Hapuskan Pelajaran Agama di Sekolah

Wesiati Setyaningsih

 

no-pelajaran-agamaApa yang terlintas dalam benak Anda ketika membaca judul tulisan ini? Kalau Anda orang Indonesia yang normal, pasti yang terlintas adalah sebuah penolakan total. Itu masih jauh lebih bagus dari pada respon spontan yang lebih buruk : marah-marah.

Dalam diskusi debat di sekolah, motion “Ban religion subject at school” dimunculkan oleh ‘couch’ debat kami beberapa tahun lalu dan saya terheran-heran juga. Respon saya juga standard normal orang Indonesia. Pertanyaan yang muncul : kalau  tidak ada pelajaran agama lantas siapa yang mengajarkan urusan agama pada anak-anak?

Ketika motion ini saya jadikan bahan dalam awal diskusi ketika anak kelas X baru saja mengikuti ekstra debat, salah satu anak bahkan bertanya, “Apa enggak dosa Ma’am kalo kita bahas kaya ginian?”

Saya geli kalau mengingat ini, tapi saya sadar, respon seperti ini biasa. Kita tahu bahwa anak-anak ini sudah mengalami doktrin bahwa mempertanyakan sedikit saja tentang agama bisa membawa mereka dalam sesuatu yang selalu dijadikan ancaman : dosa. Saya sendiri waktu pertama kali mendengar motion ini juga heran, kok.

Ternyata usulan atau proposal yang diajukan kalau  pelajaran agama dihapuskan di sekolah adalah : keluargalah yang menjadi satu-satunya penanggung jawab atas pendidikan agama untuk anak-anak. Proposal ini cukup masuk akal.

Penjelasan panjang lebarnya adalah bahwa anak-anak lebih sering menerima agama mereka sebagai warisan. Berapa persen sih anak-anak yang memilih agama mereka karena memang mereka memilih sendiri? Pasti tidak banyak, kalau tidak boleh dikatakan : tidak ada.

Karena itu maka keluarga lah yang harusnya bertanggung jawab atas pembelajaran agama terhadap anak-anak mereka, bukan sekolah. Juga bahwa standard masing-masing keluarga bisa saja berbeda-beda. Satu keluarga mungkin mengharuskan anak-anak mereka dengan sangat tegas mengikuti semua ritual ibadah yang disarankan agama mereka. Sementara keluarga lain, dengan agama yang sama, lebih longgar. Yang penting tidak melakukan hal-hal yang buruk, selesai.

Seperti kata salah seorang murid saya, “Aku nggak ke gereja Mamaku nggak papa. Yang penting aku nggak pernah nyolong, nggak pernah berbuat kriminal.” Sementara ada anak lain yang selalu menawar kalau kita ada latihan di hari Minggu ketika akan ada lomba karena dia harus ke gereja dan itu tidak bisa ditawar.

Demikianlah penjelasan untuk usulan kenapa pelajaran agama sebaiknya dihapuskan dalam  daftar mata pelajaran di sekolah.

Kalau motion ini dibawa ke sebuah lomba debat, maka sanggahannya ya standard yang kita pikirkan. Bahwa agama itu menuntun perilaku anak-anak dan seterusnya. Ide-idenya pasti sudah ada di kepala kita sejak mula. Dalam mempersiapkan diri menghadapi lomba, biasanya memang kita menyiapkan argumen untuk dua posisi, setuju dan tidak setuju.

toleransi-tenggelam

Selain untuk persiapan lomba, motion ini juga sangat menarik untuk menguji seberapa terbuka wawasan seorang anak. Pernah ada anak yang waktu itu ingin masuk tim debat. Kami menguji dia dengan motion ini.

“If we should ban religion subject at school and you have to agree with that, what is you argument?”

Kalau dia kaget dengan motion ini, well, dia lebih banyak diskusi agar pemikirannya terbuka, sesuai yang dibutuhkan sebagai seorang ‘debater’. Tapi kalau dia bisa mencari argumen yang baik untuk mendukung ide tersebut, bisa dipastikan dia akan lebih mudah membuat argumen dalam sparing debat yang sering kami lakukan.

Jadi, apa yang pendapat Anda sekarang?

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

48 Comments to "Hapuskan Pelajaran Agama di Sekolah"

  1. Kornelya  17 March, 2014 at 21:34

    Pa Itsmi selalu dengan segala upaya untuk meyakinkan kami kaum beragama bahwa Tuhan Allah itu tidak ada. Dan sampai pada desparated hate menganalogikan Tuhan itu sebagai kacung. Untuk ini saya katakan, pa Itsmi itu sebenarnya Agonist.

  2. wesiati  17 March, 2014 at 18:34

    Phie : itulah. orang tualah yang harusnya bertanggung jawab atas agama anak2nya.

    JC : lha memange pemikiranmu ki piye to? wkwkkwk…

  3. J C  17 March, 2014 at 05:38

    Wesi, pemikiranmu dan komentar-komentar di sini sudah mewakili pendapatku. Wis tho, kowe paling paham lah bagaimana pemikiranku… Makanya tidak salah khan “About Wesiati Setyaningsih” seperti itu…

  4. phie  16 March, 2014 at 12:53

    mba wesi aku setuju dgn komen mas anoew. yg penting bagaimana kita memperlakukan sesama aja, soal ibadah dan segala mcm itu urusan kita pribadi dgn Yang Di Atas. aku dari TK-Univ di yayasan katolik tp kan tdk menjamin aku hafal alkitab hehehe…apalnya klo mo ulangan aja dulu. di sekolah SD-SMA ada brp tmn sekelas yg beragama lain mrk belajar juga ikut pelajaran tanpa protes, kan udh konsekuensi masuk sekolah katolik. entah ya klo skrg katanya boleh ga ikut. skrg anakku dari kecil udh masuk sekolah yayasan yahudi, nantinya mrk belajar torah (dalam kristen adalah Perjanjian Lama) dan bahasa hebrew, alasanku yg utama krn program pendidikan kurikulum dan pembentukan karakternya jauh lbh baik drpd sekolah biasa yg aku udh survey. soal agama itu biar ntar dia sendiri yg memutuskan, baptis katolik sudah tinggal ntar mau mendalami apa ga.

  5. wesiati  16 March, 2014 at 12:06

    dibaca lagi. artikel ini kan tentang materi debat… it’s just a game of argument… pemikiran saya, nggak penting.

  6. Itsmi  15 March, 2014 at 13:03

    Wes: nggak masuk ke mana-mana atau ke siapa2 juga.

    Coba pikir lagi yang lebih dalam.. dan kamu akan berkesimpulan bahwa artikelmu sangat bertolak belakang dengan pemikiranmu…

  7. wesiati  14 March, 2014 at 15:11

    itsmi : nggak masalah nggak masuk ke mana-mana atau ke siapa2 juga. I don’t mind…

    Mbak nur mberok : biar aja… artikel di sini kan milik semua orang..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.