Kisah Dua Buah Bata

Dian M. Balqis

 

…sebuah obrolan menarik dengan seorang teman tadi malam…

…cerita nyata dari seorang santri di sebuah pesantren di daerah Banten…

 

Azzam, sebut saja itu namanya, adalah seorang pemuda yang haus akan ilmu agama. Sejak remaja ia berguru ke beberapa pesantren untuk memenuhi kebutuhannya akan pengetahuannya itu. Hingga pada suatu saat, ia tiba di sebuah pesantren di daerah Banten.

Alangkah kecewanya Azzam, saat pertama kali datang bukan ilmu agama yang lebih dalam yang ia dapatkan dari sang Ajengan, tapi gurunya itu malah memerintahkan untuk membangun tembok dari 1000 bata mengelilingi pesantren itu. “Mengapa saya harus membangun tembok itu..?? Bukankah saya ke mari untuk belajar tentang ilmu agama, bukan untuk menjadi tukang bangunan..??” pikir Azzam. Namun sebagai murid yang baik, ia menurut saja apa yang dikatakan gurunya.

Dengan teliti dibangunnya tembok itu dari satu bata ke bata yang lain sampai selesai tersusun tepat 1000 bata seperti yang diperintahkan oleh gurunya. Azzam merasa sudah menyusun bata-bata itu dengan sangat hati-hati, sehingga menurutnya kecil kemungkinan ada kesalahan dalam pembangunannya. Tapi ternyata setelah diperiksa kembali, ada 2 bata yang tidak rata dan agak miring posisinya, dan bagi Azzam itu sangat mengganggu pandangannya.

Melihat itu, Azzam sangat kecewa. Ingin rasanya dihancurkannya kembali tembok yang sudah dibangunnya itu dan mengulang kembali membangun dari awal. Namun sang Ajengan mencegahnya. “Biarkan saja,” kata gurunya. Azzam kembali menurut, walaupun ketidakpuasan merayapi hatinya.

Setelah itu, Azzam ditugaskan untuk menjadi pemandu bagi tamu-tamu yang datang ke pesantren itu oleh sang Ajengan. Karena malu, ia selalu menghindari sisi tembok di mana terdapat 2 bata yang miring tersebut. Sampai pada suatu hari, secara tidak sengaja, ada salah satu teman Ajengan melewati bagian tembok yang miring itu.

Teman Ajengan itupun lalu bertanya pada salah satu santri, “Siapa yang membangun tembok ini..??” Santri yang ditanya pun menjawab, “Azzam, pak..” “Tolong panggil anak itu,” ujar teman Ajengan. Santri yang disuruhnya pun segera bergegas mencari Azzam.

Dengan rasa khawatir, Azzam pun menemui teman Ajengan tadi. “Pasti aku akan dimarahi,” pikirnya. Tapi perkiraannya salah. Teman Ajengan itu justru memujinya. Katanya, “Kau yang membangun tembok ini..??” “Iya pak..,” jawab Azzam. “Tembok ini bagus sekali,” puji teman Ajengan. Dengan penuh keheranan, Azzam pun memberanikan diri untuk bertanya, “Bagaimana bisa, pak..?? Tembok itu kan ada yang miring.”

Sambil tersenyum, teman Ajengan justru balik bertanya kepada Azzam, “Ada berapa buah bata yang kau susun di situ..??” “1000, pak..,” jawab Azzam. Lalu teman Ajengan lembali bertanya, “Ada berapa buah bata yang tak sengaja kau susun miring..??” “2 buah, pak..,” masih dengan muka kebingungan Azzam menjawab. Belum mengerti ia ke mana arah pembicaraan mereka ini.

“Azzam, dengar ya nak.. Ada 1000 bata yang kau susun. 2 bata tak sengaja kau pasang miring. Kau jadi terus menerus menyesali 2 bata tadi. Sementara ada 998 buah bata yang sudah kau susun dengan sangat rapi, tapi tidak kau lihat karena kau hanya fokus pada kesalahanmu saja,” jelas teman Ajengan.

*******************

right-wrong

 

Point of View:

  • Terkadang orang hanya melihat kesalahan yang dibuat oleh seseorang dan terlalu membesar-besarkan kesalahan tersebut, sehingga kebaikan-kebaikannya yang sedemikian banyak justru tidak dianggap. Akhirnya hal itu merusak suatu hubungan baik yang sudah terjalin sekian lama hanya karena kesalahan yang seharusnya masih bisa dimaafkan. Allah saja Maha Pemaaf, bukan..??
  • Banyak orang yang sibuk mencari perbedaan hanya untuk mencari masalah, bukan justru menyatukan persamaan agar bisa menemukan titik temu.
  • Banyak orang selagi ditimpa masalah meratapi apa yang dialaminya, sehingga melupakan bahwa begitu banyak rahmat dari Allah yang harus disyukuri.
  • Berpikir positif biasanya akan menimbulkan banyak kejutan menyenangkan yang jauh lebih baik dari yang diharapkan.
  • Ilmu agama bukan hanya apa yang ada di kitab-kitab dan dihapalkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menerapkannya dalam keseharian.

 

Ada yang mau menambahkan..??

 

Note Redaksi:

Dian M. Balqis, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA! Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang memperkenalkan Baltyra kepada Dian M. Balqis…

 

8 Comments to "Kisah Dua Buah Bata"

  1. Lani  11 March, 2014 at 13:25

    DIAN : salam kenal dan selamat bergabung di Baltyra

  2. Lani  11 March, 2014 at 13:25

    KI LURAH : Awas, yang 1 bata diambil pak Hand, dan yang 1 lagi diambil Kang Anoew buat mbalang Lani…
    +++++++++++++++++

    Aku tidak mengerti, knp balang2-an pakai bata? Sik to, aku ora mudeng! Biasane yg buat mbalang bukan bata, tp bakiak, dingklik dan bikini kiwir2 hahaha……..

    KANG JAMES : ngawur banget! bata dibaca buah dada…….jian koplak-e ndadi!

  3. Anthony Lim  11 March, 2014 at 09:24

    Buat Pak DJ
    berarti kalo saya nemu barang2 yang salah diproduksi, saya kumpulkan yaaaa…. Dan kalo udah dapat banyak saya kirimkan ke Mainz yaa Pak. wkwkwkwkwk……

  4. Dj. 813  11 March, 2014 at 00:18

    Yuuuuup….!!!
    Setuju…!!!
    Yang kelihatan aneh itu malah seni dan harganya mahal…
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Tahun lalu, Dj. beli baju merk “Camp David”, tidak pernah Dj. perhatikan, apakah tulisannya itu benar atau salah. Karena coba dan cocok, langsung bayar.
    Saat masuk toko yang sama, si penjual mengenali kami dan melihat tulisan “Cam David” yang terbalik.
    Olehnya,dia bertanya,bukankah beberapa minggu yang lalu anda beli disini…???
    Dj. jawab “ya”, dan dia berkata maaf itu ada kesalahan, tulisannya kebalik.
    Kami akan menggantinya dan memberi bonus.
    Dj. jawa, nggak mau, justru ini mungkin hanya 1 dari antara 1000 atau mungkin lebih.
    Jadi Dj. anggap yang aneh saja….. Karena tidak semua orang punya yang begini….

    Mungkin anda akan berkata, dasar Dj…. Biarin saja. hahahahahahaha…!!!

    Salam damai dari Mainz.

  5. Dewi Aichi  11 March, 2014 at 00:06

    Bagus banget tulisan ini sangat layak untuk direnungkan, mba Dian…betul sekali apa yang disampaikan oleh pak Handoko tentang teman-teman di sini, selamat bergabung dan selamat menjadi keluarga besar baltyra, semoga kerasan..dan semang..

  6. J C  10 March, 2014 at 16:02

    Awas, yang 1 bata diambil pak Hand, dan yang 1 lagi diambil Kang Anoew buat mbalang Lani…

    Selamat datang dan selamat bergabung! Artikel yang menarik dalam memandang kehidupan…

  7. Handoko Widagdo  10 March, 2014 at 15:11

    Dian, selamat datang di rumah Baltyra. Kami para Baltyran adalah orang-orang yang melihat hidup dari 998 batu bata.

  8. James  10 March, 2014 at 10:26

    1……..Kisah Dua Buah Dada ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.