Perjalanan Menuju Puya

Bayu Amde Winata

 

“Silahkan diminum, ini berasal dari tanah ini.“ Obrolan singkat yang menjadi pembuka antara saya dan seorang pemuda kampung. Namanya adalah Pian. Aroma harum dari segelas minuman yang disuguhkan, masuk ke dalam hidung dan mulai mengajak otak untuk segera menikmati. “Tenang saja” ujarnya, “ kalo ko mau tambah, Silahkan. Berliter-liter minuman sudah kami persiapkan untuk tamu.“ Pelan-pelan, segelas minuman yang dikenal dengan sebutan kopi Toraja masuk ke dalam lambung.

Sekarang, saya sedang berada sebuah bangunan yang dinamakan  Lantang. Lantang adalah tempat bagi para tamu dan pihak keluarga untuk menginap selama upacara adat berlangsung. Di manakah saya? Saya sekarang berada di upacara kematian di Tanah Toraja yang dikenal dengan nama Rambu Solo.

PP 1

Rambu Solo adalah upacara kematian bagi masyarakat Toraja. Masyarakat Toraja yang memiliki kepercayaan Aluk Todolo mempercayai bahwa bahwa setelah kematian masih ada sebuah ‘dunia.’ ‘Dunia’ tersebut adalah sebuah tempat keabadian di mana arwah para leluhur berkumpul dan beristirahat. Mereka menyebutnya Puya. Di sini, arwah yang meninggal akan bertranformasi, menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), atau arwah pelindung (Deata). Di dalam kepercayaan mereka transformasi tersebut tergantung dari kesempurnaan prosesi upacara Rambu Solo. Oleh karena itu, Rambu Solo juga merupakan upacara penyempurnaan kematian.

Masyarakat Toraja percaya bahwa sebelum melaksanakan upacara Rambu Solo, jenazah masih berada dalam keadaan ‘sakit.’ Mereka akan memperlakukan jenazah sebagaimana jenazah tersebut masih hidup. Diberi minum, sarapan dan di ganti baju. Selama jenazah tersebut dalam kondisi ‘sakit,” pihak keluarga akan melakukan persiapan untuk upacara kematian. Rapat keluarga, mengumpulkan dana adalah beberapa persiapan untuk upacara. Dan jika dana dirasa cukup serta pihak keluarga sudah sepakat, barulah upacara kematian dilaksanakan. Inilah saat hubungan antara keluarga dengan jenazah dianggap putus. jenazah dianggap mati dan dipersiapkan menuju ke Puya. Upacara Rambu Solo ini memiliki alur. Alur tersebut adalah meliao tando, mapalao, penerimaan tamu, mapasilaga tedong, tigorok tedong, dan ditutup dengan mapaliang.

Saat sedang melihat kesibukan panitia menghitung babi dan kerbau/tedong. Tiba-tiba saja, Pian mengajak saya menuju ke tongkonan tempat dimana jenazah masih di simpan. Dia berkata “tabek, mau ikut saya ke atas kah? Jenazah nenek belum turun. Mereka sedang mempersiapkan upacara sebelum jenazah akan dinaikkan ke Lakian”. Lakian adalah tempat persemayaman terakhir jenazah sebelum dikubur. Biasa dalam bentuk panggung yang besar.  Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan tesebut.  Dengan menggunakan motor, kami langsung menuju  tongkonan. Namun, saya lupa. Toraja adalah daerah dengan topografi berbukit dengan tikungan-tikungan yang sempit, motor yang kami gunakan meraung-raung berusaha menggapai ujung dari bukit yang kami daki. Turun dari motor adalah pilihan terbaik. Raungan motor beralih menjadi hembusan keras napas untuk menggapai puncak bukit. Tongkonan yang akan saya datangi berada di atas bukit.

PP 2

PP 5

Upacara yang akan saya lihat adalah upacara Meliao Tando. Meliao Tando adalah upacara pelepasan jenazah  menuju Lakian. Dalam perjalanan menuju tongkonan, saya disalip oleh rombongan yang menuntun kerbau bule. Kerbau bule dalam bahasa Toraja disebut dengan tedong bonga. Kerbau-kerbau ini sudah didandani. Nantinya kerbau akan turut serta mengikuti upacara Meliao Tando. Kenapa? Pada kepercayaan Toraja, dalam perjalanan menuju Puya, kendaraan yang digunakan adalah kerbau bule/tedong bonga. Kerbau-kerbau ini ikut “pamit” kepada pihak keluarga.

