Posteraksi, Saya dan Social Media

Toha Adog

 

Saya menonton pameran #POSTERAKSI dari Nobody Corp tiga hari setelah pembukaan. Sore itu Balai Soedjatmoko Solo, tempat di mana pameran itu berlangsung, sedang sepi. Hanya ada saya, dua orang penjaga buku tamu, dan poster-poster yang tertata memenuhi seluruh sisi dinding, dari atas hingga bawah.

Saya mengenal karya-karya Nobody Corp beberapa tahun lalu di forum FB Occupy Jakarta. Dan saat pertamakali melihat karya-karyanya di social media, saya langsung merasa suka dan kerap me-resharenya di laman FB saya. Menurut saya, poster-poster Nobody Corp menemukan ruangnya di dunia social media. Ia begitu cocok dengan riuhnya dunia social media dan berikut isu, gagasan, aksi dan berita, juga info jual-beli, yang bersliweran tanpa henti di dalamnya.

Saya masih ingat sebuah poster Nobody Corp yang pernah saya reshare, yakni siluet seorang berbadan besar menghadap ke belakang dengan seekor burung biru di dekat pundaknya yang bertuliskan: Hello Indonesia, Follow me to get Lost. Poster itu dirilis tak lama setelah SBY membuka akun twitternya. Atau lihat juga poster Jangan Diperas yang dirilis ketika gerakan untuk mensahkan UU perlindungan terhadap PRT menguat. Saya tak bermaksud mengatakan bahwa karya-karya Nobody Corp mendompleng isu politik yang sedang hangat di social media. Saya justru hendak mengatakan bahwa kecerdasan visual yang ia miliki mampu memberi makna lebih pada sebuah peristiwa, isu dan aksi yang sedang terjadi (setidaknya di dunia social media).

Lantas bagaimana ketika poster-poster itu dilepaskan dari dunia social media yang selama ini menjadi habitatnya? Dan lalu ditempel di tembok ruang pamer dan dilepaskan dari konteks peristiwanya (dimana banyak yang sudah berlalu)? Apakah ia tak akan menjadi seperti susu formula yang penuh protein dan kandungan DHA yang kadaluawarsa?

Saya kira permainannya memang ada di sini. Di ruangan yang nyaman (di dalam bangunan kuno yang teduh, lapang, terawat dan bersih), dengan isu dan peristiwa yang telah berlalu, poster-poster itu lalu menempuh perjalanannya sendiri. Dan saya, sebagai penonton, juga menempuh perjalanan saya sendiri, dengan rentang waktu yang berjarak dan berbagai konteks yang telah dipreteli, sehingga lebih tenang, lebih reflektif, dan tanpa tombol share. Semuanya memang menjadi lain. Saya cukup akrab dengan poster-poster Nobody Corp di dunia social media, tapi di ruangan pamer itu, di hadapan deretan poster yang di-print beraneka warna dan ukuran, saya mengalami sensasi yang berbeda. Saya pernah berpendapat, bahwa jenis presentasi tertentu dapat membunuh jenis gagasan tertentu. Dan apakah ini yang sedang terjadi?

***

Tak dapat dipungkiri, sangat terasa bahwa ada gap antara dunia social media dan dunia nyata (aih, apa sih arti kata ini?). Orang bisa sangat radikal dan garang di social media tapi di kehidupan nyata sehari-hari ia adalah seorang kompromis berat. Di dunia social media orang bisa bergaya sebagai pembela hak asasi, mem-posting kata-kata teduh, tapi malamnya men-sweeping waria. Di dunia social media semua orang bisa menjadi apa yang ia inginkan nyaris tanpa resiko. Maka kemudian muncul apa yang disebut Click Activisme. Orang bisa menjadi pejuang dan aktivis dengan hanya bermodalkan jari untuk mengklik sana-sini, mendukung ini-itu, join group ini-itu, tanpa aksi langsung. Tapi pandangan tersebut bisa juga dibalik, yakni dunia social media adalah dunia nyata sehari-hari dan dunia di luar itu justru adalah dunia sampingan. Menilik banyaknya waktu dan tenaga yang kita habiskan, dan banyaknya hubungan-hubungan yang kita bangun di sana, maka pandangan tersebut bolehlah kita jadikan pertimbangan.

Sore itu adalah kali pertama bagi saya melihat karya Nobody Corp secara fisik dan langsung (tanpa informasi yang bersliweran, tanpa chating sana-sini, tanpa jual-beli, tanpa multitasking, tanpa mention, tanpa tombol share). Dan seperti yang saya bilang, saya mengalami sensasi yang berbeda. Sedikit berjarak, datar dan tak nyata. Dan entah kenapa, saya tak terkejut (okelah hanya sedikit saja). Maka selama beberapa menit berdiri di ruangan itu saya berpikir, bahwa bagi saya, dunia nyata (aih), via ruang pamer (dimanapun tempatnya dan bagaimanapun bentuk penyajiannya), justru telah menjadi ruang hampa bagi keberadaan poster-poster itu. Jadi apakah ini semacam delusi?

Dan apakah delusi tersebut juga menyebabkan kasus Mesuji, Sampang, persoalan-persoalan buruh, utang negara, korupsi, Lapindo dan fasisme agama (seperti yang disuarakan Nobody Corp dalam poster-posternya), justru akan terasa lebih nyata di dunia social media? Apakah persoalan-persoalan tersebut hanya eksis ketika gadget, yang berfungsi sebagai pintu social media, menyala dan tidak sedang lowbat?

Tentunya tidak hanya saya, tapi ada banyak orang, yang mengidap delusi tersebut. Dan oleh karena itu masihkah kita bisa bilang, seperti yang tertulis di salah satu poster Nobody Corp bergambar silet bahwa “Ingatan Kami Tajam Jendral”? Karena, bagaimanapun, delusi menghabisi dan mengacaukan ingatan.

 

4 Comments to "Posteraksi, Saya dan Social Media"

  1. J C  17 March, 2014 at 05:34

    Social media sekarang ini memang salah satu bentuk komunikasi tercanggih dan paling efektif. Kemenangan Obama adalah salah satu contoh betapa powerful social media.

  2. Itsmi  12 March, 2014 at 12:38

    Hidup kritis bukan hanya di dunia nyata tapi begitu juga di sosial media..

  3. Lani  12 March, 2014 at 09:19

    MAS DJ : waaah……..knp telat tidur mas? opo golek wangsit?????? Selamat sdh juara satoe

  4. Dj. 813  12 March, 2014 at 03:42

    1.
    Sebelum yu Lani nongol…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.