Analisis Terkait Pencalonan Jokowi

Louisa Veronica Hartono (Nonik)

 

(Catatan penulis: opini yang dituliskan di sini tidak 100% berasal dari opini pribadi penulis. Kebanyakan merupakan opini yang penulis baca dan refleksikan melalui komentar-komentar yang ada di sosial media).

 

Di hari Jokowi secara resmi mengumumkan bahwa dirinya nyapres, sontak seluruh surat kabar nasional pada geger. Begitu juga dengan televisi. Berita bahwa Jokowi nyapres langsung jadi headline dimana-mana. Dipasang di halaman utama surat kabar serta diperbincangkan, didiskusikan, dan diperdebatkan di televisi. Dianalisis. Setiap unsur-unsurnya diamati secara teliti dan saksama: misalnya gerak langkah Bu Mega yang menggandeng Jokowi, sikap Jokowi yang serba rahasia – dan hanya mesem – hingga tanggal 14 Maret kemarin, surat Bu Mega yang ditulis tangan dan bukannya diketik sehingga dinilai sakral dan merakyat, dll.

jokowi-capres-pdip

jokowi

Bahkan pernyataan Jokowi dua tahun lalu saat nyalon jadi gubernur DKI Jakarta pun kembali diubek-ubek, yang katanya jika terpilih sebagai gubernur DKI akan fokus menyelesaikan permasalahan Jakarta dan tidak akan kutu loncat. Sikap para pesaing Jokowi pun juga tak luput dari incaran media. Entah yang menyelamati Jokowi atau mencibirnya, semua pasti kena sorot. Reaksi masyarakat juga begitu. Baik yang mendukung ataupun mencaci, pasti diliput media.

Di tulisan kali ini saya tertarik untuk menulis tentang reaksi orang Indonesia terkait dengan pencalonannya Jokowi. Tentu sah-sah saja bagi kita untuk berpendapat, mau setuju atau tidak setuju dengan keputusan Jokowi untuk nyapres, selama masih dikemukakan dengan cara yang santun :) Saya juga akan memberikan opini saya sendiri di tulisan ini.

Dikotomi pendapat warga Indonesia soal Jokowi nyapres ini umumnya saya baca di Facebook. Maklum, Facebook sekarang juga sudah jadi platform berita selain untuk pasang status hehehe. Biasanya saya update berita (baik yang terjadi di Indonesia maupun luar negeri) itu setelah liat status atau link yang di-share teman di Facebook. Saya juga tahu Jokowi akhirnya masuk ke bursa capres juga dari Facebook. Langsung deh berbagai komentar bermunculan….

Pendapat yang mendukung rasanya tidak usah dituliskan panjang lebar lagi di sini, karena saya lihat rata-rata penduduk Indonesia mendukung Jokowi. Bahkan kawan-kawan Indonesia saya yang tergabung dalam Persekutuan Masyarakat Nasrani Indonesia (PMNI) di Swiss juga  langsung pakai baju kotak-kotak sebagai tanda mendukung Jokowi di pertemuan sehari setelah berita itu turun hahaha. (Bagaimana dengan para Baltyrans di negeri lain? Silakan untuk berbagi pendapatnya di sini).

Dukungan-Jokowi-Capres

Di lain sisi, pendapat yang menyayangkan Jokowi nyapres, umumnya berpendapat bahwa Jakarta itu masih perlu dibenahi dan konsentrasi yang khusus dan serius. Saya termasuk orang yang tidak terlalu antusias saat tahu bahwa Jokowi memutuskan untuk nyapres. Well, sebenarnya saya dilema juga, antara senang dan gak senang. Dulu sebelum Jokowi mendeklarasikan kalau dia akan nyapres, saya berkata bahwa saya akan milih dia kalau dia maju. Hal itu dikarenakan saya tidak melihat capres-capres lain punya karakter sebagus, sekuat, dan sebersih Pak Jokowi.

