Perempuan dalam Kepungan Kapitalis

Desi Sommalia

 

Sudah umum kita ketahui bahwa semua yang diciptakan oleh Sang Pencipta memiliki manfaat. Termasuk segala sesuatu yang terdapat dalam diri anak Adam, seperti warna kulit kecoklatan, bening, ataupun putih. Tapi, pernahkah kita melakukan instropeksi sejauh mana kita telah mensyukuri karunia yang telah diberikan oleh Tuhan yang maha kuasa. Ketika Sang Pencipta menganugrahi kepada kita warna kulit yang kecoklatan, mungkin kita termasuk dalam daftar orang-orang yang kerap mengeluh akan hal itu dan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan kulit yang lebih terang. Seperti yang kebanyakan dilakukan oleh kaum perempuan. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian banyak bermunculan produk kecantikan yang menjanjikan kulit putih secara instan setelah memakai produk yang mereka tawarkan. Seperti produk pembersih wajah, pelembab, bedak, lulur mandi, dan sebagainya, dengan garansi kulit menjadi putih berseri setelah enam minggu, tiga minggu, dua mingggu, hingga putih dalam satu kali pakai saja.

bioessence

Begitu gencarnya produk-produk kecantikan mempromosikan produknya dengan berbagai cara, seakan memaksa logika berpikir kita agar tidak bekerja. Produk-produk kecantikan itu seolah begitu mudah meraup untung dari calon pembeli yang didominasi kaum perempuan, hanya dengan modal memasang iklan di media massa yang disertai janji menjadikan kulit lebih terang, lebih putih dalam waktu yang relatif singkat. Agaknya, dalam hal ini kita melupakan sebuah kata sederhana: proses. Padahal dalam hal apa pun untuk menjadi lebih baik selalu membutuhkan proses yang panjang. Mari kita ambil perumpamaan: seekor ulat yang kemudian berubah menjadi kupu-kupu, dimana ia harus melewati terlebih dahulu tahap metamorposis yang tidak mudah. Dengan perumpamaan tersebut, seharusnya otak kita mampu menganalisis apakah begitu mudahnya ‘garansi’ kulit hitam menjadi putih seperti yang dijanjikan dalam sejumlah iklan produk-produk kecantikan yang hanya memerlukan waktu sebentar. Tapi toh, produk kecantikan tersebut tetap laris dipasaran.

Produk kecantikan yang begitu gencar mengobral janji menjadikan kulit putih secara instan seharusnya membuat kita bertanya, ada apa dengan orang-orang yang berkulit putih. Apakah seseorang menjadi demikian istimewa dan terlihat lebih cantik dengan kulit putih yang ia miliki dan membuat mereka yang berkulit hitam menjadi inferior. Bukankah hingga hari ini tidak ada defenisi ilmiah tentang makna cantik itu sendiri. Terlebih lagi banyak yang beranggapan bahwa tolak ukur cantik sangat relatif, bergantung pada sudut pandang seseorang. Dikatakan relatif karena seseorang dianggap cantik oleh orang yang satu belum tentu demikian menurut sebagian yang lain.

Dulu, ketika produk kecantikan belum seramai hari ini, kaum perempuan berlomba-lomba menjadi cantik dengan memakai perkakas alam untuk menghias diri. Pemerah bibir misalnya, diambil dari sirih yang dicampur gambir. Pencerah dan pelembab wajah, juga hasil olahan sendiri, dari tepung beras yang kemudian diolah menjadi ‘bedak sejuk’ dan sebagainya.

Namun, hari ini tampaknya kecantikan telah bias kota. Kaum kapitalislah yang mengkonstruksi kecantikan. Perempuan-perempuan berlomba-lomba mendapatkan kulit putih dengan memakai produk-produk kecantikan yang menjanjikan perubahan lebih cepat, dan tak peduli terhadap dampak negatif yang ditimbulkan kemudian, demi mendapatkan predikat cantik versi kaum kapitalis dengan segala hal yang membungkusnya untuk menarik kegemaran perempuan berbelanja produk kecantikan yang mereka tawarkan.

skin-whitening

Tak bisa dipungkiri, dalam hal jumlah perempuan adalah konsumen yang lebih menjanjikan dibanding laki-laki. Perempuan tidak saja unggul dalam jumlah, tapi juga dalam hal kegemaran berbelanja dan mempercantik diri, yang muaranya cendrung konsumtif. Sehingga bagi kaum kapitalis, tak bisa ditampik bahwa perempuan merupakan pasar yang menggiurkan untuk dimanfaatkan. Terlebih lagi, selama ini, salah satu faktor kalangan perempuan menjadi konsumtif karena kurang kritis dan kurang wawasan ketika akan  mengkonsumsi suatu produk, sehingga tak sedikit perempuan tunduk pada cara pandang yang dipaksakan oleh kaum kapilatis.

Maka, sudah seharusnya perempuan hari ini berpikir lebih kritis agar tidak terjebak dalam perangkap kapitalis.

 

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang.

 

Dipublikasikan di majalah AKLaMASI, edisi 05 Januari 2014.

 

Note Redaksi:

Desi Sommalia, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang memperkenalkan BALTYRA kepada Desi Sommalia…

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

10 Comments to "Perempuan dalam Kepungan Kapitalis"

  1. J C  7 April, 2014 at 11:03

    Dalam hal kepungan kapitalis, rasanya semua perempuan di bumi ini, memang diakui atau tidak adalah satu “mangsa” kepungan produk seperti ini. Yang kulit gelap ingin terang, yang kulit terang ingin gelap. Yang rambut keriting/ikal ingin rambut lurus, yang rambut lurus ingin keriting/ikal. Yang rambut hitam ingin pirang, yang pirang ingin gelap.

    Semua produk tas, sepatu, kosmetik, dsb…apakah bukan semuanya berlandaskan market approach yang sama?

  2. Alvina VB  6 April, 2014 at 05:41

    Saya rasa wanita hrs bisa menerima warna kulitnya apa adanya, cantik gak musti diukur dari warna kulit seseorg. Banyak wanita yg tidak puas dgn keadaan kulitnya yg gelap dan ingin kulitnya terang, yg berkulit terang kepengen kulitnya gelap. Di negara kapitalis sendiri, wanita2nya justru kepengen punya kulit gelap/ tanned. Makanya bisnis utk membuat kulit gelap dgn tanning beds merajalela dan malah bikin kanker kulit. Ini salah satu beritanya: http://www.skincancer.org/healthy-lifestyle/tanning/fda

  3. ariffani  5 April, 2014 at 09:03

    halo mbak DEsii,, salam kenal..

    buat saya tidak ada salahnya untuk bermake up dan berhias diri asal jangan berebihan

    saya pribadi pun tdk pernah mau memakai yg seperti di ikllan2 itu, saya sndiri juga berkulit coklat dn saya bangga akan hal itu, yang bisa saya lakukan adalah menjaga dan merawatnya biarpun coklat bukan berarti harus kotor dn budukan, dr kecil dn sampai segede ini saya selalu memakai produk olahan sendiri, dr jamu dn dr bahan2 yg sudah di sediakan oleh alam .

  4. Lani  5 April, 2014 at 04:45

    MAS DJ : wakakakak………ada aja joke nya, mocone arep njempalik soko kursi………..

  5. Kornelya  5 April, 2014 at 03:16

    Sekarang bukan hanya perempuan yg konsumtif dgn produk perawatan kulit. Waktu di Bali aku ke Spa, ada 3 lelaki yg juga ngantri. Waktu pedicure aku duduk berjejer dgn para para lelaki ini. Membeli perlengkapan make up, selama proporsional dan tidak menjadi korban iklan, menurut saya itu wajar. Bedanya dulukan home made dan paling banter produk dalam negeri . Sekarang pasar terbuka.

  6. Dj. 813  5 April, 2014 at 02:00

    Ada teman pilot yang membawa sampel dari istrinya.
    Karena memang ada ditulis made in Germany.
    Apa itu….???
    Semacam salb pemutih.
    Saat di toko, malaj jadi tertawaan, karena yang jual bilang,
    tidak ada dijual di Jerman, karena itu export product.
    Kami orang Jerman tidak perlu pemutih.. hahahahahahaha….!!!

    Nah, saat TUHAN menciptakan manusia.
    TUHAN mengambil tanah kebanyakan dan saat di ofen,
    terlalu cepat dikeluarkan. Maka jadilah orang Eropa yang besar dan pucat.
    Okay, TUHAN mengambil tanah lagi dan ofennya dilamakan.
    Tapi sedikit kelamaan, olehnya jadi hitam, itulah orang Afrika.
    TUHAN meleihat tanahnya sudah tinggal sedikit, maka berhati-hatilah saat memasukan dalam ofen.
    Ternyata perfect, kecil dan tidak pucat, juga tidak hitam.
    Itulah orang Jawa…. hahahahahahahahaha….!!!

    Salam,

  7. Lani  4 April, 2014 at 23:45

    Selamat datang di Baltyra………..salam kenal.

    Make up boleh, namanya wanita…….itu sdh lazim dan umum, asal jgn kebablasen……….

  8. Handoko Widagdo  4 April, 2014 at 17:53

    DSG selamat bergabung. Semua perempuan di Baltyra tetap cantik meski tidak pakai make up. Cukup dengan senyum dan sapa saja.

  9. Linda Cheang  4 April, 2014 at 13:05

    sudah seharusnya perempuan hari ini berpikir lebih kritis agar tidak terjebak dalam perangkap kapitalis.

    tapi ini tak berarti perempuan sama sekali nggak usah berhias diri, toh???

  10. Itsmi  4 April, 2014 at 12:26

    Perasaan minder dan ingin menjadi putih itu sudah seperti agama hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.