Dunia Kedua (2 – habis)

Anik – Kediri

 

“Dirga suka sama hatimu Din, dia suka cewek baik yang murah senyum seperti kamu,” Ucap Vindar teman sekelasku yang sangat pendiam. Dia  mencoba meyakinkan aku kalau Dirga memang benar-benar memilihku.

“Mbak Dinda.. Mbak..” Teriakan Jojo yang memekakkan telinga membawaku kembali kedunia nyata.

“Apaan sih Jo?” Aku membukakan pintu kamar untuk Jojo.

“Udah jam 8 pagi Mbak,” Jawab Jojo.

“Trus?” Tanyaku sambil mengusap-usap mataku yang masih mengantuk.

“Mbak Dinda lupa nggak sholat shubuh?”

“Aku lagi dapet, sekarang kan hari minggu sekali-kali pengen tidur panjang.” Aku keluar melangkah ke dapur. Jojo membututi di belakangku. Aku mengambil air putih di meja makan. Menenggak air putih sedikit saja untuk memulihkan ingatanku pada dunia nyata. Fikiranku masih saja terpaut pada cowok yang bernama Dirga yang sekarang tak pernah absen datang di mimpiku.

“Gimana sama mas Dirga?” Tanya Dirga. Air yang ku minum keluar begitu saja setelah mendengar Jojo menyebut nama cowok itu. Aku batuk-batuk mendengarnya.

“Biasa aja deh Mbak, pake keselek segala.”

“Kamu pagi-pagi ngapain tanya soal dia?”

“Pengen tanya aja kabarnya kakak ipar.”

“Hahahahha.. dasar anak kecil. Fikiranmu terlalu jauh.” Aku mengacak – ngacak rambutnya.

“Kan mungkin aja itu jodohnya Mbak Dinda. Lanjutin dong Mbak ceritanya.”

“Asal banget deh kamu kalau ngomong. Tapi sepertinya itu hanya sekedar mimpi Jo, aku harus segera menghapus semua perasaan ini.” Jojo mengangkat alis mendengar pertanyaanku. Entah jawabanku terlalu konyol atau terlihat sangat pesimis.

“Kenapa Mbak? Kan nggak ada salahnya Mbak Dinda suka sama mas Dirga.”

“Selama ini setiap aku mempunyai keinginan selalu saja terwujud dalam mimpiku, ujung-ujungnya hal itu tak terwujud di dunia nyata. Kamu tahu Jo? Setelah kamu jadian dengan Nina aku ingin punya cowok dan itu terwujud dalam mimpi, dalam mimpiku aku di dekati oleh Dirga semenjak saat itu aku mulai menyukainya. Tapi, aku sadar setiap mimpi-mimpiku tak akan pernah kenyataan.”

“Jangan pesimis gitu Mbak, mungkin yang tidak terwujud itu hanya sebuah bunga tidur. Kalau perasaan suka setelah bermimpi itu kan hal yang aneh.”

“Karena aneh itu tidak akan pernah kenyataan.”

“Mbak Dinda nggak pernah pacaran sih, makanya secepat itu mundur.”

Aku meninggalkan Jojo di dapur dan kembali ke kamarku. Kulihat hp-ku menyala. Kulihat ada SMS masuk.

From: Vindar

          Tugasmu matematika sudah selesai, Din?

          To: Vindar

          Sudah, ada apa?

          From: Vindar

          Masih bingung dengan rumus-rumusnya, besok pagi ajari aku

          To: Vindar

          Ada syaratnya lho.

          From: Vindar

          Apa? Tumben banged ada syaratnya.

          To: Vindar

          Khusus kali ini ada, hey Dirga jomblo nggak ya? Hahahaha ^-^

          From: Vindar

          Ooh, lagi falling in love ternyata. :D

“Menurutmu gimana Vind?” Pertanyaanku di SMS kemarin berujung dengan curhatku pada Vindar di kelas.

“Jalani saja biar waktu yang menjawab.”

“Aku tahu itu, tapi sepertinya Dirga cuek denganku.”

“Dia memang seperti itu, kalau udah kenal pasti enak di ajak ngobrol.” Aku percaya dengan Vindar. Aku tahu dia bukan orang yang senang membocorkan rahasia. Vindar adalah teman Dirga di sanggar. Pasti Vindar tahu lebih jauh tentang sifat-sifat Dirga.

“Oh ya, Rista dan Dirga ada hubungan apa?” Aku ingat dengan komentar-komentar Rista di akun facebook Dirga.

“Yang jelas mereka belum jadian, hanya saja Rista sepertinya suka dengan Dirga.” Ucapan itu perlahan-lahan menyayat hatiku.

“Pantas saja kalau Rista mendekati Dirga.” Ada nada rendah dalam ucapanku. Apa itu pertanda perasaan cemburu? Bagaimana mungkin aku bisa cemburu dengan orang yang tidak pernah dekat denganku. Tapi inilah perasaanku yang sebenarnya.

“Dirga juga pernah dekat dengan Putri kelas IPS 5.” Fakta baru terungkap lagi. Bukan malah membaik tapi semakin tak karuan perasaanku. Semakin banyak saja kelas sebelah yang pernah dekat dengannya. Hanya 2 tapi bagiku sudah sangat banyak. Ah.. dia playboy kah?

“Dia sifatnya gimana sih Vin?” Aku ingin menanyakan lebih jauh lagi tentang dia.

“Baik, dia bertanggung jawab. Bahkan, Pembina di sanggar sangat menyukainya. Aku cerita ke kamu tentang cewek-cewek yang pernah dekat dengan dia supaya kamu tidak kaget nantinya kalau kamu tahu banyak cewek yang mendekatinya.”
“Risiko mungkin ya suka sama cowok yang populer.” Aku membuang nafas dengan cepat. Vindar menangkap apa yang ada di perasaanku.

“Dia sekarang lagi sendiri, mungkin dia ingin fokus dengan sekolahnya dulu apalagi kegiatan di sanggar juga masih full.”

Sekarang membuka profil facebooknya tak pernah absen kulakukan. Membaca setiap komentar di facebooknya merupakan hal wajib yang tidak boleh tertinggal sekalipun. Tangan jahilku berhasil menemukan akun twitternya yang terpampang jelas di profil facebooknya.

Dengan segera aku follow twitternya. Kirim mention ke dia untuk mengatakan “Follback ya” merupakan hal yang membutuhkan keberanian. Aku malu. Karena ku tahu twitternya sudah sangat ramai dengan @Rista_And. Melalui Direct message juga belum bisa karena dia belum follow twitterku. Melalui inbox facebook saja fikirku.

“Twittermu sudah ku follow, follback ya,Ga.” Aku berani juga mengirim inbox ke dia. Bagaimana tidak? Melalui inbox kan tidak ada satupun yang tahu.

Beberapa jam kemudian

“Okeeeee.” Sesingkat itu balasannya. Apakah itu karena aku yang terlalu asing untuknya? Mungkin selama ini dia sama denganku, tak pernah menyadari keberadaan satu sama lain.

Sehari,dua hari, tiga hari. Belum juga dia mem-follow twitterku. Kulihat dia memang jarang membuka twitternya.

“Dia ada di sana…haaaa…itu Dirga.” Ada suara cewek yang mengundang perhatianku. Kulihat disampingku. Rista. Aku berpura-pura berjalan disampingnya dan kulirik arah yang ditunjuknya. Dirga.

Sangat mudah sekali orang mengetahui kalau dia suka dengan Dirga. Bahkan, di dunia maya pun mereka terlihat sangat akrab. Lama-lama aku ingin membuang perasaan yang sangat menyakitkan ini.

Di waktu senggang setelah penat dengan rutinitas sekolah aku menyempatkan waktu membuka twitterku. Belum juga Dirga memfollow twitterku padahal dia sering mengirimkan mention ke Rista. Ada amarah dalam diriku. Dirga mengacuhkanku begitu saja. Aku unfollow twitternya. Segera aku beralih ke facebook dan unfriend. Hasilnya, sekarang aku sudah memutus semua yang berhubungan dengan dia. Lupakan, lupakan semua sandiwara mimpi konyol. Aku harus keluar dari jeratan perasaan ini. Aku harus konsentrasi dengan kesibukanku kelas 3.

***

“Rista semakin sering bercerita tentang Dirga,” Ucap Lyra saat istirahat menghampiriku. Dia satu ruangan dengan Rista di ujian sekolah saat ini.

“Ah, biar saja. Aku sudah membatalkan pertemananku dengan dia di facebook dan unfollow twitternya.”

“Kenapa Din? Kan itu cuma teman,” Sahut Vindar.

“Aku capek Vin, aku capek harus cemburu seperti ini.” Aku meninggalkan mereka berdua. Entahlah, aku telah gila dengan perasaan ini.

Mendinginkan perasaan dengan meneguk segelas jus jambu kesukaanku di kantin seorang diri. Setiap langkah ini selalu saja ada bekas-bekas nama dan wajahnya. Apalagi sosok di depanku ini adalah dia. Mimpikah ini? Aw.. sakit. Kurasakan sakit setelah kucubit tanganku. Ya.. ini nyata. Dia sekarang berjalan mulai mendekat ke arahku. Matanya memandangku. Lama sekian menit kurasakan begitu teduh. Aku malu memandangnya terlalu lama lalu aku menunduk. Apa dia tahu “Din Dinda” yang selama ini mengirim inbox ke facebooknya itu aku? Kenapa dia memandangku seperti itu? Dia berjalan disampingku lalu berlalu dari hadapanku. Aku tetap menolehnya kebelakang, yang terlihat hanya punggungya. Aku ingin kamu menoleh ke arahku saat pandanganku kembali ke depan seperti drama romantis yang sering ku lihat di Tv. Bagaimana aku bisa tahu kamu memandangku atau tidak sedangkan, aku sudah memandang ke depan. Ingat!! Ini dunia nyata bukan settingan drama yang terlihat romantis karena dilihat penonton. Sedangkan aku? masa harus aku menyuruh orang di kanan kiriku untuk menanyakan apakah tadi dia melihatku kembali? Dengan sangat sadis kukatakan pada diriku  sendiri. Ini khayalan.

“Dinda…”

“Haaaa..” Aku teriak sangat kaget saat pandanganku beralih kedepan. Tepat didepan wajahku ada orang. Jelas saja kalau aku kaget. Huftt.. ternyata Lyra dan Vindar. Fikiran gilaku selalu berandai-andai kalau yang memanggil itu dia.

“Kucari-cari ternyata di kantin.”

“Mendinginkan fikiran” ucapku sambil tersenyum.

“Dengan minum es?” Tanya Lyra.

“Nggak lah, dengan lihat Dirga kan tadi papasan,” jawabku dengan nyengir.

“Kita khawatir sama kamu, eh kamu malah asyik lihat dia.” Vindar ngedumel. Jelas saja hanya kutanggapi dengan tertawa kecil.

“Ke perpus sebentar aja yuk! Baca buku biar encer.”

“Okelah.”

Memegang buku tapi fikiranku malah melayang. Sudah, sudah, aku harus berhenti memikirkan dia. Bisa saja tadi dia hanya melihat dengan perasaan biasa saja.

Ada novel baru ku lihat di rak buku. Dari covernya tidak pernah kulihat. Aku tertarik dan mendekatinya.

“Wahh.. ini kan yang aku suka,” ucapku setelah berhasil memegang novel yang kupandang tadi. Novel ini juga bagus, atau ini, ini dan ini. semuanya baru dan bagus. Tapi yang itu? HAH? Sedang mimpi kah aku? ops. Aku segera berbalik badan. Aku senang atau apa ya? Membolak-balik novel tanpa sengaja ada wajah yang teduh itu di balik rak. Ya benar, dia Dirga. Dia di balik rak ini sekarang. Tadi dia melihatku namun aku sangat malu melihat wajahnya terlalu lama. Dia berjalan di sampingku sambil membawa buku yang telah diambilnya. Aku membuntuti dia dari belakang. Akankah kamu membalikkan badanmu? Dan sebentar saja aku ingin kamu tersenyum. Ternyata langkahnya berjalan keluar dari perpustakaan. Yaahhh.

Dia tahu nggak ya kalau aku tak lagi berteman dengan facebooknya? Atau bahkan sama sekali dia tak pernah melihat profilku. Memberikan jempol untuk statusku saja tak pernah. Ada perasaan ingin mengembalikan facebooknya. Pasti dia tak sadar kalau aku telah menghapus pertemanannya. Jika toh aku mengirimkan pertemanan lagi mungkin dia fikir sebelumnya aku belum berteman dengannya. Ini hanya perkiraan yang selalu saja kubuat-buat. Dan hal ini pula yang selalu membuatku pesimis.

“Sabar Mbak, cowok itu nggak suka sama cewek yang terlalu blak-blakan dengan perasaannya.” Ucap Jojo setelah aku menceritakan semua kejadian tentang Dirga hari ini.

“Apakah semua cowok sama dengan pemikiranmu?” Tanyaku yang ragu dengan argument Jojo.

“Jelaslah, semua cowok pada dasarnya sama.”

“Kamu kan nyebelin, berarti Dirga juga nyebelin dong.”

“Kalau itukan penilaian Mbak Dinda sendiri tentang aku.”

“Aku tahu itu, karena Dirga pasti baik nggak nyebelin kayak kamu.”

“Yeee… nyolot.”

“Ada apa ini?” Ibu tiba-tiba muncul dibelakangku dan Jojo.

“Eh, ibu.. heheehe..” Aku cengengesan salah tingkah. Dengan segera meraih bukuku lagi dan belajar.

“Kamu rencana melanjutkan ke jurusan apa Din?”

“Sepertinya ekonomi Bu, bagaimana pendapat Ibu?”

“Ibu setuju saja.” Ada fikiran yang mengganggu. Aku baru sadar bahwa sebentar lagi aku dan Dirga tak lagi satu sekolah. Seperti yang kutahu dari Vindar, Dirga akan melanjutkan ke ISI Solo. Seperti yang kutahu pasti Dirga ingin memperdalam jiwa seninya. Sedangkan aku, aku lebih suka dengan ekonomi. Ada tempat dan waktu yang akan memisahkan. Hiks.

Rindu dengan facebook yang beberapa hari tak lagi ku tengok profilnya. Aku mengirim permintaan pertemanan lagi dan hanya beberapa menit dia menerima permintaan pertemananku.

“Hanya mengagumi, tak harus memiliki .“ Status ini untuknya.

Kulihat di twitternya banyak sekali mention untuk Rista. Aku bukan cewek pemberani seperti Rista yang bisa menggait cowok yang dia suka. Dari Lyra, aku tahu Rista mempunya banyak kenalan sedangkan, aku satu pun tak punya kenalan cowok. Dengan Dirga, aku selalu malu untuk menyapa langsung saat bertemu. Ber-say hello di statusnya dan dibaca oleh banyak orang membuatku akan semakin malu. Malu, malu, dan malu. Yah.. malu itulah yang membuat hatiku ingin meledak karena harus merasakan banyak tekanan. Tekanan saat melihat rayuan-rayuan Rista pada Dirga. Walaupun ku tahu Dirga acuh tapi tetap saja ada yang tersakiti disini.

“Mas Dirga dan Mbak Rista semakin dekat saja.” Kudengar ucapan Nina pada Jojo saat di rumahku. Diam-diam selama ini Jojo menanyakan tentang Dirga pada Nina. Selama ini Jojo tak pernah bercerita tentang Dirga yang buruk. Dia takut melukaiku. Nina juga anak sanggar yang mengenal dekat Dirga. Dari percakapan mereka kutahu ternyata Dirga adalah cowok yang baik, bertanggungjawab menjalankan tugasnya di sanggar. Dan satu lagi, dia memang menanggapi Rista tapi dengan cuek.

Kamu boleh memilih cewek sesukamu Ga, tapi aku mohon ajari aku untuk menghapus semua rasa ini. jika bisa kuhapus sendiri, mungkin aku tak akan sesakit ini. Jika aku tahu cara melupakanmu mungkin aku tak akan selama ini tetap bertahan dengan jeratan perasaan yang semakin lama menikamku. Ditambah lagi, mimpi-mimpi yang menghantui. Kamu datang untuk tersenyum, memujiku, atau hanya sekedar melihatku itu semua sudah pernah kujumpai dalam mimpiku. Hatiku sudah sesak dengan ungkapan-ungkapan yang selama ini tertahan hanya karena tertutupi rasa malu. Aku tak ingin hanya karena cowok yang baru saja kukenal melalui mimpi aku harus rela membuang maluku.

Perasaan yang selama ini masih bersih dari cemburu, sakit hati, dan cinta kini sedikit demi sedikit mulai ada noda kecemburuan dalam hatiku. Aku ingin membersihkannya kembali dengan kepastian.

“Aku ingin melupakannya, Jo.” Isakan tangisku di kamar Jojo.

“Menurutku yang terbaik Mbak Dinda melupakannya saja daripada harus cemburu nggak jelas seperti ini.”

“Cinta gila membuatku juga semakin gila.” Tangis ini belum berhenti.

3 Bulan Kemudian

Setelah aku disibukkan dengan rutinitas wajibku sebagai siswi kelas 3 aku berfikiran untuk membuat surat yang kutitipkan ke Vindar untuk Dirga. Surat ini kutitipkan sehari sebelum keberangkatanku mengurus daftar ulang kuliahku di Surabaya. Aku ingin meluapkan segala perasaanku agar aku mudah untuk melupakannya dan tak ada perasaan yang tertahan lagi.

To: Dirga

Jika kamu masih mengingat

Aku “Din Dinda” yang pernah mengirim inbox di facebookmu. Yang pernah mem-follow twittermu namun tak juga mendapatkan follback darimu. Yang pernah menahan cemburu melihat kamu dengan cewek di seberang sana. Yang pernah mendapat balasan inboxmu dengan cuek.

Aku mengirim surat ini bukan untuk memohon kamu menjadi cowokku, bukan untuk memperlihatkan sikap benciku, bukan untuk memojokkanmu. Tapi hanya ingin mengungkapkan perasaan kagumku padamu setelah kamu berhasil masuk dalam mimpi-mimpiku.  Konyol mungkin, hanya karena mimpi aku bisa mengagumimu. Terserah orang berkata apa tapi inilah hatiku.

Aku bukan cewek pemberani seperti cewek yang selalu meramaikan twittermu. Aku hanya cewek pemalu yang selama ini bersembunyi untuk mengagumimu.

Aku takut akan melukai cewek itu jika melayangkan komentar di statusmu dan aku takut kita tak lagi jadi sahabat setelah kita pernah bersama menjalin rasa.

Semoga dengan surat ini kita akan menjadi teman.

Dinda

Pagi sekali aku ke rumah Vindar untuk menitipkan surat. Disamping menitipkan surat, di pagi itu aku juga menghabiskan waktu terakhirku di Kediri dengan Jojo. Jarang sekali Jojo mengajakku jogging di pagi ini.

“Mbak Dinda nanti siang makan mie setan yuk! Aku traktir deh.” Ajak Jojo.

“Beneran? Oke deh.”

Seharian berduaan dengan Jojo. Berpedas-pedas ria melahap mie setan.

Melihat wajah Jojo yang memerah membuatku sangat gemas.

“Huh.. hah… pedeeeees Mbak.”

“Hahaha.. wajahmu lucu banged, Jo.”

Tiba-tiba ada telepon masuk di Hp-ku. Kulihat ternyata Lyra.

“Halo.” Sapaku.

“Dindaaaaaaa… selamat ya! Ujian nasional di pelajaran ekonomi mu dapat nilai 100.”

“HAAA? Hasilnya udah keluar? Beneran ini serius?”

“Ini ciuss loh, selamat ya.”

“Makasih ya Lyr.”

Klik. kumatikan telepon setelah Lyra mengucapkan salam.

“Jojooo.. nilai ekonomi ku 100.”

“Serius? Selamat ya, Mbak. Pasti bude senang tahu berita ini.”

“Iya Jo, makasih ya.. eh, Jo.”

“Kenapa Mbak?”

“Hari ini aku Jogging, makan mie setan dan ekonomi dapat nilai 100. Itu kan mimpi yang pernah aku ceritain ke kamu. Ternyata kenyataan.”
“Wahhh.. nggak nyangka ya. Yang penting Mbak Dinda usaha buktinya Mbak Dinda bisa kok dapat nilai sempurna. Jadi mulai sekarang nggak perlu takut dengan mimpi. Jadikan itu sebagai penyemangat buat Mbak Dinda.”
“Kalau kamu mau usaha mau jogging dan ngajak makan aku disini pasti juga bisa jadi kenyataan.” Aku membalikkan ucapan Jojo.

“Hahahaha… mumpung punya uang makanya nraktir Mbak Dinda.”

“Tapi mimpiku tentang Dirga gimana?”

“Setelah dia baca suratnya Mbak Dinda dijamin deh bakalan proses..”
“Proses apa?” Aku mengerutkan dahi tak mengerti ucapan Jojo.

“Proses penjauhan.”

“HAHAHAAHHAH.” Suara tawaku dan Jojo membuat kami lupa dengan rasa pedas yang semakin merongrong.

 

Seminggu kemudian ada inbox di facebookku.

Dirga Frandika

Bukan karena mimpimu aku mau menjadi temanmu, bukan karena suratmu aku tak lagi cuek denganmu. Tapi karena sebenarnya aku sudah ingin menjadi temanmu sebelum kamu mengirim permintaan di facebookku.

Bukannya aku cuek tapi aku memang tak tahu harus bersikap seperti apa. Kamu tidak pernah memfollow twitterku. Selama ini memang banyak yang memfollow twitterku, tapi saat kulihat ternyata kamu tidak memfollow. sebenarnya aku ingin menanyakannya padamu tapi aku tak berani. Selama ini kamu terlalu tertutup dengan cowok maka dari itu aku tidak berani terlalu mendekatimu. Cewek di twitter itu hanya sebatas teman. Tidak lebih.

Kini aku sadar, darimu aku tahu apa arti sebuah pengungkapan. Selama ini aku terlalu memendam segala keinginan tanpa mengungkapkan. Maafkan aku terlalu cepat menilaimu. Tanpa mengungkapkan mungkin kita tak akan tahu satu sama lain. Akhirnya, selama ini penantianku ingin bersahabat denganmu itu terwujud. Mungkin karena inginku terlalu besar untuk mengenalmu sampai kamu harus terusik dengan mimpi-mimpi itu.

Selamat datang, Teman.

Semenjak saat itu kita menjadi teman. Dia lebih sering ramah menanyakan kabarku. Bercerita tentang lingkungan barunya di Solo. Meskipun tak pernah menjadi orang yang spesial dihatinya tapi aku senang dia menganggap keberadaanku dan lebih baik denganku dari pada dulu. Kita teman sekarang.

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

7 Comments to "Dunia Kedua (2 – habis)"

  1. Anik  30 March, 2014 at 06:39

    Ini ceritanya sudah habis

  2. [email protected]  24 March, 2014 at 10:04

    lanjut….. jangan pake lama
    *nyolot*

  3. Anik  22 March, 2014 at 11:53

    Pak JC: iya, saya usahakan

  4. J C  22 March, 2014 at 06:57

    Menunggu cerita yang lebih panjang…

  5. anik  21 March, 2014 at 14:59

    kornelya: hotel lotus garden itu ya? hampir deketlah 3 km.
    Mbak Liana: Aku masih bingung sama alurnya mbak, bolak-balik ke atas. insya Allah rencana mau buat yang lebih panjang lagi

  6. Liana  21 March, 2014 at 09:37

    Anik, sebenarnya aku berharap cerita ini dipanjangin. Ada rencana bikin cerita yg lebih panjang?

  7. Kornelya  21 March, 2014 at 09:19

    Wuih, anak sekarang sepertinya kalau tdk diatasi, % belajar serius lebih kecul dibanding kegiatan di medsos. Mba Anik, Kedirinya dimana? Aku kesana selalu mendem di Lotus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.