Cina, China, Tionghoa – Setelah Terbitnya Keppres 12 Tahun 2014

JC – Global Citizen

 

Pada tanggal 14 Maret 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014. Isi keppres tersebut adalah mencabut dan menyatakan tidak berlaku Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967. Istilah Tjina atau Cina atau China dikembalikan seperti masa sebelumnya menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Sebutan Tionghoa untuk orang, budaya atau etnis, Tiongkok untuk sebutan negaranya – Republik Rakyat Tiongkok.

Adakah implikasi tertentu setelah terbitnya Keppres 12 Tahun 2014? Pertanyaan paling mendasar adalah apakah ada konsekuensi hukum jika seseorang, lembaga atau media yang “melanggarnya”?

perayaan-cap-go-meh-di-pontianak

Saya adalah generasi yang lahir di tahun 70’an. Saya tumbuh besar di lingkungan yang beragam etnis dan agama. Sejak TK sampai dengan lulus SMA bersekolah di sekolah nasional yang multi etnis. Di Universitas Diponegoro, saya bisa dibilang ‘minoritas kuadrat’ – etnis dan agama, namun tidak merasakan perlakuan yang ekstrem merasa terkucil atau dikucilkan. Perlakuan rasis dan diskriminatif di masa itu adalah satu hal yang sering terjadi, dicina-cinake sudah bukan hal yang aneh.

Tentu saya menyambut gembira terbitnya keppres ini, karena paling tidak, secara ‘resmi’ pemerintah mengembalikan posisi sosio-kultural dan sosio-politik pada tempat semula. Dengan adanya keppres ini, paling tidak negara berperan dalam kapasitasnya sebagai wadah besar sosio-politik dan sosio-kultural rakyatnya yang beraneka ragam etnis. Sebutan Tionghoa atau Tiongkok sebenarnya hanya populer dan dikenal di Indonesia. Kata Tionghoa berasal dari 中华 (zhōnghuá) dan Tiongkok berasal dari 中国 (zhōngguó). Karena pengaruh dialek Hokkian – dialek yang paling besar pengaruhnya di Indonesia, zhōnghuá menjadi tionghoa dan zhōngguó menjadi tiongkok.

Kata zhōngguó pertama kali dikenal pada jaman Dinasti Zhou yang meyakini merekalah pusat peradaban dunia. Secara harafiah, zhōngguó berarti negeri tengah. Dalam literatur The Book of Poetry (诗经, Shījīng 7-11 SM) menyebutkan Zhōngguó adalah istilah untuk ibukota. Dalam Records of the Grand Historian (Taishi gongshu 太史公書, sekarang disebut dengan Shiji 史记Historical Records), dikenal istilah tianxia (天下), arti literalnya ‘di bawah langit’. Istilah ini digunakan dalam konsep Tiongkok kuno untuk membagi dunia secara geografis dan metafisik. Tianxia adalah seluruh wilayah daratan, angkasa dan semua area yang merujuk Sang Kaisar sebagai pusat dari segala-galanya. Pembagiannya adalah Huáxia (华夏), Xia (), Huá (华/華), Zhongxia (中夏), Zhonghuá (中华) dan Zhongguo (中国), dengan singgasana sebagai pusatnya, lingkaran berlapis ke luar dari pejabat tinggi, pejabat biasa, rakyat dan paling luar adalah lingkaran ‘orang barbar’.

Untuk sebutan orangnya, ada sebutan zhōngguórén (中国人), huárén (华人), Tángrén (唐人), Hanrén (汉人). Zhōngguórén artinya orang Tiongkok, Hanrén dan Tangrén merujuk pada dua dinasti besar – Dinasti Han dan Dinasti Tang. Sebutan huárén adalah sebutan ‘generik’ yang merujuk kepada orang-orang Tionghoa. Di Indonesia juga sering digunakan istilah Tenglang, dialek Hokkian untuk Tangrén. Ada juga sebutan Hoakiau (华侨, Huáqiáo) yaitu orang-orang RRT yang tinggal di luar Tiongkok. Kemudian ada istilah Huáyì (华裔), etnis Tionghoa yang ada di luar RRT. Uniknya di seluruh dunia menyepakati istilah Chinatown untuk 唐人街 = Tángrénjiē, arti harafiahnya “Street of the people of Tang”, yang dalam bahasa Indonesia adalah Pecinan – bukan Pechinan atau Petionghoaan.

Saya tidak keberatan dengan istilah Cina atau orang Cina. Bahasa Inggris menyebut China dan Chinese, dalam bahasa Melayu disebut Cina, dalam bahasa Belanda disebut China dan Chinezen. Dari kaidah linguistik, kultural dan morfologi kata, tidak ada yang salah dengan istilah Cina. Namun, secara sosio-politik dan sosio-kultural di Indonesia, penggunaan istilah Cina meninggalkan luka sejarah yang panjang dan kompleks,  walaupun generasi sekarang banyak yang tidak peduli apapun penyebutannya. Orde Baru dengan sukses ‘menghancurkan’ identitas ini secara terstruktur, sosio-politis dan sosio-kultural selama tiga dasawarsa, sehingga sampai hari ini pun masih terjadi polemik luas untuk atribut dan penggunaan Tionghoa dan Tiongkok atau Cina atau China.

Bisa diperhatikan, saat ini media cetak terbesar di Indonesia – Kompas – sudah mengubah penulisannya sesuai dengan keppres ini. Paling nyata adalah dalam pemberitaan hilangnya MH-370. Sebelum keppres ini, di semua pemberitaan Kompas tertulis “China”. Baik untuk negaranya ataupun menyebut “Laut China Selatan” wilayah pencarian pesawat yang hilang tersebut. Namun pemberitaan lebih lanjut sudah berganti dengan “Laut Tiongkok Selatan”.

GUS-DUR

Polemik justru timbul di kalangan sesama etnis Tionghoa di Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, agama, usia dan banyak lagi dengan semua argumentasinya (yang mungkin merasa paling tepat). Ada yang setuju Tionghoa – Tiongkok, ada yang tidak. Ada yang setuju Cina, jelas ada yang menentang. Namun semuanya sepakat bahwa penggunaan “China” adalah dipaksakan.

Kapan penggunaan pertama kali istilah Tionghoa dan Tiongkok? Jika dirunut dan dibahas tidak akan ada habisnya. Menurut pendapat saya, istilah ini adalah bentuk penghormatan dan sopan santun untuk etnis Tionghoa di Indonesia, seperti halnya bahasa Jawa memerhalus Cina menjadi Cinten. Saya pribadi tidak ada masalah sebutan mana pun juga. Namun saya tidak bisa memaksa atau meyakinkan siapapun untuk bersikap sama seperti saya. Sama juga orang lain tidak bisa “ngotot” meminta semua orang harus berubah serta merta dari kebiasaan lebih dari tiga dasawarsa untuk menggantinya ke Tionghoa dan Tiongkok. Apapun istilahnya, semua tergantung dari konotasi dan konteks yang menyertainya. Pada akhirnya, mengutip Gus Dur di atas: “kemajemukan harus bisa diterima tanpa ada perbedaan” (termasuk di kalangan etnis Tionghoa Indonesia sendiri).

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

36 Comments to "Cina, China, Tionghoa – Setelah Terbitnya Keppres 12 Tahun 2014"

  1. Lani  13 April, 2014 at 12:15

    HAND : Dalam Bahasa Jawa krama, Cina menjadi Cinten. Terus apa Bahasa Jawa kramanya Tionghoa? Tionghen?
    +++++++++++++++

    moco komentarmu aku meh njempalik soko kursi……….onok2 wae ah……….jiaaaaaaan! mmgnya perlu dikarang kamus boso jowo?

  2. Jenny  8 April, 2014 at 16:26

    Hi Aji,
    Ban2 kamsia once more for your ‘kuliah’ re. Cina & T’hoa. That sort of feature is always welcome even though thankfully up here – except for the Muslims – we never questioned what our origins are…
    Now finally I’ve my brand new desktop with Windows 8,1 in it so now I can also see the the Chinese characters in your mail. Could you imagine until yesterday I was still using Windows XP’03?!

    I just wonder… except in writing how many in Indo will use the Word T’hoa &T’kok in daily conversation?
    Anyway the big picture is:
    whether the pribumi’s ATTITUTE in general toward T’hoa would change eventually?
    I’m just like you Aji, critoné wis biasa disbt. ‘Cino’ for many years & dipanggil ‘Cie’ e.g. di tempat2 umum di Indo, I would prefer ‘they’ accept us as equal as one of them too…??? That’s how I feel up here!
    The Danes can hear my accent is somewhat ‘different’ but am speaking the language & I treat them properly so they accept me as one of them too…
    Thanks Again, Aji and am looking forward to your next features…
    Best regards
    Jenny

  3. Itsmi  7 April, 2014 at 18:54

    JC, satu korban saja dari diskriminasi itu untuk saya sudah banyak sekaliiiiiiiiiiiiii…

  4. J C  7 April, 2014 at 11:00

    Itsmi: standard diskriminasi memang bukan standard absolut…

    Wesiati: lha yo kuwi…

  5. J C  7 April, 2014 at 10:59

    Itsmi: kalau boleh berhitung dan jujur. Golongan Tionghoa di Indonesia yang jadi korban 1965-1966 dan 1998 dengan yang tidak jadi korban banyak mana? Bukan satu justifikasi atau jawaban yang menyenangkan, tapi pada kenyataannya memang demikian.

    Nonik: bener sekali, untuk generasi yang lahir 70’an saja tidak begitu sensitif dibanding dengan generasi yang lahir sebelumnya. Namun generasi yang lahir 80-90’an, kebanyakan dari mereka tidak mempermasalahkan apapun sebutannya.

    Dewi Aichi: sudah kodrat manusia untuk memperhalus penyebutan. Sama halnya dengan kenapa bukan disebut “Black-American” atau “Niger”? Arti katanya netral, tapi untuk alasan kepantasan sosio-politik dan sosio-kultural, lahirlah istilah “Afro-American”.

    Lani: lhaaa yo kuwi, kepekane Mbah Gand dowo tenan…

    Alvina: setujuuuuu…tidak ada sepertinya yang disebut atau klaim paling asli…

    Kornelya: ini adalah untuk istilah dalam bahasa Indonesia. Kalau “Made in China” ya tetap saja, kecuali dituliskan: “Produk dari Tiongkok” atau “Buatan Tiongkok”

    Hennie: sepertinya bakalan begitu, diubah semua nantinya. Pasti ini proses yang panjang dan bertahap. Tidaklah mungkin yang sudah tiga dasawarsa dalam sekejap berubah…

    Pak Hand: hahaha…wonten-wonten kemawon…

    Oom SLB: di Indonesia banyak yang peduli karena luka sejarah yang panjang…

    Wiwit Arianti: setujuuuu…

    Nonik: saya sangat gembira menyambut Keppres ini…

  6. wesiati  7 April, 2014 at 10:44

    Kenapa sih mesti sibuk dengan istilah? Buat orang kaya aku yang bingungan, jadi belepetan kalo ngomong….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.