Bukan berarti hal Jokowi itu lantas manusia setengah dewa yang ga punya salah. Saya yakin beliau itu masih 100% seutuhnya dan sepenuhnya manusia, yang bisa salah, bisa khilaf, dan juga tergoda. Tapi yaaa jujur aja sih, dibandingkan dengan Jokowi, di mata saya calon-calon lain itu rasanya tidak serius. Ada yang mikir jadi presiden atau duduk di kursi dewan itu perkara gampang. Ada yang mikir nyapres itu kesempatan untuk berkuasa dan menjadi kaya. Ada yang mungkin cuma untuk cari sensasi atau nampang doang. Ada yang murni ingin nyapres untuk memperbaiki bangsa dan negara, tapi track record masa lalunya buruk dan rakyat tidak percaya dengan dia. Bukan masalah memaafkan atau tidak memaafkan, tapi dari sini saya jadi tahu kalau ternyata track record itu penting sekali, karena itu menyangkut nama baik seseorang. Bahkan jika nama baik itu sudah pulih, orang masih tetap bisa ingat-ingat masa lalunya yang tidak (begitu) baik. Sigh…. Susah memang. Tapi intinya, saya ingin pilih Jokowi karena dia bersih dan orangnya ga banyak cingcong, langsung kerja. Itu alasan kenapa saya mau milih Jokowi.

Jokowi-Presdien

Tapi di sisi lain, saya juga ingin beliau fokus nanganin Jakarta dulu. Seperti yang saya tulis sebelumnya, Jakarta itu susah untuk dibenahi. Saya dengar, untuk mengurai kemacetan saja butuh waktu setidaknya 5 hingga 10 tahun. Kemudian masih ada banjir dan masalah monorel. Jakarta memang bukan kota asal saya, tapi saya ingin Jakarta jadi kota yang nyaman dan enak ditinggali.

Jujur selama ini saya tidak bangga dengan Jakarta dan saya tidak suka tinggal di sana, karena kotanya berpolusi, macetnya gak nahan, dan transportasi publik juga ga bagus. Tiga kata yang ada di benak saya setiap kali dengar kata Jakarta adalah macet, panas, dan kotor. Saya sempat tinggal sebentar di Jakarta, dan banyak waktu yang terbuang di jalan karena macet. Bukan hanya itu, saya jadi cepat stress di jalan.

Untung waktu itu bukan musim banjir. Saya ga ga yakin saya bisa tahan hidup di sana kalau pas banjir. Bahkan untuk ke depan pun saya sebenarnya tidak begitu suka bila harus kerja di Jakarta. Tapi, selama 1,5 tahun dipegang Jokowi, saya tahu bahwa Jakarta pelan-pelan berubah dan membaik, dan saya mengapresiasi itu. Saya ingin itu terus dilanjutkan. Saya pikir, kalau Jokowi nyapres, urusan beliau pasti bukan hanya Jakarta saja, tapi SELURUH Indonesia!!! Saya mikir itu aja pusing. Ngurusin lebih dari 250 juta orang itu bukan perkara gampang. Boro-boro Indonesia, dengar kata Jakarta saja saya sudah mumet. Nah, saya berpikir kalau Jokowi nyapres, berarti fokus pembenahan pada Jakarta akan berkurang karena Jokowi juga harus memikirkan daerah-daerah lain juga. Sekali lagi bukan saya anti dengan daerah lain. Saya setuju jika daerah lain juga perlu dimajukan, tapi saya rasa persoalan Jakarta ini sudah sangat parah sehingga perlu penanganan khusus.

Namun, ketika saya membaca banyak komentar mengenai tanggapan orang-orang soal pencalonan Jokowi, saya jadi tenang setelah tahu bahwa pencalonan Jokowi itu justru akan memudahkan beliau untuk mengurus Jakarta. Seandainya beliau terpilih jadi presiden, otomatis kekuasaannya akan lebih besar sehingga segala keputusan dan kebijakan untuk menangani Jakarta yang tadinya terhambat di pemerintah pusat bisa diputuskan dengan lebih cepat. Sebenarnya bisa saya simpulkan bahwa hampir seluruh rakyat Indonesia (ada kata hampir, karena saya yakin pasti ada yang mendukung capres lain dan bukan hanya Jokowi saja hehe) itu setuju dan mendukung Jokowi, sekalipun beberapa dari mereka terkesan menolak atau ragu-ragu. Analisis berikut ini akan menjelaskan lebih lanjut :p

Nah, ada dua opini di Facebook yang sangat menarik perhatian saya terkait pencalonan Jokowi ini. Satu dari pihak yang mendukung, dan satunya lagi dari pihak yang kurang mendukung. Analisis ini bukan dari saya, melainkan dari dua orang teman saya. Saya pikir apa yang mereka kemukakan ini sangat menarik untuk dicermati, dan mungkin bisa didiskusikan bersama-sama oleh para Baltyrans :)

Yang pertama, dari alasan yang setuju dulu. Teman saya menulis begini,

“pencalonan Jokowi sebagai calon presiden Indonesia adalah langkah yang ‘harus’ dilakukan untuk menyelamatkan Indonesia.”

Mengapa?

survey-capres

1. Masyarakat Internasional merasa jengah melihat kandidat capres di Indonesia. Hingga saat ini, kandidat capres masih berkutat di antara pengusaha yang diragukan kompetensi (atau nuraninya?), beberapa bekas terdakwa pelanggaran ‘human-right’ dan juga kaum yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi sempit yang bisa menggiring Indonesia ke pemerintahan otoriter. Jokowi, dengan segala kekurangannya, dipandang dunia internasional memiliki kapasitas untuk memimpin Indonesia secara adil dan Pancasilais. Artinya, Jokowi dibutuhkan untuk memenangkan hati masyarakat internasional

 

2. Ketidakpercayaan masyarakat internasional pada kandidat presiden di Indonesia telah menjatuhkan ekonomi kita secara masif. Berdasar data Bangkok Post, kita adalah negara dengan perkembangan ekonomi terendah di Asia Tenggara sejak tahun lahu. Diindikasikan masyarakat internasional enggan berinvestasi di Indonesia karena khawatir akan nasib bisnis mereka di masa depan pasca pemilu. Alhasil, langkah pemerintah untuk memerangi kemiskinan makin sulit. Setelah Jokowi maju sebagai capres, IHSG langsung melonjak tajam. Peluang untuk menghadapi masalah kemiskinanpun terbuka lebar setelah investasi luar negeri masuk.

3. Jokowi adalah tokoh yang dipercaya masyarakat punya inisiatif yang baik untuk memajukan Indonesia. Jokowi juga terkenal akan sikap toleransi, nasionalis dan Pancasilaisnya. Bisa dibilang, Jokowi adalah pemimpin yang berhasil membuat rakyat percaya kepadanya. Terus terang, rakyat sudah banyak kecewa dengan pemerintahan kita. Mereka kini menjadi ‘Massa yang mengambang’ dan bisa jadi akan dipengaruhi oleh ‘serigala berbulu domba’ yang mengaku peduli masyarakat padahal tujuannya mengganti konstitusi di Indonesia demi kepentingan pribadi. Keberadaan Jokowi ini terus terang penting untuk menjamin kebebasan Indonesia di masa depan.

 

Jadi, jangan terlalu kecewa masyarakat Jakarta. Jokowi menjadi capres karena negara sedang kritis. Kalau Jakarta menjadi bagus tapi Indonesia remuk, sama saja anda tidak mendapat apa-apa.”

Wah, hati saya berdebar kencang sehabis membaca tulisan dia tersebut. Alasan yang dia kemukakan sangat masuk akal. Alasan nomor 1, dilihat dari segi internasional dan ekonomi misalnya. Untuk ini bisa saya tambahkan, rasanya belum pernah ada calon presiden Indonesia yang bisa mengangkat nilai saham dan bursa IHSG Indonesia melesat ke beberapa poin, seperti yang dirilis oleh koran Kompas.

Pasar langsung bergairah (eaaaa) begitu tahu Jokowi nyapres. Bukan hanya masyarakat Indonesia, pemimpin negara lain pun menaruh kepercayaan kepada Jokowi. Menurut teman saya itu, ada berita yang bilang bahwa pemilu di Indonesia nanti bisa berakhir lebih buruk daripada krisis politik di Thailand sekarang. Banyak investor yang khawatir bila hasil pemilu nanti akan menghasilkan konflik sosial bila pemilu ini dimenangi oleh orang dengan ideologi ekstremis. Jadi, mereka (orang-orang internasional) ini juga mendukung Jokowi karena mereka tahu Jokowi ini relatif “bersih” dibanding calon-calon lainnya.

Namun, ada juga opini teman saya yang lain yang membuat kita harus hati-hati dalam pemilu capres nanti. Kita sebagai pemilih harus memilih dengan bijak. Teman saya ini ga anti-Jokowi, sebaliknya dia mendukung Jokowi banget. Poin yang hendak dia tekankan di sini ada dua:

Pertama, siapa yang akan jadi WAKIL Jokowi. Tidak masalah Jokowi nyapres, tapi sekarang tergantung wakilnya siapa. Kalau wakilnya ga beres (baik dari pribadinya, track record-nya, atau kapabilitasnya), maka waspadalah. Sepatutnya kita telusuri dulu background si wakil tersebut jika sudah diumumkan oleh Jokowi. Saya pribadi, kalau tidak yakin dengan profil wakilnya, saya juga akan ragu memilih Jokowi. Intinya, wakil beliau di kemudian hari, menurut saya, akan sangat berpengaruh terhadap elektabilitas beliau. Jadi ya…. Untuk PDIP, sebaiknya menerapkan kriteria yang ketat untuk seleksi pemilihan wakil ini. Kalau bisa diadain aja fit and proper test hohoho.

Kedua, mengenai Pak Ahok. Bila Jokowi terpilih jadi Presiden, itu berarti Ahok akan jadi gubernur DKI Jakarta (iya kan? Mohon koreksinya bila saya salah, teman-teman), yaaa kecuali dia ga mau naik jadi gubernur hehe. Teman saya ini kurang setuju bila Ahok jadi gubernur, sekalipun teman saya juga beretnis Tionghoa dan non-muslim. Jadi bukan karena alasan SARA. Dia berpendapat bahwa Pak Ahok ini perlu belajar lebih taktis. Selama ini Ahok masih ‘dicover’ dan ditenangkan oleh sosok Jokowi. Tapi nanti???

 

Dalam bahasa saya, Ahok perlu untuk lebih sabar dan jangan langsung main terjang menghadapi lawan-lawan politiknya. Saya pribadi sebenarnya cocok saja dengan gaya Pak Ahok yang frontal dan terkesan ceplas-ceplos dalam berbicara, langsung ke inti masalahnya. Para pegawai pemerintah di Jakarta – bahkan Indonesia – memang perlu dikerasin dan digalakin soal ini. Jadi gaya pemerintahan dan bicara Ahok yang seperti memberi shock theraphy ke orang-orang Jakarta itu memang perlu, bahkan bagus sekali.

Tapi saya tahu bahwa hidup Pak Ahok tidak selamanya aman. Saya pikir pasti beliau pernah diancam juga, dan saya dengan setulus hati berdoa, mohon agar Tuhan melindungi Pak Ahok dan keluarganya. Saya tahu bener-bener gak gampang bagi Pak Ahok yang bersih untuk ngurusin Jakarta. Pasti lawan-lawan politiknya tidak biasa dengan gaya dan cara main Pak Ahok. Dan seperti yang teman saya bilang, justru Jokowi yang lebih berperan sebagai “pelindung” Ahok. Secara etnis dan agama, Jokowi bisa lebih nyemplung dan lebih membaur dengan lawan-lawan politiknya. Sekali lagi, saya sama sekali tidak bermaksud untuk ngubek-ngubek soal SARA di sini, tapi ya kenyataannya begitu. Jadi wajar bila teman saya itu agak was-was dengan nasib Ahok saat ditinggal Jokowi yang nyalon jadi RI 1 itu.

Nah, dari argumen teman saya itu, saya jadi kepikiran, lagi-lagi hal penting di sini adalah soal WAKIL. Sepertinya wakil di sini itu jadi kunci utama di sini, entah wakilnya Ahok atau wakilnya Jokowi. Mereka berdua sama-sama membutuhkan wakil yang kompeten, berkomitmen, dan bisa mendukung orang yang mereka wakili dalam program kerjanya, bukan malah menikam atau menusuk dari belakang dan menjegal dari depan. Bagi Pak Ahok, saya rasa beliau membutuhkan wakil yang, setidaknya, sepadan dengan Jokowi. Sekali lagi saya tidak bermaksud menyamaratakan atau membanding-bandingkan orang, karena setiap orang itu unik dan berbeda satu sama lain. Maksud saya, Ahok membutuhkan wakil yang bisa menenangkan dirinya, orang yang berpenampilan tenang dan kepala dingin seperti Jokowi, tapi juga pintar dan kompeten. Orang yang bisa mengambil hati para pejabat pemerintah yang lain, tapi juga jujur dan bekerja keras.

Begitu halnya dengan Jokowi. Nah, khusus untuk Jokowi, kriteria orang yang jadi wakilnya tentu lebih berat. Ini karena Jokowi sudah berbicara soal RI 1 alias SELURUH Indonesia, bukan hanya Jakarta saja. Saya bukan orang politik dan belum ahli dalam hal ini, jadi saya tidak tahu syarat-syarat rinci dan detail apa untuk orang yang akan nyalon jadi cawarpes. Para pakar politiklah yang lebih tahu. Tapi saya rasa tidak salah, dan tidak berlebihan bila saya mengatakan bahwa calon wakil presiden untuk Pak Jokowi haruslah orang yang kompeten dan dipercaya masyarakat. Sekali lagi, profil cawarpes ini akan menentukan elektabilitas Jokowi. Cawapres ini juga harus punya program kerja yang jelas, atau setidaknya bisa mendukung Jokowi dan tidak menjatuhkan dia, baik dari depan atau belakang.

Yang dikhawatirkan adalah, bagaimana bila pencalonan Jokowi ini hanya dimanfaatkan oleh segelintir pihak, alias didomplengi saja. Terkait dengan PDI-P yang mengusung Jokowi, so far saya tidak masalah dengan itu. Malah, menurut beberapa artikel yang di harian Kompas edisi Jumat, 14 Maret lalu, dikatakan bahwa PDI-P melakukan manuver politik yang sangat cerdik dan strategis dengan menggandeng Jokowi untuk mendongkrak elektabilitasnya. Saya rasa tidak ada apa-apa bila partai politik melakukan “taktik perang” seperti itu, selama masih menuruti aturan main yang ada dan tidak berbuat curang. Megawati juga dipuji karena rela untuk tidak mencalonkan dirinya sendiri, melainkan Jokowi. Ini menunjukkan bahwa PDI-P berani melakukan sekaligus menunjukkan kaderisasi politik di tubuh partainya, dan tidak melulu dari keturunan atau trah Soekarno.

Kemudian, kalau saya boleh menambahkan, akan sangat bagus bila cawapres ini mempunyai pengetahuan tentang hubungan internasional (HI) yang bagus. Mengapa? Saya melihat bahwa Jokowi ini sangat nasionalis dan Pancasilais, which is really good. Tapi orientasi beliau tentu akan lebih banyak ke dalam negeri untuk membenahi Indonesia. Sedangkan seorang presiden tentulah juga harus memiliki kapasitas eksternal untuk berhubungan dengan negara-negara lain.

Lagi-lagi, jangan diasumsikan bahwa saya mengatakan persoalan dalam negeri gak penting. Wah, justru ini lagi masa genting-gentingnya ngurusin permasalahan bangsa, dan saya percaya Jokowi itu sosok yang bagus. Tapi persoalan luar negeri juga tidak boleh diabaikan. Apalagi, di tahun 2015 kita akan membuka pasar bebas dengan ASEAN. Saya percaya bahwa Indonesia tetap harus berperan aktif dalam percaturan dan pergaulan internasional dengan negara-negara lain, terutama dengan ASEAN yang merupakan titik konsentris pertama dalam kebijakan luar negeri kita (maklum, saya anak HI jadi analisisnya ya pasti ga jauh-jauh dengan HI hahaha).

