Belajar Tanpa Les

Wesiati Setyaningsih

 

Saya termasuk guru yang tidak pernah memberikan les pada murid-murid saya. Pertanyaan mengenai apakah saya memberikan les atau tidak sering tertuju pada saya. Tapi saya tidak memberikan les. Katakan saya guru yang malas, bolehlah. Tapi yang jelas tanpa memberikan les, waktu saya untuk keluarga bisa saya manfaatkan benar. Tidak ada yang tersita untuk tambahan pekerjaan sepulang kerja. Dan lagi, saya punya alasan idealis yang mungkin berbeda dari pemikiran guru-guru lainnya.

Ketika seorang murid saya minta les, yang terlintas dalam benak saya adalah betapa tidak berkualitasnya cara saya mengajar di kelas sehingga dia masih butuh les pada saya, yang notabene adalah guru bahasa Inggris di kelasnya. Lain halnya kalau saya tidak mengajar dia. Tapi itupun saya lebih suka dia minta diajarin pada bagian-bagian yang dia tidak paham, maka saya akan ajarkan dengan gratis, daripada dia minta les pada saya.

Repotnya, pola ‘les sama gurunya agar nilainya bagus’ ini sudah begitu dalam tertanam sejak SD. Si sulung sudah minta les ketika dia kelas empat SD. Saya tertegun. Kelas empat? Buat apa les? Saya dulu mendapat pelajaran tambahan waktu kelas enam SD karena persiapan menghadapi ujian kelulusan. Bahkan karena ketakutan orang tua, lalu guru yang menyediakan waktu, saya les privat sama guru kelas saya sejak awal tahun ajaran. Pada semester genap dilaksanakan program les resmi di mana semua anak diharuskan untuk ikut dan dilaksanakan di sekolah pada sore hari.

Maka ketika Dila, sulung saya, minta les di kelas empat SD, saya heran. Kenapa harus ada pelajaran tambahan sementara dia masih kelas empat? Dia tidak sedang akan menghadapi ujian! Untuk mendapatkan kejelasan, saya menemui gurunya. Beliau mengatakan ini diperuntukkan bagi anak-anak yang belum bisa menguasai materi yang diberikan di kelas. Jadi diberi tambahan pelajaran sepulang sekolah, di kelas mereka, untuk anak-anak yang mau saja.

Awalnya Dila menurut ketika tidak saya perbolehkan ikut les dengan asumsi dia tidak masuk kriteria anak yang butuh pelajaran tambahan. Namun kemudian hari Dila mengeluh bahwa pelajaran yang diberikan di sekolah sering kali sudah dibahas dalam les kemarinnya, sehingga teman-temannya yang les sudah bisa lebih dulu. Sementara dia yang tidak ikut les terlambat menguasai materi. Jelas dia iri. Karena kasihan, akhirnya dia saya ijinkan ikut les. Hal ini berulang lagi di kelas lima, dan dia ngotot ikut. Padahal sebenarnya tidak ikutpun dia pasti mampu mengikuti pelajaran. Kalau di kelas enam, hal ini sudah menjadi program resmi dari sekolah. Jadi mau tidak mau dia ikut pelajaran tambahan.

Ketika Dila SMP, hal ini tidak terjadi lagi. Dia hanya ikut les di tempat bimbingan belajar ketika kelas IX SMP untuk menghadapi Ujian Nasional (padahal saya sebenarnya sudah menyarankan tidak usah, tapi dia memaksa), dan pelajaran tambahan di sekolah. Begitu juga di SMA, saya tidak menyarankan dia untuk les mapel, tapi dia berkeras untuk les ketika kelas X.  Saya tidak melihat perubahan yang signifikan pada nilai-nilainya di kelas X, malah ketika dia tidak les apa-apa di kelas XI, nilai-nilainya membaik. Kelas XII ini dia kembali mengalami panik karena akan menghadapi ujian jadi dia ikut bimbel sejak awal semester gasal. Waktunya habis untuk les ini itu tiap hari. Saya sebenarnya tidak rela, tapi mau tidak mau harus rela karena dia yang mau begitu.

Pada si bungsu, Izza, kejadiannya lebih parah. Kebetulan Izza sekolah di SD yang berbeda dengan kakaknya. Di sekolah ini, les diadakan oleh gurunya sejak kelas dua SD! Karena merasa saya masih bisa menangani kesulitan dalam pelajaran anak kelas dua SD, saya tidak ikutkan les. Ternyata hal ini terjadi di semua level. Kelas tiga, dia sudah ribut minta les dengan alasan yang sama dengan kakaknya dulu, teman yang les sudah tahu lebih dulu materi ulangan di kelas dan nilai mereka bagus-bagus.

Di kelas empat ada orang tua yang protes dengan kegiatan les ini karena guru memberikan PR yang banyaknya tidak masuk akal. Sementara anak-anak yang les diajak mengerjakan PR ini sehingga di kelas anak-anak yang les ini PR-nya kebanyakan benar semua. Kelas empat ini Izza tidak ikut les dan nilainya tetap saja bagus.

Di kelas lima ini, di semester ganjil, awalnya saya mengijinkan Izza les di rumah gurunya, tujuannya agar diajari cara mengerjakan PR. Selain itu, dia saya leskan privat matematika mengundang guru dari bimbel, dengan pengajar mahasiswa. Waktunya habis untuk les karena dia juga les bahasa Inggris (yang ini karena dia memang suka dengan pelajaran bahasa Inggris dan di tempat kursus materinya lebih ke speaking).

Di semester genap ini saya menghentikan semua les kecuali les bahasa Inggris, setelah saya mengevaluasi situasi yang dia dapatkan dari les. Les privat matematika ternyata tidak sepenuhnya membantu karena gurunya kadang-kadang malah membuat dia bingung. Karena mahasiswa yang tidak memiliki basic mengajar dia mengajar dengan menyesuaikan pengetahuan dia, bukan nalar anak kelas lima SD. Jadi les matematika saya hentikan.

Sementara les pada gurunya saya hentikan juga karena saya pikir kalau di tempat les hanya mengerjakan PR, saya juga bisa ngajarin. Selain itu dia cerita bahwa sebelum ulangan, tak jarang soal  diberikan dulu saat les. Alhasil dia dan teman-teman lesnya menghafal jawabannya, bukan memahami pertanyaan. Dengan agak berat hati karena Izza terus merengek ingin tetap les pada gurunya, saya jelaskan bahwa sudah saatnya dia belajar untuk mandiri belajar sendiri di rumah. Tidak lagi tergantung pada gurunya. Saya yakinkan dia bahwa dia bisa. Juga bahwa mendapatkan jawaban soal ulangan sebelum ulangan itu sama saja dapat bocoran. Itu tidak benar.

Awalnya keputusan ini menjadi pukulan yang berat untuk Izza. Dia jadi minder. Berulang kali dia menawar untuk les tapi saya bertahan. Saya yakin bahwa pola pikir dia harus saya ubah. Demikian juga pola pikir saya. Saya makin yakin dengan pola ini ketika saya melihat efek samping bahwa dia melihat teman-teman lesnya dengan tidak percaya diri, padahal saya melihat dalam nilai dan pemahaman materi,  sebenarnya tidak ada masalah (di kelas dia ranking dua). Saya harus mampu menahan hati untuk tidak jatuh kasihan dan meyakinkan bahwa turun ranking itu tidak masalah, yang penting dia mendapatkan nilai dengan jujur.

Meski sesekali masih merengek terutama takut ranking turun (dan ini semakin meyakinkan saya bahwa sudah salah mendidik dia), akhirnya dia (terpaksa) menerima keputusan saya. Bagusnya, waktunya tidak lagi habis untuk les. Di rumah dia mengerjakan PR bersama saya. Kemajuan mulai tampak dengan belajar sendiri. Dia bisa mengetahui cara mendapatkan jawaban dengan lebih jelas.  Dengan begitu, dia benar-benar memahami satu soal.

Memang agak repot buat saya karena sayalah tumpuan pertanyaan buat dia. Tapi saya punya Google untuk membantu saya. Ketika dia menemui soal Matematika berupa perbandingan dan selisih, saya cari lewat Google, dan taraaaam! Ada blog yang menjelaskan ini dengan uraian yang mudah dipahami. Saya coba mengerjakan soal Izza dan ketemulah jawabannya. Dari situ saya ajarkan pada dia bagaimana cara mengerjakannya. Ketika kemarin dia menemui soal yang sama di buku soal, dia masih ingat soal ini.

les-privat

Lama-lama rasa percaya diri tumbuh dalam diri Izza, bahwa tanpa les, dia juga bisa mengerjakan soal dengan baik. Minggu ini dia sedang ulangan tengah semester dan laporan yang saya terima sepulang kantor (dia pulang lebih awal dari saya) adalah bahwa hasil ulangan sudah dicocokkan dan nilainya lumayan, antara 80-100. Buat saya itu sudah bagus. Kalau sudah begitu saya tinggal mengomentar,”tuh, belajar sendiri nyatanya juga bisa dapat nilai bagus, kan? Nggak usah les nggak pa-pa”

Izza sekarang makin percaya bahwa dengan belajar sendiri, tanpa les, dia juga mampu meraih nilai bagus. Selain itu dia jadi lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Dia mengerjakan PR tanpa disuruh, dan baru bertanya bila ada kesulitan. Kemajuan inilah yang sebenarnya saya harapkan. Saya tahu saya sudah salah langkah beberapa tahun sebelumnya, tapi setidaknya saya sudah meralat tindakan saya.

Semoga hal ini menjadikan pelajaran berharga bagi anak-anak saya di kemudian hari, bahwa langkah susah payah  untuk mendapatkan hasil baik itu jauh lebih berarti dari pada sebuah langkah instan untuk hasil yang sama. Kalau memang bisa belajar sendiri, kenapa harus les? Memang lebih susah payah. Tapi memberikan rasa percaya diri lebih besar.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

40 Comments to "Belajar Tanpa Les"

  1. HennieTriana Oberst  15 April, 2014 at 21:09

    Keburu terkirim.
    Yang membantu anak belajar adalah orang tuanya sendiri di rumah.

  2. HennieTriana Oberst  15 April, 2014 at 21:06

    Wesi, aku nambahin sedikit (dari komentar Lani di atas). Yang aku lihat sendiri dari lingkungan sekolah dan juga pengalaman kakakku (anaknya kelas 7) di Jerman, tidak ada les yang berikan guru. Anak biasanya jika memang sangat perlu bantuan pelajaran baru mengikuti les. Guru lesnya dari luar sekolah, guru privat atau lembaga yang memang memberi les untuk membantu anak belajar.
    Kebanyakan anak-anak di sini memiliki kegiatan lain di luar sekolah, bukan les tambahan pelajaran tapi olah raga, musik, tari, atau kegiatan seni lainnya.

  3. wesiati  7 April, 2014 at 10:51

    Mbak Itsmi memang cantik dan baik hati…. hahahaha…..

  4. Wiwit Arianti  7 April, 2014 at 09:48

    Setuju mas JC, bahwa gak ada hubungannya kemampuan berbahasa seseorang dengan gender, apakah itu perempuan atau laki-laki. karena banyak juga laki-laki yang memiliki kemampuan hebat di bidang bahasa, demikian juga dengan perempuan. Maaf ya mbak Itsmi, peace…hehehe…

  5. Itsmi  3 April, 2014 at 19:01

    Wajar kalau kita beda pendapat karena estrogen, saya kekurangan sedangkan testeron saya kelebihan hahahahah

    Tapi kembali ke topic.
    Seperti saya sudah tulis tadi, pria yang estrogen nya lebih dia jelas lebih berbakat dari pada pria umumnya. Dimana estrogennya lebih kurang dari pada wanita.

    Coba liat aja prestasi di sekalah, bagaimana perempuan dan laki laki beda kan, umumnya perempun lebih bagus bahasanya dan lebih gampang belajar bahasa asing dari pada laki. Sedangkan laki dimana testeron nya lebih dari perempuan dia lebih kuat di dalam hitungan dan pengertian tentang stereometri

    Tentu apa yang saya tulis bukan untuk semua orang tapi pada umumnya. Jadi ada lagi yang pintar dalam hitungan dan bahasa, sebaliknya juga begitu. Tapi grup ini kecil…..

  6. J C  3 April, 2014 at 17:53

    Oh jelas sekali itu, Kang Anoew adalah King of Saroe…sudah jelas terbukti nyata gelarnya bukan sekedar gelar kosong…(endi iki uwonge)

  7. wesiati  3 April, 2014 at 17:48

    JC : kalo estrogen dan testosteron hubugnannya sama libido, ya? hahahah…. ngomongin libido kok tiba2 ingat kang anoew. entah kenapa…

  8. wesiati  3 April, 2014 at 17:44

    NIA :
    sebenarnya, itu juga alasanku awalnya. hehe… biar Izza nggak ribut aja bikin PR-nya, mending biar sama gurunya aja. setelah semester ganjil berlalu, aku pikir, kok malas nganter les karena kami jadi kemalaman pulang ke rumah sendiri (transitnya di rumah ibuku). maka aku coba, semester ini nggak les apa2 dulu. aku yakinkan ke Izza, untuk nggak usah les dulu. I’m curious, “memangnya kalo nggak les kenapa sih? Bisa nggak sih?”. Maka aku coba. memang jadi kerja keras. soalnya kalo dia ribut nggak bisa ngerjain PR, aku mesti konsekuen bantu nyari2 cara ngerjain dari internet. padahal kalo dulu dia les, PR udah beres pas les. ulangan juga santai aja kan udah tau soalnya duluan pas les. Tapi akhirnya aku membuktikan kalo nggak les bisa, kok.
    dan parahnya, aku baru sadar kalo les itu bikin Izza nggak pede. sekarang dia sudah cukup yakin dengan belajar sendiri dan nggak lebay minta les, wong kemarin rapor mid dibagi dia ranking 2 kok. jadi sebenarnya dia cukup mampu. nggak ada yang mesti dikuatirkan. memang dia sudah bingung, nanti kalo rankingnya turun gimana? ini masalah kedua. jadi aku tekankan ranking turun nggak papa asalkan didapat dengan cara yang jujur..
    itulah kenapa hal ini aku share dengan note.. banyak hal yang harus disadari ketika mengijinkan anak les (mapel sekolah, maksudnya).

    Iya, anakku yang sulung kelas 3 SMA, mau kuliah tahun ini, adiknya kelas 5 SD. hehe… tapi aku masih muda (halah).

  9. J C  3 April, 2014 at 15:32

    Kalau bahasa dihubungkan dengan estrogen atau testosteron kayaknya Itsmi berlebihan laaaahhh…hahaha…kalau estrogen dan testosteron itu lain ceritanya dan perannya bukan bahasa…

  10. J C  3 April, 2014 at 15:31

    Itsmi, saya kurang sependapat untuk urusan gender jadi tolok ukur bakat bahasa. Banyak sekali cowok yang luar biasa bakat bahasanya. Pope John Paul II, multi languages yang luar biasa. Soekarno juga multi languages, Leonardo da Vinci juga multi languages, bahkan dia bisa menulis sekaligus 2 bahasa dengan masing-masing tangan kanan dan tangan kiri. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain. Mungkin lebih tepat dibilang bahwa bahasa adalah bakat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *