Anugerah (Anak) #1

Ria Kusumasari

 

Virus perasaan hampa yang pernah dialami seluruh makhluk yang bernama manusia di dunia, kini sedang menyerangku dan cukup terasa lama perihnya. Keluhan kesepian dan kecemasan melengkapi gejala penyakit ini. Pada satu titik dalam hidup. Ketika membolak balikkan badan, melihat suasana yang belum juga berubah. Membayangkan, memimpikan tangisan bayi yang pecah membuat terjaga atau membuyarkan hal penting, menjadi tak ada yang lebih penting selain merawat seorang kecil berjulukan si buah hati, yang menyambut hangat tangan lenturku lalu dijamin tertidur pulas dalam dekapan yang aman.

Waiting-for-a-Miracle

Aku tak tahu apakah do’aku bisa sampai ke surga, jika tak ada anak kandung yang mendo’akanku? Aku menciptakan rasa kesepian bahkan rasa putus asa yang selayaknya tak harus kulatih apalagi kuresapi. Keadaan yang membuatku gelisah. Berulangkali men-sugesti diri bahwa aku orang paling bahagia dan penuh rasa syukur. Terkadang cara itu sedikit membantu.

Awal-awal yang membahagiakan sebagai pengantin baru sampai menuju angka 3 tahun perkawinan kami slalu menghibur diri, “ah ini bukan apa-apa. Nikmati saja sebagai masa ‘berpacaran’.” Tatkala waktu beranjak menuju 5 hentakan masa, lima tahun perkawinan, Penghuni rumah ini belum juga bertambah, aku dan suamiku. Aku mulai harus mengendalikan hidupku dari mengatasi kerinduan kala membangun cita-cita di otakku menjadi seorang ibu yang bersedia menghibur hati yang luka, menghangatkan tubuh yang dingin, menggenggam tangan yang gugup, menatap mata yang menyengat ingin dicintai. Terserah padamu Tuhan.

Sejatinya lelah menanggapi pertanyaan demi pertanyaan orang tentang mencari sebab, mengapa, kenapa, ada apa, belum memiliki anak? Seolah kejadian manusia bukan karena campur tangan Tuhan. Aku selalu siap dengan jawaban sebagai senjata pembungkam serta menampilkan diri sebagai seseorang yang pasrah diri dan sabar. Serta merta menata positif fikiranku bahwa suara-suara itu adalah do’a. Sejujurnya pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sangat membosankan, tak ingin kudengar, tak ingin kujawab. Kadang malah aku mulai senang dengan pikiran negative tentang itu, jawabanku mulai tak ramah, pertanyaan yang tadinya aku anggap do’a seketika berubah jika aku mulai berhadapan dengan mimik wajah bertanya tak ada solusi atau melancarkan sugesti demi menambah jaringan sehingga terjual produk obat, menyarankan cara alternatif atau menatap dengan khawatir, curiga, atau lebih tepatnya memandang dengan kasihan.

Aku membenci hadir dalam suatu pertemuan sosial yang anti sosial yang malah membuat hariku sial. Bertemu dengan orang-orang yang ingin tahu. Sebagian malah sudah tahu, meng-konfirmasi jawaban sebagai bahan gosip. Nyanyian yang sama didendangkan ditiap-tiap waktu. Setidaknya itu yang aku fikirkan. Suasana ini memang tak nyaman. Aku berburuk sangka, tapi perasaan inilah kenyataannya.

Kalimat-kalimat pembanding seperti, Si A saja yang baru saja menikah sudah “isi” (cara lain mengatakan sudah hamil) skarang ini.

Si B yang nikahnya sesudah kamu, anaknya sudah 3 blablabla.

Lalu ditambah dengan pertanyaan dan pernyataan pelengkap;

Oh mungkin terlalu lelah? Apa haidnya tidak lancar? Ada kista? Miom? Kanker rahim? Tumor? Panu? Kudis? Kurap?

Suaminya sudah diperiksa juga? Spermanya cair? Ejakulasi dini? Berapa usiamu sekarang, usia suamimu? Tahu usia produktif? Tahu usia teman nenek moyangmu? Mmmm Too much…

Oh mungkin stress? My God. Sesungguhnya aku lebih stres mendengar kata-kata itu daripada menjalani hidup dengan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Mereka seperti dokter ahli kandungan yang tepat mendiagnosa, atau ahli jiwa yang mengukur kadar kemampuan psikologis seberapa layak kesiapan menjadi orangtua.

Ugh! Untuk apa nyanyian ini ku dengar? Kenapa pula aku harus lari? Toh, referensiku tentang kehidupan, menjalani hidup sebelum mati atau sesudah mati, anak, mengarahkanku pada banyak pemikiran.

Memiliki anak banyak, bukan suatu prestasi. Jika hanya mengandalkan kuantitas anak.

Memiliki anak juga bukan satu-satunya jaminan surga, jika tidak sanggup menjadikannya anak berkualitas dunia akherat.

Bahkan anak hanya titipan Tuhan yang menjadi perhiasan dunia.

Berapa banyak orang-orang yang ingin menikah tapi tak juga mendapatkan pasangannya?

Berapa banyak yang urung menikah karena tak ingin memilik anak?

Berapa banyak pasangan yang ingin berpisah meskipun mereka sudah dikaruniai banyak anak?

Berapa banyak yang tak ingin melahirkan anak yang kehadirannya tak diharapkan karena menutup aib?

Berapa banyak yang menelantarkan anak yang akhirnya tumbuh sama liarnya dan dalam beberapa hal sama ditelantarkannya?

Atau, bagaimana mungkin orang bisa menyimpulkan hidup tanpa dikaruniai anak adalah satu-satunya cara untuk mengantarkan suatu hubungan pernikahan ke gerbang kehancuran, apakah hanya itu satu-satunya penyebab? Padahal beberapa faktor luar ikut ambil bagian.

Lebih baik aku mengitari diri dengan lingkungan yang mendukung. Memasuki rute teknologi, mencari orang-orang pengertian dan baik hati di ruang chat online. Lalu membuang kesulitan-kesulitan emosional sepanjang hidup. Tampaknya ini suatu pemikiran yang menyempitkan rasa cemas dan rasa tak berguna jika dipilih Tuhan sebagai orang yang tidak dikaruniai anak.

 

Note Redaksi:

Ria Kusumasari, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama BALTYRA.com ini…semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya…

 

8 Comments to "Anugerah (Anak) #1"

  1. riakusumasari  1 April, 2014 at 16:00

    Terima kasih semua sahabat baru saya yang sedia membaca dan berkomentar menyenangkan, sehingga membuat saya tersenyum dari bibir tembus ke hati… senang bisa berakrab dan berbagi di Baltyra, bisa dikata tulisan ini adalah juga saya pribadi, namun nama anak (pada anugerah anak #2) terpaksa bukan nama sebenarnya, mudah mudahan ada “keberanian” lainnya untuk kelak akan saya coba berbagi kisah. Salam erat

  2. J C  26 March, 2014 at 15:36

    Salam kenal dan selamat datang di Baltyra. Ikut prihatin dengan orang-orang sekitar Ria ya…lha ya begitu lah…yang dibilang “budaya timur” ya seperti itu. Secara umum biasanya di Asia (walaupun tidak semua) masalah seperti ini lebih jadi perhatian masyarakat sekitar dibanding negara-negara Barat/negara maju. Namun di negara-negara Asia yang sudah maju: Hong Kong, Jepang, Korea masalah seperti ini sepertinya sudah tidak jadi perhatian segitunya…

  3. Lani  26 March, 2014 at 07:15

    RIA : ini pendpt pribadi, menikah bukan HANYA hrs punya anak, mmgnya mesin penetas ayam po??????

    Punya anak/tdk yg penting bahagia………kdg mmg manusia itu mempersulit diri sendiri, krn mrk berpendirian KALAU MENIKAH HARUS PUNYA ANAK………

    Krn punya dan tdk punya banyak alasan dan jg merupakan pilihan.

    Saya pribadi menikah, suami meninggal, tp kami memilih utk tdk punya anak, dan perkawinan kami amat sgt bahagia……….malah merdekaaaaaaa……..kemana-mana ndak mikir anak2.

    Tp jgn salah paham, saya jg senang2 sama anak2, asal jgn anak sendiri……….krn tanggung jawabnya beraaaaaat!

  4. Nonik  25 March, 2014 at 17:43

    Mbak Ria, saya mengerti semua perasaan itu. Biarkan saja mbak. Emang sungguh menjengkelkan sekali ditanyai kayak gitu bertubi-tubi, terutama dalam konteks & budaya Indonesia. Seolah-olah masyarakat kita ini mendewakan anak, menuhankan anak. Kalau tidak punya anak brarti pernikahannya tidak diberkati, ada dosa, dll. Itu sungguh menjengkelkan.

    Saya bilang begitu bukan karena ga suka punya anak, justru saya senang sekali dengan anak2. Bahkan sekarang saya pingin cepetan nikah & punya anak dalam rumah tangga kami. Tapi kalau menikah nanti justru saya ingin bermesraan dulu dengan suami setidaknya 2 tahun pertama, baru punya anak.

  5. Dj. 813  25 March, 2014 at 16:32

    Mbak Ria….
    Banyak pasangan yang tidak berketurunan dan bisa hidup bahagia.

    Kalau secara medis…
    Kalau toch ini menjadi satu keinginan yang mutlak, maka sebaiknya suami istri memeriksakan
    diri ke dokter, agar jelas.
    Karena bisa dilihat apa dua-duanya bisa memiliki keturunan.
    Kalau salah satu tidak bisa, jadi tidak perlu ditunggu lagi.

    Secara manusiawi, mungkin memang kehendak Allah demikian.
    Karena banyak pasangan yang diberi keturunan, bukannya membahagiakan, api malah sebaliknya.

    Sebaiknya mensyukuri hiidup yang TUHAN beri.
    Adik Dj. sendiri entah berapa lama menikah, mungkin lebih dari 10 tahun tanpa keturunan.
    Akhirnya memilih mengangkat anak dan karena kecekcokan dalam rumah tangga, malah cerai.
    Dan dengan suami yang kedua, ternyata dia mendapat keturunan anak laki-laki yang sehat dan ganteng.

    Pilihan masih ada ditangan anda berdua, jangan terlalu banyak mendengarkan pertanyaan orang
    lain yang hanya membikin anda berdua stress.
    Toch hidup anda berdua, bukan mereka yang membiayai….

    Semoga Damai Sejahtera ada diidalam keluarga anda.
    Salam,

  6. Nta  25 March, 2014 at 15:03

    mba, pengalaman saya juga sama spt mba. 3 tahun tanpa anak padahal saya dan suami sama-sama dari keluarga besar alias banyak anak. akhirnya saya berobat ke salah satu dokter dan saya sekrang sdh dikaruniai 2 anak. mba bisa japri ke [email protected]

  7. nia  25 March, 2014 at 13:00

    tenang saja mbak Ria… sy kenal banyak pasangan (termasuk ortu sy) yg lamaaaaaa sekali blm diberi anak dan yg tidak diberi anak tapi rumah tangganya adem tentrem sampai tua

  8. Lani  25 March, 2014 at 11:17

    Salam kenal & Selamat bergabung di Baltyra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.