Pikir Dulu, Pahami, Cari Informasi Lebih Luas

Dewi Aichi – Brazil

 

No free sex, no drug

Masalah bagi-bagi kondom di Indonesia sungguh menimbulkan reaksi yang luar biasa heboh. Begitu mendengar kata “kondom”, masyarakat lebih banyak yang bereaksi negatif ketimbang positifnya. Apa yang ada di benak mereka? Oh..menkes mengijinkan seks bebas, ohh pemerintah mendukung seks bebas, ohh pemerintah mendidik anak-anak untuk lebih cepat mengenal seks lalu melakukan seks dengan bebas. Begitu kita-kira kesan pertama mereka.

Apa iya sih pemerintah begitu tolol. Masa ya separah itu anggapan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia. Saya rasa tidak mungkin pemerintah mempunyai program yang bertujuan merusak anak-anak generasi bangsa, merusak masyarakat dengan menganjurkan seks bebas. Apa iya begitu buruk? Saya rasa reaksi mereka sangat berlebihan. Apalagi ada beberapa pejabat yang juga berpendapat demikian. Kondom merusak anak-anak generasi muda dan pelajar, kondom tidak efektif mencegah AIDS/HIV, dan berbagai pendapat negatif lainnya.

“Secara tidak langsung Menteri Kesehatan menyuruh seks bebas pada rakyatnya sendiri, bukankah penyakit itu adalah peringatan dari Tuhan,,,? Semakin lama semakin hancur program dan politik di negeri ini!”

“Kalo IQ jongkok dipekerjakan di pemerintahan, ya jadinya kayak gitu. Bagi-bagi kondom ke mahasiswa gratis pake kedok acara Pekan Kondom Nasional, terus disetujui sama pemda terkait?? Ini sama dengan legalitas perzinahan pemerintah?? Berapa persen orang beragama di Indonesia itu”

“Ini sama saja pemerintah memberi angin untuk melakukan seks bebas secara terbuka. Wong gak ada acara ini aja sudah mengerikan dikasih angin seperti ini yang seakan pemerintah melindungi pelaku seks bebas, apa gak akan lebih menakjubkan”

http://health.detik.com/read/2013/12/04/180518/2432700/763/gara-gara-pekan-kondom-menkes-dijuluki-ratu-kondom-indonesia?991104topnews

http://www.poskotanews.com/2013/12/10/kasus-aids-di-jakarta-melesat/

http://www.merdeka.com/peristiwa/40-mahasiswa-dan-4-siswa-di-sulut-terjangkit-hivaids.html

Ini orang-orang banyak sekali yang berpendapat bahwa dengan adalanya sosialisasi kondom akan merusak moral bangsa, merusak anak-anak, membuat anak-anak mengenal seks bebas. Dan ternyata Majelis Ulama Indonesia (MUI), artis dangdut Rhoma Irama, dan politikus PKS Herlini Amran adalah pihak-pihak yang berpendapat seperti itu. Sosialisasi kondom itu untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular akibat hubungan seksual. Mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki. Dan juga sebagai peringatan agar orang-orang tidak melakukan seks bebas.

Sebenarnya sasaran sosialisasi kondom ini kan bagi mereka para pelaku seks bebas, mereka yang rentan terhadap penyakit menular akibat perilaku seks bebas. Sudah terbukti banyak sekali kalangan yang beresiko penularan penyakit seksual. Seks berisiko di Indonesia terjadi pada semua umur, suami istri, atau di luar hubungan pernikahan. Namun program ini dicemaskan oleh banyak pihak. Seks beresiko ini bukan hanya penyakit menular seperti AIDS/HIV, tetapi juga resiko kehamilan .

http://health.liputan6.com/read/766018/dibanding-obat-kondom-lebih-terbukti-turunkan-kasus-hiv-aids?wp.hlth

http://health.liputan6.com/read/765790/kondom-cegah-hiv-aids-itu-terbukti-ilmiah-ini-contoh-negaranya?wp.hlth

Mengutip data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tahun 2010, sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi. “Berarti anak-anak kita, adik-adik kita melakukan hubungan seks berisiko.”

Ya aku heran saja, sejak kapan kondom bisa mengubah norma, moral bangsa? Kan kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa seks bebas, resiko penyakit menular dan resiko kehamilan itu sudah ada sejak dulu dan hal itu semakin meningkat. Jadi adanya sosialisasi kondom ini agar mereka sadar untuk memakai kondom agar terhindar dari resiko. Dan bagi yang tidak melakukan, agar lebih bisa berhati-hati untuk tidak melakukan seks bebas. Begitu lho yang aku pahami dari tujuan sosialisasi kondom di Indonesia.

Ada lagi yang ngeyel, wong di Amerika saja ngga ada sosialisasi kondom kok, kenapa di Indonesia yang berbudaya luhur justru bagi-bagi kondom secara terbuka (vulgar)? Yah..di Amerika kan kondom bisa diperoleh dengan mudah. Dan orang-orang lebih sadar melakukan seks sehat.

Segala resiko yang berkaitan dengan seks bebas itu sudah menjalar luas di Indonesia. Karena apa? Ketidaktahuan mereka kan? Untuk itu sosialisasi kondom dari Menkes ini bertujuan positif. Mengamankan dengan memakai kondom.Dan begitulah kenyataan sekarang, Indonesia semakin nyata bahwa seks bebas itu semakin tinggi, pengidap penyakit menular semakin tinggi, kehamilan akibat pergaulan bebas juga semakin tinggi, ini seharusnya bisa membuka pikiran kita untuk lebih berpikir positif dengan adanya program sosialisasi kondom. Dengan cara-cara yang ideal seperti memberikan pelajaran ágama, budi pekerti, moral pada dasarnya juga penting.

http://www.poskotanews.com/2013/12/10/kasus-aids-di-jakarta-melesat/

http://health.liputan6.com/read/765965/who-kedaruratan-hiv-aids-belum-berakhir?wp.trkn

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/06/mxbwip-mengenaskan-pengidap-aids-ratarata-berusia-muda

Seks dan narkoba merupakan dua masalah yang cukup mendapatkan perhatian ekstra untuk mencegahnya. Spanduk-spanduk anti narkoba, kampanya juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Bahkan hukuman berat diberlakukan di Indonesia bagi mereka yang ketahuan membawa narkoba dalam jumlah besar. Narkoba juga seperti seks bebas, tidak mudah dicegah.

Bagaimana cara pencegahannya? Di Brasil, narkoba sangat luar biasa merajalela. Pengguna narkoba dari anak-anak hingga orang dewasa. Sungguh mengerikan. Maka dari itu pemerintah mengeluarkan kebijakan memberikan penataran bagi anak-anak usia 9 hingga 12 tahun, agar tercipta generasi yang anti narkoba, yang paham akan bahaya narkoba dan penggunanya.

PROERD (Programa Educacional de Resistência às Drogas e à Violência), adalah program yang ditujukan kepada anak-anak untuk mencegah mereka menggunakan narkoba.Pelaksanaan program ini diserahkan kepada pihak policia militar dengan cara memberikan penataran selama 3 bulan. Dilaksanakan di sekolah, mengambil 2 jam pada saat jam pelajaran sekolah, dan hanya satu kali dalam seminggu.

nofreesex-nodrugs (1)

Orangtua juga diberikan penjelasan tentang program ini, para orangtua diundang dalam sebuah pertemuan, kemudian pihak policia militar memberikan petunjuk dan pemahaman, bahwa anak-anak akan diberikan penataran tentang bahaya narkoba. Jadi jelas, program ini didukung oleh masyarakat, dan sekolah.

PROERD ini adalah tindakan preventif , program yang strategis dengan tujuan utama untuk mendidik anak-anak dalam lingkungan alam mereka, sekolah, dengan bantuan polisi berseragam dan guru . Menempatkan penekanan khusus pada anak-anak, memberikan penjelasan dan pemahaman juga memberitahu dengan  menunjukkan efek obat dan mengajarkan cara menghindari dan motivasi  untuk menjauh narkoba ini.

Program ini sebenarnya diadopsi dari kepolisian yang berada di Los Angeles yang diberi nama DARE (Drug Abuse Resistance Education), program ini kemudian disebarluaskan ke seluruh wilayah lebih dari 40 negara bagian Amerika Utara. Dan akhirnya masuk ke Brasil dengan nama PROERD.

Pelajaran yang diterapkan bertujuan untuk mengembangkan sikap anak-anak, dan mengajarkan teknik pengendalian diri dan ketahanan terhadap tekanan  dari teman/kenalan yang mendorong penggunaan narkoba. Keberhasilan program ini tergantung pada pemahaman yang sempurna antara sekolah, keluarga dan polisi. Jadi anak-anak yang bisa memahami, akan dengan tegas bisa mengatakan NO terhadap narkoba. Karena anak-anak sudah paham akan akibatnya sejak dini.

Instruktur PROERD, adalah orang-orang terpilih dan benar-benar terlatih,  mereka dituntut terlibat dengan program tersebut . Instruktur  terlebih dahulu melakukan komunikasi dan mengatur pertemuan dengan para guru dan orang tua untuk memberikan saran dan penjelasan tentang tujuan dan isi kurikulum, termasuk bagaimana mengenali tanda-tanda penggunaan narkoba dan bagaimana untuk meningkatkan komunikasi keluarga.

Nah program ini, meski sesuatu yang sangat sensitif, ternyata mendapatkan dukungan yang sangat baik dari pihak sekolah dan masyarakat luas. Coba jika program ini dipahami sebagaimana soal kondom. Apakah masyarakat Indonesia akan menganggap program ini mengenalkan narkoba kepada anak-anak usia dini, dan menganggap bahwa program ini sama saja dengan menganjurkan anak-anak menggunakan narkoba?

nofreesex-nodrugs (2)

nofreesex-nodrugs (3)

nofreesex-nodrugs (4)

nofreesex-nodrugs (5)

nofreesex-nodrugs (6)

Anak-anak yang sudah mengikuti penataran selama 3 bulan akan mendapatkan semacam piagam atau sertifikat, dan pihak kepolisian akan mengadakan wisuda dan mengambil sumpah dari anak-anak untuk menghindari narkoba.

 

No free sex, no drug

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

78 Comments to "Pikir Dulu, Pahami, Cari Informasi Lebih Luas"

  1. Lani  25 March, 2014 at 07:59

    DA : wakakak……….jd ktk kalian ngumpul dan berbincang mengenai “K/C” ini perkenalan pertama kang Djuwandi dgn benda itu to????? ngekel aku………

  2. Dewi Aichi  25 March, 2014 at 00:05

    Mas Juwandi, tulisan ini sebetulnya aku tulis pas kita diskusi rame rame saat itu, awal Desember 2013… Ha ha..diskusinya panjangggg kayak rel sepur..

  3. Dewi Aichi  25 March, 2014 at 00:04

    Kornelya, sama, soal itu Brasil juga sudah sangat terbuka, jadi tidak heran, jika ada seorang ibu yang membelikan pil anti hamil untuk anak perempuannya yang sudah memiliki pacar, walau anaknya baru berusia kisaran 14 tahun, 15 tahun, meskipun aku sendiri, aduh….mungkin belum bisa, lebih memberikan saran untuk tidak melakukan seks usia dini.

  4. juwandi ahmad  23 March, 2014 at 21:37

    hehehehehe, kondom…seru dulu perbincangannya yo Mbak Dewi, nganti beratus koment, heheheh

  5. Kornelya  17 March, 2014 at 21:01

    Siapa bilang di Amerika tidak ada sosialisasi kondom secara terbuka ?. Di station kereta api/subway, pop up stand ” Safe Sex” sering sekali muncul. Disekolah2 SMA / Universitas, bila membutuhkan siswa bisa minta kondom atau pil KB diklinik sekolah. Perawat yg melayani tidak punya hak untuk bertanya secara detail apakah sudah menikah, atau kapan kondom itu akan dipakai. Privasi individu harus dihormati.
    Walau hidup dibuat negeri baru sebentar, hal significant yg saya rasakan dalam mendefenisi dan mengaplikasi apa yg disebut ” harga diri”. Kita orang Indonesia menjaga harga diri, dengan mempertahankan self denial akan kelemahan individu. Misalnya karena sudah jadi pejabat, selingkuh tetapi menyangkal anak hasil selingkuhan. Dan masyarakat sekitar mengamini ikut mengutuk wanita itu. ” Yang terpandang tak patut menanggung aib”, bila perlu sumber aibnya dibasmikan dibunuh bila perlu. Demikian juga dalam hal sosialisasi kondom, rate aborsi sudah dan pasien HIV Aids sudah meroket, sosialisasi safe sex secara terbuka masih dianggap ” Ora elok”. Kalau mau Selamat dan bersyukur bisa maju, kita harus realistis dan tegas dalam mengatasi masalah sosial, ekonomi. Kesampingkan perasaan demi keselamatan manusia. Salam dari Bali.

  6. Nur Mberok  17 March, 2014 at 15:49

    itsmi. Aku ga bela siapa2. Kamu tahu itu.

    Aku cuma bharap sudahi. Stop!

    Stlh ini aku ga lg komen buat bahasan itu.

    Lebih baik cr topik yg asik2 aja… Deal ya!

  7. Itsmi  17 March, 2014 at 15:30

    Nur Mberok itu risikonya kalau berbohong atau mulut besar….

    Apalagi di depan umum… jadi kamu tidak perlu membela…

  8. Nur Mberok  17 March, 2014 at 15:20

    udah ya itsmi. Toss ya. Capek ah…. Hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *