Pendidikan Inklusif & Pemenuhan Hak Anak untuk Pendidikan

Wiwit Sri Arianti

 

Setiap anak, tanpa kecuali mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas termasuk anak-anak istimewa yang memiliki kebutuhan khusus. Untuk menjamin bahwa semua anak mendapatkan akses terhadap pendidikan berkualitas, beberapa regulasi  telah disiapkan antara lain  Undang Undang  Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA) pasal 48 dan 49. Serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.

Kita tahu, setiap anak adalah unik dan berbeda. Mereka memiliki kemampuan berbeda, belajar dengan cara yang berbeda-beda, dan dalam tahapan yang berbeda. Dengan demikian, diperlukan sebuah model pendidikan yang dapat mengakomodasi setiap perbedaan yang ada di dalam diri setiap anak agar mereka mampu mengembangkan bakat dan potensi dirinya pada bidang akademis, sosial, emosional dan fisik mereka secara optimal.

Saat ini Republik tercinta Indonesia sedang menggalakkan pengembangan pendidikan inklusif mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai SMA/SMK.  Salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab saya adalah memastikan setiap kegiatan yang dilakukan dalam program harus memperhatikan isu inklusif dan saya ingin berbagi informasi hasil perjalanan menemui  anak-anak istimewa ini di beberapa provinsi.

Ada banyak jenis keistimewaan anak-anak yang bisa kita temui di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Mulai dari anak-anak yang lambat membaca dan menulis, lambat menangkap pelajaran, beberapa ketunaan seperti tuna netra, tunga rungu, tuna grahita, dll sampai autis dan beberapa jenis  lemah mental.  Adinda misalnya, adalah seorang anak perempuan yang cantik, dia memiliki dunianya sendiri, sering memandang jauh dengan tatapan kosong, namun tiba-tiba bergerak tidak terkendali jika dalam makanan yang dia konsumsi mengandung tepung. Adinda adalah anak istimewa dengan jenis autis, tentu saja seorang guru tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan optimal jika di dalam kelasnya ada anak seperti Adinda. Diperlukan guru lain yang dapat membimbingnya secara khusus yang sering disebut dengan GPK (Guru Pembimbing Khusus) supaya dia juga dapat mengikuti proses pembelajaran seperti teman-temannya.

Anak-anak seperti Adinda memiliki perasaan yang peka, mereka tahu dan dapat merasakan seseorang itu tulus apa tidak sehingga tidak setiap orang dapat “dekat” dengan Adinda dan teman-temannya. Kita juga harus mampu menjadi pendengar yang baik karena kalau sudah bertanya, mereka akan terus mengejar jawaban sampai mereka puas atau mungkin paham dengan penjelasan kita.

pendidikan-inklusif (1)

Ini Dimas (sebut saja begitu), salah satu murid istimewa yang saya temui waktu berkunjung ke salah satu SD Negeri di Banda Aceh. Saya harus menjelaskan dengan sabar dan detil setiap pertanyaan yang dia ajukan. Adinda dan Dimas, belajar di sekolah yang sama sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Sehingga meskipun mereka istimewa, sekolah harus menerima  dan bekerjasama dengan orang tua dan komite sekolah untuk menyediakan seorang GPK agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif.

pendidikan-inklusif (2)

Waktu mengunjungi  salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Bandung Barat, saya juga berkesempatan ngobrol dengan beberapa anak istimewa dengan berbagai jenis kebutuhan khusus. Di sekolah ini memiliki 91 anak dengan beberapa jenis seperti bibir sumbing, “low vision”, mata tidak simetris, punggung bongkok dan tubuh lebih pendek dari ukuran teman sebayanya, lemah menangkap pelajaran, lambat membaca dan menulis.

Setiap kali pulang dari mengunjungi sekolah dengan anak-anak istimewa atau berkebutuhan khusus, saya seperti disadarkan untuk selalu bersyukur karena Tuhan telah melimpahkan semua kebaikan untukku dan keluargaku. Kunjungan ke Bandung Barat ini sudah membuat senang guru dan orang tua ABK karena perbincangan saya dengan salah seorang ABK memperoleh informasi tentang kesukaan dia, ketidak sukaan dia di sekolah karena sering dijahili teman-temannya dan keinginannya setelah dewasa. Semua informasi tersebut tidak pernah diketahui oleh guru dan orang tuanya, karena waktu ditanya cita-citanya apa ternyata beda dengan apa yang dia ceritakan pada saya tentang keinginananya setelah dewasa. Mungkin konsep cita-cita menurut anak berbeda dengan orang dewasa, ini yang mungkin harus dipahami juga oleh orang-orang dewasa yang bekerja untuk anak-anak. Jadi kedatanganku ternyata juga bermanfaat buat mereka. Anak tersebut pernah mengalami pendarahan spontan pada otak sebelah kiri sehingga mengganggu tingkat kecerdasannya yang menurut hasil psikotes berada di bawah rata.

