[Resensi] Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe

Adhe Mirza Hakim

 

Minggu pagi yang cerah 16 Maret 2014, Commuter Line yang kutumpangi terasa sesak saat ku naik dari Stasiun Pasar Minggu, pemandangan yang rutin buat transportasi umum. Selepas stasiun Tanah Abang, CL tiba-tiba berubah lengang sekali. Tujuanku ke Stasiun Kemayoran,  lalu ke Apartemen Mediteranian tepatnya di Library Café (milik ibu Lianny Hendranata) untuk menghadiri bedah buku “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe” Karya Olivier Johannes Raap (biasa dipanggil mas Oli).  Kebetulan baca undangan terbuka ini di Baltyra FB Group, Linda Cheang yang jadi EO nya. Setelah di’confirm aku mengatur jadwal jauh hari agar bisa hadir di acara ini, karena buku yang akan dibahas ini tema nya Classic, mengenang kembali era “Mooi Indie” di Jaman Penjajahan dan penulisnya berkebangsaan Belanda pula, jadi klop banget.

Acara dimulai pukul 10 pagi, aku sebenarnya sudah sampai di lokasi pukul 9.45, sempat sms an dengan Linda, untuk memastikan venue acaranya. Aku mampir dulu di Giant supermarket, sekedar membeli Hot Cappucino dan menikmati seiris kue bika ambon, maklum saat keluar dari rumah aku belum sempat sarapan pagi.

Saat masuk ke acara bedah buku, mas  Oli sedang memutar film jadoel melalui layar in-focus. Mas Oli menjelaskan sekilas apa-apa yang tergambar dalam film tersebut. Linda menyambutku dengan hangat, penampilannya pagi itu terlihat vintage, dengan blouse putih yang warnanya sudah agak pupus dan rok batik motif lawasan, aku sempat bilang ke Linda, “busanamu sengaja disesuaikan dengan tema bukunya ya..”  Linda tersenyum, kalau membaca nama Linda Cheang atau Linda PT, selalu ingat dengan tagline “Memotret dengan hati”, tulisan-tulisan Linda banyak didasari dengan foto-fotonya yang diambil dengan “mata hati” (daleeem) bukan hanya mata fisik.

Di dalam Library Café sudah ada beberapa tamu, yang jelas aku belum kenal semuanya, Linda memperkenalkan namaku pada peserta yang sudah hadir duluan. Aku berbisik tanya ke Linda, siapa aja  Baltyrans di sini, disebut Linda, ada Ibu Lianny Hendranata (kalau sama ibu Lianny, aku sudah kenal namanya karena ada dalam FB List friend ku, ada juga mba Yuci Jerum…hmm…denger namanya sudah, tapi belum kenal orangnya). Setelah menonton film jadoel kurang lebih 30 menit berikut penjelasannya. Oli mulai membedah bukunya, yang banyak memuat foto-foto indah dan menarik tentang Indonesia dimasa kolonialisasi.

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe01

Cover buku Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe, Penerbit KPG

 

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe02

Cover Belakang buku yang menerangkan sedikit isi buku

Buku “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe”, didasari kumpulan foto-foto jadoel, kebanyakan dari koleksi Postcard kuno yang dimiliki Oli. Buku ini bercerita tentang kisah-kisah di balik foto Postcard berikut analisa fotonya  di mana, kapan dan siapa yang memotretnya menjadi bahasan yang menarik untuk didiskusikan. Dari beberapa tamu yang hadir, kurang lebih 10 peserta, ada 3 peserta yang aktif bertanya sekaligus berdiskusi, aku hanya menduga-duga mereka ini ada yang jurnalis ada juga yang fotografer.

Kalau aku hanya sekedar mengamati. Saat mendengar penjelasan Oli tentang bukunya, sempat terkenang foto-foto jadoel yang dimiliki keluargaku  (foto kakekku di tahun 30-an, sebelum kemerdekaan), dulu kakek sekolah di Mulo Kayu Tanam, Sumatera Barat, sayang kakekku tidak diijinkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, beliau diminta keluarganya untuk ikut berdagang dalam firma (Perusahaan Keluarga).

Tanya jawab dalam bedah buku Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe terasa interaktif, yang bertanya dan yang menjawab seperti saling berdiskusi, aku hanya sebagai pengamat. Mau ikut berkomentar ‘ra wani …hehe ntar salah komen jadi tengsin. Ada satu pertanyaan kenapa Oli hanya membahas foto-foto yang menggambarkan suasana di Jawa saja, sedangkan Indonesia ini terdiri dari banyak pulau, misalnya foto-foto dari pulau Sumatera, Sulawesi atau Kalimantan, Oli menjelaskan bahwa dia tidak berkompeten untuk menjelaskan secara luas foto-foto kuno yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Dia hanya fokus di foto-foto yang ada di Pulau Jawa, agar pembahasan di dalam bukunya tidak melebar ke mana-mana. Kita harus faham, kebiasaan peneliti asing jika melakukan riset lebih suka fokus dalam satu bidang, agar kajian materinya lebih detail.

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe03

Cover buku Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe, Penerbit Galang Pustaka

 

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe04

Cover belakang buku Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe

 

Ada dua buku yang sudah Oli tulis tentang sejarah Indonesia lewat kumpulan foto Postcard nya. Pertama, yang sudah published dan mendapat sambutan sangat baik dari para pembaca, adalah “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe”, yang menggambarkan ragam profesi kaum Pribumi di Hindia Belanda, yang menarik dari buku ini, beberapa foto dibuat karena jenis pekerjaan yang ada di Hindia Belanda tidak ada di Belanda.

Dari sisi tampilan maupun cetakannya, buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” lebih eksklusif dari buku “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe”, tentu harganya juga berbeda, untuk menghibur pembacanya, Oli menyisipkan bonus 2 Postcard “Cantik” di dalam buku “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe”. Lumayan pikirku, bisa dibingkai buat pajangan di atas meja kerja. Foto Postcard ini sejatinya bewarna hitam putih, namun agar tampak ‘eyecatching’ diberi sentuhan warna dengan tehnik tertentu, sorry lupa istilah pewarnaannya. Postcard cantik ini mengambarkan seorang Ibu dan Anaknya serta tampilan seorang Penari Djawa, direpro dari koleksi Postcard milik Oli, termasuk Postcard Favorite nya.

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe05

Postcard Ibu dan Anak

 

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe06

Postcard Penari

 

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe07

Profile Penulis

 

Jika tertarik untuk mengetahui lebih lanjut isi kedua buku ini, monggo dibeli ya…aku kemarin langsung beli keduanya dan minta ditandatangani Oli. Mengenai harga buku pertama dihargai Rp. 127.000,- sedang buku kedua Rp.50.000,- mungkin buat sebagian teman harganya lumayan mahal ya, namun buat yang mencintai seni fotografi atau yang tertarik dengan sejarah Indonesia di masa Hindia Belanda, harga bukan halangan untuk mengkoleksi buku ini. Buku adalah “jendela dunia”, buat suatu masa, baik lampau sekarang dan yang akan datang.

Pemilik Library Café, ibu Lianny menyuguhkan hidangan camilan Pisang Goreng tabur Meises-Keju serta air mineral dingin sebagai selingan saat para peserta asyik berdiskusi dengan Oli. Peserta juga bisa pesan menu lainnya yang disediakan Library Café, kebanyakan peserta memesan Nasi Goreng Special, yang masak langsung Chef Lianny, hehe…sayang  aku tak bisa mencicipi Nasgor yang kelihatannya sedap itu karena harus segera meninggalkan venue, ada acara lain yang harus kuhadiri. Para peserta bedah buku, sempat foto bareng Oli.

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe08

Foto bareng peserta bedah buku dan mas Oli

 

soeka-doeka-djawa-tempo-doeloe09

Foto bareng Baltyrans, ibu Lianny, Linda, aku dan Yuci

 

Thanks Ibu Lianny, Linda, Oli dan para peserta yang hadir di acara yang menarik siang itu, semoga bedah buku di tempat lainnya lebih meriah lagi. Pasti…

 

AMH, BDL 23032014

*foto-foto dalam artikel ini discan dari buku “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe” terbitan KPG dan buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” karya Olivier Johannes Raaf.

*foto copas dari FB mas Oli

*foto koleksi Linda Cheang

*jika ada info yang kurang tepat dalam buku ini mohon dikoreksi, terimakasih.

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "[Resensi] Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe"

  1. Linda Cheang  2 April, 2014 at 08:57

    Halo Chik Dhe,

    Terima kasih sudah memberikan laporan pandangan matanya di sini.

    Senang bisa berjumpa langsung.

  2. Linda Cheang  2 April, 2014 at 08:56

    Halo

  3. Handoko Widagdo  1 April, 2014 at 07:24

    Terima kasih Cik Dhe. Tadi malam saya datang di bedah buku yang sama di Solo. Saya lebih suka format buku pertamanya daripada yang baru. Buku Oli menonjolkan postcard, sehingga seharusnya postcard diberi tempat yang lebih layak daripada teksnya. Nah buku kedua ini postcardnya dibuat kecil, sehingga kurang bisa dinikmati. Lagi pula ukuran buku yang dipipilh adalah ukuran buku ilmiah, bukan coffee table book size.

  4. J C  26 March, 2014 at 15:34

    Mbak Adhe…hooorreeee akhirnya ada tulisannya lagi. Ikut senang dengan acara bedah buku seperti ini. Teman-teman berkumpul dan berdiskusi, dari yang hanya ketemu di jalur virtual sekarang jadi nyata. Buku yang ini belum sempat beli, kalau yang pertama memang punya…

    Bravo mbak Adhe, Oli dan Linda sang EO…

  5. Lani  26 March, 2014 at 07:23

    ADHE : sak-jane aku to yg bilang “miss u” soale yg menghilang kan dirimu hehehe………..klu aku jumpalitan trs dirumah ini……….klu gak malah iso stress, ora ketemu lurahe hehehe………..

  6. adhe mirza hakim  25 March, 2014 at 08:27

    Maturnuwun @JC dan @mba Dewi Aichi, sebagai anak hilang kudu lapor dulu biar ga di strap, hihihihi…. laporan perjalanan seperti biasa akan disiapkan dalam tempo yg sesingkat-singkatnya, dg catatan jaringan internet gak pake acara lola dan PLN ga buat ulah mutusin listrik sepihak trus yang paling penting “Yang nulis artikel” gak pake acara malas nulis hahaha…

    @James, bener numero uno buat comment.

    @Cik Lani….numero duo, hehe..miss U cik Lani.

    @mba Henny, makasih yaa sudah mampir baca, bener banget kalau buku ini menarik dan patut di koleksi.

    @mba Nina “E’nino”, iyaa….aku pikir dirimu hadir diacara ini, ra po po ga ketemuan kemarin, next kita kopdar dilain tempat yaa….

    @Pakdhe DJ, makasih juga sudah mampir baca dan kasih komen, semoga Pakdhe dan tante Susy selalu sehat.

    @Alvina, thanks mba sudah mampir baca dan komen.

    Buat all Baltyrans thanks ya sudah mampir baca.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.