Dengan penuh perjuangan, tibalah saya di tongkonan induk. Saya disambut dengan cengiran Pian, “capek di?“ tanyanya. “Tidak ji,” jawab saya. Ternyata, saya terlambat, pihak keluarga sudah memotong/tigorok  kerbau untuk dimakan bersama. Tanah di tongkonan sudah basah oleh darah kerbau, bau amis darah menyambut kedatangan saya. “Mereka sudah siap untuk mengantarkan nenek ke Lakian” pikir saya.

Saya menuju ke salah satu lantang yang ada, Di sana sudah terlihat peti mati. Di dalam peti mati, jenazah sudah dibaringkan. Peti mati sedang dihias dengan warna khas dari upacara kematian, yaitu warna merah, dan warna emas. Saat peti mati sedang dihias, pihak keluarga masih diperbolehkan menangisi kepergian jenazah. Namun, setelah upacara meliao tando  dilaksanakan, pihak keluarga dilarang menangisi jenazah.

PP 4

PP 6

PP 7

PP 8

Dengan menggunakan truk, mereka menuju lakian. Sedangkan saya, bersama Pian menggunakan motor mengejar truk. Namun,  kami berpisah di persimpangan. Karena Pian akan menyambut peti di lakian. Sedangkan saya, menunggu truk yang membawa peti. Dua puluh menit menunggu, mereka pun tiba. Dan mereka pun mempersiapkan perjalanan ke lakian.

Tandu diturunkan dari truk, kain merah sepanjang 800 meter mulai mereka persiapkan. Kain merah ini nanti akan berfungsi sebagai kain yang akan menarik tandu.  Ada sebuah ritual yang unik saat pengarakan peti mati ini. Saat mereka akan menarik tandu, tandu ini akan digoyang-goyangkan. Ada pihak yang menarik dan ada pihak yang menahan. Alasan di balik hal ini adalah di dalam kepercayaan mereka, pada saat perjalanan menuju lakian, pihak keluarga harus senang, agar perjalanan jenazah menuju Puya menjadi mudah.

Karena jenazah yang meninggal adalah laki-laki. Maka letak dari peti mati adalah di belakang. Sedangkan jika perempuan, maka posisi peti mati akan sebaliknya. Saat mereka sibuk tarik-menarik, saya langsung bergerak menuju bagian depan rombongan. Kembali saya berjalan melewati bukit yang terjal. Napas yang mulai sesak dan betis yang mulai berteriak menemani saya. Saya menunggu kedatangan tandu.

PP 9

PP 10

PP 11

PP 12

Tidak lama kemudian, arak-arakan ini tiba di Lantang. Namun, upacara belum selesai. Kembali tandu yang berisi peti mati di bawa mengelilingi Lantang. Setelah selesai mengelilingi, peti mati akan diturunkan dan dibawa menuju Lakian dan disemayamkan. Kembali saya bertemu dengan Pian. Tugasnya di Lakian sudah selesai. Kembali, segelas kopi Toraja masuk ke dalam lambung. Saatnya istirahat sebentar untuk mempersiapkan tenaga. Karena meliao tando adalah pembukaan dari rentetan upacara Rambu Solo.

 

Notes:

  1. Untuk melihat upacara kematian ini, kita bisa berkunjung bulan Juni dan bulan Desember. Pada bulan ini lah upacara ini ramai dilaksanakan.
  2. Jangan takut untuk menginap di Lantang. Biasanya, jika kita sopan, mereka akan memberikan izin.
  3. Saat menyaksikan upacara ini, persiapkan uang tunai yang banyak, karena biasanya kampung tempat upacara ini berlangsung, jauh dari pusat kota. Sehingga, susah untuk mengambil uang tunai.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Perjalanan Menuju Puya"

  1. bayu winata  10 April, 2014 at 13:55

    mba Lani: hehehehe iya mba, kalo ga kuat ga usah aja

    mba Alvina: daging2 tersebut dibagikan ke masyarakat yang berada disekitar wilayah tongkonan mba..

    mba Seroja dan Mas JC: nikmat..

  2. J C  7 April, 2014 at 11:04

    Kerbau-kerbau yang malang…

    Ikut nyeruput kopi Toraja saja…

  3. seroja  7 April, 2014 at 09:21

    menarik sekali, hemm..membayangkan nikmatnya kopi Toraja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.