Sang Pencinta

Dwi Klik Santosa

 

BALADEWA SANG PECINTA: Hanya satu isterinya, Erawati putri Prabu Salya dari Mandaraka. Sebagai raja besar Kerajaan Mandura, segala hal dimilikinya, maka saat Rahwana yang telah menjadi roh bernama Godayitna hendak menggoda dan merasuki kejiwaannya, menerbitkan murka dan hendak melenyapkannya agar tak lagi menggoda ketetapan hati para ksatria yang mengagungkan nilai-nilai keksatriaannya.

sang-penncinta

–    Huahaha …. Jika aku ingin, aku bisa dan aku mampu, kenapa tidak? Bukankah serba kelebihan yang ada ini tidak serta merta kebetulan dan ada begitu saja? Boleh-boleh saja bukan, manusia yang unggul menangguk suka dari selama ini merasakan duka lara dan kesepiannya, buah karena kerasnya proses belajar dan berlatih?

 

+    Tapi tidak dengan kesemena-menaan dan seenak-enak maunya. Meski begitu menjadi hak bagi siapa pun untuk bebas melakukan. Tapi bukankah manusia itu makhluk rasional, makhluk yang tak hanya dianugerahi naluri, tapi juga nalar. Kelengkapan sebagai caranya untuk berpikir, menimbang dan bersikap bagaimana agar bisa sebaik-baiknya mampu menempatkan diri, pantas bersebut mulia karena memang memiliki kelengkapan yang istimewa. Jika tidak pada kebenaran dan keadilan sebagai tujuan, lalu apa beda dengan hakekat pencarian hidup para hewan, yang bergerak semata demi hanya untuk menjalankan pesan naluri yaitu mencari makan untuk melangsungkan hidup dan melepaskan syahwat berahinya untuk regenerasi. Tak peduli tempat, suasana apalagi aturan. Kepada siapa pun dan kapan saja dibolehkan. Kalau perlu ibunya sendiri yang melahirkan dikawin pula demi semata-mata menurutkan desakan dan keinginan nalurinya. Siapa yang paling kuat, siapa yang paling hebat, boleh memiliki segalanya. Tapi engkau ini bukan jenis yang hewan, bukan?

–    Ah, bisa saja kau berkata begitu. Jika saja si perempuan yang kuingini tak berminat kepada apa saja menjadi adaku dan mauku ….. Lihat … Lihatlah! Berapa jumlah yang kuingini dan lalu menjadi istriku. Tanya saja, kenapa mereka mau dan senang saja kunikahi? Apakah ini sama dengan pengertian hewani sebagaimana kau maksudkan. Lihat dengan pandangan matamu yang awas. Lihat! Istanaku banyak. Serba besar dan gemebyar. Ada segala hal yang dibutuhkan untuk tak sekedar memenuhi kebutuhan hidup menjadi isi dan kelengkapannya. Semua saja yang terbuat dari emas, berlian dan benda-benda mulia dan berharga lainnya serba ada ada di dalamnya. Jika lalu kau prasangkakan mereka menderita karena pengertian dimadu dan sebagainya itu misalnya, coba simak, betapa setiapkali mereka memintaku merayu dan berkata-kata syahdu untuk  sekedar memenuhi dan memuaskan manjanya dan sekedarnya sebagai seni memadu hasrat sebelum melepaskan masing-masing berahi. Apa yang tidak boleh dan tidak wajar menurutmu? Aku yang kaya, aku yang ahli berkata-kata, aku yang perkasa, bukankah aku bisa, aku mampu mewujudkan dan memberikan kesepadanan bagi apa pun keinginan-keinginan itu?

 

+    Bah! Engkau mencapainya dengan cara merebutnya. Menculiknya. Memaksanya. Memanipulasikan faktanya. Bahkan, tak peduli perempuan yang ingin kau capai itu sudah berpunya dan diikat perjanjian dalam kaidah agama. Bagaimana bisa kau akukan itu sebagai sebuah ihwal kesepadanan. Mana ada perempuan gembira dan bahagia meski hendak kau muliakan dengan cara seperti itu. Tidak ada! Semua manusia pada hakekatnya sama. Ingin mendapatkan kewajaran dalam meraih nilai-nilai yaitu menemukan kebenaran dan keadilan. Engkau ini manusia gila yang tak kenal syukur dan hendak menurutkan nafsu dan ambisi pribadi belaka. Tak mengerti mendefinisi harafiah indah atau justru tahu tapi kau palsukan demi untuk membenarkan gejolak dan gelegak seniat busukmu yang tersembunyi. Nyata engkau ini tiran dan menginjak-injak harga diri dan hak asasi manusia. Engkau pantas lenyap dari kehidupan ini dan dilenyapkan pula pengaruhmu agar generasi mendatang tak lagi mencontoh sosok megalomania sepertimu.

 

 

Pondokaren

3 Maret 2014

: 08.57

 

6 Comments to "Sang Pencinta"

  1. Dewi Aichi  1 April, 2014 at 09:29

    Request Wisanggeni mas Dwi….aku suka tokoh ini hehehe…kalau cerita wayang ditulis seperti ini aku ngga bosa, tapi kalau yang sulit kupahami itu aku males bacanya hehe..apalagi buku wayang yang tebal..halahhh….

  2. Handoko Widagdo  1 April, 2014 at 07:13

    Baladewa adalah salah satu tokoh wayang yang aku sukai karena keberaniannya dan kejujurannya.

  3. Dj. 813  1 April, 2014 at 00:33

    Dulu semasa kanak-kanak, tidak banyak hiburan di kampoeng.
    Paling menyenangkan adalah nonton wayang, walau sampai pagi, dilakoni.
    Hahahahahahaha….
    Terimakasih mas Dwi.

  4. Lani  31 March, 2014 at 12:02

    PAM-PAM : memborong juara 1 kali ini………..

  5. J C  31 March, 2014 at 11:47

    Dari artikel-artikel mas Dwi, aku jadi lebih mengenal sastra Indonesia modern…

  6. [email protected]  31 March, 2014 at 11:38

    absen no 1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.