Menyusuri Kota “Bara” Sawah Lunto

Bayu Amde Winata

 

“masih tersisa 2 jam perjalanan lagi.”

Sudah berbagai macam posisi duduk saya lakukan, namun waktu terasa berjalan sangat lama.  Saat ini saya sedang menuju Sawah Lunto. Kota yang dikenal dengan “Kota Tambang Batubara.” Perjalanan ini  dimulai dari kota Bukittinggi dan terus menyusuri jalan lintas Bukittinggi-Padang Panjang-Sawah Lunto-Batu Sangkar.  Lama perjalanan sekitar empat jam dari Bukittinggi. Di dalam perjalanan menuju Sawah Lunto ini, pemandangan yang saya lihat sangat indah. Hamparan sawah menghijau, punggungan dari Pegunungan Bukit Barisan, serta Danau Singkarak. Ya, perjalanan menuju Sawah Lunto ini melewati danau Singkarak, danau yang semakin terkenal di manca negara berkat event sepedanya.

SL 1

SL 2

Menurut sejarah, pada tahun 1868 seorang ahli geologi dari Belanda yang bernama  Williem Hendrik de Gereve menemukan deposit batu bara yang besar di Sungai Ombilin. Akibat dari temuan ini, Belanda membangun berbagai fasilitas tambang di sini. Sekitar 5.5 juta Gulden dihabiskan oleh Belanda untuk  pembangunan, selain membangun, Belanda juga mendatangkan para pekerja yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Jawa,Tionghoa, Ambon, Manado, Bugis, dan dari daerah Indonesia lainnya. Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang dianggap bermasalah di kampung halamannya. Oleh karena itu, mereka dihukum, dijadikan pekerja paksa di tambang batu bara. Mereka dikenal  dengan istilah orang rantai. Kenapa? Karena selama mereka berkerja, kaki mereka di rantai oleh Belanda untuk mencegah mereka lari dari tambang.

SL 3

SL 4

Selain mendapatkan suguhan pemandangan indah, secara tidak langsung saya juga menyusuri jalur kereta api Padang–Sawah Lunto. Jalur yang  zaman dahulu berperan untuk distribusi batubara dari Sawah Lunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur Padang. Jalur ini di bangun oleh Belanda dengan biaya sekitar 17 juta Gulden. Pada awalnya jalur ini hanya sampai Muara Kalaban saja pada tahun 1888 dan pada tahun 1894  barulah jalur ini masuk ke Sawah Lunto. Dampak dari  dibangunnya jalur kereta api, ekspor  baru bara yang berasal dari Sawah Lunto naik dengan sangat pesat dan pemasukan kas untuk Belanda menjadi besar. Usaha yang dulunya minus menjadi pemasukan penting bagi Belanda.

Mendekati maghrib, tibalah saya di Sawah Lunto. Saya langsung mencari penginapan, dengan bertanya sana-sini, akhirnya saya menginap di Hotel Ombilin. Hotel ini sudah  berdiri dari tahun 1918. Dahulu, hotel ini berfungsi sebagai barak tentara.  Setelah tidur yang menyenangkan di malam hari, keesokan hari saya berkeliling melihat bangunan bangunan tua peninggalan Belanda.

SL 5

SL 6

Terdapat banyak bangunan tua di kota ini, di dekat penginapan saja saya bisa melihat bekas  gedung pertemuan Belanda dan Gedung yang dahulu nya berfungsi sebagai koperasi karyawan batu bara. Namun sayangnya, bangunan ini sudah beralih fungsi. Dari kedua bangunan ini, saya berjalan ke arah kiri dari hotel. Menyusuri perempatan,saya akan tiba di gedung Adminstrasi dari PT. Bukit Asam Stad Ombilin. Gedung ini berdiri pada tahun 1916. Pada mulanya gedung ini berfungsi sebagai gedung administrasi  kegiatan penambangan batu bara di Ombilin. Dan sampai hari ini, masih berfungsi sebagai gedung administrasi.

Dari  gedung adminstrasi ini, saya terus berjalan menuju ke sebuah lubang tambang. Lubang ini adalah lubang  yang dibuka pertama kali oleh Belanda dan bernama lubang Mbah Soero dibuka pada tahun 1898. Pemberian nama Mbah Soero ini karena dahulu yang bertugas sebagai mandor di lubang ini bernama Soero. Mandor Soero adalah seorang mandor yang disegani oleh para buruh dan orang-orang sekitar. Ada sebuah paket wisata yang sangat unik dan lain dari pada yang lain. Di sini kita akan ditawarkan masuk kedalam lubang tambang.

SL 7

SL 8

Nantinya kita akan berada 30 meter di bawah permukaan tanah. Sebelum tahun 2007 lubang ini ditutup. Hal ini dikarenakan banjir yang mengisi lubang ini hingga penuh.  Namun, mengingat tingginya nilai sejarah dari lubang ini, maka pada tahun 2007 lubang ini di buka kembali. Saya terlebih dahulu bertemu dengan pemandu wisata, beliau bernama Pak Win. Beliau adalah mantan karyawan dari PT. Bukit Asam, dapat dikatakan beliau adalah seorang sesepuh.

Selama berada di dalam lubang dengan panjang 135 meter ini, pak Win bercerita kepada saya mengenai sejarah dari orang rantai dan sejarah dari tambang batu bara ini. Banyak cerita kelam dari bangsa ini yang diceritakan oleh pak Win. Selain itu, di sini saya bisa melihat seperti apa wujud batu bara. Batu bara ini disebut batu bara dalam, karena posisinya yang berada di dalam tanah. Menurut Pak Win, kandungan batu bara di kawasan ini masih besar. Namun, karena letaknya yang jauh tersebut, sehingga membutuhkan modal yang sangat besar.

Dari lubang Mbah Soero, perjalanan saya lanjutkan kembali. Saya menuju Silo. Silo merupakan peninggalan Belanda yang di bangun pada tahun 1919.  Setelah di gali, batu bara akan disimpan di silo. Dari sini, batubara tersebut akan dibawa dengan kereta api ke Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Terdapat tiga silo di kawasan ini dengan ketinggian 80 meter. Sekarang kondisi silo ini tidak lebih dari sebuah monumen sejarah. Hanya kotoran kelewar yang bisa kita temui di dalam Silo. Batu bara yang menjadi ikon dari kota ini sudah menjadi kenangan.

SL 9

SL 10

SL 11

Dari Silo, saya menuju museum kereta api. Di Sawah Lunto terdapat sebuah museum kereta api yang memiliki koleksi lengkap. Barang-barang zaman kejayaan kereta api uap bisa kita lihat di sini. Bahkan, terdapat sebuah kereta api tua yang bernama Mak Itam. Pihak museum menjual paket wisata menyusuri jalur kereta api batu bara. Sayangnya saat saya datang Mak Itam sedang dalam perawatan. Jika belum puas menikmati koleksi museum ini. Kita juga bisa menyusuri rel tua yang dulu digunakan untuk mengantarkan batu bara. Namun, rel ini sudah berhimpitan dengan pasar.

Tujuan terakhir saya adalah gudang ransum. Gudang ransum ini dahulu berfungsi sebagai tempat makan bagi para pekerja. Di dalam gudang ransum ini, kita bisa melihat penggorengan, wajan yang ukuran nya sangat besar. Menurut cerita, wajan ini bisa digunakan untuk masak 1000 porsi makanan dalam sekali masak dan terdapat tiga wajan di sini. Dapat dibayangkan dahulu kondisi dapur ini. Selain wajan yang besar, juga terdapat ketel uap. Ketel uap yang berasal dari Jerman ini menjadi saksi kehidupan pekerja pada zaman itu. Kehidupan di gudang ransum ini sama saja dengan kehidupan di dalam tambang. Keras. Siapa yang kuat dialah yang menang.

Menyusuri Sawah Lunto ini, seperti membuka kembali sejarah kelam bangsa ini. Sejarah orang orang rantai dan kutukan batu bara.

Notes:

  1. Uang masuk ke lubang tambang Mbah Soero Rp 8.000 dengan terlebih dahulu kita membeli nya di Info Box.
  2. Saat masuk ke dalam lubang tambang ini, kita akan menggunakan perlengkapan yang sama dengan para pekerja, safety shoes, helmet, merupakan perlengkapan standar.
  3. Dalam perjalanan menuju Sawah Lunto, kita akan melihat Danau Singkarak, danau ini terletak di pinggir sepanjang jalan menuju ke Sawah Lunto.
  4. Untuk menginap di Hotel Ombilin ini, tarif per malam Rp200.000. Kita akan mendapatkan sensasi menginap di bangunan ber sejarah.

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Menyusuri Kota “Bara” Sawah Lunto"

  1. bayu winata  31 March, 2014 at 18:57

    mas JC: setuju banget mas

  2. J C  31 March, 2014 at 11:37

    Mengunjungi tempat-tempat seperti ini serasa berkunjung ke lorong waktu. Melongok sejenak kesunyian dan kesenyapan masa lalu yang terpigura dalam bekunya waktu. Seakan waktu berhenti di satu masa…

  3. bayu winata  30 March, 2014 at 22:18

    om Djoko: wah om, udah kemana aja di Sumatera? Riau sudahkah?

    mba Alvina: wah mba, sayang ya mba, kalo ada kan bisa dikunjungi saat ini, napak tilas mba

    mba Lani: iya mba, saya setuju. tapi lebih milih mana di jajah oleh bangsa lain atau di jajah oleh bangsa sendiri mba?

  4. Lani  28 March, 2014 at 05:50

    Inikah yg dinamakan wisata sejarah? Dlm hal ini tentunya tambang batubara……..yg namanya penjajah dimana-mana sama saja, merampas, mereguk, mengeruk, dan mengambil kekayaan negara terjajah sebanyak mungkin……….

  5. Alvina VB  28 March, 2014 at 03:05

    Terima kasih utk ceritanya Bayu A.W., mengingatkan kenangan duluuuu, menelusuri Kota Padang-Bukit Tinggi-Padang Panjang-Sawah Lunto yg pernah kami lakukan utk menelusuri sejarah kel. saya yg datang dari Belanda (kel. van Boomer) di pertengahan thn1800an di Sumatra dan pada akhirnya mereka menetap di Sum-Bar dan saat ini sudah tidak ada lagi kel. yg menetap di sana.

  6. Dj. 813  27 March, 2014 at 16:30

    Terimakasih bung Bayu….
    Cerita diatas mengingatkan Dj. saat di Ngarai Sianok yang begitu indah.
    Menemani kaka Dj. yang langsung melukis keindahan Ngarai ….

    Salam,

  7. Dj. 813  27 March, 2014 at 16:08

    1.
    Menyusuri….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.