pendidikan-inklusif (3)

Inilah potret suasana kelas di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Bandung Barat yang menerapkan proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan atau yang dikenal dengan PAKEM. Lihatlah dindingnya penuh dengan tempelan hasil karya anak-anak bahkan sampai di plafon yang menjadi salah satu cara untuk memberikan pengakuan dan penghargaan atas jerih payah anak-anak sudah menghasilkan suatu karya. Secara tidak langsung cara ini juga dapat mendorong anak-anak untuk  berkarya lebih baik setiap hari dan semua yang ada di ruang kelasnya dapat menjadi sumber belajar mereka.

Demikian juga pengaturan tempat duduknya, berbeda dengan kelas konvensional yang semua anak harus menghadap satu arah ke papan tulis dan tempat guru berdiri. Tempat duduk berkelompok ini dapat mendorong anak-anak membangun kerjasama dalam melaksanakan tugas kelompok, mereka juga dapat saling belajar dan berbagi informasi dalam proses pembelajaran.  Suasana kelas seperti ini juga dapat memberikan keleluasaan anak-anak untuk bergerak.

pendidikan-inklusif (4)

Yang ini suasana kelas pada salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur dengan menerapkan pengaturan tempat duduk berkelompok dan setiap kelompok diberikan nama yang mampu memotivasi anak-anak untuk menjadi yang terbaik, seperti yang terlihat di dalam foto itu ada kelompok percaya diri, rajin, dan kerja keras. Cara-cara yang sederhana ini ternyata cukup berhasil mendorong anak-anak untuk berprestasi lebih baik. Selain itu, dengan duduk berkelompok, anak yang pandai dapat membantu temannya yang kurang, anak reguler juga dapat membantu temannya yang istimewa. Di sekolah inklusif ini pendidikan karakter dapat terbangun dengan baik melalui penanaman sikap saling menolong, percaya diri, rajin, kerja keras, dll.

pendidikan-inklusif (5)

Suasana kelas yang mempunyai seorang murid mungil dan manis dengan kondisi tanpa tangan, sehingga semua aktifitasnya dilakukan dengan menggunakan kedua kakinya termasuk menulis.  Sekolah bersedia menyediakan meja khusus untuk muridnya yang istimewa. Sekolah ini ada di pulau Madura Jawa Timur, meskipun belum menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif namun sudah menerima anak-anak istimewa karena kepedulian dan tanggung jawabnya untuk mendidik semua anak yang mereka percaya sebagai titipan Tuhan. Andai saja setiap sekolah di negeri ini memiliki kepedulian seperti itu, pasti tidak akan ada anak yang mengalami penolakan ketika akan menggunakan haknya untuk bersekolah.

pendidikan-inklusif (6)

Ini foto salah satu SD di daerah Wajo, Sulawesi Selatan yang sempat saya kunjungi. Sekolah ini juga sudah menerima anak-anak istimewa meskipun belum dinyatakan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dengan pertimbangan yang sama bahwa anak itu amanah Tuhan sehingga harus diasuh dan dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, sama seperti anak-anak lainnya. Mengalami gangguan pertumbuhan sehingga memiliki tubuh lebih mungil dibanding dengan anak-anak sebaya, tidak membuatnya minder. Dengan semangat ia bercerita tentang kegiatan belajarnya. Semangat belajar yang tinggi telah mengantarnya menjadi anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan disenangi oleh teman-teman sebayanya.

pendidikan-inklusif (7)

Ibu guru di salah satu SD Islam Terpadu di Banten ini dengan sabar membimbing muridnya yang istimewa. Salah satu muridnya dengan kesulitan berbicara membutuhkan waktu dan perhatian yang lebih sehingga beliau menyedikan waktu khusus meskipun harus di luar jam dinasnya agar bisa membimbing muridnya dengan hasil yang lebih baik.

pendidikan-inklusif (8)

Diskusi dengan salah seorang ibu, wali murid dari salah satu anak istimewa untuk belajar dari pengalaman beliau dalam mendampingi buah hatinya yang istimewa dan seorang ibu guru yang memiliki kesabaran luar biasa dalam mendampingi murid-muridnya yang istimewa. Ibunda ini pernah mengalami penolakan di beberapa sekolah saat mengantar buah hatinya mendaftar di sekolah yang diinginkannya. Berkat kegigihannya dalam mencari berbagai informasi mulai dari sekolah, Dinas Pendidikan sampai di internet, terkait dengan sekolah yang dapat menerima calon siswa yang istimewa. Sampai akhirnya ditemukannya salah satu sekolah di Jawa Barat yang bisa menerima anaknya.

Beruntunglah ananda yang mempunyai ibu sebaik dan seoptimis beliau dalam memperjuangkan hak anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pengalaman saya berkeliling di beberapa daerah, masih banyak orang tua yang merasa malu dan menganggap anak-anak istimewa atau yang berkebutuhan khusus merupakan aib bagi keluarga. Sehingga mereka menyembunyikan dari pandangan masyarakat karena kurang paham dan adanya stigma di masyarakat terhadap anak-anak istimewa atau berkebutuhan khusus.

pendidikan-inklusif (9)

Kaos ini menjadi salah satu media kampanye yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Direktorat Pendidikan Dasar  PK-LK (Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus).  Beberapa upaya yang dilakukan untuk memasyarakatkan pendidikan inklusif adalah bekerjasama dengan berbagai organisasi dan perguruan tinggi yang peduli dengan isu inklusif serta pemberian penghargaan berupa “Inclusive Education Award” bagi guru, kepala sekolah, perorangan, kelompok/organisasi dan pemerintah daerah yang dinilai memiliki kepedulian dan konsisten mendorong pengembangan pendidikan inklusif di daerahnya.

Dengan masih banyaknya masyarakat bahkan orang tua yang belum memahami, maka wajib bagi kita semua untuk mendorong paritipasi semua pihak secara penuh dan mempromosikan ‘perbedaan’ sebagai sumber belajar, sumber pengetahuan, dan bukan sebagai hambatan. Dengan demikian, pendidikan untuk semua dapat direalisasikan agar tidak ada lagi anak-anak istimewa (demikian kami menyebutnya) yang mengalami stigma dan dianggap sebagai aib keluarga. Semoga Allah menyadarkan kita semua agar dapat menyayangi dan memberikan kesempatan yang sama pada setiap anak.

 

17 Comments to "Pendidikan Inklusif & Pemenuhan Hak Anak untuk Pendidikan"

  1. Wiwit Arianti  12 July, 2019 at 14:46

    Trimakasih Om Boni & Bli Putu, Ini untuk kepentingan terbaik anak hehe…

  2. Putu  1 July, 2019 at 07:00

    Mantaf ibu, inklusif akan lebih baik di tataran prinsif dan philosofis, sehingga semua anak bsa sekolah, akan tetapi regulasi di indonesia pendidikan inklusif masih terkunci dengan ABK, sedangkan roh pendidikan inklusif adalah education for all
    Thanks utk kepedulian dan inspirasinya

  3. BONEFASIUS JULEMAN  30 June, 2019 at 17:10

    salam bunda …..
    luar biasa tulisan dari pengalaman langsung dan perjuangannya
    buat anak anak….tetap semangat dan selalu berbagi ilmunya ya…buat kita semua…semoga yang m3mbaca bisa terinspirasi

  4. Wiwit Arianti  31 March, 2014 at 14:24

    Iya mbak Kornelya, 1:10 itu terlalu besar, pengalaman beberapa teman yang mengelola kelas special education, kalau muridnya ada 10 biasanya guru 3 orang.
    Kalau dalam sekolah inklusif, dalam satu kelas minimal ada 1 anak dengan special need harus ada 1 orang guru pendamping khusus (GPK). Jadi dalam kelas inklusif minimal harus ada 2 orang guru, seorang guru kelas/guru mapel dan seorang lagi GPK.
    Di dalam Permendiknas No. 70 tahun 2009, Pasal 6 ayat 2 Pemerintah kabupaten/kota menjamin tersedianya sumber daya pendidikan inklusif pada satuan pendidikan yang ditunjuk. Namun pada kenyataannya di lapangan belum terlaksana semua. Jadi masih perlu advokasi pada pemerintah agar melaksanakan regulasi yang ada.

  5. Kornelya  31 March, 2014 at 03:21

    Bu Wiwi, ratio guru dan murid dalam kelas special education ini terlalu besar ya. 1:10 saja gurunya sudah kerepotan. Speech therapy nya tidak disediakan pemerintah?.

  6. Wiwit Arianti  28 March, 2014 at 12:10

    Sip mbak Adellina Octavia, semangat terus ya agar setiap anak dapat mengembangkan dirinya dengan lebih baik

  7. Wiwit Arianti  28 March, 2014 at 12:01

    Iya mbak phie, trimakasih. Untuk anak2 yang berkebutuhan khusus sebaiknya kita cari kelebihannya. Kemudian kelebihannya itu yang harus dikembangkan supaya mereka dapat mengembangkan potensinya dengan optimal.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.