Perjalanan Terakhir (14 – Tamat)

Wesiati Setyaningsih

 

“Sekarang gimana?” tanyaku.

“Terserah kamu. Mungkin kamu ingin menikmati suasana alam ini dulu sebelum pergi.”

“Nanti aku bisa ke sini lagi tidak?”

“Mungkin masih bisa, tergantung ijinNYA.”

“Pake ijin segala?”

“Kan di sini kamu belajar lagi. Mempelajari apakah yang kamu lakukan selama ini sudah benar. Kalo belum, ya belajar lagi seharusnya bagaimana. Jadi kalo pergi ya harus ijin. Kamu kalo sekolah kan harus ijin juga, to? Ya sama.”

“Baguslah kalo aku masih bisa ke sini. Siapa tahu nanti aku kangen sama Ibu, Bapak, atau teman-teman di sini. Jadi sekarang kita mau ke mana dulu?”

“Enggak ke mana-mana. Di sini saja. Menikmati pemandangan di sini. Tempat-tempat yang selalu ingin kamu kunjungi semasa kamu hidup. Kamu ingin ke mana?”

Aku mengerutkan kening, berpikir.

“Pantai mungkin. Kelas sebelas harusnya ada piknik ke Bali. Itu selalu diharapkan semua murid. Ke Bali itu legenda seumur hidup yang tak akan pernah hilang.”

“Jadi kamu ingin ke mana? Kuta?”

Aku mengangguk cepat, “Iya! Ayo ke sana!”

Tiba-tiba aku seperti terkena pusaran angin yang perlahan melembut. Deburan air laut memenuhi udara. Angin lembut laut mengisi dada. Di depanku ombang bergulung bergantian, penuh dengan anak-anak bermain air dan beberapa orang bermain surfing.

“Aku maunya di sini sama teman-temanku,” keluhku.

“Kenapa enggak?”

Aku menatap Yang Kung tak percaya.

“Robi…! Sini main air!”

Aku terkejut mendengar suara Lala. Tak percaya aku mengamati benar apa yang ada di depanku. Teman-temanku sedang bermain di pantai, membiarkan kaki mereka diserbu air dari laut. Mereka berteriak-teriak kegirangan tiap kali gelombang datang ke arah mereka. Beberapa sengaja mendorong temannya agar jatuh.

Aku menoleh ke belakang, teman-temanku tersebar di situ. Ada yang duduk-duduk, ada yang berjalan-jalan, ada yang foto-foto. Semua menikmati sore ini di pantai Kuta. Aku menatap Yang Kung.

“Ini beneran?”

Yang Kung menatap matahari yang berwarna jingga tua.

“Menurutmu?” seperti biasa Yang Kung selalu membalikkan pertanyaan.

“Entahlah. Rasanya seperti beneran.”

Yang Kung terkekeh.

“Kamu melihat apa yang ingin kamu lihat, Rob. Sejak di dunia kemarin juga gitu. Kamu saja yang tak pernah yakin. Apa yang telah kamu lihat, kamu ingkari sendiri. Jadinya apa yang kamu lihat berganti-ganti karena kamu tidak fokus.”

“Bisa jadi. Aku masih terlalu muda waktu aku mati. Kalau aku sudah lebih tua, pasti aku akan lebih dewasa.”

“Benar. Tak masalah apapun yang telah kamu lakukan. Kamu masih sangat muda. Baru saja masuk SMA. Masih banyak sekali kemungkinan.”

“Andai pertemuan seperti ini terjadi ketika aku masih punya kesempatan.”

“Selalu ada kesempatan. Tenang saja.”

“Masak?”

Yang Kung mengangguk yakin.

“Percayalah.”

Aku tersenyum. Kurasa memang itu kuncinya: percaya.

“Aku akan tetap bersama Yang Kung?”

“Entahlah. Kita tak pernah hilang, bukan?”

“Benar. Roh itu abadi. Apakah Yang Kung tetap menjadi eyangku?”

Yang Kung tertawa.

“Aku tak akan memberitahukannya padamu.”

“Kenapa?”

“Agar kamu tahu sendiri nanti.”

“Ah, Yang Kung gitu.”

“Segala sesuatu itu lebih asik kalo kamu tau sendiri.”

“Oke, oke.”

“Nah.”

Matahari semakin condong ke barat. Sejak temanku SMP bercerita kalau kakaknya yang SMA piknik ke Bali dan ditembak pacarnya di pantai Kuta, dalam angan-anganku aku akan duduk bersama orang yang aku sayangi di sini.

Harapan tinggal harapan. Aku malah duduk bersama Yang Kung dalam situasi yang sama sekali berbeda. Aku dan Yang Kung cuma roh saat ini. Bukan lagi badan yang bisa disentuh dan dipeluk. Tak ada yang bisa kusentuh dan kupeluk juga.

Tapi Yang Kung adalah orang yang kusayangi. Jadi cita-citaku terlaksana. Apa lagi?

Udara pantai memenuhi dadaku. Kurentangkan tanganku lebar-lebar. Semua ini adalah mimpiku. Semua ini yang aku inginkan. Untuk anak seusia aku, semua ini cukuplah. Aku juga bukan anak SMA yang penuh mimpi-mimpi tentang segala yang berbau materi. Kehidupanku rasanya cukup menyenangkan meski tidak terlalu meriah.

Yang penting aku mencintai hidupku. Betapa aku yakin bahwa hidupku begitu bermakna ketika aku telah meninggalkannya. Aku sungguh berharap anak-anak seusiaku makin tahu betapa hidup mereka saat ini punya arti yang luar biasa. Di masa inilah mereka bisa bertolak ke kehidupan selanjutnya seperti yang mereka inginkan.

Tiba-tiba aku teringat Bu Nina.

“Yang, gimana kabar Bu Nina ya? Berhasil tidak dia menulis apa yang kita inginkan?”

“Oh iya. Kita tengok, yuk.”

Bu Nina sedang membaca buku pemberian suaminya kemarin. Dahinya berkerut-kerut berusaha memahami apa yang tertulis di buku itu. Kurasa buku itu cukup bagus untuk menggambarkan situasiku saat ini. Aku sangat berharap dia bisa memahami dan mempercayainya.

“Gila nih, buku,” katanya sambil memperbaiki posisi duduknya.

Aku menatap Yang Kung, tersenyum.

“Kayanya kita bisa berharap banyak, nih,” bisikku.

“Semoga.”

Bu Nina membaca buku itu beberapa saat, seperti orang yang bersemangat karena menemukan apa yang selama ini dia cari. Agak lama dia membaca hingga akhirnya dia meraih laptop dan menghidupkannya.

“Gimana? Kita pergi sekarang?” tanya Yang Kung padaku.

Apa yang ingin kulihat lagi? kurasa semua sudah kualami, kurasakan dan kulaksanakan. Tak ada lagi keinginan yang tersisa. Semua sudah selesai.

Aku mengangguk.

“Boleh lah.”

“Yakin?”

Aku mengangguk lagi.

“Kurasa aku sudah yakin.”

“Beneran?”

“Bener!”

Yang Kung tertawa.

“Baiklah,” katanya. “Ayo.”

Aku dan Yang Kung melayang ke tempat lain setelah sebelumnya aku sempat melirik laptop Bu Nina.

Aku tersenyum lebar seperti seorang pemenang ketika kulihat dia menulis di layar laptopnya:

Kalau pesan ini sampai ke tangan anda,

meski dengan cara yang tidak biasa,

itu berarti ada yang harus anda petik hikmahnya dari sini.

Apapun itu.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Perjalanan Terakhir (14 – Tamat)"

  1. wesiati  8 March, 2014 at 07:09

    mbak Lani : saya coba ya…
    mas Anung : makasih…

  2. anoew  7 March, 2014 at 18:36

    Serial yang
    K
    E
    R
    E
    N

    joget sik ah…

  3. Lani  7 March, 2014 at 11:32

    WESIATI : tuh semakin tambah sing frotes, termasuk lurahe malah ngongkon dirimu mbaleni pengalaman “mati” meneh biar bs mengalami atau melanjutkan critamu berdasarkan pengalaman sak-jatine hahaha……..

  4. wesiati  7 March, 2014 at 08:23

    Mbak Lani : saya coba…
    JC : yo iki dudu NDE lagi… wong wis kadung mati kok. haha… eh, lha kok dirimu melu protes ki to?

  5. J C  7 March, 2014 at 05:48

    Aku melu protes ah…

    (cepetan mengalami near death experience lagi, terus bikin sequel serial ini)

  6. Lani  7 March, 2014 at 00:32

    WESIATI : lah rak tenan to dugaanku banyak pembaca yg frotesssssss……….artinya pentulis kudu melanjotkan jalan2 dialam sana…….ojo kesuwen yo Wes

  7. wesiati  6 March, 2014 at 20:50

    hihi…. aduh. pada protes..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *