[Serial Dunia Atas Awan] Buku Putih Sebuah Bonus Kehidupan

Dian Nugraheni

 

Sejak kecil, aku menyadari bahwa otakku ini sering banget terasa penuh, lalu pengen menceritakan apa yang ada dalam otakku itu pada lingkunganku. Kadang aku menceritakan khayalanku, kadang aku menceritakan apa yang aku lihat atau alami hari itu. Pendengarku adalah keluargaku, Ibuku, Kakak perempuanku, Paman yang kala itu masih lajang, Embahku Kakung dan Putri, dan juga teman-teman sekolahku.

Aku ingat, ekspresi mereka ketika aku menceritakan sesuatu, mereka lebih banyak diam, memandangku, mendengarkan begitu saja. Atau bahkan beberapa dari mereka akan mencela dan mengatakan hal-hal yang membuatku tambah ngotot, bahwa ceritaku itu benar-benar terjadi, atau khayalanku itu bisa menjadi nyata.

Apa pun alasannya, bila ditanggapi negatif seperti itu, kemudian aku akan murung, diam. Tapi ya itu tadi, otakku selalu terasa penuh. Sampai terpikir olehku, aku mau nulis saja. Biar ketika aku menceritakan apa yang ada di otakku, orang nggak perlu mencelaku secara langsung begitu.

Nulis bagaimana..? Capek tanganku menulis di kertas, apalagi tulisan tanganku enggak bagus, benar-benar bukan hal yang menyenangkan untuk dikoleksi. Hal ini bikin aku mutung lagi. Dan otakku terus terasa penuh.

Kemudian aku bilang pada Ibuku, ‘bolehkah aku mempunyai mesin ketik..? Aku pengen menulis tapi nggak pakai tulisan tangan, soalnya tulisannya akan sangat banyak, aku akan capek…” Dan Ibuku menjawab simpel, seperti biasa, “Mana Ibu punya uang untuk membeli mesin ketik..? Buat bayar sekolah kalian tiap bulan saja sudah bagus, Nduk..”

Saat itu kupandangi wajah Ibuku, aku tau, dalam hatinya dia ingin sekali memberikan apa yang aku inginkan, cuma saat itu sungguh sulit untuk mewujudkannya. Aku tersenyum, memeluk pinggangnya, menempelkan mukaku di dadanya, dan menggoyang-goyangkan pelan, Ibuku memelukku pula, aku bilang, ‘nanti aku akan cari mesin ketik sendiri…”

Sampai akhirnya aku dapatkan solusi, bisa ngocol dengan cara dan gayaku sendiri, dan ada yang mendengarkan, masih dalam bentuk tulisan, yaitu dengan berkenalan dan mengirim surat pada banyak nama Sahabat Pena yang ada di majalah Donald Bebek dan majalah Ananda waktu itu.

Beberapa surat gayung bersambut, mereka membalas surat perkenalanku dengan baik, maka sejak saat itu, kelas 3 SD, sampai aku hampir lulus kuliah, acara surat menyurat jalan terus. Otakku yng penuh sedikit tersalurkan, dan sahabat penaku itu baik-baik, meski nggak pernah bertemu, kami bertukar foto juga.

Demikianlah, hidup terus berjalan, fase demi fase kehidupan aku jalani, sampai menikah, punya anak-anak, dan terus bertahan, sambil menikmati hidup. Sahabat Pena sudah entah lagi kemana mereka. Tapi kegiatan tulis menulis ini masih aku lakukan, meski bergeser jauh dari acara ngocol dan khayalan, yaitu ketika aku bekerja pada sebuah perusahaan transportasi di Indonesia, aku selalu menjadi Notulis, mengikuti setiap jenis rapat perusahan, dan merangkumnya dalam bentuk Notulen. Rupanya gaya bahasaku yang lugas cukup menjawab maksud kebutuhan Perusahaan yang harus mengkomunikasikan keputusan para Direksi kepada para karyawan yang sebagian besar adalah Pengemudi.

