Dunia Kedua (1)

Anik – Kediri

 

“Mie ini rasanya enak sekali.. nyemmm,” mataku merem melek berulang kali menikmati mie setan yang baru-baru ini menjadi makanan favorit di kotaku. Ekstra pedasnya yang membuat orang mendesis kepedasan. Rasa bumbunya juga tak kalah lezat. Pantas saja kalau tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Mataku memerah dan mulutku berulang kali mendesis saat mie panjang itu berhasil ku kunyah. Sesekali aku melihat kiri kananku yang berulang kali menyeruput es jeruk. Menenggak es berulang kali tak bisa memusnahkan pedas level 10 yang merongrong lidahku.

Kring… kring… kring… kumatikan jam weker di sebelah ranjangku.

“Ah.. cuma mimpi,” sesalku menyadari itu tadi hanya sebuah keinginan yang terbawa mimpi. Sudah seminggu ini aku menginginkan makan mie setan tapi tak satupun orang mau menemani. Jarum pendek jam menunjuk angka 4. Aku membuka korden kulihat hari masih petang. Suara adzan shubuh juga belum terdengar. Aku salah mengatur jam wekerku, seharusnya pukul 5 eh ternyata malah ku atur pukul 4. Sekali bangun rasanya sulit untuk tidur lagi.

other-world

Kruk..kruk.. ada konser di dalam perutku. Bermimpi menikmati mie setan ternyata membuat perutku bergendang di waktu sepagi ini. Dalam keadaan seperti ini pasti dapur yang menjadi tempat sasaranku. Saat sudah berada di dapur kulihat John atau biasa kupanggil Jojo saudara sepupu ku sedang menikmati mie rebusnya.

“Gila.. hari masih petang gini sudah menyusup ke dapur,” ucapku sekenanya pada cowok yang hampir 2 tahun ini tinggal di rumahku karena memilih sekolah di kotaku.

“Kamu sendiri ngapain ke dapur pagi-pagi gini?” Tanyanya membuatku mati kutu. Padahal aku kan juga lapar bisa-bisanya aku mendamprat Jojo dengan ucapan tadi.

“Em.. mau minta mie rebus mu, Jo minta dikit donk,” dengan setengah malu aku mengucapkannya. Kupasang wajah memelas agar si pelit Jojo mau berbagi denganku. Sepagi ini aku sangat malas harus bersusah payah memasak sendiri.

“Nggak tahu malu banget sih kamu Mbak, jelas-jelas baru ngejek malah minta.” Sudah kuduga ucapan itu yang akan keluar. Bodohnya aku tetap memintanya yang jelas-jelas sudah tahu kebiasaan pelitnya.

“Dasar pelit, pantesan aja kamu jomblo. Helloo… cewek zaman sekarang mana mau sama cowok pelit kayak kamu,” kataku sambil menjulurkan lidah di depan Jojo.

“Banyak tuh cewek yang suka, akunya aja yang nggak mau pacaran. Aku nggak pernah tuh tau ada cowok ngapelin kamu setiap malam minggu, jangan-jangan kamu lagi yang nggak laku-laku,” cerocos Jojo sambil terus melahap mie rebusnya tanpa memikirkan sedikitpun nasib perutku.

“Em.. kata ibu sekolah dulu yang bener, masalah jodoh kan sudah ada yang ngatur.” Aku mencari-cari alasan.

“Itu alesan basi tauk.”

“Aku bilangin ibu ya kalau kamu ngatain ucapannya basi.”

“Maksudku yang basi itu kamu”

“Dasaaaarrrr.” Tanganku dengan segera mengacak-ngacak rambutnya.

“Eh..eh.. udah dong.” Jojo kewalahan menghadapi seranganku.

“Jo.. jogging yuk,” ajakku setelah berhenti menyerangnya habis-habisan.

“Jogging sama kamu? Ih ogaaahhhh,” ledek Jojo.

Aku terdiam lalu berjalan mengambil air putih dan duduk disamping Jojo. Jojo kebingungan melihat aku hanya diam saat di ledeknya.

“Mbak Dinda, kamu marah ya sama Jojo?” Tanya Jojo dengan logat polos yang dibuat-buat.

“Sok manis banget sih,” bentakku dengan sedikit keras. Bentakan itu sudah biasa untuk Jojo. Aku dan Jojo memang sudah akrab sejak kecil jadi kita sudah mengenal sifat satu sama lain. Dia tidak pernah sakit hati saat aku membentaknya tapi tidak tahu juga kalau dia tiba-tiba bersembunyi di pojok kamarnya untuk mewek, walaupun aku tak pernah menjumpainya.

“Aku takut kalau kamu marah sama aku, Mbak,” Ucap Jojo dengan pelan. Ini cowok selalu saja bisa mencairkan suasana. Disaat aku marah dia bisa memahami dan selalu saja berbicara dengan pelan.

“Jo.. aku tuh normal nggak sih, aku sadar selama ini aku belum pernah suka sama cowok. Padahal teman-temanku sudah banyak yang pacaran,” keluhku. Meskipun aku dan Jojo sering bertengkar tapi kami juga sering menjadi pendengar keluh kesah satu sama lain.

“Mungkin itu karena Mbak Dinda terbiasa dengan peraturan bude yang selama ini melarang pacaran,” sahutnya dengan terlihat dewasa. Aku mendengar jawaban Jojo hanya diam tak berkomentar apapun.

“Mbak.. sudah adzan cepetan mandi trus sholat gih!” pinta Jojo. Aku mengangguk dan segera keluar dari dapur. Keinginan makan telah menguap begitu saja.

***

“Jo capek nih, istirahat dulu yuk!” Aku dan Jojo duduk di salah satu bangku panjang di tengah-tengah tempat biasa kami jogging.

“Minggu depan jogging lagi aja,” ucapnya sambil tersenyum menoleh kearahku.

“Jogging sama kamu? Ih ogaaahhh,” ucapku menirukan kata-katanya.

Kring… kring.. kring… suara jam weker yang tak lagi asing menyadarkanku kalau itu Cuma mimpi. Mataku memandang seisi kamar. Aku belum juga mengajak tubuhku bangun dari tempat tidur.

Tok..tok.. tok..

“Siapa?” Tanyaku pada si pemilik tangan pengetuk pintu.

Ngeekk.. pintu kamarku terdengar dibuka. Kulihat Jojo masuk.

“Udah pagi, cepetan mandi!” Suruhnya lalu pergi begitu saja dari kamarku.

“Iya bawel.” Belum juga aku bangun dari tempat tidur si bawel Jojo kembali lagi ke kamarku.

“Mbak Din, hari ini kamu berangkat sekolah sendiri. Soalnya aku mau jemput Nina,” ucapnya dengan cengar-cengir di depan pintu.

“Eh.. eh.. enak aja. Kemarin aku kan udah beliin kamu bensin,” semprotku pada Jojo.

“Sekali ini aja deh, kamu naik angkot sendiri.” Jojo lari tanpa menghiraukan omelanku.

Ternyata sekarang Jojo sedang melakukan pendekatan dengan Nina. Ada ketakutan dengan cepat menyusup kefikiranku. Siapa lagi kalau bukan Jojo yang selalu kusuruh antar kesini kesitu. Siapa lagi kalau bukan Jojo yang kugandeng di setiap pesta ulang tahun temanku. Setia memboncengku berangkat dan pulang sekolah walaupun harus mendengarkan kecerewetanku diatas motor, harus ku cubit berkali-kali karena ngebut.

“Kamu cemburu liat Jojo sama Nina?” Tanya cewek didepanku membuat pandanganku yang dari tadi berpusat ke Jojo dan Nina kini harus menatap hanya pada sepasang matanya yaitu Lyra.

“Nggak kok.”

“Alah ngaku aja, selama ini yang setia nemenin kamu kan Jojo.”

“Itu yang aku takutin. Kalau Jojo sibuk dengan Nina, nggak ada lagi dong yang nemenin aku kemana-mana,” kataku dengan wajah muram. Aku berharap Lyra memberi solusi, tapi nyatanya bukan solusi yang kudapat, melainkan tawa yang meledak.

“Hahahahaha.. makanya cari cowok dong Din.”

Kalimat itu lagi yang kudengar. Ahh.. bosan sekali aku mendengarnya.

“Nggak usah dibahas, bahas ulangan ekonomi besok aja,”elakku. Aku tidak ingin ucapan Lyra memanjang dan membuat aku semakin di pojokkan.

“Gini nih kalau udah nggak mood selalu saja mengalihkan pembicaraan.”

“Ihh.. siapa juga yang mengalihkan pembicaraan. Aku emang lagi konsen aja sama ulangan besok.” Selalu saja jika ada kalimat itu tadi kebohongan yang menjadi andalanku untuk menutupi malu.

“Percaya deh yang suka sama ekonomi.”

“Aku pengen dapat nilai sempurna,” sahutku dengan tersenyum merekah tentu itu senyum yang kupaksakan agar Lyra benar-benar yakin aku ingin membahas ulangan ekonomi.

Ketakutanku menjadi kenyataan. Jojo sekarang sibuk dengan hp-nya. Sering kudapati di facebook dan twitter-nya ungkapan cinta. “Ih.. lebay banget sih ni anak,” gumamku saat membaca status cintanya di facebook. Entah itu memang Jojo yang lebay atau aku yang terlalu takut jika Jojo tidak mempedulikanku.

“Jo.. besok nggak jemput Nina kan?” Tanyaku dengan berharap-harap cemas.

“Sorry ya mbak, besok aku mau jemput Nina,” Jawabnya tanpa melihatku. Dia masih sibuk dengan hp-nya.

“Basi banged sih,” Ucapku dengan ketus. Kuambil bantal dan kulempar kearah Jojo. Aku pergi begitu  saja dari kamarnya.

“Ada apa mbak? Kok cemberut?” Tanya ibu saat mendapatiku keluar dari kamar Jojo. Aku diam dan hanya tersenyum pada ibu. Kukunci pintu kamar rapat-rapat. Ingin rasanya cepat memejamkan mata dan melupakan segala cerita menyebalkan di hari ini.

“Mbak.. mbak Dinda kenapa?” Jojo meneriakiku di depan kamar. Aku tak menggubrisnya. Kutindih telingaku menggunakan bantal agar tidak mendengar teriakan Jojo.

Dret..dret.. hp di sampingku bergetar.

1 message received

 

From: Jojelek

Mbak kenapa?

 

To: Jojelek

BASI BANGET >.<

 

From: Jojelek

Iya deh besok aku nggak jemput Nina

 

To: Jojelek

TERSERAH. BUKAN URUSANKU :P

 

From: Jojelek

Maaf deh, kalau akhir2 ini aku sibuk sama Nina.

***

          Dengan sedikit murung aku berangkat sekolah bareng Jojo. Itu hanyalah sebuah akting padahal dalam hati senang sekali bisa bareng Jojo lagi jadi nggak capek-capek nunggu angkot. Gini nih nasib cewek nggak berani naik motor sendiri akibat trauma pernah kecelakaan harus menggantungkan diri pada orang lain.

“Mbak.. kok diam aja? Nggak cerewet kayak biasanya?” Jojo nggak tahu kalau aku dibelakangnya malah cekikikan. Dia fikir aku masih marah dengannya. Aku bisa melihat mimik wajah ketakutannya saat membujukku untuk berangkat dengan dia tadi pagi. Dengan berlagak sok nggak butuh aku menolaknya. Seperti menawar di pasar, semakin kita ingin pergi semakin penjual mengejar. Dan akhirnya, jadilah aku dibonceng Jojo pagi ini.

“Nggak kok,” jawabku sesingkat mungkin agar Jojo takut dan mengajakku berangkat bareng lagi setiap harinya.

“Makanya dong Mbak cari cowok biar kita sama-sama enaknya, aku bisa berangkat bareng Nina, trus mbak Dinda tetep ada yang nganterin.”

ALAMAKKKK… kalimat ini lagi yang kudengar. Seharusnya bukan itu Jo yang kuharapkan jawabanmu. Aku ingin kamu mengatakan “Besok berangkat bareng aku lagi aja Mbak.” Tapi nyatanya… Ah payah.

“Gengsi dong masa cewek cari cowok,” jawabku ketus.

“Seenggaknya kan Mbak Dinda membuka hati buat cowok lain.”

“John….” Panggil cewek yang kulihat ternyata itu Nina. Setelah menaruh helm aku berlalu meninggalkan mereka berdua begitu  saja.

“Mbak Dinda.” Panggil Nina. Aku menoleh kebelakang dan melihat dia berlari kearahku.

“Iya..” Jawabku semanis mungkin.

“Kenalin aku Nina.” Nina mengulurkan tangan ke arahku. “Manis juga ceweknya Jojo.” Gumamku.

“Mbak..” Jojo melambaikan tangannya dimukaku. Melihat gadis yang manis membuatku melamun sesaat. Aku masih normal kan?

“Oh.. iya Nin. Aku Dinda.” Aku menggapai tangannya.

“Jojo sering cerita tentang Mbak Dinda kok.”

“Pasti cerita yang jelek-jelek ya?” Aku tersenyum melihat Nina. Jojo hanya cengar-cengir disampingnya.

“Nggak kok Mbak, Mbak Dinda kan baik.” Suaranya yang lembut pasti akan senang orang yang berbicara dengannya.

“Ah kamu bisa aja. Yaudah aku ke kelas dulu ya,” aku mengakhiri obrolan singkat ini. Nina tersenyum melepas pamitanku.

 ***

“Yeeee.. akhirnya ulangan ekonomi dapat nilai 100 juga. Nggak sia-sia kalau aku belajar Lyr,” ucapku girang sambil memeluk Lyra.

“Traktiran di kantin dong.”

“Ih.. makan mlulu.”

Kring… kring.. kring.. lagi, lagi, dan lagi hanya mimpi.

“Kenapa akhir-akhir ini jadi gini sih, selalu saja keinginanku terbawa dalam mimpi,” keluhku dengan mendengus kesal. Rasa senangnya seperti nyata tapi setelah menuju puncak senangnya malah bangun dari mimpi.

Di pagi ini aku tidak berangkat sekolah bersama Jojo. Aku mengizinkannya menjemput Nina. Kasihan juga fikirku kalau Jojo harus selalu kujadikan ojek pribadi. Pasti ada saatnya dia harus bersama cewek lain. Selama ini aku terbiasa hanya dengan Jojo, rasanya sepi kalau berangkat sekolah tanpa dia. Bersekolah di tempat yang sama memudahkan aku dan dia berangkat bersama.

“Din.. Nilai ulangan ekonomimu Cuma 70,” kata Lyra dengan wajah bersalah. Sesampainya di kelas Lyra langsung menghadangku.

“APA? Serius kamu Lyr?” Tanyaku dengan begitu syok. Nggak rela kalau dapat nilai pas-pasan di pelajaran yang kusuka.

“Iya.. ini lembar jawabanmu,” Jawab Lyra sambil menunjukkan lembar jawaban yang penuh dengan coretan spidol merah.

“Masih butuh belajar lagi,” ucapku menyemangati diriku sendiri.

“Semangat Din.” Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Lyra.

“Kenapa Din?” Tanyanya. Rupanya dia tahu suasana hatiku saat ini.

“Nggak ada apa-apa kok Lyr.”

“Nggak ada yang perlu ditutupi.”

“Lyr.. kamu percaya nggak tentang mimpi?” Tanyaku sambil berjalan menuju bangkuku. Aku mengingat pengalaman aneh yang sering terjadi padaku akhir-akhir ini.

“Setiap orang berhak kok punya mimpi. Aku yakin dengan bermimpi orang akan semangat dalam menjalani hidupnya.”

“Bukan mimpi itu yang kumaksud, tapi mimpi dalam tidur. Akhir-akhir ini aku sering memimpikan keinginanku yang pada akhirnya tak bisa terwujud dalam dunia nyata.”

“Itu akibatnya kamu sering memikirkan apa yang kamu inginkan terlalu dalam.”

“Masa sih? Aku ingat-ingat nggak juga deh.”

***

Mataku sudah sangat berat untuk melanjutkan membaca huruf-huruf kecil yang sekarang terlihat seperti semut mematung. Hitam-hitam kecil mengerumuni kertas yang ku pegang. Setelah kuamati beberapa detik aku mulai sadar bahwa itu bukan semut tapi huruf yang tertata rapi di buku catatanku. Kepalaku berulang kali kugeleng-gelengkan untuk mengusir kantuk yang menyerang. Namun, tak berhasil sedikitpun. Mulutku yang menguap berulang kali membuat kantuk semakin betah bersarang di tubuhku. Bukuku dengan tiba-tiba terlepas dari genggamanku.

Kulihat sepasang mata mengintipku dibalik pintu kelas. Setelah ku amati mata itu diajak pergi oleh pemiliknya. Mungkin dia malu saat berbenturan pandang denganku. Ada suara lembut seorang cewek yang tak lagi asing dibelakangku. Dengan segera aku menoleh kebelakang. Aku tersenyum menyapanya. Dia juga membalas senyumku sambil mengucapkan “Dirga suka sama kamu.”

Nama itu sudah kukenal 6 tahun yang lalu. Namun aku tak begitu kenal dengan si pemilik nama. Ku amati Lyra dengan baik-baik. Tak ada sedikitpun kebohongan yang terlihat. Walaupun begitu, aku tak mempercayainya.

“Ah..Kamu bercanda,” Ucapku lalu berbalik menghadap ke depan bangkuku lagi. Mata itu melihatku lagi tapi saat ini mata itu bersama dengan batang hidungnya.

Pemilik mata itu adalah Dirga. Aku sangat mengenal baik wajah hitam manisnya. Dia memasuki kelas dan duduk di sebelahku. Serasa diriku telah terbang membumbung tinggi saat menatapnya.

Mataku terbuka pelan-pelan. Aku menggosok mataku berulang kali untuk memastikan dimana aku sekarang. Ternyata aku di kamarku sendiri. Yah.. itu tadi hanya mimpi. Aku mencari-cari wajah yang kutemui tadi. HAHHH??? DIRGA?? Aku syok dengan hal aneh. Tak biasanya aku memimpikan orang yang sama sekali tidak terbesit di fikiranku.

***

Kubaca di salah satu akun facebook teman sekelasku terpampang nama Dirga Frandika di komentar foto.

“Ada apa dengan nama ini?” penasaranku mengantarkanku di kronologi facebooknya. Baju di foto profilnya sudah pernah ku lihat, tapi dimana? Ha.. iya aku ingat. Kemarin malam aku memimpikannya memakai baju itu. Kenapa aku sepenasaran ini setelah dia datang dimimpiku?

Dia adalah teman se-SMP ku. Sama sekali aku tak mengenalnya, hanya sekedar mengetahuinya. Apa harus aku mengirimkan permintaan pertemanan di facebooknya? Tambahkan sebagai teman. Yes or No?

“Din.. sholat dhuhur dulu yuk!” Aku tersentak mendengar suara Dena dan Lyra bersamaan. Aku segera menutup facebookku. Eh, kujumpai tulisan Permintaan Pertemanan Telah Terkirim. Apa yang tadi kulakukan? Kulihat Lyra berjalan ke arahku, dengan buru-buru aku menutup facebook. Aku tidak ingin Lyra curiga.

“Iya..iya..bentar deh.”

Sesampainya di mushola fikiranku belum beralih sedikitpun dari Dirga. Setelah berwudhu, aku memakai mukena dan menunggu imam yang akan mengimami sholat berjamaah hari ini.

“Dirga kamu aja yang jadi imam.” Kudengar seorang cewek dibelakangku meneriaki cowok yang bernama Dirga. Kepala yang sedari tadi menunduk kini kuangkat dan mataku mulai melihat cowok yang tadi kulihat facebooknya. Aku baru sadar kalau aku satu sekolah dengan dia. Selama ini mungkin aku yang tak menganggapnya ada. Selama hampir 3 tahun dia se-SMA denganku baru kali ini aku menemui dia di musholla. Selama 6 tahun aku mengetahuinya baru hari ini juga aku tahu facebooknya. Itu saja aku juga tidak sengaja menemukan di facebook teman satu kelasku.

Selesai sholat aku memandanginya dengan penuh kebingungan. Kenapa setelah memimpikannya ada perasaan tertarik dengannya. Ada 2 hal aneh yang terjadi hari ini. aku semakin tak mengerti. Saat dia bertemu pandang denganku kulihat tatapannya biasa saja. Tak ada rasa penasaran yang sama denganku.

Malamnya, aku penasaran dengan dia. Aku ingin mengetahui dia lebih jauh lagi.

“Jo.. laptopnya kamu pakai nggak?” Tanyaku pada Jojo yang sedang sibuk mengerjakan tugas di meja belajarnya.

“Nggak mbak, pakai aja,” Jawab Jojo sekedarnya.

Dengan segera aku masuk di facebookku. Kulihat disalah satu pemberitahuan “Dirga Frandika menerima permintaan pertemanan Anda” Ahhh.. tidak. Ternyata memang benar aku telah mengirim permintaan pertemanan. Ya sudahlah apa boleh buat. Padahal aku paling jarang mengirimkan permintaan pertemanan pada cowok yang sama sekali tidak kenal. Eh, bukannya tidak kenal tapi tidak begitu dekat mungkin. Ah apalah itu namanya yang jelas intinya aku sama sekali tidak pernah berbicara sepatah kata pun dengannya. Ada ide terbesit di benakku. Aku kan temannya SMP kenapa tidak kujadikan alasan untuk ber say hello dengannya. Seenggaknya aku bukan cewek yang sama sekali asing untuknya.

“Ga, benar nggak kalau kamu dulu sekolah di SMP Merdeka?” Ah.. itu pertanyaan yang konyol tanpa tanya pun aku sudah tahu dimana asal SMP-nya. Itulah aku, kehabisan ide mencari alasan untuk basa-basi.

“Iya.. ada apa?” Secuek itu balasan yang kudapat. Mungkin itu karena dia baru mengenalku. Aku tidak ingin terlalu cepat menilainya.

“Oh.. gpp Ga. Seperti pernah lihat saja.” Balasku bohong. Ada panggilan asing yang di dengarnya. Semua temannya sering memanggil “Dir” sedangkan, aku lebih ingin berbeda memanggilnya “Ga”.

“Oh.. iya.” Haaaaa.. pengen teriak setelah membaca balasannya yang singkat, padat dan jelas. Apa mungkin dia sama sekali tak menemukanku dalam mimpinya? Berarti perasaan ini bertepuk sebelah tangan. Ah tidak. Aku belum mencintainya. Hanya sekedar tertarik atau mengagumi saja.

Tanganku mulai jahil membuka-buka statusnya yang sudah usang termakan waktu sekitar satu bulanan yang lalu. Di bulan ini kulihat dia jarang update status.

Rista Andani

Capek muter-muter di hatimu

Dirga Frandika

Wah.. ngegombal

Kutemukan komentar itu. Rista? Bukannya dia anak kelas sebelah? Kenapa dia bisa kenal Dirga. Mungkin cuma teman atau bahkan saudara fikirku menenangkan diri.

“Wahh… Black sweet,” sahut Jojo dengan tiba-tiba dibelakangku.

“Anak kecil nggak boleh lihat.” Dengan malu aku segera keluar dari facebook.

“Kenapa langsung di logout Mbak? Ketahuan lagi kasmaran ya..”

“Apaan sih, mau tahu aja.”

“Syukur deh, kalau Mbak Dinda udah punya gebetan jadi nggak ngambek lagi kalau aku jemput Nina.”

“Tapi Jo…” Sepertinya curhatku pada Jojo akan segera dimulai.

“Kenapa Mbak? Kok murung gitu?”

“Dia nggak tahu tentang aku.” Aku merebahkan diri di tempat tidur Jojo. Jojo duduk di sebelahku mendengarkan setiap ceritaku.

“Sebentar, bukannya itu mas Dirga anak ipa?” Ternyata Jojo tahu. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Bagaimana tidak? Dia cowok paling populer di sekolahku. Biasanya, cowok populer itu karena basket, footsal, osis atau organisasi lainnya. Namun tidak dengan dia, dia cowok pencinta budaya yang populer karena kepiawaiannya bermain karawitan. Sudah sering dia membawa nama baik sekolah karena prestasinya di sanggar karawitan.

“Kok bisa Mbak Dinda suka sama dia. Setahuku Mbak Dinda nggak pernah cerita tentang dia ke aku.”

“Setelah mimpi bertemu dia, aku jadi suka.”

“HA?? Hanya karena mimpi? Itu tanda jodoh mungkin, Mbak.”

“Anak kecil tahu apa sih tentang jodoh?” Aku melirik Jojo yang terlihat jelas dari matanya sedang memikirkan sesuatu. Jarak umurku dengan Jojo yang hanya setahun kuanggap sebagai keterpautan umur yang terlalu jauh karena posisinya sebagai adik sepupuku. Kebiasaannya memanggilku dengan sebutan “Mbak” membuat aku merasa jauh lebih dewasa dengannya.

“Aneh aja cuma gara-gara mimpi bisa suka.”

“Udah ah, aku mau tidur.” Aku menarik selimut dan memejamkan mata di kamar Jojo.

“Loh.. loh.. tidur dikamarku? Ah.. nggak boleh.” Jojo dengan cepat menarik kakiku. Hampir saja aku terjatuh.

“Iihhh.. apa-apaan sih, terserah aku dong mau tidur dimana. Kamu tidur aja di kamarku.”

“Ogahhhhhh, cepetan keluar.”

“Dasar peliiiiiiiit.” Aku berjalan keluar pergi dari kamar Jojo.

***

 

bersambung…

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

7 Comments to "Dunia Kedua (1)"

  1. Anik  30 March, 2014 at 07:01

    Muda berapa tahun pak? 13 kah? Haha

  2. J C  22 March, 2014 at 06:50

    Asik…serasa jadi muda lagi (halaaaahhh… ) baca Anita Cemerlang waktu itu…

  3. anik  20 March, 2014 at 17:45

    Mbak Alvina: ini belum seberapa lo Mbak
    Mbak Esti: selamat menunggu kelanjutannya
    Anoew: wahh.. enak kan kamu dong
    Mbak Liana: Insya Allah segera tak posting Mbak. tunggu saja kelanjutannya

  4. Liana  20 March, 2014 at 16:59

    Anik, kayanya Dinda cocok sama Dirga. Aku tunggu kelanjutannya, di blogmu jg.

  5. Anoew  20 March, 2014 at 16:05

    wah iya, Jojo pelit tuh. Coba kalau si Dinda mau, tidur di kamar saya aja…

  6. Esti  20 March, 2014 at 15:00

    Yup next,hehehehe

  7. Alvina VB  20 March, 2014 at 12:34

    Wah, cukup panjang juga…bacanya besok ya..mau zzzzzzz dulu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.