Sudah Lama

Anwari Doel Arnowo

 

Apa yang sudah lama?

Sudah lama sekali saya tidak menangis. Mungkin sudah lebih dari satu atau dua atau bahkan tiga tahun yang telah lampau. Saya sudah tidak ingat lagi, sejak kapan terakhir saya menangis. Di dalam batin mungkin saya sudah menangisi bermacam-macam hal, tetapi pada tanggal 11 Maret, 2014 saya sedang membaca koran pagi The Jakarta Post, di teras belakang rumah, saya secara amat tiba-tiba saja tidak mampu membendung air mata dan menangis tersedu-sedu.

Suara tangispun keluar dan didengar orang-orang di sekitar saya. Dua dari kelima orang anakku yang perempuan, juga dua pembantu dan seorang pengemudi mobil keluarga mendengar tangisku, ikut secara diam-diam dan juga ada yang terbuka menangis bersama saya. Seorang wanita yang hampir 24 jam dan selama sekitar berpuluh-puluh hari dalam 9 bulan lamanya menemani istri saya berperan sebagai petugas home care. Dia ini juga ikut bertugas di kamar-kamar rawat inap di Rumah-Sakit: Medistra, RSCM Kencana dan RS Premier Bintaro  Saya menduga saya menangis bersuara keras lebih dari 20 menit lamanya.

Sehari sebelumnya pada tanggal 10 Maret, 2014, pukul 02:07 pagi  istri saya, Jekti Anwari Arnowo, meninggal dunia di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan , Banten.

Sejak bulan Juni, 2013 istri saya mulai jatuh sakit.  Mula-mula terasa sakit di tubuhnya yang berpindah-pindah tanpa bisa diprediksi di bagian mana. Konsultasi dengan dokter-dokter dari macam-macam keahlian tidak menemukan apa yang salah. Hasil Lab lengkap sudah ada, berkali-kali dan selalu lebih teliti dari yang pernah dilakukan sebelumnya.

Penggunaan alat-alat pemindai yang macam-macam juga kurang menolong. CT Scan, MRI, Rontgen, tindakan Colonoscopy juga Endoscopy. Itu semuanya dilakukan setelah seorang dokter bedah laparoscopy menolak melakukan bedah laparoscopy karena kencurigaan kondisi empedunya, yang berasal dari hasil pemeriksaan USG dan Laboratorium. Ada angka cea (carcinoembryonic-antigen) yang artinya adalah  penanda tumor atau kanker yang seharusnya angka maksimumnya 5 tetapi hasilnya menunjuk angka 800.

Ahli bedah itu tidak melakukan anjuran rekannya yang ahli Hepar atau hati untuk mengoperasi empedu. Praktis penggunaan segala macam alat itu serta janji-janji waktu untuk bisa berkonsultasi dengan para dokter-dokter telah membuat waktu menjadi panjang sekitar hampir dua bulan lebih lamanya, tidak bisa mengambil tindakan apapun. Setelah dokter bedah itu sedikit mengangkat tangannya, meminta maaf kepada kami, lalu mengambil keputusan.

Dia menggunakan istilah: alih kelola ke dokter lain. Pada waktu dia seperti menyerah kalah itu saya ingat pernah berdiskusi dengan dia tentang adanya sebuah alat yang lain. Saya mengingatkan pak dokter ini mengenai adanya alat tersebut karena menurut info yang ada hanya ada satu buah di Jakarta dan yang lain terdekat berada di Singapura. Mendengar kata-kata saya mata pak dokter sedikit melebar dan segera mengambil ball point dan kertas, menulis surat untuk pengantar ke RS Gading Pluit di Kelapa Gading di Jakarta Utara, agar bisa dilakukan pemindaian dengan menggunakan alat yang namanya PET Scan (Positron Emission Tomography).

Setelah menyaksikan hasil scan dengan sikap terkejut dia dalam menjawab pertanyaan istri saya: “Apa saya mengidap kanker?” dokter menjawab iya secara terus terang dan memberi anjuran agar kami untuk berkonsultasi ke dokter ahli kanker dan ahli tulang belakang, oleh karena terlihat dari hasil PET Scan ada keretakan tulang di antaranya ada di salah satu ruas tulang belakangnya, kondisinya sungguh amat mengkhawatirkan. Saya tidak langsung melaksanakam anjurannya tetapi berunding dulu dengan istri dan anak-anak kami, dan diambillah keputusan: untuk memeriksakan semua hasil testing laboratorium dan photo dan semua laporan Radio Therapy serta alat pemindai lain yang telah dilakukan selama ini, ke Singapura dan meminta second opinion dari seorang dokter di sana, karena salah satu anak saya bertempat tinggal di sana.

Dengan keheranan dokter Singapura ini mengatakan bagaimana mungkin bisa terjadi dokter-dokter yang  terdahulu di Indonesia tidak bisa mendeteksi di mana keberadaan kanker di tubuh istri saya, lebih dini. Meskipun demikian dia tetap saja merekomendasikan agar meneruskan perawatannya di Indonesia karena   mengingat kondisi dan usianya. Bilamana dilakukan di Singapura, maka proses pendeteksian dan perawatan akan dilakukan pengulangan lagi satu per satu. Dokter Singapura ini memuji tindakan kita yang tidak membawa pasien ke Singapura.

Dia minta agar para dokter di Indonesia melanjutkan dengan berkonsentrasi kepada pencegahan meluasnya kanker dan meneruskannya ke dokter tulang belakang serta dokter ahli paru. Hal ini karena sekarang sudah jelas bahwa kanker telah menyebar dimulai dari paru sebelah kanan. Dia memberikan tiga nama dokter di Jakarta yang telah dikenalnya akan mampu melakukan hal tersebut. Kami pun berhasil menemui dokter yang namanya disebut sebagai pilihan pertama. Dokter ini menganjurkan agar dilakukan radiasi untuk mencegah meluasnya penyebaran ke bagian tubuh lainnya. Dia juga menegaskan bahwa terhadap pasien yang usianya sudah lanjut tidak akan dilakukan operasi ataupun chemotherapy. Dokter inipun menganjurkan melakukan perawatan di Radio Therapy dan menunjuk di RS Tjipto Mangoenkoesoemo di Jakarta, sebagai tempat yang sesuai. Oleh karena kami bertempat tinggal di Bintaro maka kami memutuskan sementara tinggal mendekati rumah sakit di sebuah apartemen di Jakarta Pusat.

Radiasinya dilakukan pada setiap hari sebanyak satu kali di RS Tjipto pergi pulang menggunakan kendaraan ambulance khusus. Hari-hari awalnya naik ambulance  sungguh terasa menyengsarakan dengan cara begini, karena lebar ruang lift yang tidak cukup lebar untuk memasukkan pasien di atas tandu pengangkut. Belum lagi para perilaku pengguna kendaraan berlalu lintas yang bertindak brutal, termasuk tindakan tidak sopan para polisi yang menyuruh mobil ambulace kami agar berhenti kalah mendahulukan pejabat yang dikawalnya dengan sepeda motor. Saya tidak habis pikir mengenai kejadian yang telah terjadi dua kali seperti itu di jalan Sudirman. Maka saya putuskan saja merawat inap di Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo Kencana.

Perawatan radio terapi ini  berlanjut sebanyak 33 kali satu kali pada setiap hari kerja. Selama dirawat di situ terjadi banyak kekecewaan meskipun kondisi Rumah Sakitnya bagus dan cukup mewah. Oleh karena keluhan rasa sakit istri saya maka pemberian obat oleh dokter dan perawat atas perintah yang hanya melalui telepon, berlangsung berlebihan. Itu penilaian saya selaku suami yang bukan dokter. Tetapi karena saya dan juga anak-anak merasa bebas tiada larangan untuk menyelidiki di dunia Internet yang maya, maka terbukalah pikiran kami yang merasakan bahwa pemberian banyak obat telan, memang terlalu banyak. Keluhan istri saya yang sedang mengalami rasa kesakitan, selalu diberi  tanggapan dengan dialog bisik-bisik antara dokter dan perawat untuk memberi  obat ini itu.

Saya melihat jelas apa saja akibat-akibat berupa euforia dan/atau halusinasi yang memicu saya menjadi berdebat dan “bertengkar” dengan para perawat dan dokter jaga dan dokternya juga, berkali-kali. Rasa capai saya yang menunggu istri saya dirawat dengan ikut menginap di dalam ruang yang sama dengan pasien selama puluhan hari, bukan sesuatu hal yang mudah. Saya juga harus menjaga kesehatan diri saya sendiri. Saya sempatkan selalu berkeliling di dalam dan di luar kompleks RSTM ini dengan jogging dan berjalan kaki biasa, sedikitnya 6000 langkah yang selalu saya ukur menggunakan Ipod. Beruntunglah selama masa perawatan yang lebih dari 40 hari lamanya itu saya tidak jatuh sakit, biarpun flu atau sakit perut sekalipun. Perlawanan saya terhadap perawatan di luar perawatan di Radio Terapi, itu bisa terjadi karena kondisi sehat diri saya jasmani dan mental termasuk yang prima.

Ini adalah modal saya dalam “berani melawan” paramedik dan dokter serta sistem rumah sakit yang harmonis bagi mereka.Sayang sekali seringkali tidak harmonis dengan pasien. Obat dan obat terus berusaha disalurkan dan bagi saya yang manapun yang akan mengakibatkan halusinasi, saya cegah diberikan.

Bukan sekali saya pernah mengucapkan: “Anda kan hanya baru beberapa jam bertemu dengan istri saya, tetapi saya sudah berpuluh tahun hidup bersama dia. Saya amat mengenal istri saya dari pada anda”. Juga pernah terucap dari mulut saya: “Istri saya ini adalah manusia bukan robot yang dimasukkan bengkel”. Perawatan di sini berkonsentrasi hanya untuk radiasi pencegahan penyebaran kanker, bukan yang lain.

Ketika masalah seperti ini timbul, saya amat khawatir tidak dapat mengendalikan diri saya agar terhindar dari bentuk kemarahan. Juga pernah saya ucapkan: “Saya telah tegar memilih cara kedokteran dalam merawat istri saya, bukan melalui dukun atau alternative lainnya, semata-mata karena saya tidak memahami cara dukun berpraktek dan pengobatan alternative yang amat saya khawatirkan akan berbenturan dengan tata cara kedokteran”. Untuk keperluan utama seperti itulah saya bertindak laksana pengawal atau anggota SatPam (satuan pengamanan) yang mengawal serta melindungi istri saya. Saya tidak menangisi masalah ongkos dan biaya serta masalah finansial perawatan istri saya. Bisa anda bayangkan apa yang dialami oleh mereka yang mengalami dalam kondisi sebaliknya. “Penderitaan” saya mungkin hanya terasa ringan bila  dibandingkan dengan mereka, rakyat yang tidak punya kemampuan menyiapkan dana/uang untuk membayar semua ongkos-ongkos dan kesiapan mental yang kuat melawan kaum mapan di dunia obat, medis dan perawatan kesehatan. Mereka akan menangis lebih sedih dan menyedihkan yang bersuara lebih keras bunyinya apabila  dibandingkan dengan “derita” saya pribadi.

candle-condolence

condolences-card-messages

Anwari Doel Arnowo

2014-03-18

 

30 Comments to "Sudah Lama"

  1. Yuni  4 May, 2014 at 19:48

    Pak Anwari.. Kami sekeluarga turut belasungkawa, semoga Ibu Jekti ditempatkan di tempat yang mulia disisiNYA dan Bapak serta anak cucu, diberikan kekuatan dan ketabahan… Salam Yuni

  2. Alam M.N.  2 May, 2014 at 21:22

    Semoga Arwah Almarhumah Tenang disisi yang Maha Kuasa, dan Bapak Anwari beserta Keluarga tetap Kuat dan Sejahtera. Alam M.N.

  3. Ririn  6 April, 2014 at 06:57

    Turut berbela sungkawa,Pak Anwari. Sy pernah merasakan kekecewaan yang Bapak alami ketika kita harus bertugas sebagai satpam untuk mengawal ketidak pastian keaadaan dr para perawat dan tim dokter. Tidak banyak yang bisa dilakukan saat itu karena keterbatasan keadaan dan informasi.

  4. Nur Mberok  27 March, 2014 at 12:58

    Nderek bela sungkowo pak Anwari… Ibu telah berbahagia dalam kerahimanNya….. Selamat meneruskan perjuangan ibu…. Salam

  5. Putri  26 March, 2014 at 22:14

    Bapak,
    Terimakasih untuk kasih cinta buat ibu, tak terbalas sampai kapanpun.
    She will always be in our heart and our memories forever

  6. J C  26 March, 2014 at 15:39

    Pak Anwari, kami sekeluarga nderek belasungkawa yang sedalam-dalamnya, doa kami beserta Ibu ya…

    Saya coba sms Panjenengan beberapa kali, tapi sepertinya nomor yang itu sudah tidak dipakai lagi? Waktu saya ceritakan kepergian Ibu ke istri saya, dia sangat sedih, karena ingat jelas sekali: “si Oma yang berbaju putih, awet muda, energetik dan ramah sekali waktu ultah si Opa yang bagi-bagi buku”. Istri dan anak-anak sangat ingat dengan si Oma yang hangat dan ramah…

  7. Ivana  26 March, 2014 at 13:12

    Pak Anwari, saya turut berduka cita.

  8. Anwari Doel Arnowo  26 March, 2014 at 10:57

    Lani, itu bukan budaya kita, yang tabu bagi laki-laki untuk ikut menangis, itu mendunia. Saya baca tulisan soal menangis itu kan waktu sebelum tahun 1960an. Itulah sebabnya saya sebut golongan yang sok macho atau sok dewa itu adalah obsolete, wis kuno, begitu lah.
    Salam,
    Anwari Doel Arnowo — 2014-03-26

    Best regards / Kirim Salam,

    Anwari Doel Arnowo
    [email protected]
    BintaroBantenIndonesia

  9. Lani  26 March, 2014 at 07:20

    CAK DOEL : saya akan menanggapi ttg menangis. saya tdk pernah membaca buku dr psikiater atau apa, akan ttp dgn pemikiran saya yg sederhana ini, baik wanita/pria punya perasaan, jd tdk ada yg salah klu pria menangis.

    bedanya, terutama dibudaya kita mmg seorg pria itu tdk boleh cengeng, tdk boleh mengumbar tangisan, harus macho…….lah mmgnya pria itu DEWA apa?????

  10. Kornelya  26 March, 2014 at 02:49

    Pa Anwari, saya turut sympati dan berduka cita atas kepergian istri bapak. Salam, Kornelya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.