Hingga,  baru kira-kira 5 tahun lalu aku kepikiran lagi untuk menulis sesuatu, yang enggak pakai tulisan tangan. Kebetulan ada laptop tua di rumah, milik Bapaknya anak-anak, ditambah ada media sosial macam Facebook, di mana setiap orang mempunyai halaman pribadinya sendiri, maka tak ayal lagi, dinding Facebook-ku aku setting seperti halaman majalah yang akan memuat apa pun keinginanku tanpa sensor pihak mana pun.

Menulis tanpa tendensi apa-apa, kecuali memang hanya ingin menuliskan apa yang ada dalam otakku, tentang banyak hal yang terjadi, dan tentu saja banyak khayalan yang kutuang dalam bentuk cerpen, itu yang senyatanya aku lakukan, dan kemudian aku selalu upload di Facebook. Maka begitu surprise ketika mendapat banyak tanggapan kawan-kawan Facebook yang mengatakan, bahwa sebaiknya aku membukukan tulisan-tulisan yang aku sudah buat, dan aku cuma jawab, iya-iya saja tanpa tindak lanjut yang serius, karena aku nggak tau harus bagaimana mengurus ini semua. Aku di Amrik, pengen bikin buku di Indonesia..bla..bla..bla…, aduhai ribet dan repotnya…

Hingga suatu saat ada kawan lama, kakak angkatan kuliah dulu, mas Soni yang ternyata bekerja menjadi editor lepas, bilang, bahwa tulisanku layak dijadikan buku. Demi yang bilang seorang editor, aku cukup terkejut dan tertawa-tawa, menolak-nolak untuk menyerahkan tulisanku padanya, saking nggak percaya diri.

Setelah bicara lama, bertahan untuk tidak menyerahkan artikel yang aku tulis, selama kurang lebih satu tahun, akhirnya kuserahkan juga tulisan-tulisanku pada mas Soni, yang kemudian membawa tulisanku ke Penerbit Buku Kompas. Di inbox dia menulis, ‘Dian, hari ini aku ke Jakarta bawa tulisanmu, berdoa ya, semoga tulisanmu bisa diterima..’ itu kira-kira bulan Maret 2013.

Aku balas dengan enteng, ‘Iya mas Soni, makasih banyak…’ Enteng, karena aku masih tetap tak percaya, bahwa tulisanku akan dijadikan buku, oleh Penerbit Buku Kompas pula…hixixixi..halaahhh, ngayal kaleee…

Lalu dua hari kemudian, mas Soni inbox lagi, ‘Dian, selamat ya, tulisanmu bisa disetujui oleh Kompas, akan dikoreksi, dan semoga segera terbit…’ Balasku, ‘ohh, ya.., makasih banyak mas Soni…’ (Masih sulit untuk percaya…he..he..he..)

Kemudian Penerbit Buku Kompas memberikan seorang editor bernama mbak Tingka Adiati, dan kami berkomunikasi lewat email ketika mbak Tingka mengedit tulisanku. Beliau ini pula yang memberikan judul, ‘This is America’, karena aku memang tidak menyertakan Judul Buku, hanya judul per tulisan saja.

Lalu tengah bulan Juni 2013, aku pulang kampung ke Indonesia, mas Soni bilang, ‘datanglah ke Kompas untuk bicara dengan mereka soal bukumu…’

Lalu masih dalam keadaan jetlag, aku bertiga dengan anak-anakku datang ke kantor Penerbit Buku Kompas. Bagusnya, hari itu aku bisa langsung menemui semua pihak yang terkait, mas Mulyawan Karim, mas Irwan Suhanda, mas Christ, dan lain-lain.

Kami diskusi sebentar soal calon bukuku, fokusnya, untuk menentukan judul yang disepakati. Setelah diskusi cukup panjang dan cukup lebar, akhirnya aku mengusulkan, agar judul bukuku nanti ditambah kata, “baby, beib, atau beibeh”, biar agak ngocol dikit. Yaa.., aku ingin bukuku berkesan sedikit ‘slengekan’ karena aku pikir, meski menuliskan hal-hal nyata yang serius, tapi cara menyampaikan dalam bentuk tulisan itu, aku kira enteng-enteng saja, bahkan banyak unsur ‘jahil’nya. Naahh, senangnya, ketika hal tersebut kemudian disetujui, judul yang semula ‘This is America’, akan menjadi ‘This is America, Beibeh!”.

Awal bulan Juli 2013, buku naik cetak, bulan Agustus buku sudah selesai dicetak dan siap edar. Tanggal 22 Agustus aku boleh ambil 10 buah bagianku di Kantor Kompas Penerbit Buku. Sangat tepat waktu dengan jadwal kunjungan pulang kampungku yang akan berakhir tanggal 27 Agustus waktu itu, dan harus harus pulang ke Amrik.

Ketika buku ‘This is America, Beibeh!’ ini beredar, dan banyak teman-teman Facebook-ku sudah mendapatkannya di Gramedia Toko Buku, banyak di antara mereka yang inbox, bilang sangat senang, dan menangis saking harunya, atas terbitnya bukuku.

Oohhh…teman-temanku ini adalah penyemangatku yang nyata, meski kami hanya berhubungan di dunia maya dan belom lagi kenal darat, dan juga dengan terbitnya buku ‘This is America, Beibeh!”, aku kembali mendapatkan banyak teman, dari para pembaca yang kemudian mencari akun Facebook-ku untuk berkenalan.

Jadi, tegasnya, Buku Putih ‘This is America, Beibeh!” ini, bukanlah karyaku, tetapi buah karya semua teman, dan pihak-pihak lain yang telah menyumbangkan keindahan hati dan semangat yang terus dipancarkan….

buku-putih

Bonus kehidupan ini luar biasa bagiku…

 

Aku kira,
aku ini bukan Pejuang,
aku cuma Pejalan Kaki,
menjalani hidup apa adanya…

Aku tak sempat punya banyak mimpi yang terucap
sebagai permintaan,
cuma Alam menyerukan pada Tuhan,

untuk sekali-sekali kasih aku
bonus kehidupan…

Tapi nyatanya,
aku sering banget dapat bonus dari Tuhan,
di antaranya adalah teman-teman baik
yang tulus dan selalu mendoakan…

Dan mereka itu adalah teman-temanku
di dunia maya..

Maya ini nyata,
buatku..

 

Terima kasih banyak teman-teman baikku, dan semua pihak yang telah menjadikan maya ini menjadi nyata, Tuhan memberkati kita semua. amiin…

 

Salam Maya Itu Nyata,

Virginia,

Dian Nugraheni

Minggu, 19 Januari 2014, jam 6.15 sore

(Karya akan menemukan takdirnya, kata temanku…)

 

24 Comments to "[Serial Dunia Atas Awan] Buku Putih Sebuah Bonus Kehidupan"

  1. Nur Mberok  30 March, 2014 at 20:57

    Memang moy mb cantik siji ki. Multi talent. Senang boleh mengenal n berbagi pngalaman… Terus berkarya ya…

  2. diannugraheni  30 March, 2014 at 05:38

    Adhe Mirza hakim..he2..beli dulu bukunya, ntar mbak Dian pulkam kita ketemu, aku tandatangi…hixixixi..makasih banyak ya…

  3. diannugraheni  30 March, 2014 at 05:36

    Mbak Phie, makasih banyak yaa…maaf baru balas, gimana badai, ga jadi yaa…kecewa aku, Selasa kemaren sudah nungu2 12 inchies of snow…he2…salam sejuh hangat juga dari VA ya…

  4. adhe mirza hakim  25 March, 2014 at 08:32

    Wah….mau beli buku ini, menarik buat dibaca, sukur2 suatu saat bisa di tanda tangani penulisnya, hehe… salam kenal mba Dian.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *