Para Pembawa Kayu Bakar

Joko Prayitno

 

Ketika harga minyak dunia melambung tinggi dan cadangan minyak bumi semakin menipis maka konversi minyak tanah ke gas menjadi opsi sebagai bahan bakar. Tentunya kita melihat banyak sekali kepanikan saat itu, karena minyak tanah langsung lenyap, masyarakat masih gagap dengan penggunaan gas, tabung yang bermasalah bagaikan bom yang siap meledak karena kualitas yang buruk. Toh, kebijakan tetapi dijalankan walaupun masyarakat kadang mengeluh karena harga gas yang terkadang tidak stabil bahkan terkadang hilang dari pasaran membuat harga melambung, begitu susahnya melaksanakan program yang dianggap mudah oleh para pengambil kebijakkan negeri ini.

houtdrager-vermoedelijk-bij-batavia-1895

Penjual Kayu Bakar di Batavia tahun 1895 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Masyarakat lainnya terutama yang tinggal di desa berusaha menggunakan kayu bakar ataupun arang, kembali kepada bahan bakar masa lalu. Tetapi, harga dan kualitasnya pun semakin buruk karena semakin sedikit batang pohon yang bisa dijadikan bahan arang maupun kayu bakar. Hutan sudah semakin mengecil wilayahnya, atau bahkan telah dikuasai oleh para pengusaha maupun negara. Masyarakat yang berada di pinggiran hutan yang mengambil kayu untuk bahan bakar harus ijin bila tidak siap-siap saja dianggap pencuri.

vrouw-met-hout-voor-de-aanmaak-van-vuur-vermoedelijk-op-java-1935

Seorang ibu sedang Membawa Kayu Bakar di Jawa 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Padahal bagi sebagian masyarakat yang tidak menggunakan gas sebagai bahan bakar, kayu bakar adalah yang utama. Dulu masih banyak masyarakat memanggul kayu bakar ke pasar untuk dijual tetapi sekatang sudah jarang bahkan tidak ada lagi. Dulu bisa kita lihat masyarakat menggunakan kayu bakar untuk memasak dalam pesta-pesta adat, kayu bakar didapat dari lingkungan sekitar atau pasar-pasar tradisional di bawa dengan gerobak ke tempat pesta diadakan.

Semua tiba-tiba menghilang, tinggal cerita-cerita yang terkadang sulit untuk dibayangkan…

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2014/03/12/para-pembawa-kayu-bakar/

 

7 Comments to "Para Pembawa Kayu Bakar"

  1. didik  9 April, 2014 at 22:38

    Zaman nabi ada juga pembawa kayu bakar , istrinya abu lahab .

  2. J C  7 April, 2014 at 11:03

    Mas Joko, di sekitar tempat tinggalku masih kadang aku lihat ada yang cari dan mengumpulkan kayu bakar sambil angon kebo…

  3. Dj. 813  5 April, 2014 at 01:43

    Jadi ingat, saat kecil ikutan cari kayu bakar di kampoeng…
    Terimakasih mas Joko P.

  4. Kornelya  5 April, 2014 at 01:42

    Di kampungku di Flores fenomena ini masih ada. Di sini, kami juga memakai kayu bakar untuk perapian. Tetapi kayunya diambil dari pohon tumbang atau mati hutan sendiri, Setiap ada pohon yg timbang , ditempat yg sama kami tanami pohon baru.

  5. Handoko Widagdo  4 April, 2014 at 17:51

    Bukti bahwa laptop sudah betul.

  6. Itsmi  4 April, 2014 at 16:10

    Joko, kalau saya baca atau liat di Tv Belanda masih banyak orang ambil kayu di hutan untuk pakai sendiri..

  7. James  4 April, 2014 at 15:12

    1……..kayu bakar

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.