Sekar(Ang) dan Sekar

Atra Lophe

 

Cerita pertemuan dengan sahabat Baltyra di Bali, mbak sekar

Malam selalu menyimpan cerita, bagi mereka yang suka bercerita. Malam juga menyimpan kerinduan, untuk kembali pada cerita yang telah disimpan malam. Malam selalu menjadi waktu yang tepat untuk bercerita, tatkala kesibukan mengaburkan kebutuhan untuk saling berbagi cerita. Dari ceritalah, maka segala sesuatunya tersiarkan. Dan malam menjadi saksi tentang cerita yang disiarkan.

Pertemuanku dengan seorang sahabat yang manis, mbak Sekar, malam  (23/3) lalu menjadi momen yang penting untuk diceritakan. Entah ada angin apa yang membawanya kemari. Ketika dulu kami berada dalam satu kota, Yogyakarta, pertemuan itu tak pernah terjadi. Ada kesibukan yang menjauhkan kesempatan, dan kesempatan itu mendekat pada kesibukan. Alhasil, janji-janji bertemu selalu saja gagal.

Tetapi malam itu, kesibukan dan kesempatan sedang bersilang dan mungkin lupa arahnya untuk melekat. Pertemuan itu sederhana. Hanya ditemani segelas kopi, sekaleng bir, beberapa batang rokok, cemilan yang jauh dari standar kualitas WHO, dan spesialnya mbak Sekar melahap satu porsi pop mie dengan antusias dan penuh ekspresi nikmat tiada terbayang. Keyakinanku mengakui, kenikmatan itu bukan lahir dari seporsi pop mie melainkan dari kelaparan yang dashyat. Bukankah begitu mbak Sekar?

Di sebuah minimarket di pinggir jalan By Pass Ida Bagus Mantra, tempat kami menghabiskan malam. Merajut cerita tentang masa-masa yang sudah dilewati. mbak Sekar dengan segudang pengalamannya dan didukung kerelaannya berbagi cerita membuat saya terbius untuk terus menelaah lebih dalam tentang sosoknya. Cerita ngalor ngidul itu ternyata bermuara pada kisah-kisah bermakna yang penting untuk dicatat dalam sebuah sejarah persahabatan.

Mbak Sekar, perempuan yang smart. Cerita tentang sahabat Baltyra, puisi, buku, film, sinetron dan tidak ketinggalan cerita percintaan menjadi bumbu sedap di malam itu. Tidak kusangka, perempuan yang aku kenal lewat puisinya yang dashyat ternyata begitu mau membuka diri pada siapa saja. Suaranya yang sangat lembut tidak mengundang kantuk, tetapi hanya menuntut pendengaran yang sedikit tajam. Kesimpulanku ia bukan perempuan biasa dan tidak bisa dibilang biasa-biasa saja.

Dalam kesempatan itu, sang pangeran dari negeri nun jauh di sana, yang juga tak pernah kulihat dengan mata kepalaku tentang ketampanan dan pesona rupawannya, Mas Juwandi, beberapa kali terlibat dalam pembicaraan kami. Tentu saja, mbak Sekar membaca dengan suara nyaring isi percakapan via sms tersebut. Selanjutnya kami akan sama-sama tertawa terbahak-bahak, mengingat isi pembicaraan tersebut berkaitan dengan tolak angin, yang katanya produk paling bagus bahkan Dahlan Iskan pun menjadi bintang iklannya.

Pukul 12.00 malam WITA, karena kami berada di wilayah Pulau dewata, rasa lapar kemudian mengendap. Saat berbicara soal makan, sindiran halus pun muncul. Kebetulan pria tampan sekelas Sharuk Khan, yakni Alfred Tuname juga sedang berada di Bali, jadi pertemuan ini menjadi sangat menyenangkan.  Berada di antara kedua orang ini, paling tidak saya harus menjadi tuan rumah. Alasannya sederhana, karena saya sudah menetap di Bali meski belum memiliki KIPEM (Kartu Penduduk Sementara). Dalam momen ini, sindiran itu mengena dalam lubuk hati.

“Kita tidak makan di warung Jawa atau lesehan kan?” kata mbak Sekar.

“Jam segini warung Bali sudah tutup mba,” jawabku.

“Kita sedang tidak di Jogja lho,”

Aduuuhhhh…. baiklah, dalam beberapa momen urusan makan memang cukup rumit. Setelah lama berunding, dengan mempertimbangkan jarak dan juga keberadaan mbak Sekar di Bali, akhirnya keputusan pun diambil. Kami Makan Di Warung Lesehan (meski duduknya di kursi), dengan syarat ada pertemuan berikutnya yang memang harus makan di warung Bali. paling tidak kesempatan untuk bertemu kembali, ada.

DSCF7487

Setelah makan malam, ketika pemilik warung memberi kode dengan menguap yang tentu saja dibuat-buat, kami kemudian pulang. mbak Sekar kembali ke penginapannya, sedangkan saya dan Pria ganteng Alfred Tuname melanjutkan perjalanan.

Saat menulis cerita ini, saya ingin menyimpulkan tentang dirinya, mbak Sekar.  Karena cerdas itu pasti dan cantik itu relatif, maka aku menyebutnya perempuan cerdas dan cantik. Sekarang bersama Sekar, cerita tentang persahabat itu bergaung. Ya, Sekar(Ang) Dan Sekar.

 

Bali, 24 Maret 2013

PutriAtra

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Sekar(Ang) dan Sekar"

  1. J C  31 March, 2014 at 11:35

    Nyai Enthung Queen memang legendaris… (halah bahasane… )

  2. ariffani  29 March, 2014 at 18:33

    manisnyaaaa

  3. Linda Cheang  28 March, 2014 at 17:15

    Di mana dia, Sekar? Ketika aku di kotanya, dia tak bisa jua ditemui

  4. Handoko Widagdo  28 March, 2014 at 10:40

    Siapapun pasti terkesan dengan Sekar.

  5. Lani  28 March, 2014 at 05:58

    Jd teringat pertemuanku dgn Sekar dan Lembayung di Yogya zaman sak-mono………Sekar, menurutku orgnya tdk berubah, msh kecil, mungil, dan apakah semakin banyak tattoo kupu2nya????

  6. Alvina VB  28 March, 2014 at 04:25

    Wah kopdaran di Bali…senengnya…

  7. Lani  27 March, 2014 at 21:14

    Selamat mas DJ sdh jd pemenang, mengalahkan aku dan James, pesawatnya kehabisan bahan bakar mas………hehehe……..

  8. Dewi Aichi  27 March, 2014 at 20:01

    Wooooooooooooooo…diem2 ketemuan nih yaaaaa…..keren…

  9. Dj. 813  27 March, 2014 at 16:21

    Nr. 2

    Indahnya persahabatan di baltyra….
    Ini meluk Sekar ala Dj.
    Salam manis untuk kalian berdua.

  10. Dj. 813  27 March, 2014 at 16:10

    Nr. 1
    2 Sekar, tapi tanpa yu Lani dan James….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.