Syahrini vs Pariwisata

Marhento Wintolo

 

Mengapa saya angkat Syahrini dengan jambul khatulistiwanya? Karena ia seorang munafik murni. Ia membanggakan nama khatulistiwa pada jambulnya, namun ia menggunakan busana yang bukan produk khatulistiwa/Nusantara. Ia menggunakan asesoris yang menunjukkan ke-tidak cintaannya pada kekayaan budaya sendiri. Ia atau manajernya tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa batik adalah budaya warisan dunia. Saya yakin dan percaya dalam hati David Bechkam mencemooh.

‘Lha kenapa kamu ikutan budaya saya? Saya ke Indonesia ini datang untuk menikmati ciri khas budayamu. Kalau baju dan model seperti ini, sudah banyak di negeriku. Untuk apa aku datang kamu suguhi yang bisa kuperoleh di negeriku?’

Kira-kira seperti itu kata hatinya…

Demikian juga dengan kondisi pariwisata di Bali. Dengan banyaknya mall dan lapangan golf akan mengaburkan ciri khas kebaliannya. Padahal para turis datang ke Bali ingin menikmati ke-unikan Bali. Mall dan lapangan golf di banyak daerah atau negara bisa diperoleh. Tapi ke-unikan Bali memiliki daya tarik yang sangat kuat. Mereka datang untuk melihat keaslian Bali. Sayangnya kita terbawa arus modernisasi. Kita pikir dengan mengadakan lapangan golf dan mall bisa menarik kedatangan mereka.

Misalnya suatu ketika daerah wisata dengan keunikannya terkena musibah, mereka akan punya keinginan kuat untuk datang. Namun jika daerah tersebut sudah berganti wajah ke-barat-baratan, mereka merasa tidak perlu datang ke daerah tersebut. Mungkin ada yang membantah, memang salah membangun mall?

Tidak salah memang, hanya disesuaikan dengan lingkungan. Diberikan warna kedaerahan. Misalnya pasar tradisional yang ada tetap dipertahankan keasliannya namun dari segi higenisnya diperhatikan. Ciri khas asli tetap dipertahankan. Kebersihan dan kesehatan barat juga dipoleskan. Bersinergi. Itulah istilah kerennya.

Siapa yang bisa mempertahankan kondisi seperti ini? Bukan pemerintah tetapi juga rakyat setempat yang merasa memiliki warisan budaya luhur. Kekayaan dan kearifan nusantara sangat bervariasi. Selama ini jika diperhatikan, belum banyak negara yang bisa menyaingi. Rasa bangga dan cinta terhadap milik sendiri yang masih tipis dalam hati kita.

Contoh saja, gamelan. Di Amerika sudah diajarkan dan dijadikan sebagai ekstra kurikuler atau bahkan sebagai mata pelajaran wajib. Gamelan adalah orkestra terbesar di dunia. Tiada negara lain yang memiliki orkestra seperti itu di belahan dunia lain. Juga telah dijadikan warisan budaya dunia…

Indonesia-2

Ahhh Nusantaraku….

Aku bangga memilikimu….. Tanpa ingat dan selalu mengafirmasikan, saya juga bisa terseret arus…..

 

22 Comments to "Syahrini vs Pariwisata"

  1. Lyla Suryanita  11 March, 2014 at 10:35

    menyambung tulisan saya yang di atas,jika syahrini mrngunakan kata2 “jambul khatulistiwa,”sebenarnya mugnkin istilah itu hanyalh istilah yang spontanitas keluar dari ucapan..tanpa memikirkan lain2,atau pengungkapan ekspresi spontanitas,dgn tujuan utk lebih mudah dingat oleh fans, kalo bicara dan dikaitkan dgn rasa cinta budaya nusantara ,saya yakin rkyat Indonesia tetap mencintai dan mnghormati budaya kita yang fantastis variasinya,tapi tidak salah memuja dan terbudakan negara lain yang lebih maju,selama tetap menghormati budaya negri sendiri dan mengekspresikan jati diri yang bersumber dari bekal ilmu yang luas sehingga tidak mudah terpengaruh oleh sesuatu hal yang kadang seakan2 mencerminkan ekspresi jati diri yang hanya sekedar ikut2an atau mode,jadi alangkah “keren”nya jika negara yang lebih maju bisa juga mencermin kepada negara2 yang belum semaju mereka, contoh yang paling keren adalah Bali………salam

  2. Lyla Suryanita  11 March, 2014 at 10:04

    Kalo bicara syahrini,menurut dia si “syah syah” saja,karena dia memang tegila2 dengan budaya luar negri, ngefans dgn Kim Khadarsian, bintang yang naik daun setelah membuat film “live show” yang vulgar dgn keseksian tubuh (acara live show yang menarik tapi kurang berbobot dan berclass utk orang yang senang berpikir dalam) dan hobi mengumpulkan mobil sport yang udah jelas2 kalau sampai dipakai juga di jakarta yang bukan tempatnya,karena macet hehehe
    So jadi bisa disimpulkan sendiri ,kalo dia menggunakan istilah itu juga bukan pada tempatnya salam for all of you guys…thks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.