Usia Masuk SD dan Pengaruhnya

Wesiati Setyaningsih

 

school-age

Orang tua mungkin bangga kalau anaknya bisa masuk SD dalam usia yang lebih muda dari teman-temannya. Buat mereka, itu menunjukkan kalau anak mereka lebih pintar dari anak sebayanya. Tapi benarkah demikian?

Saya adalah salah satu contoh kasus sekolah kemudaan. Cuma gara-gara saya bongsor, saya dimasukkan SD ketika umur saya masih 5 tahun. Guru SD tersebut belum membolehkan, tapi Ibu saya memaksa. Alhasil, jadilah saya selalu lebih muda dari teman sebaya saya. Karena di jaman saya kecil masih kental dengan sopan santun, teman sekelas saya di SD kebanyakan memanggil saya dengan ‘dik’ dan saya memanggil mereka dengan ‘mbak’.

Tidak ada masalah berarti dalam pelajaran yang saya alami. Sampai lulus SD, andai waktu itu ranking sudah dicetak dengan jelas, saya pasti ranking satu atau dua. Di SMP juga tidak ada masalah. Saya termasuk anak pintar. Begitu juga di SMA, saya masih termasuk lima besar.

Tapi di SMA ini masalah mulai terasa. Pada mapel ilmu pasti (Fisika, Kimia, Matematika), saya keteteran. Tidak cuma tidak mampu mendapat nilai baik, tapi juga seolah saya ‘stuck’. Dijelaskan seperti apapun tidak bisa paham. Sampai teman saya saja kesal. Saya mulai tidak fokus. Selain itu ada masalah emosional yang tidak mampu saya jelaskan, apalagi saya atasi. Ada kegelisahan yang aneh. Selalu merasa kacau balau. Tahu-tahu senang, tahu-tahu sedih tanpa alasan.

Ketika kuliah, adik saya bercerita tentang temannya yang tahu-tahu menikah. Anak itu cantik, pintar dan karena supel teman-temannya banyak. Anak itu termasuk mahasiswi yang populer di jurusannya. Sayangnya seringkali sikapnya tidak terkendali. Kadang-kadang meledak-ledak, di saat lain dia begitu baik. Begitu banyak pemberontakan yang dia lakukan. Pada suatu ketika dia hamil dan terpaksa menikah.

Komentar dia menohok sekali. “Kalo sekolahnya kemudaan kan kaya gitu itu jadinya.”

Demi mendengar kalimat itu seolah semua pertanyaan saya terjawab. Itulah kenapa saya selalu tidak maksimal. Jauh dibandingkan adik saya yang sekolah ketuaan; dia lebih tua beberapa bulan dari teman-temannya karena dia lahir di akhir tahun. Kebetulan karena faktor situasi keluarga yang baru saja pindah ke kompleks baru, dia masuk TK agak telat. Kalo saya masuk SD 5 tahun, dia masuk SD sekitar 6,6 tahun. Dia lebih siap masuk sekolah.

Sepanjang sekolah dia anak pintar. Bahkan yang saya heran, Fisika yang jadi mapel yang begitu susah saya pahami, dia jagoan. Di bidang apa saja dia mumpuni. Saya tidak iri, tapi heran. Kenapa bisa begitu. Sepertinya komentar dia yang asal itu menjadi jawaban tuntas buat saya.

Ketika saya punya anak, Dila, terpaksa saya masukkan TK karena ngeyel ingin masuk TK pada umur 3 tahun. Dia pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik, juga mampu bersosialisasi. Karena bakal kemudaan kalau saya ikuti dua tahun di TK lalu masuk SD, setelah setahun di TK itu, dia saya pindahkan ke TK lain mengulang dari TK A lagi. Total dia 3 tahun di TK. Ketika masuk SD usianya 6,4 tahun. Sudah memenuhi persyaratan masuk SD negeri. SD, SMP dan SMA dia lalui dengan baik. Meski bukan terbaik di kelas, tapi dia cukup enjoy dan stabil secara emosi.

Di TK pertama tadi, ada temannya yang usianya juga 3 tahun. Setelah sekolah di TK itu 2 tahun, anak itu disekolahkan ke SD. Keluarganya bangga karena anak itu bisa menguasai pelajaran dengan baik di SD meski kemudaan. Sayang ketika masuk SMP prestasinya menurun. SMP dan SMA dia masuk sekolah swasta karena nilainya kurang baik. Baru kuliah beberapa bulan dia dinikahkan karena hamil. Memang ada masalah keluarga yang cukup berat yang dia alami, sehingga saya pikir hal terakhir ini tidak bisa menjadi akibat umum yang terjadi pada anak yang sekolah kemudaan. Namun sekolah kemudaan memang memberikan masalah dalam kontrol emosi. Si bungsu masuk SD di usia yang lebih tua dari kakaknya karena dia lahir bulan Januari.

Anak teman saya, juga disekolahkan kemudaan. Awalnya anak itu bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi nyatanya kemudian bermasalah hingga tidak bisa naik kelas. Masalah-masalah pada anak yang saya ketahui, sering kali memang berhubungan dengan perihal umur berapa dia masuk SD. Nyatanya memang anak-anak yang sekolah kemudaan ini cenderung mengalami masalah di kemudian hari.

Orang tua boleh bangga kalau putra putrinya bisa masuk SD dan nyatanya bisa mengikut pelajaran dengan baik. Tapi sebenarnya kesiapan anak untuk sekolah bukan hanya masalah ‘bisa tidaknya mengikuti materi di sekolah’. Kesiapan emosi anak-anak harus juga ditata dengan sedemikian rupa. Bagaimanapun semakin matang usianya, semakin dia siap untuk menghadapi pergaulan dengan teman-temannya.

Kalau jaman saya dulu sekolah, kemudaan masuk SD masih tidak menjadi masalah besar, buktinya saya bisa ‘selamat sampai tujuan’. Lulus SMA, masuk Universitas Negeri lalu bekerja. Tidak ada pergolakan yang berarti. Tapi perlu diingat bahwa kurikulum waktu itu masih sangat manusiawi.

clip art kids playing

Kalau sekarang saya mendampingi si bungsu belajar, saya bisa terkaget-kaget. Matematika yang saya pelajari di SMP sudah dia kenal di kelas 3 SD. Beban kurikulum saat ini begitu berat. Untuk anak yang belum benar-benar siap pasti akan sangat keteter. Memang ketinggalan ini belum tampak di kelas satu atau dua SD karena di kelas itu materi masih mudah. Tapi setelahnya, sudah sangat berat. Maka tak heran kalau kesulitan belajar biasanya akan terjadi di kelas-kelas setelahnya. Kondisi paling parah akan terjadi di SMA nanti. Sebuah masalah besar menunggu di kemudian hari dan hal ini jarang disadari orang tua. Tidak banyak dari mereka yang menyadari bahwa semua itu karena mereka menyekolahkan anaknya di usia yang terlalu muda. Lebih banyak yang menyalahkan si anak itu sendiri dengan kata ‘malas’. Padahal anak itu sendiri justru bingung kenapa dia tiba-tiba ‘blank’.

Jadi saya kira, apalah salahnya ketuaan setahun dua masuk SD kalau hasil yang didapatkan di kemudian hari akan lebih baik, dari pada berbangga hati anak bisa ‘nabung umur’ tapi efeknya sangat mengecewakan dan sangat mempengaruhi masa depan anak.

Maka kalau ada anak di sekitar Anda yang mengalami masalah dalam belajar, coba ditanyakan lebih dulu, umur berapa dia dulu masuk SD. Lebih bijaksana lagi kalau Anda menyekolahkan anak Anda ketika dia benar-benar siap, mengikuti persyaratan SD negeri, pada usia 6 tahun.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

40 Comments to "Usia Masuk SD dan Pengaruhnya"

  1. anas  15 May, 2017 at 21:38

    Menurut Prof. Dr. S.C. Utami Munandar yang dikutip dari episentrum.com, jumlah anak Indonesia yang memiliki kemampuan lebih hanya 2-5%. Sayangnya tidak semua anak-anak berkemampuan lebih ini mendapat pendidikan khusus.Tak semua sekolah mempunyai fasilitas, sarana dan prasarana yang bermutu, atau pun kelas unggulan yang bisa mengembangkan dan melihat anak-anak yang berbakat.
    Terlepas dari validitas angka prosentase tersebut, bahwa jumlah anak berbakat memang sedikit, jauh lebih banyak yang normal-normal saja.Permasalahannya, banyak ditemui orang tua yang merasa anaknya istimewa sehingga bersikeras memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar (SD) sebelum cukup usia padahal belum tentu anaknya istimewa atau termasuk dalam 2-5% seperti disebutkan di atas. Mengapa sih tidak sabar sedikit menunggu anaknya berumur mendekati 7 tahun ?.

  2. iit  9 April, 2017 at 08:40

    Anak saya umur 8th Feb 2017, baru mau masuk SD karena banyak hal, bagaimana menurut Ibu? Boleh kah saya minta emailnya?

  3. Asriani  26 July, 2015 at 09:05

    Terimakasi mbak wes, dengan membaca artikel mbak wes bisa menjadi masukan sama saya, karena saat ini saya mempunyai anak yang berusia 5 tahun, kepinginnya sih saya sekolahkan cepat tapi saya takut da efeknya, makanya saya cari artikel masalah ini.

  4. fajar siagian  7 July, 2015 at 07:59

    jadi itu sebabnya ya aku mempunyai emosi yang berbeda dari yang lain dan itu membuat perbedaan antara aku dan adkku selain itu

    setelah kuliah aku sangat kesusahan menerima pelajaran meskipun telat kuliah setahun

  5. anangyb  27 March, 2014 at 07:21

    Apa yang dulu saya pelajari di kelas 6 SD, sudah dipelajari dan dikuasai dengan baik oleh anak saya di kelas 3 SD. Kesimpulannya, lebih muda 3 tahun pun no problem.
    *anak saya masuk SD usia 5 tahun, dan tetap enjoy serta unggul hingga saat ini di kelas 10 ..

  6. JL  25 March, 2014 at 20:59

    Anakku sing gede kemudaan krn lahir di Desember dan yg kecil ketuaan krn lahirnya February dan memang kalo prestasi akademik adikku lebih pinter…yg gede badane tok aing gede ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム =)) ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム

  7. wesiati  24 March, 2014 at 19:46

    Tammy : aku ngakak waktu dia ngomong itu. Farhat digagas. dia mah ngelawak doang. kitanya yang terlalu serius.

  8. tammy  24 March, 2014 at 18:38

    jadi inget wawancaranya farhat sama najwa. saat ditanya programnya utk pendidikan dia bilang semuanya mau dipercepat, SD-SMA dan kuliah semua dipangkas waktunya. jadi usia saat S1 adalah 16 tahun. ini orang kalo ngomong pake diproses dulu di otak apa nggak toh?!

  9. Nonik  24 March, 2014 at 17:18

    @Mbak Alvina: cerita yang di Jepang itu mengenaskan sekali. Bener sih, apa untungnya kalau anak juara ini itu, menyabet gelar dan piagam penghargaan dimana-mana, tapi akhirnya mati muda karena stress, di usia 15 tahun pula??!?! jujur aku heran dengan ortunya, apa ga kasian ya liat anaknya yang dipaksa untuk belajar terus2an…. memang sih sebagai ortu kita bangga kalau anak ktia sudah bisa calistung di usia awal, tapi kan ga baik juga kalau dipaksa. Terus itu ujung2nya juga jadi banding2in dengan anak2 lain…

  10. wesiati  24 March, 2014 at 16:46

    itulah. aku juga heran aksel itu buat apaan..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *