[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Perjalanan Sunyi

Liana Safitri

 

KAMAR Merah Jambu itu sudah ditempati lagi oleh pemiliknya. Meski demikian, tak ada suara apa-apa dari dalam. Franklin masuk ke kamar Lydia. Lydia berbaring di tempat tidur dengan tubuh menghadap ke dinding.

“Lydia, bangunlah… Sejak kemarin kau belum makan, nanti sakit…” Lydia tak bereaksi. Franklin masih berusaha mengajaknya bicara. “Walau sekarang kau sangat membenciku… Seandainya aku tidak mencintaimu, aku juga tidak dapat menghindar dari pernikahan yang sudah diatur ayah. Kau tahu posisiku dalam keluarga  hanya anak angkat. Aku merasa sangat berhutang budi pada ayahmu, hingga tak bisa menolak apa yang ia perintahkan. Kalau kau menikah denganku, paling tidak kau tidak perlu khawatir aku akan berlaku buruk terhadapmu. Kalau aku melakukan kesalahan, maka kesalahan itu adalah aku terlalu menyayangimu. Aku tidak percaya di dunia ini ada laki-laki lain yang bisa menjagamu lebih baik daripada aku… Kenapa kita tidak coba melaluinya bersama?”

“Aku mengenal Tian Ya lebih dulu sebelum kau…” Lydia akhirnya membuka suara masih dengan memunggungi Franklin.

Franklin mendesah keras. “Aku tahu! Kau mengenal Tian Ya sejak masih SMP, tapi bukankah itu hanya satu tahun, kemudian ia pergi? Sedangkan aku? Kita bukan saudara kandung, tapi selama sepuluh tahun selalu bersama…” Kali ini suara Franklin terdengar sedih, “Meski aku bukan yang pertama… aku sungguh tidak mengerti… Kau selalu ingat masa lalumu bersama Tian Ya, sementara kau tidak pernah ingat waktu yang kita lewati setiap hari. Kau bercerita kalau dulu sering bermain sepeda dengan Tian Ya, lalu apa kau lupa dulu aku juga mengantar dan menjemputmu berangkat dan pulang sekolah naik sepeda? Kau bilang Tian Ya membantumu mengerjakan tugas bahasa Mandarin, tapi siapa orang yang mengajarimu menyelesaikan pekerjaan rumah, atau yang membangunkanmu di pagi buta agar kau bisa belajar saat ada ulangan? Tian Ya mengirimkan paket dan kartu pos dari Taiwan, tapi akulah yang memesan majalah favoritmu setiap bulan sebelum terbit, agar kau tidak kehabisan. Tian Ya memberi semangat lewat SMS dan telepon kalau kau sedang ada masalah, tapi ketika dimarahi ayah, akulah yang maju membelamu. Tian Ya sering mendengar keluhan-keluhanmu, tapi jika menangis kau mencariku…”

Franklin membungkukkan badan dan berbisik di telinga Lydia dengan tulus, “Aku mengatakan semua ini,  tidak berharap agar kau melakukan hal yang sama padaku. Bukan balasan… Bahkan jika kau lupa pun tidak apa-apa. Tapi tolong jawab aku Lydia, sepuluh tahun kau dan aku, sungguhkah waktu selama itu tak ada artinya dengan satu tahun antara kau dengan Tian Ya?” Franklin menekankan nada dalam setiap kalimat terakhirnya, “Tian Ya selalu ada, tapi Franklin tak pernah pergi…”

Setelah Franklin keluar dari kamarnya, pelan-pelan Lydia menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. Ia selalu melupakan kata tetapi. Perbandingan atau perlawanan yang rasanya tak adil. Sepuluh tahun dengan satu tahun… Bagaimana mungkin Lydia bisa membenci Franklin yang sangat, sangat, sangat menyayanginya? Haruskah Lydia menyalahkan Franklin karena rasa cintanya yang berlebihan? Apakah Lydia tega menginjak-injak hati Franklin?

silent_journey_by_winiP

Tuan Li sangat marah saat melihat Tian Ya kembali.

“Aku kira kau terlalu bahagia dengan kehidupan barumu sampai tidak ingat lagi kalau masih punya orangtua disini!”

Nyonya Li berusaha menenangkan Tuan Li. “Sudahlah, Tian Ya baru saja pulang, jangan marah-marah seperti itu… Kita bicara baik-baik…”

“Bicara baik-baik?” Mata Tuan Li melotot lebar-lebar. “Dia sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik!” Sambil berkata begitu Tuan Li mengambil sapu dan memukulkannya ke tubuh Tian Ya.  “Membawa lari anak gadis orang! Sungguh tidak bermoral!” Tian Ya tetap berdiri dengan tenang di tempatnya, menerima pukulan tanpa berusaha menghindar.

“Aiya! Suamiku! Kendalikan dirimu sedikit! Tidak ada gunanya memukul Tian Ya!” Nyonya Li sangat ketakutan. Ia berusaha merebut sapu dari tangan Tuan Li.

Tuan Li mendorong istrinya. “Minggir! Aku perlu menghajarnya! Seharusnya dia tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan!”

Bruukkk! Tian Ya menjatuhkan diri berlutut di hadapan ayah ibunya. “Papa! Mohon restuilah hubunganku dengan Lydia!”

“Aku adalah orang yang paling bahagia jika melihatmu dan Lydia menikah! Tapi kau tidak bisa membawa pergi Lydia dengan cara seperti itu. Kalau aku memiliki seorang anak perempuan, pikirmu, apakah aku akan senang ia dibawa pergi seorang laki-laki? Bahkan walau kalian berdua saling mencintai… melarikan diri bukan hal yang dapat dibenarkan!” Tuan Li menatap Tian Ya dengan kecewa, “Selama ini aku mengira telah berhasil membesarkan anak naga, siapa sangka kalau ternyata tak lebih dari seekor cacing!” Tuan Li membanting sapu ke lantai. “Berterima kasihlah pada Langit kau tidak mati tertabrak dalam pelarian bersama Lydia!”

“Jangan mengucapkan kalimat sial begitu!” seru Nyonya Li.

Lama Tian Ya menatap Tuan Li, lalu keluarlah satu pertanyaan, “Apakah Papa masih ingat dengan perusahaan ekspor impor yang pernah berdiri di jalan Magnolia sepuluh tahun lalu?”

Tuan Li seperti terkena sengatan listrik. Tubuhnya seolah dipaku di lantai tempatnya berdiri. Suaranya menjadi lebih rendah. “Mengapa tiba-tiba kau menanyakan ini?”

“Exim Enterprise… Apa benar itu namanya?”

Sorot mata Tuan Li berubah kelam. “Kau sedang bicara apa?”

“Pemilik perusahaan itu dulu adalah ayah Franklin…”

Atmosfer ruangan berubah beku.

Tuan Li, Nyonya Li, dan Tian Ya lalu duduk melingkar mengelilingi meja ruang tamu. Setelah menenangkan diri barulah Tuan Li dapat menceritakan tentang sepak terjang masa lalunya di dunia bisnis. “Beberapa bulan setelah aku mengambil alih perusahaan itu, seseorang memberi tahu kalau anak laki-laki keluarga mereka menjadi yatim piatu. Aku datang ke rumah mereka untuk melihat keadaannya dan berencana mengangkatnya sebagai anakku. Tapi sampai di sana rumah itu kosong, akan dijual untuk membayar hutang yang ditinggalkan…”

“Itu juga salah satu alasan kenapa dulu, saat aku masih SMP, kita meninggalkan Indonesia secara tiba-tiba?” tanya Tian Ya.

“Ya… Tidak salah jika aku mengambil alih perusahaan mereka, karena sudah sesuai perjanjian. Tapi keputusan yang aku ambil telah menghancurkan sebuah keluarga. Lalu aku membawa kalian kembali ke Taiwan, untuk menghindari kenyataan… untuk menghapuskan ingatan tentang anak laki-laki yang kehilangan ayah ibunya. Aku baru tahu sekarang, melalui kau, Tian Ya! Bahwa anak laki-laki itu juga, adalah orang yang memperebutkan gadis yang sama denganmu. Dialah Franklin!” Tuan Li menambahkan dengan tidak berdaya, “Di dalam bisnis, terkadang kita harus bertidak kejam… Tapi aku tidak pernah berharap kau harus menanggung derita karena kesalahan yang pernah kuperbuat.”

Tuan Li terdiam agak lama, mendengarkan jarum jam berdetak. Betepa cepatnya waktu berlalu! Anak kesayangannya dulu masih mengenakan seragam SMP, memprotes keputusannya yang mengajak mereka sekeluarga kembali ke Taiwan. Tuan Li hanya perlu membentak sedikit, Tian Ya langsung diam. Sekarang Tian Ya sudah dewasa, meminta penjelasan, kalau tidak mau dikatakan sebagai menuntutnya mengakui kesalahan. Tuan Li berubah menjadi lelaki tua yang yang tengah diadili. Ia tertawa getir, “Semua sudah terjadi… Sekarang arwah mereka datang menuntut balas dengan mengirim putranya untuk menghancurkan putraku…”

Mendengar cerita suaminya, Nyonya Li mencengkeram baju Tian Ya erat-erat. “Bagaimana bisa? Sungguh mengerikan… Tian Ya…” Nyonya Li mulai menangis, “Jangan biarkan anakku menanggung hukuman ini…”

Pikiran Tian Ya berkecamuk liar. Ia seakan berlari menembus waktu sepuluh tahun ke belakang. Seandainya Tuan Li tidak bertemu dengan ayah Franklin, mungkin tidak akan ada perpisahan menyakitkan antara dirinya dengan Lydia. Seandainya orangtua Franklin tidak meninggal, Franklin tidak akan masuk ke keluarga Lydia, menjadi penghalang antara dirinya dan Lydia. Dan jika memang semua harus terjadi, masih ada satu kemungkinan… Seandainya waktu itu Tuan Li menemukan Franklin di rumahnya… Seandainya waktu itu Tuan Li yang mengangkat Franklin sebegai anak dan bukan ayah Lydia… Mungkinkah ia dan Franklin dapat hidup sebagai dua saudara? Apakah Franklin bersedia mengalah menyerahkan Lydia pada Tian Ya, sehingga cinta segitiga yang rumit takkan pernah terjadi? Apakah ini yang dinamakan takdir?

 

Tian Ya datang ke tempat kursus dengan membawa berita baik dan buruk sekaligus. Berita baiknya, orangtua Peter sudah mencabut pengaduan mereka pada polisi dan SKY School dibebaskan dari tuntutan hukum. Berita buruknya, Tian Ya membaca di internet kalau pesta pernikahan Lydia dan Franklin akan dilangsungkan minggu depan.

“Jadi, mempelai prianya benar-benar sudah diganti? Yang akan menikah dengan Lydia adalah Franklin?” tanya Brenda tidak percaya.

“Tian Ya, benarkah kau akan membiarkan Lydia menikah dengan Franklin?”

“Apa lagi yang bisa aku lakukan? Apakah aku harus menculik dia?” Tian Ya berteriak emosi pada Alice.

“Sebaiknya kita menunggu keadaan membaik…” ujar Johnny kurang yakin.

Tian Ya tertawa sumbang. Tawa yang menyiratkan tangis dalam hati. “Ya, menunggu… Tinggal menghitung hari saja sampai Lydia dan Franklin naik ke pelaminan. Ada terlalu banyak orang yang mendukung Franklin.”

Masih ada kenyataan yang lebih buruk…

Alice teringat sesuatu dan berkata pada Johnny, “Kalian menyadari tidak, tingkah laku James yang aneh? Sebagai guru baru James terlalu banyak ingin tahu. Setelah Lydia pulang ke rumah, kemarin ia mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Waktu James masuk juga hampir bersamaan dengan Peter. Aku  curiga James dan Franklin…”

Walau Alice tak meneruskan kalimatnya, tapi Johnny tahu apa yang dimaksud. “Kau menduga James sebagai salah satu orang yang dikirimkan Franklin untuk memata-matai kita?”

 

Adil atau tidak, Lydia memang harus berkorban. Ia bersedia pulang dengan mengajukan syarat. Franklin tidak boleh membuat masalah di SKY School, dan “membiarkan Tian Ya hidup tenang bersama keluarganya”. Hubungan antara orangtua Tian Ya dan orangtua Franklin cukup membuat bulu kuduk Lydia berdiri. Bisa dipahami jika Franklin menyimpan dendam kesumat terhadap keluarga Li. Lydia merasa iba pada Franklin. Ia ingin menjadi orang pertama yang dapat mengurangi beban Franklin, seperti Franklin yang selalu menenangkannya setiap kali Lydia ada masalah. Tapi Tian Ya juga tidak bisa disalahkan, karena semua itu memang bukan salah Tian Ya. Jika orangtua yang berbuat, kenapa anak yang harus bertanggung jawab? Apalagi dulu, Tian Ya dan Franklin masih dalam usia sekolah, belum memahami masalah yang membelit keluarga mereka. Setelah dewasa barulah terkena imbasnya. Meski Franklin berjanji akan melupakan semua dan membuka hati memberi maaf, Lydia tetap khawatir kedua pria ini suatu saat akan saling menanduk seperti banteng. Apalagi sejak awal mereka sudah bersaing memperebutkan Lydia. Namun Lydia boleh lega karena Franklin tidak mengungkapkan hubungan rumit orangtuanya dengan orangtua Tian Ya pada Pak Yudha dan Bu Yudha. Seandainya mereka tahu, pastilah Pak Yudha dan Bu Yudha akan memberi cap yang lebih buruk terhadap Tian Ya “si orang asing”. Harga yang harus dibayar untuk kesepakatan ini sangat mahal.

Seberapa pun sering Lydia menangis dan meratap, takdir memang sudah ditentukan. Di hari bahagia itu, ia merasa sedih. Bunga lili  putih kesukaannya menghiasi seluruh ruangan hotel, tapi lantai yang diinjaknya sedingin kuburan. Gaun panjang yang dikenakannya merubah Lydia menjadi sangat cantik seperti seorang putri, namun gerakannya bak mayat hidup. Tepuk tangan ribuan orang terdengar membahana, sayang di telinga Lydia tak ubahnya seperti suara tangisan. Ucapan selamat yang mengalir tanpa henti bagai salam perpisahan pada kehidupan. Makanan dan minuman lezat yang terhidang, seolah racun yang dipaksakan masuk ke dalam mulutnya. Franklin bediri di samping Lydia, namun pikirannya melayang pada Tian Ya yang entah berada di mana. Setelah acara pesta pernikahan yang panjang dan melelahkan berakhir, Lydia bagai terbebas dari penjara labirin raksasa yang membingungkan sekaligus kembali terempas di jalan kehidupan yang menyakitkan. Lydia dan Franklin mengawali hari pertama mereka sebagai suami istri, tanpa ada perubahan dalam rutinitas sehari-hari. Sama sekali tak ada tawa kebahagiaan.

Lydia sedang membereskan kamarnya saat Franklin tiba-tiba muncul. Spontan Lydia berdiri menatap Franklin dengan mata terbelalak. Reaksi Lydia yang seolah menganggap Franklin seperti binatang buas membuat Franklin tersinggung. Franklin menekan perasaannya lalu berkata, “Aku hanya ingin memberitahu… besok kita akan berangkat ke Bali untuk berbulan madu…”

Lydia tersentak. Bali! Lelucon apalagi ini? Lydia pernah melewati masa paling membahagiakan di Bali, sekarang semuanya berubah menjadi sangat menyakitkan. Kembali ke tempat yang sama dengan kenyataan pahit bahwa ia harus menjalani sisa hidup bersama pria yang tak dicintai.

“Aku tidak mau!”

“Ayah sudah mengatur semua untuk kita. Kalau kau memang tidak mau berangkat katakan sendiri padanya!”

 

Franklin menatap Lydia dengan khawatir. Walau duduk bersebelahan di dalam pesawat, Lydia tak mau berbicara dengan Franklin. Ia menawari Lydia makan dan minum, menyodorkan majalah dan buku, tapi Lydia menggelengkan kepala sambil mengatupkan bibir rapat-rapat. Menginjakkan kaki di ibu kota Denpasar, budaya tradisional Bali dan modern berpadu dengan sangat harmonis. Sepanjang jalan menuju hotel, banyak bangunan pura memesona berdiri berdampingan dengan rumah penduduk. Beberapa pria dan wanita berpakaian adat Bali berjalan dengan anggunnya di antara orang-orang yang mengenakan jeans dan t-shirt. Hotel yang akan ditempati Lydia dan Franklin bukanlah hotel  megah dengan gedung menjulang ke langit. Hanya sebuah penginapan menyerupai rumah penduduk beraksitektur khas Bali dipenuhi ukiran. Taman bunga yang indah seperti mengucapkan selamat datang pada pengunjung hotel. Lokasinya yang agak jauh dari keramaian juga menciptakan suasana tenang dan hanya dipecahkan oleh kicauan burung di dahan pohon.

Lydia dan Franklin ternyata sudah ditunggu oleh James. “Hei! Selamat datang di Bali!”

Franklin tersenyum “Aku penasaran mengapa kau merekomendasikan hotel ini sebagai tempat kami menginap.” Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil mengangguk-anggukkan kepala, “Tampaknya akan menyenangkan!”

James memprotes, “Kebetulan aku sedang di Bali mengurus sesuatu. Eh, tiba-tiba kau menelepon dan mengatakan baru saja mengadakan pesta pernikahan! Keterlaluan sekali! Kenapa tak mengatakannya lebih awal? Kalau aku tahu kan, aku bisa menghadiri pestamu. Sungguh tidak setia kawan! Aku hanya bisa meminta temanku memberikan pelayanan terbaiknya di hotel ini. Nikmatilah hari-hari kalian sebagai pengantin baru, aku akan menanggung semua biaya penginapan kalian di hotel sebagai hadiah pernikahan!”

Franklin tertawa. “Terima kasih…”

James dan Lydia belum pernah bertemu. James hanya tahu kalau Franklin dan Lydia adalah kakak dan adik angkat yang memiliki hubungan sangat kompleks. Ia menebak karakter Lydia melalui email berbahasa Mandarin yang dulu pernah diterjemahkan untuk Franklin. Wanita yang tergolong keras kepala, menurutnya. James memandang Lydia, “Kutebak pasti istrimu? Cantik juga!”

Franklin tersadar. Ia memperkenalkan Lydia pada James. “Lydia, dia temanku, James!”

James mengulurkan tangan pada Lydia. Lydia sangat terkejut saat James mengucapkan kata “istri”. Meskipun ia dan Franklin sudah menikah, tapi kata ini terasa sangat asing di telinga Lydia. Lydia belum bisa menerima perubahan status dari adik perempuan menjadi istri. Ia hanya memandang tangan James lalu mundur dua langkah ke belakang.

Alis Franklin bertaut. Untuk menutupi rasa malu ia cepat-cepat berkata, “Maaf, Lydia tidak terbiasa dengan orang asing!”

“Mmm… tidak apa-apa! Tak masalah!” ujar James kikuk.

Lydia dan Franklin diantar ke sebuah kamar yang sudah dipesan untuk mereka. Seorang karyawan pria berpakaian tradisional Bali membawakan barang bawaan mereka. Kamar itu dibagi menjadi dua ruangan. Ruangan pertama adalah kamar tamu berisi seperangkat meja kursi kayu untuk tempat bersantai dan menonton televisi. Ruangan kedua adalah kamar tidur. Hampir semua sisi didominasi warna cokelat, dan dihiasi ukir-ukiran. Beberapa lukisan terpasang di dinding berdampingan dengan hiasan topeng. Kini dalam ruangan hanya ada Lydia dan Franklin. Perjalanan yang melelahkan  ditambah pikiran yang sarat dengan beban membuat Franklin hampir meledak. Ia melihat Lydia menjinjing tas, lalu disambarnya pergelangan tangan gadis itu hingga tas di tangannya jatuh ke lantai.

“Kau kenapa, Lydia?” Franklin berusaha menahan emosi.

“Kau ingin aku berbuat apa?” Lydia balik bertanya dingin.

“Sejak pulang kau sama sekali tak mau bicara dan memasang wajah masam sepanjang hari! Bagaimana aku tahu apa yang kau inginkan?” Franklin berteriak.

Lydia mengangkat kepala menatap Franklin dengan tajam. “Kau sendiri jelas-jelas tahu apa yang aku inginkan, tapi kau malah merampasnya! Sekarang setelah tak ada lagi harapan dalam hidupku, apakah kau masih menginginkanku? Aku tak bisa melawan kehendakmu… Tapi satu yang harus kau ingat… Seandainya kau bisa mendapatkan tubuhku, kau takkan bisa mendapatkan hatiku! Yang kau nikahi sekarang adalah Lydia yang sudah mati! Kaulah yang memaksaku bunuh diri!”

Lydia kembali mengangkat tasnya dan berjalan menuju kamar tidur. Franklin menatap Lydia yang bahunya turun sebelah karena beban berat di tangan. Ingin sekali Franklin membawakan tas Lydia. Tapi semuanya sudah berubah…

Pagi-pagi sekali James datang ke hotel menemui Franklin. Dia membawa beberapa brosur objek wisata Bali. “Semua tempat wisata menarik untuk dikunjungi. Brosur ini akan sangat membantumu. Paling tidak kau memiliki gambaran seperti apa suasananya, dan makanan apa saja yang menjadi favorit para wisatawan.”

Franklin melihat-lihat brosur itu sebentar. “Terima kasih…”

James merubah posisi duduknya. Selimut di kursi teraba olehnya dan James terkejut menyadari hal ini. Ia menatap Franklin penuh curiga, “Apa semalaman kau tidur di kursi?” Franklin tidak menjawab, membuat James semakin penasaran. “Apa kau dan Lydia tidur terpisah?”

Tepat pada saat itu pintu kamar tidur terbuka. Lydia keluar mengambil air minum dalam kulkas yang ada di ruang tamu, tempat James dan Franklin sedang duduk-duduk. Tanpa melihat atau pun menyapa Franklin dan James, Lydia kembali masuk ke kamar tidur dan menutup pintu rapat-rapat. Kemunculan Lydia memberi jawaban tanpa kata-kata yang sangat jelas untuk pertanyaan James. James tidak tahu harus bagaimana dan tak lagi merasa nyaman berada di sana. Ia pun berpamitan pulang.

 

Franklin meminjam mobil James selama berada di Bali. Bulan madunya bersama Lydia terasa pahit, tapi ia tak ingin mengurung diri di hotel sepanjang hari. Lydia mengikuti setiap ajakan Franklin tanpa komentar. Jadi sepasang pengantin baru itu memulai perjalanan panjang dan sunyi.

Pura Tanah Lot adalah tempat pertama yang mereka kunjungi. Begitu masuk ke lokasi wisata, Lydia dan Franklin disambut aroma menyengat bunga-bunga. Sesaji dalam tempat yang terbuat dari janur kuning ada di mana-mana. Mereka harus berjalan sangat hati-hati agar jangan sampai menginjak sesaji itu. Setelah melewati kerumunan pengunjung yang cukup padat, Lydia dan Franklin sampai di pinggir pantai. Dari tempat mereka berdiri terlihatlah bangunan pura di atas batu karang tengah laut yang berdiri kokoh. Keindahan Pura Tanah Lot membuat Lydia dan Franklin terpana dalam kebisuan. Mereka mendengar suara ombak datang dan pergi sambil menatap pura seperti sebuah keajaiban. Pohon-pohon dan tumbuhan rimbun menyelimuti batu karang bagaikan tirai alami yang menyimpan banyak misteri.

“Benar-benar tempat tinggal para dewa…” Franklin bergumam.

Potongan kenangan berdesakan di benak Lydia. Sepuluh tahun yang silam, ia bersama Tian Ya ada di tempat ini. Ponsel Lydia berbunyi, ia berjalan menjauhi Franklin.

“Wei, Lydia! Wo shi Tian Ya!” (Halo, Lydia! Aku Tian Ya!)

Pelupuk mata Lydia langsung basah. Hanya Tuhan yang tahu betapa ia sangat ingin bertemu Tian Ya!

“Halo! Lydia, apakah kau mendengarku? Lydia…”

“Tian Ya…” suara Lydia bergetar hebat, ia serasa akan jatuh.

“Lydia, kau di mana? Mengapa beberapa hari ini susah sekali dihubungi?” Tak ada jawaban. Suara di seberang berubah panik. “Apa terjadi sesuatu padamu? Kumohon jawablah!”

Tentu saja Lydia ingin menjawab. Ada terlalu banyak hal yang ingin dia katakan, tapi Lydia tidak tahu harus memulai dari mana.

Tian Ya mengulangi pertanyaannya, “Kau di mana sekarang?”

“Di suatu tempat…”

Dalam hati Lydia merintih, Aku ada di Bali. 

Emosi Tian Ya meluap tak terkendali. “Tahukah kau betapa khawatirnya aku? Aku tak bisa tidur, tak bisa makan karena memikirkanmu, tapi kau tak membalas SMS dan tak mengangkat teleponku! Kau mau menyiksaku sampai mati?”

“Tian Ya, aku merindukanmu… Aku sangat merindukanmu…”

Omelan Tian Ya terhenti seketika. “Aku juga sangat merindukanmu,” balas Tian Ya, kali ini suaranya merendah. Katanya seperti membujuk seorang anak kecil, “Kau sebenarnya ada di mana?” Samar-samar Tian Ya mendengar suara debur ombak. “Lydia, apa kau di pantai? Dengan siapa? Sendirian?”

Hati Lydia seperti diremas. “Maaf… aku tak bisa mengatakannya… Tapi aku sangat mencintaimu! Percayalah…”

Tut tut tut… Sambungan telepon terputus.

Seluruh tubuh Lydia lemas, tulangnya hancur, darahnya berhenti mengalir. Gadis itu berjongkok mengambil sebatang ranting, dan menggoreskannya di atas pasir dalam keadaan tidak sadar. Ia menuliskan huruf Cina Li Tian Ya. Kemudian Lydia melihat sepasang kaki. Saat mengangkat kepala, tanpa dapat ditahan lagi air matanya menetes. Sebuah tangan terulur menarik Lydia bangkit berdiri. Lydia melihat wajah Franklin.

Franklin tak bisa membaca huruf Cina, tapi ia bisa membaca isi hati Lydia. Ia tahu Lydia baru saja berbicara dengan siapa.

“Saat kau terlalu lelah memikul beban di bahumu, ada kalanya kau memerlukan seseorang untuk tempat bersandar. Aku tak berniat untuk melukaimu walau hanya sebesar butiran pasir. Mungkin kau sangat membenciku, tapi satu hal yang tidak akan berubah…” Frankin menatap Lydia lekat-lekat, suaranya lebih jelas daripada ombak. “Apa pun yang terjadi aku selalu berada di sampingmu. Jadi mengapa masih ragu untuk datang padaku?” Lydia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Franklin dan menangis di sana. Franklin memeluknya. Ia sangat mencintai Lydia, begitu mencintainya sampai rela mati. Tapi bagaimana jika cinta ini justru membuat gadis pujaannya terus mengalirkan air mata tanpa henti?

Sementara itu di bawah kaki mereka, tulisan Li Tian Ya tersapu buih dan menghilang.

 

15 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Perjalanan Sunyi"

  1. elnino  3 April, 2014 at 12:15

    Wah wah wah…hubungan cinta segitiga ini akan menjadi semakin rumit. Gak sabar menunggu lanjutannya

  2. Liana  2 April, 2014 at 16:06

    Tidak ada babak Lydia-Franklin. Yang ini masih belum selesai, kok…

  3. Linda Cheang  2 April, 2014 at 15:15

    Liana, babak baru relasi Lydia dan Franklin dengan status baru mereka.

  4. J C  31 March, 2014 at 11:34

    Benar-benar serasa membaca (mengikuti) serial Taiwan…(kayak Meteor Garden)…

  5. Liana  29 March, 2014 at 09:11

    Linda Cheang : Babak baru, maksudnya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.