Anugerah (Anak) #2

Ria Kusumasari

 

Ketika suatu waktu aku dihadapkan dengan naluri keibuanku. Pasangan suami istri yang dikaruniai 3 anak mempercayakan anak keduanya yang masih balita untuk kuasuh dan tinggal bersamaku. Aku telah mendapatkan cahaya kepercayaan dari sang ibu yang ikhlas, Kilau mata anak perempuan cantik yang percaya akan dicintai. Kepercayaan Tuhan memberi amanat.

Aku membulatkan keberanian. Niat untuk bersungguh-sungguh. Aku sedia menerima. Walaupun sempat terlintas kekhawatiran. Bagaimana jika aku mendapati bahwa ia payah, sulit, melelahkan, membenciku? Oh Tidak! Ini mudah, ini anugerah!

Aku grogi ketika seorang guru anak asuhku ini mengatakan, “Aisyah, sudah ditunggu mama sambil menunjuk ke arahku yang duduk di pojok luar ruang jemput sekolah taman kanak-kanak. Seperti ia yang menemukan cara untuk memanggilku tanpa ragu “mamaaaa”, dia berlari memelukku, sedikit kaku namun ia menyadari aku mulai menyerahkan diriku untuk menyayanginya. Aku membuat sikap wajar tanpa penolakan, ini kesepakatan antara aku dan diriku untuk membagikan kecintaan besarku dan menjadikan diriku bagian dari hidupnya sejak kini. Aku menghela nafas dengan rasa puas.

Count Your Blessing

Kami menghabiskan beberapa sore dan malam hari, ia mulai menularkan hobbinya padaku untuk menyanyi, mewarnai dan bercerita tentang sekolah, teman, kehidupan, Tuhan, flora dan fauna. Menikmati sensasi matahari terbenam dan sekuat tenaga belajar memahami kata-katanya yang tak rapi.

Suatu hari waktu aku menjemputnya di sekolah. Dengan piala yang tingginya sedikit lebih rendah darinya ia menunjukkannya padaku, aku terkejut. “Apa ini sayang?” Mataku nanar melihat tulisan tertera di piala, Pemenang Harapan lomba mewarnai tingkat taman kanak-kanak se-Indonesia. Lalu gurunya memberikan selebaran besar berbahan kertas koran yang menyantumkan deretan nama-nama sekolah peserta dan nama-nama pemenang se-Indonesia. Ada namanya tertera sebagai penerima hadiah dan piala. Tanpa cemburu dengan beberapa peringkat prestasi anak lainnya. Bagiku, ini saja sudah membuatku terkesima. Belum sempat menguasai rasa terkejutku, ibu guru menyerahkan amplop yang berisi beberapa lembar uang sebagai penghargaan, berikut kotak besar berbungkus kertas kado, dan bibirku ingin selalu mengulangi ucapan rasa syukur.

Di hari lain. Ia meronce manik-manik untuk dibuat kalung, gelang dan cincin untuk seukuran sebayanya yang lalu ia jual di sekolah dan membagi hasilnya untuk modal dan keuntungan sebagai tabungan dan uang jajan. It’s Amazing! Kehadirannya saja sudah menyumbangkan banyak makna. Prestasi ini melebihkanku dengan rasa bangga juga haru.

Hari-hari berwarna, aku telah menemukan style dalam mendidik, lebih banyak mengabaikan mitos bahkan tak terlalu patuh dengan teori-teori cara mendidik anak. Membuat keleluasaan yang longgar dalam berekspresi. Membuat batasan-batasan mengekang dalam hal-hal yang prinsip. Tapi inilah bagiku pelajaran, mengatasi kultur, gaya, cara tiap anak yang berbeda. Tidak ada justifikasi bahwa pola mendidik seperti ini itulah yang paling benar. Setidaknya ini adalah pandanganku yang berbeda dengan aku yang sebelumnya menjadi “Ibu”.

Ketika merindukan ibu, aku mulai berkata-kata sendiri.. Ibu, kini kita sama. Aku bisa merasakan rasa banggamu ketika aku mengikuti lomba menari dan menerima hadiah juara satu. Ibu, kini kita sama. Aku bisa merasakan gundahmu ketika aku diserang nyamuk malaria. Ibu, aku bisa rasakan panik dan marahmu ketika aku memutar sepeda bermain di tempat yang jauh, pulang ketika senja. Aku juga merasakan gelisah jika ia terlambat kembali dari sekolah, ke mana ia bermain, apakah ia aman? Seringkali bayangan kekhawatiran memicu rasa takutku. Namun pilihanku melantunkan do’a dan mengendalikan diri dengan mengatakan “Oke, kamu baik-baik saja, dan ini tidak seperti yang aku bayangkan.”

Kehidupan tidak lagi sedemikian sunyi. Rentetan tuntutan. Negosiasi, dan isi rumah yang semakin kacau tata letaknya. Itulah aku dan si “comel “ satu penghuni rumah yang baru. Sepanjang aku memiliki tangan kecil menggenggam tanganku, melampiaskan tawa renyah yang menggema di sudut rumah. Memiliki profesi yang berubah-ubah selain menjadi anak. Sang pengkritisi cilik yang jujur, konsultan fashion, dokter, perawat, tukang salon, pedagang, pemilik rumah makan. Di rumahku bisa disulap jadi apa saja sesuai imajinasinya. Aku pun rela menjadi pelakon sinetron yang disutradarainya. Praktek, cara dan kata-kata yang baru ia temukan. Selalu berhasil menyimpulkan senyumku atau berlalu diam-diam memendam geli karena tertawa.

Dia, yang mengantarkanku dalam do’a, yang akhirnya kupahami. Do’a khusus untuk orangtua. Bukan semata hanya untuk orangtua biologis yang mengandung dan melahirkan saja. Tapi juga untuk orangtua yang mengasuh dan mendidik sejak ia masih kecil. Inilah sejatinya syukur. Aku semakin tidak cemas.

Bismilahirahmannirahiim.

Rabbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

Demikian pula aku yang mengiringinya dalam do’a. Memupuknya dengan rasa bangga bahwa dialah anak paling beruntung di dunia yang mempunyai dua ibu dan dua ayah yang senantiasa mendo’akannya. Ini mudah, ini anugerah, Ini rahmat Allah.

 

6 Comments to "Anugerah (Anak) #2"

  1. riakusumasari  1 April, 2014 at 15:37

    @mbak Lani ^_^ salam kenal mbak, @mas DJ..waduh sayang sekali sy belum sempat baca komennya sudah dihapus…siapa yang akan memarahi mas? hehehe. Semoga mas DJ jg senantiasa diberi kebahagiaan dan kesehatan @Mbak Probo, sy suka menari dulu waktu sd smp @mas JC. Aamiin. trimakasih. Semoga kebaikkan akan tercurah kepada mas sekeluarga jg

  2. riakusumasari  1 April, 2014 at 15:20

    mbak Lani, mas DJ, mbak Probo, mas JC, terimakasih semuanya. atas komentar, support dan senyuman…sesungguhnya saya grogi disini, yang mana akhirnya tulisan “gugup” saya terbaca sahabat baltyra… salam erat. .

  3. J C  31 March, 2014 at 11:41

    Saya ikut senang dan bahagia serta ikut mendoakan keluarga kecil Ria selalu bahagia…

  4. probo  29 March, 2014 at 22:15

    Ria bisa menari ya…sekarnag masih menari?

  5. Dj. 813  29 March, 2014 at 02:03

    Mbak / Ibu Ria Kusumasari….
    Dj. sudah tulis komentar panjang sekali, tapi Dj. hapus,
    takut dimarah…. hahahahahahahaa….!!!

    Semoga anda sekeluarga selalu bahagia.
    TUHAN MEMBERKATI ANDA SEKELUARGA . . . ! ! !

  6. Lani  28 March, 2014 at 11:38

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.