Nah, jangan sampai kesibukan Jokowi untuk ngurusin Indonesia itu membuat kita jadi terkucil dari dunia luar. Karena itu, saya rasa wakil presiden kita nanti harus mempunyai pengetahuan yang kuat dan smart enough untuk berinteraksi dengan dunia luar. Jika begitu, maka klop sudah pasangan ini. Hal ini mengingatkan saya saat Obama berpasangan dengan Joe Biden untuk pemilu presiden AS tahun 2008 lalu. Rakyat Amerika menaruh harapan yang sangat tinggi ke pundak Obama untuk memperbaiki perekonomian AS, dan Joe Biden juga memiliki profil yang baik, terutama dalam kapasitasnya untuk terus berhubungan dengan luar negeri. Mr. Biden malah terkesan sangat humble dan low profile. Plus, ada Hillary Clinton yang jadi Menteri Luar Negeri saat itu. Kompetensi Madame Hillary terbukti mampu mengangkat citra AS saat dia mengunjungi Asia sebagai lawatan pertamanya, karena biasanya AS mengunjungi negara-negara Eropa atau Israel sekutunya. Kunjungan Hillary ke Asia menunjukkan bahwa AS memandang Asia sebagai regional yang penting di tahun pemerintahan Obama, dan terbukti bahwa hubungan AS dengan Asia, juga Indonesia, di bawah Obama lebih baik dibandingkan dengan Bush.

Nah, begitulah kurang lebih oret-oretan saya mengenai pencalonan Jokowi jadi capres 2014 hehe. Mari kita memilih dengan bijak, di manapun kita berada… Dan jangan lupa terus berdoa untuk Indonesia, agar siapapun yang terpilih jadi presiden 2014 adalah orang yang punya hati untuk rakyat, yang takut akan Tuhan dan bukan sekadar beragama, yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya. Doakan juga agar bila Pak Jokowi terpilih jadi presiden, beliau boleh tetap kuat, tidak goyah dengan godaan kekuasaan untuk korupsi atau main kotor lainnya dengan politik. Damailah Indonesiaku…. !!

Akhir kata, saya dengan senang hati menantikan komentar dari para Baltyrans dan para pembaca lainnya. Saya yakin diskusi akan hal ini pasti akan menambah wawasan kita semua, terutama soal perpolitikan Indonesia hehehe. Bila ada kesalahan informasi, saya terbuka untuk masukan dan koreksinya. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan di hati.

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Analisis Terkait Pencalonan Jokowi"

  1. Bagong Julianto  31 March, 2014 at 15:04

    Nonik,
    SEorang kawan, aktivis yg kebetulan juga WongSo (wong Solo) yg beberapa kali berargumen dengan JOKOWI berpendapat bahwa beliau bukanlah seorang brilian cerdas argumentatif dan seterusnya. Beliau seorang yang BIASA saja. JOKOWI hanya “tekan ati”, membawa hati dan mengedepankan kemanusiaannya dalam menjalankan tugasnya. Saat baru jadi Walikota Solo, beliau kumpulkan seluruh keluarganya dan ingatkan: “Kalian harus tahu, yang jadi Walikota itu Jokowi! Kalian bukan siapa-siapa!” Sampai sekarang nggak pernah diketahui bahwa keluarga JOKOWI ikut ngobok-ngobok proyek dsb, di mana hal seperti ini sangat jamak kita dengar di SELURUH Indonesia. Jadi jika JOKOWI jadi Presiden, itu adalah kebutuhan sejarah Indonesia……

  2. risnda  30 March, 2014 at 20:06

    Mlah jadi bingung sndri aya gni….jauh dari ngri gak tau apa2….dri sisi ini bgini dri sisi itu bgtu….
    Ini aya gni n itu jg aya gtu…..huuhhh…..
    (Garuk kpala aku nya)
    Bingung ueyy….

  3. EvIrons  30 March, 2014 at 00:56

    Presiden Selain Jokowi, saya pesimis Indonesia begitu-begitu aja, gak Ada perubahan kemajuan yg lebih baik. Sekitar 7 Tahun yang lalu saya diberitahu bahwa Indonesia kedepan di prediksikan Akan mengalami kemajuan, saya berpikir Dari mana Dan bagaimana caranya, ternyata tokoh Jokowi penyebabnya Dan bermunculan tokoh-tokoh yang menata, meningkatkan kemajuan Indonesia.
    Maju Dan mundurnya sebuah negara, keluarga, sekolah, perusahaan adalah tergantung MANAGEMENTnya.

  4. awesome  19 March, 2014 at 14:32

    dahlan iskan sama mbakyu Sri koq hilang khabarnya ya ….

  5. Dewi Aichi  19 March, 2014 at 11:46

    Kalau kata mas alfin begini:

    “dihidangkan prasmanan makanan busuk sama KPU. bukan saya nggak mau makan, saya lapar, saya mau sekali makan. Tapi saya nggak bisa makan makanan busuk. Nggak tega. hehehe..”

  6. Lani  19 March, 2014 at 10:04

    NONIK : betuuuuul………….itu copy paste utk merespond balik komentar Om JC mu hehehe……..dia udah ngomong begitu bolak-balik makane I kept that tight!

  7. Dewi Aichi  19 March, 2014 at 09:15

    Iya mas JC, aku tau itu yang melakukan konvensi adalah partai paling hancur saat ini karena koruptor…yang ingin aku tau, apakah tidak ada partai lain yang melakukan konvensi selain partai demokrat? bisa saja nanti orang2 yang dipilih itu bisa memilih partai mana yang ingin dijadikan jembatan menjadi capres?

  8. J C  19 March, 2014 at 08:44

    Pemikiran sebagian besar mungkin sependapat dengan Nonik, Tammy dan Dewi (sebenarnya termasuk aku juga), namun sepertinya 2014 ini kita tak punya pilihan yang lebih logis. Sepertinya harapan Dewi bisa mecungul sosok lumayan dari konvensi Demokrat, aku berani bilang hanyalah harapan sia-sia. Bagaimana konvensinya mau menghasilkan capres yang ciamik kalau partainya berisi maling dan rampok begitu. Capres ciamik pun rasanya tidak bakalan mau diusung oleh partai rampok itu.

  9. tammy  19 March, 2014 at 07:53

    Nonik: sama, menurutku idealnya Jokowi tunggu pilpres 2019. Tp kalo nggak ikut taun ini, bingung juga mau milih siapa. Sejauh ini calon2 lain yg diusung semuanya muka lama yg kurang/tidak pro-rakyat.

  10. Nonik  19 March, 2014 at 06:12

    halo semua. terima kasih sudah meninggalkan jejak2nya hehe.

    @Om J.C.: duh, maaf Om, habis inisialnya hampir sama dengan Om Dj sih hahahaha…. pengucapannya juga hampir sama, J.C. dan Dj wkwkwkwk. Caleg dan capres juga mirip jadi kadang suka ketuker. Maap >.< Harus lebih teliti lagi nih kalau nulis…

    @Tante Lani: Tante, itu yang dikutip komentarnya Om J.C. kan?? karena perasaan aku belum pernah menulis mau minggat cari suaka kalau buta cakil yang jadi presiden hahaha….

    @Mas Anoew: aku pake kata "Eaaaaa" untuk mencairkan suasana Mas, jadi biar ga terlalu tegang gitu hiyahahahahahahaa. terbukti kan Mas Anoew langsung perhatiannya terpaku disitu…

    @Mbak Dewi Aichi: ya mbak, saya juga sebenernya lebih condong kalau Jokowi nyapres di tahun 2019. Masalahnya, kalau dia tidak nyapres sekarang saya juga bingung siapa yang akan saya pilih karena saya kurang percaya dg figur yang lain. Figur lain yang sama2 baik dan berkualitas (atau bahkan lebih) mungkin memang ada, sayang sekali mereka semua sudah kadung kelelep dengan sosok Jokowi ini…. Mungkin malah tak golput aja sekalian. Dan kalau Jokowi majunya tahun 2019, jangan2 Indonesia akan lebih buruk kondisinya daripada sekarang, dan itu makin susah dibenahi Amit2 jabang bayi, jangan sampai itu terjadi. Mending dibenahi dari sekarang, ya kan…??

    Benar sekali, rakyat Indonesia saat ini sedang terlena, kasmaran, dan mabuk kepayang dengan Jokowi. Aku sih berharap bener agar suatu saat Jokowi tidak terlena dengan kekuasaan dan jatuh pamornya, kemudian kembali dicaci dan dihujat oleh rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.