Gunung, Thoreau dan Ego

Tatang Mahardika

 

DENGAN wajah ramah, petugas di pintu masuk Taman Nasional Bromo-Semeru-Tengger yang terletak di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, itu menengok ke bak mobil pick-up pengangkut sayur yang kami tumpangi. Mimik mukanya memperlihatkan kalau dia tengah menghitung.

“Lima orang ya, Mas?,” tanya si petugas.

“Betul, Pak,” jawab saya sembari mengangguk.

Sebenarnya masih ada tiga ibu pedagang pasar di atas bak plus seorang bapak separo baya yang menjadi sopir. Tapi tentu mereka tak masuk rombongan kami, lima sahabat yang dipersatukan oleh sebuah rumah kos sederhana (untuk tak menyebut kumuh hehehe) di kawasan Gubeng, Surabaya,yang bermaksud berkemah di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru.

“Hati-hati ya, Mas. Belum lama ini ada pendaki hilang. Padahal, dia sudah beberapa kali naik ke Semeru,” tutur si petugas sembari mencatat nama-nama kami.

Kami tak bermaksud naik sampai ke puncak Semeru ketika itu (kami baru melakukannya di perjalanan yang berbeda setahun kemudian). Tapi, tetap saja pesan si petugas kami perhatikan benar.

Sebab, bisa dibilang, kami hijau sekali soal gunung dan pendakian. Dari kami berlima, hanya saya dan salah seorang teman, Yudi, yang punya pengalaman naik gunung. Itu pun terbatas sekali. Yudi pula satu-satunya diantara kami yang pernah ke Semeru sebelumnya.

Dan, tak seorang pun dari kami yang pernah bergabung dengan kelompok pecinta alam, baik di sekolah maupun kampus. Kalau boleh mengatasnamakanteman-teman, bisa saya bilang, kami berlima memang mencintai alam dan petulangan. Tapi, kami tak pernah betah berada di tengah-tengah “institusi” seperti Pramuka, Wanala, atau apapun itu namanya.

Namun, segala keterbatasan itu pada akhirnya justru menjadi semacam rem bagi kami. Kami sadar tak punya pengalaman memadai. Karena itu,sekecil apapun risiko harus dihitung dan seminor apapun insiden mesti dihindari.

Sepanjang jalan hingga berkemah di Ranu Kumbolo, kami tetap bersenda gurau. Tapi tetap dengan kontrol agar tak sampai kata-kata tak senonoh terucap. Ketika harus buang hajat, kami saling mengingatkan untuk tidakmelakukannya di sembarang tempat dan tak lupa meminta izin.

Izin? Ya, kami berlima sepakat, gunung dengan hutan, jurang,lembah, danau, dan puncaknya adalah “rumah orang lain.” Jadi, kami harus memperlakukannya dengan segenap hormat. Logikanya sederhana saja: mana ada orang yang tak marah kalau rumahnya dimasuki orang lain tanpa permisi? Apalagi jika diacak-acak.

Sikap yang menjunjung tinggi gunung dan hutan itu pula yangmembuat saya geram kepada seorang rekan—bukan termasuk empat orang yang bersama saya ke Semeru tadi—dalam pendakian ke Gunung Arjuno. Saya marah (bahkan sampai sekarang) karena saya menganggap dia telah mempermainkan “rumah orang lain” yang saya hormati itu.

Henry David Thoreau, sastrawan dan naturalis Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa dia pergi ke hutan mencari kebijaksanaan. Dalam“Walden” yang kebetulan menjadi bahasan skripsi saya, masuk ke hutan dan hidup bertafakur sepenuhnya kepada alam memang sebuah ikhtiar spiritual fulfillment bagi Thoreau.

Thoreau menganggap dirinya manunggal dengan alam, menyamakan tahapan pencapaian spiritualnya dengan segala gesture hutan tempat dia mengasingkan diri dari lingkungan sekitar yang dinilainya kian bobrok akibat industrialisme. Danau yang membeku, misalnya, adalah cerminan kalau dia belum menemukan apa yang dia cari. Dan, tatkala danau tersebut mencair seiring berakhirnyamusim dingin yang berat, Thoreau berkeyakinan bahwa dia telah terlahir kembali.

Thoreau menempatkan alam di tempat tertinggi. Karena itu, kegiatan bertani dan berkebun sekalipun dia kecam karena dianggapnya memunculkan keinginan untuk memiliki hak atas tanah (yang berarti telah mengkorupsi alam dan jiwa). Selama di hutan, dia benar-benar hidup dari apa yang disediakan alam untuknya:buah-buahan yang jatuh dari pohon, air di danau, ikan yang bisa ditangkap dengan tangan.

Saya mengagumi Thoreau atas komitmennya terhadap “mother nature.” Seperti saya sebutkan di atas, saya juga menghormati “rumah orang lain.” Tapi jelas, saya—dan saya kira juga para sahabat satu kos—melintasi hutan, berkemah, atau mendaki tidak dengan tujuan sesufistik Thoreau.

Sebab, saya tidak pernah menganggap perjalanan menemui alam itu sebagai sebuah laku yang istimewa. Kalau orang lain gemar pergi ke diskotik, main kartu, atau otak-atik mesin, kebetulan saja saya menyukai hiking dan pendakian. Derajatnya sama. Mendaki gunung tak lantas membuat saya menjadi lebih gagah. Saya tetap pria yang tak berani memegang ular atau jelas tak akan bisa survive jika dilepas di tengah hutan hanya dengan sebilah belati dan beberapa butir kentang.

Yang saya dapat dari gunung dan hutan, barangkali, adalah pelajaran tentang “kesalehan sosial.” Kesadaran memasuki “rumah orang lain” membuat saya belajar mengontrol ego, menghitung kemampuan diri. Merasa sangat kecil di tengah cengkeraman rimba atau ribuan kilometer di puncak gunung sana menyadarkan saya betapa sia-sianya menjadi jemawa.

Karena itu pula saya membenci kata “menaklukkan” yang selalu menempel pada kata “mendaki” atau “pendaki”. Bagi saya, kalimat “menaklukkan gunung” adalah pelecehan. Semeru, Arjuno, atau Rinjani telah ada ribuan tahun sebelum kita dan tak lantas lungkruh hanya karena kita pernah menjejakkan kaki di puncaknya.

Jangan-jangan, itulah yang terjadi ketika seorang pendaki bisa tewas atau hilang di gunung yang sudah belasan kali dia naiki. Karena dia merasa sudah “menaklukkan” sehingga merasa alam semesta merunduk kepadanya yang pada akhirnya membuat dia lengah.

Saya sudah bertahun-tahun tak ke gunung lagi, begitu pula dengan para sahabat saya tadi. Tapi, seandainya berkesempatan mendaki kembali, apa yang disampaikan petugas di Senduro tadi akan tetap meluncur dari ingatan. Hati-hati, karena ketinggian terkadang bisa membuat kita tinggi hati. (*)

 

(Ditulis bukan untuk Gunung Kelud yang meletus. Tapi, untukYudi, Fredi, Widodo, Timur. Terima kasih buat semua perjalanan kita. Kalian lebih hebat dari Wanadri)

 

 

Note Redaksi:

Tatang Mahardika, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama BALTYRA.com ini. Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang memperkenalkan rumah kita ini ke Tatang Mahardika…

 

About Tatang Mahardika

Seorang 'juru tulis berita' alias wartawan salah satu harian besar di Jawa Timur ini gemar melanglang buana melihat keindahan dunia dan membagi foto-foto dan tulisan perjalanannya melalui BALTYRA.com

Arsip Artikel

5 Comments to "Gunung, Thoreau dan Ego"

  1. Dewi Aichi  27 March, 2014 at 00:37

    pak Tatang….selamat datang di baltyra ya..senang sekali, saya bisa bertemu dan ngopi bersama..di Brasilllll…he he..ngga nyangka…jadi sekalian aku rayu untuk ke baltyra hehe…dan tulisan perdana yang ciamik…dan ngga nyangka pula bahwa pak Tatang ini kakak kelasnya mas Bambang Priantono…

  2. Lani  26 March, 2014 at 23:32

    Salam kenal dan selamat bergabung di Baltyra…………

  3. Dj. 813  26 March, 2014 at 15:51

    Bung Tatang Mahardika….
    Terimakasih untuk cerita pendakian gunung.
    Dj. senang dangan kata-kata diatas yang juga Dj.junjung tinggi, yaitu…
    Menghormati RUMAH ORANG LAIN .

    Kalau orang jawa, mau masuk rumah yang bukan rumahnya, ya paling tidak
    teriak KULONUWUN . . . ! ! !
    Jjadi tidak asal masuk, apalagi langsung makan….
    Hahahahahahahaha….!!!

    Tapi pernah punya pengalaman yang indah…
    Ada teman dari Sulawasi utara, yang bemain dirumah.
    Memang kami sepantaran…
    Saat masuk di ruang tamu, dia lansung melihat sekeliling ( masih normal ).
    Karena dia ingin tahu, isi ruang tamu kami.
    Tapi setelah dia bicara… Kok ini barang ditaruk disini, lebih bagus ditempatkan disana. dsb…dsb…

    Nah ini Dj. malah ingin tertawa, lha ini rumah siapa…???
    Hahahahahahahahaha….!!!
    memang yang namanya manusia itu ada yang aneh ( walau tidak semua, tentunya )

    Salam,

  4. J C  26 March, 2014 at 15:43

    Renungan yang menarik… selamat datang dan salam kenal ya…

  5. Lani  26 March, 2014 at 10:24

    1 gunung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.