Leang-leang

Ariffani

 

Jadi perjalanan ini terjadi saat saya dinas ke Makassar untuk kali ke dua sekitar tahun 2011, dan dengan waktu yang mepet di sela-sela antara tugas dan hasrat untuk melihat belahan lain tanah Indonesia,  maka dengan waktu yg sebentar saya putuskan untuk mengunjungi tempat ini, namanya Taman Prasejarah Leang-Leang, dalam bahasa setempat Leang-Leang artinya Gua.

leang (1)

Leang-Leang berada di daerah Maros, satu arah dengan Air terjun Bantimurung, jadi saat menuju ke Bantimurung  kita akan melewati Gapura Leang-Leang,dan sebetulnya tempat ini belum terlalu di kenal, karena yang lebih terkenal Air terjun Bantimurung. Karena semua teman saya saat dinas ke Makassar pasti akan mengunjunginya, tetapi saat saya singgung tentang tempat ini tidak ada yang tahu.

Dan saya sempat tertipu, saya kira saat melewati gapura tersebut  maka langsung bisa menemukan museum atau Guanya, tetapi ternyata tidak, karena takut nyasar, maka saya bertanya ke penduduk setempat dan ternyata eh ternyata, perjalanannya masih jauh, lebih jauh daripada menuju Bantimurung, dan lagi pete-pete alias angkot jarang lewat, fiuuhhh.. untung ke sana naik motor, tapi semua itu terbayar karena sepanjang perjalanan terhampar bukit dan areal persawahan yang hijau.

leang (2)

Saya merasa terharu dan benar-benar bersuyukur atas ciptaan Tuhan yang begitu indahnya. Ini cuma poto, tetapi aslinya lebih indah lagi.

leang (3)

“matarahari terbit di sela bukit-bukit kapur yang tinggi menjulang”

 

leang (4)

“berhenti sejenak untuk menikmati sawah, maklum orang kota, hehehe,,, “

 

leang (5)

“pose dulu ya di depan rumah yang letaknya ada di tengah sawah dengan batuan cadas besar yang berwarna hitam keabu-abuan”

 

Pokoknya Gilaaaaaaaaa.. keren abissss

Saat itu untuk masuk dikenai biaya  sekitar 15.000 rupiah, beruntung saat itu tempatnya sepi, jadi bebas untuk berekspresi, hehehe…maklum saya termasuk senang untuk melakukan selfie ataupun difoto. Segera saya berjalan  menyusuri jalan menuju  leangnya sesuai dengan petunjuk arah yang sudah ada.

leang (6)

“salah satu leang, yang mana kita harus naik dulu untuk melihat dalamnya, karena leangnya terletak di atas bukit, tepatnya di dalam batu, sayangnya saat itu leangnya sedang tutup karena renovasi”

Kemudian menuju gua yang satu lagi, namanya Leang Pettae dan lagi-lagi saya kecewa karena ternyata tutup untuk renovasi juga, tetapi di luar gua saya masih  sempat menemukan kulit kerang yang tertanam di dinding leang. Menurut papan pengumuman, di dalam goa ini kita bisa meihat lukisan tangan manusia purba

leang (7)

“ini poto saya ambil dari mbah gugel dari sumber yang sempat mengabadikan gambar ini di dalam leang pettae”

Lalu lanjut menyusuri dinding bukitnya, sempat sedih karena jahilnya tangan-tangan pengunjung yang membuat cap tangan sendiri dan coretan-coretan tidak penting. Sungguh tidak menghargai sebuah situs sejarah.

Lanjut ke sisi lain di area ini, maka akan menemukan batuan cadas yang besar dan  tinggi

leang (8)

leang (9)

leang (10)

leang (11)

“mencoba untuk memisahkan dua bebatuan besar, hahahaha… :D”

Sangat sebentar memang mengunjungi tempat ini, saya sendiri kurang puas, apalagi saat saya pulang ternyata masih ada beberapa Leang lagi yang berada di luar area gua gua Pettakere dan Gua Pettae, yah.. mungkin suatu saat saya bisa ke sana lagi untuk mengunjunginya lagi.

 

13 Comments to "Leang-leang"

  1. ariffani  5 April, 2014 at 08:52

    @pak ITSMI : saya tidak tahu ada kekolotan di sana, entah mengapa bapak bisa berpikir seperti itu. memangnya kekolotan itu ada di bagian mana pak???

    @bu ALVINA : sama2 bu , kata teman saya yg di sana di daerah Bantimurung juga banyak di temukan gua, dn ada yang tembus dari satu tempat ke temapt yang lain bila kita melintasinya,

  2. ariffani  5 April, 2014 at 08:15

    @pak JC : jika suatu saat ada rezeki untuk kesana, semoga Pak JC bisa mampir ke sana, amiinnn,,,,

    @Pak DJ : terimakasih juga pak , saya juga sempat ke air terjun Bantimurung, terus berjalan menuju ke goanya, tetapi tidak masuk, soalnya takut ada ular, biarpun bawa senter, hehehehhe,,, dan di dekat gua tsb terdengar suara air terjun yang sepertinya lebih besar lg, terus ada museum kecil yang isinya kupu2 yang sudah di formalin, masuk ke gerbang pasti akan di sambut monyet ini …

  3. ariffani  5 April, 2014 at 08:01

    @bu LANI : yang aselinya lebih cantik lagi bu….

    @bu WIWIT : sama2 bu,, semoga bisa ke sana beneran ya bu Wiwit..

    @bu LINDA : wahh.. kalo menaiki batu kapurnya butuh waktu lebih lama . dan saya setuju untuk harus bernyali

  4. Alvina VB  4 April, 2014 at 10:51

    Ariffani, terima kasih sudah berbagi cerita di sini. Kl kamu ndak cerita ttg goa2 tsb, saya gak yakin itu peninggalan ada/ gak, krn dulu kan blm ada mang google. Saya pernah denger cerita2 spt itu dulunya dari temen org Makasar, banyak org ke gua2 utk cari ilmu, gak tahu ilmu apaan….

  5. Dj. 813  3 April, 2014 at 18:09

    Ariffani….
    Terimakasih sudah diingatkan tentang Mandai dan Maros….
    Kalau di Bandara Mandai ( Lanud Hasanuddin ), itu jaman atau akhir tahun `68
    sampai awan tahun `70 an, adalah daerah kekuasaan Dj.
    Sebagai anak kolong, saat itu kami bebas keluar massuk dan bahkan sore hari bisa
    nongkrong main gitar dibawaah pesawat….
    Tapi bukan Air Port Hasanuddin yang baru, melainkan yang lama.
    Kalau ke air terjum bantimurung, diatass ada leang juga yang cukup besar, masuknya
    harus bawa senter atau petromax.
    Di bantimurung, juga terkenal kupu-puku yang sudah di formalin dan bisa dibeli.
    Kami sekeluarga terakhir ke Bantimurung, tahun 2000.

  6. Itsmi  3 April, 2014 at 15:17

    Makasar dan sekitarnya bagus tapi kolotnya bukan main hahahah

  7. J C  3 April, 2014 at 15:02

    Ariffani, aku belum pernah sekalipun ke Bumi Sulawesi, ini bisa jadi acuan jika suatu hari nanti ke sana. Indonesia Timur memang belum banyak diekspos di media ya…

  8. Linda Cheang  3 April, 2014 at 12:37

    pernah lihat Leang-Leang ini di 100 hari Keliling Indonesia. Memang bagus, apalagoi kalo ada nyali naiki bukit batu kapurnya.

  9. Wiwit Arianti  3 April, 2014 at 11:59

    Betul mbak, aku juga baru tahu ada leang-leang setelah baca artikelmu. Padahal aku pernah tinggal di Makassar hampir 2 tahun dan minggu lalu aku juga ada di Makassar 9 hari tapi gak pernah dengar nama itu. Besuk kalau ke Makassar lagi aku kesana deh. Trims ya mbak untuk sharing-nya…

  10. Lani  3 April, 2014 at 10:46

    Pemandangannya cantik……pentulise juga ayu! Seppppppp……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.