2014 at 05:39

    Mas Bayu, mengharukan narasi dan foto-fotonya. Waktu ada petisi change.org tentang gajah yang mati diracun, aku ikut geram luar biasa, dan segera ikut menandatangani petisi tsb. Masih banyak manusia yang kejam luar biasa terhadap binatang yang tidak berdosa ini. Gajah, ikan hiu, badak, harimau, semuanya untuk kepentingan dan keuntungan manusia, gadingnya, siripnya, culanya, kulit dan tulang-tulangnya…

  3. bayu winata  6 March, 2014 at 10:53

    Mba Dewi Aichi: sabar ya mba.. hehe

    Mba El Nino: Terima kasih mba. Ya, perusahaan2 maupun perorangan yang mempunyai kepentingan terhadap kawasan hutan di Riau memang termasuk pihak yang mengganggu habitat gajah dan hewan liar dilindungi lainnya, dan tidak ada tindakan tegas untuk mereka.

  4. elnino  6 March, 2014 at 10:14

    Foto2 yang indah meskipun ada cerita sedih di baliknya. Syukurlah Jambo punya mahot yang baik.
    Eh, saya juga pernah ke Pelalawan tuh, Bayu.. Ke pabrik kertas RAPP. Jangan2 keberadaan pabrik ini termasuk salah satu yang menggusur habitat Jambo dan teman2nya ya, hiks…

  5. Dewi Aichi  6 March, 2014 at 09:54

    Nahhh sippp…di tunggu selanjutnya ya…dan semoga Jambo menjadi keluarga di baltyra he he..

  6. bayu winata  6 March, 2014 at 09:43

    Mba Dewi Aichi: lanjutannya.. ada

  7. Dewi Aichi  6 March, 2014 at 09:20

    Iya makasih mas Bayu,, ada cerita selanjutnya ngga? Wah tadi aku ngetik komentar panjang eh..malah error baltyranya, jadi pendek deh hi hi..

  8. bayu winata  6 March, 2014 at 09:06

    Mba Dewi Aichi: Terima kasih mba, salam disampaikan

  9. Dewi Aichi  6 March, 2014 at 08:50

    Luar biasa foto-foto dan ceritanya, salam sayang untuk Jambo ya

  10. bayu winata  6 March, 2014 at 08:36

    Mas Handoko: Salam balik dari jambo mas

    Matahari: Di Riau walopun sudah ada konservasi, tetapi karena (mungkin) tenaganya tidak profesional seperti di luar negeri, malah semakin banyak gajah yang mati (http://news.detik.com/read/2014/02/23/080856/2505738/10/diperkirakan-7-ekor-gajah-mati-di-riau-terjadi-4-bulan-lalu), mudah2an ke depannya tidak terjadi lagi.

    Bu Lani: Ya, menurut saya, manusia diciptakan Tuhan dilengkapi dengan akal, tapi keserakahan sering kali mengalahkan akal manusia.

    Mba Nonik: terima kasih Mba Nonik..

    Om Djoko: Ya om, semakin banyak, tugas kita untuk kembali mengingatkan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *