8 Hari Mencari Jati Diri (2): Malaysia Truly Asia

Herluinus Mafranenda Dwi Nugrahananto

 

Artikel sebelumnya:

8 Hari Mencari Jati Diri: The Trip Start from Jogjakarta (Part 1)

 

Pukul 07.00 saya sudah terbangun. Dinginnya kamar hotel dan rasa lapar mampu mengalahkan rasa ngantuk saya. Kamar tadi malam memang dingin sekali. Kakak saya yang sekamar dengan saya saja mengaku tidak bisa tidur dengan tenang. Akhirnya kami bersegera mandi dan bersiap diri untuk check out dari hotel karena Mr. Muralli akan menjemput kami pukul 09.00 dan menghantarkan kami keluar dari Singapura untuk menuju ke Melaka (Malacca). Kami mandi seperlunya dan barang kami kemas seperlunya juga karena kami tidak naik pesawat hari ini, hanya menggunakan jalur darat. Tas kami masing-masing sudah bertambah berat rupanya. Karena oleh-oleh yang banyak dan hampir berlebihan. Maklumlah, semalam belanja di Lucky Plaza membuat masing-masing dari kami kegirangan dan beli oleh-oleh terlalu banyak -_____-

Kami memperoleh sarapan dari hotel. Pelayannya bapak-bapak yang sudah tua, dan nampaknya cukup fasih berbahasa Indonesia. Menu sarapan kami adalah mie atau telur lengkap dengan daging. Saya memilih mie karena lebih kenyang. Mienya pun tidak seenak Mie Jawa Mudal atau Mie masakan Cak Tompel dekat kos-kosan. Hambar, tawar, nggak ada kaldunya. Ditambah merica dan garam pun rasanya tambah eneg. Tapi, daripada kelaparan di jalan, akhirnya mie saya lahap semuanya saja.

Pukul 09.15 kami selesai makan. Dan tepat ketika kami turun di loby, Mr. Muralli sudah menjemput. Kami langsung bergegas naik ke Toyota Hi-Ace yang sejak kemarin kami gunakan. Perjalanan keluar dari Singapura ke Imigrasi ternyata cukup jauh juga. Memakan waktu lebih dari 1 jam. Jalan-jalan di Singapura besar-besar, dan pasti menaati peraturan. Meskipun ada jalanan menurun, menanjak, tapi tetap ada batasan speednya.

Sekitar pukul 11 kami tiba di perbatasan. Seperti di Bandara Changi, kami dicek paspornya dan kertas kecil yang kami bawa dari Changi diminta dan diambil di sini. Bedanya, petugas di sini tidak terlalu cantik sih, kalau dibandingin sama Mbak Nurul Jannah di Changi. Tapi ya tetap sip (gini dong petugas imigrasi tu yang cantik-cantik, ramah-ramah. Nggak kaya petugas Imigrasinya Jogja yang sok-sokan judes sok-sokan oke sok-sokan paling bener sendiri). Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan memasuki Malaysia. Melewati jembatan yang menghubungkan Malaysia dan Singapura sepanjang lebih dari 1 km. Kanan kiri jalan dibatasi dengan pagar yang katanya ada listrik tegangan tingginya. Saya sih kurang yakin karena belum pernah coba. Mungkin ada yang merelakan diri berhenti sebentar terus pegang pagarnya, barangkali beneran ya anggep aja bonus cerita :D katanya sih, tujuannya biar tidak ada imigran gelap yang menyeberang seenaknya tanpa ada pengawasan dari imigrasi Malaysia.

Tak beberapa lama kemudian, kami tiba di Imigrasi Malaysia. Tempatnya kecil, dan agak jelek. Lebih jelek kalau dibandingkan dengan imigrasi Singapura tadi. Di sinilah service terakhir dari Mr. Muralli, dan kami harus pamit dengan Mr. Muralli. Kami memberikan tips kepada Mr. Muralli untuk seharian penuh kemarin. Kami memasuki loket imigrasi. Tidak ada antrian, petugasnya yang cewek-cewek juga ramah-ramah. Di Imigrasi Malaysia ini, diadakan pengecekan barang. Otomatis tas carrier saya ini saya lepas dari bahu saya, berikut tas kamera dan jaket saya. Setelah lolos pemeriksaan, segera saya bawa semua barang saya.

Berhubung tidak ada meja, saya taruh tas saya di sebuah meja sembarang. Tidak tahunya, ada tulisannya ‘bagian pelaporan’ tapi dalam bahasa Malaysia dan Inggris yang sudah pasti saya blong dan tidak paham artinya. Tiba-tiba ada petugas yang wajahnya mirip Jarjit di film Upin-Ipin yang berkata-kata dalam bahasa Malaysia yang intinya meminta tas saya diperiksa. Saya mengiyakan saja, dan tas saya diperiksa. Ya, cuma tas saya yang diperiksa. Sementara tas orang yang lainnya tidak diperiksa. Setelah beres, saya keluar ruangan dan dibilangi kakak saya bahwa saya meletakkan tas di tempat yang salah. Makanya tas saya diperiksa -____-

Kali ini kami menggunakan jasa driver yang baru. Driver kami kali ini bernama Mr. . Prakash. Kedua driver kami adalah orang India yang sangar-sangar perawakannya. Mr. Muralli berkumis, hitam, tinggi, dan besar. Mirip inspektur Vijay gitu lah. Sementara Mr. Prakash ini tinggi, besar, botak, kulit coklat tua, gigi kurang rapi, dan bertato di lengan dan bagian leher. Hmm, driver di Malaysia ini lebih preman daripada yang di Singapura. Tapi, kedua-duanya ini sangat baik dan servisnya sangat memuaskan. Hampir semua daerah mereka tahu.

Setelah berkenalan, kami melanjutkan perjalanan menuju Melaka dengan menggunakan van keluaran Cina. Mobil-mobil branded hampir langka di Malaysia. Kabarnya karena pajaknya teramat sangat jauh lebih mahal daripada mobil keluaran Cina atau keluaran Malaysia sendiri (Proton dan Prodo) ya meskipun Proton dan Prodo ini bentuk-bentuknya ada yang mirip-mirip dengan mobil-mobil branded dari Jepang atau Eropa. Ada Prodo Myvia yang bentuknya mirip Daihatsu Sirion. Ada juga Proton Exora yang bentuknya hampir mirip dengan Toyota Wish. Ada juga produk Proton yang bentuk depannya mirip Mitsubishi Lancer GT tapi belakangnya mirip BMW 323i. Perjalanan kami dari Imigrasi ke Melaka ini memakan waktu yang cukup lama, melewati tolnya Malaysia yang biasa disebut Lebuh Raya (kadang disebut Lebuh Raya Utara-Selatan). Dari gerbang ke Melaka berjarak sekitar 200 km dan dapat ditempuh selama 2 jam. Wih, hebat ya. Di Indonesia, 200 km (setara Jogja-Purwokerto) ditempuh dalam waktu 3-5 jam.

Perjalanan selama 2 jam lebih sedikit ini cukup membosankan karena lewat tol. Kanan kiri hanya pohon sawit, kadang-kadang ketemu truk-truk besar dan bis-bis antar negara yang bagus-bagus. Kami sempat mampir ke semacam rest area tapi nggak ada pom bensinnya. Kami harus ke Tandas (toilet). Istirahat 15 menit ini, saya memanfaatkan waktu untuk membeli Yeos Chrisantemum karena sejak masuk Lebuh Raya tadi selalu ada iklan Yeos. Ternyata, harganya nggak jauh beda dengan di Indonesia, hanya MYR 1,8 saja (sekitar Rp 6000). Harga Yeos di Indonesia pun juga sekitar Rp 6000 (di Indomaret dan Alfamart). Setelah puas, kami berangkat lagi menuju ke Melaka.

8hari-jatidiri01

Satu-satunya tulisan di Malaysia yang sampai hari ini saya nggak paham artinya apa -____-

Sekitar pukul 13 kami sudah tiba di Melaka. Kotanya kecil, tapi banyak sekali kendaraan lalulalang. Tidak seperti di Singapura yang cukup jarang kendaraan lalu lalang. Kami bergegas menuju ke kota tua. Ada 3 spot yang akan kami kunjungi: Christ Church yang merupakan gereja tua di Melaka, Fort A Famosa, dan bekas makam Fransiskus Xaverius yang merupakan tokoh penyebar ajaran Katolik pertama di Indonesia dan sekitarnya.

8hari-jatidiri02

Christ Church dan Monumental Melaka

 

Spot pertama dimulai dari Christ Church. Gereja ini, kabarnya dibangun pada sekitar tahun 1700 dan telah mengalami perbaikan-perbaikan setelah sebelumnya ditetapkan sebagai cagar budaya. Kabarnya sih, di Melaka ini ada banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan jaman dulu. Hanya memang karena tidak tercover dengan baik, beberapa telah berhasil dirubuhkan sebelum mendapatkan cap sebagai benda cagar budaya. Ya sedikit mirip lah dengan di Indonesia. Bangunan kuno, demi kepentingan bisnis, dirobohkan, lalu berganti pusat perbelanjaan atau rumah pribadi. Semacam kurang menghargai sejarah…

8hari-jatidiri03

Atap Christ Church, dibangun 1753

 

8hari-jatidiri04

Suasana di dalam Christ Church

 

Di depan Christ Church ini, berdiri dengan megah menara jam Tan Beng Swee (atau entahlah apa itu namanya). Cukup unik karena merupakan menara jam tua. Dulu, di depan Stasiun Tugu, ada bangunan semacam ini juga. Bentuknya tower dan ada jam tuanya. Dulu menyatu dengan kompleks pertokoan Kedawung. Tapi entah sekarang nasibnya bagaimana. Sudah jarang melihat karena ditutupi seng sejak beberapa tahun yang lalu.

8hari-jatidiri05

Becak Hias dan Tanda Dilarang Masuk

 

8hari-jatidiri06

Salah satu sudut Kota Tua Melaka

 

Sedikit berjalan lagi ke arah Jalan Kota, kita memasuki kompleks kota tua. Bangunan yang ada memang tua-tua dan masih nampak kokoh. Jalan terbuat dari conblock dan hanya kendaraan khusus seperti becak yang boleh lewat. Sewanya sekitar MYR 40 untuk 1 jam. Sangat unik karena becaknya dihias bermacam-macam. Ada yang dihias bunga-bunga, ada yang membawa soundsytem dan menyalakan lagu keras-keras, ada juga yang memakai pernak-pernik unik. Kanan kiri jalan ini ada museum. Salah satunya adalah museum filateli Melaka. Tulisannya sih Museum Setem Melaka. Jadi ya awalnya kupikir itu museum gitar gitu karena ada setem setemnya -_____-

8hari-jatidiri07

Santiago Bastion

 

8hari-jatidiri08

8hari-jatidiri09

Fort A Famosa

 

Di kanan jalan juga ada kereta kuno yang difungsikan sebagai toko suvenir. Berjalan lurus lagi, akan sampai pada Fort A’ Famosa. Sebuah benteng peninggalan Portugis (kalau tidak salah) yang masih tersisa lengkap dengan meriamnya. Di depan Fort A Famosa ini ada bangunan mirip jembatan di kolam yang dinamakan sebagai Santiago Bastion. Kabarnya, kawasan Santiago Bastion ini dulunya merupakan tepi pantai Melaka. Itu artinya pengangkatan daratan atau reklamasi sudah berjalan sedemikian luasnya hingga pantai sekarang berada cukup jauh dari Santiago Bastion ini. Santiago Bastion sendiri baru ditemukan pada sekitar tahun 2002 secara tidak sengaja.

DSC_0833

Makam St Fransiskus Xaverius dari Fort A Famosa

 

8hari-jatidiri10

Kapal melayang diatas pemukiman penduduk. View dari atas Fort A Famosa

 

Lurus lagi setelah Fort A Famosa, ada museum lagi. Namun sepertinya kurang menarik. Menjelajahi Fort A Famosa dan St Paul’s Church lebih menarik. Fort A Famosa sendiri hanya sebuah bangunan kecil mirip pintu gerbang sebuah benteng. Di dalamnya, kadang ada pengamen yang memainkan lagu-lagu Latin. Di belakang Fort A Famosa terdapat tangga naik untuk menuju ke bekas makam Fransiskus Xaverius. Dulu, St Fransiskus Xaverius pernah dimakamkan di tempat ini sebelum kemudian dipindahkan.

Makamnya berada di puncak bukit yang menjadi satu dengan kompleks St Paul’s Church. Di sana terdapat juga bekas makam beberapa kaum pejabat Portugis. St Paul’s Church sendiri awalnya merupakan gereja Katolik di Melaka yang kabarnya merupakan gereja pertama. Kemudian, gereja ini sempat beralih fungsi menjadi gereja Kristen, gudang senjata, kemudian beralih kembali jadi gereja Katolik, dan terakhir sampai saat ini menjadi tempat wisata. Di depan gereja ini berdiri megah patung Fransiskus Xaverius. Sekedar info, Fransiskus Xaverius ini adalah tokoh yang cukup terkenal karena membawa ajaran Katolik ke Indonesia melalui Nusa Tenggara Timur dan daerah Sulawesi bagian utara (Manado dan sekitarnya).

8hari-jatidiri11

8hari-jatidiri12

Suasana Bagian Dalam Gereja St Paul

 

8hari-jatidiri13

Bekas Makam Fransiskus Xaverius. Heran, nggak di Indonesia nggak di Melaka, bekas makam/makam selalu dijadikan ajang ‘keberuntungan’ lempar koin. Kalau ngelempar koin atau mata uang tertentu nanti bisa beruntung. Primitif sekali..

 

8hari-jatidiri14

Beberapa petilasan di sekitar Makam Fransiskus Xaverius

 

Dari depan dan samping St Paul’s Church inilah kita bisa melihat pemandangan yang lebih luas: kota Melaka yang padat penduduk dan laut lepas yang kadang disinggahi kapal-kapal pesiar besar.

8hari-jatidiri15

St Paul’s Church beserta Bekas Makam Fransiskus Xaverius

 

Setelah puas berada di atas, kami turun lagi ke Fort A Famosa menjemput pakdhe dan budhe yang tidak ikut naik karena tangga yang menanjak tinggi. Kami berjalan bersama-sama untuk makan siang di Rumah Makan Nyonya Suan, di depan McD Melaka.

Di perjalanan, tidak sengaja menemukan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Halalan Thayiban. Rupanya laris juga produk Indonesia di Malaysia ini :D Selain itu, waktu turun dari makam Fransiskus, sempat denger ada pedagang dengerin lagu dari Indonesia: D’masiv. Katanya kakak sih, lagu Indonesia di sini ngehits dan disukai orang-orang Malaysia.

8hari-jatidiri16

Ayam Bakar Wong Solo di Melaka

 

Kami makan siang di Rumah Makan Nyonya Suan, sebuah rumah makan yang tidak boleh dilepaskan dari legenda Baba Nyonya (ada museumnya sih, sayang gak berkunjung ke sana). Baba Nyonya merupakan sebuah cerita pertemuan budaya dari laut dan dari darat. Makanya, makan siang kali ini adalah menu campuran yang merupakan sarilaut dan sari darat: sejenis ikan patin (tapi katanya bukan ikan patin) yang dimasak asam, udang masak aneh, sayur kangkung, telor dadar, dan beberapa menu lainnya yang saya sendiri sudah lupa. Masing-masing makanan punya citarasa sendiri yang unik. Jadi, kalau dicampur jadi satu di mulut, rasanya kemranyas :D

8hari-jatidiri17

Rumah Makan Nyonya Suan a’la Baba Nyonya Melaka

 

Jelang pukul 15 kami sudah selesai makan. Kami bergegas melanjutkan perjalanan karena perjalanan kami masih sangat jauh: 200 km menuju ke Kualalumpur. Kami kembali memasuki Jalan Lebuh Raya Utara-Selatan. Dan akhirnya saya memilih untuk tidur hingga memasuki Kualalumpur.

Sekitar pukul 17.30 kami sudah memasuki kompleks Bukit Bintang. Sangat ramai sore itu, dan polisi (dalam bahasa Malaysia disebut ‘Pulis’) bertebaran di mana-mana. Rupanya baru saja ada peristiwa penjambretan. Dan kabarnya, kurang dari 15 menit setelah peristiwa penjambretan, pelaku sudah diamankan. Beda banget yah :D

Kami langsung merapat ke Hotel Radius Internasional dan melakukan check in. Karena waktu yang mepet, kami segera bersih-bersih diri untuk kemudian berangkat makan malam. Meskipun langit belum gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 dan kami segera dijemput oleh Mr. Prakash.

Malam ini, kami makan di sebuah Rumah Makan yang menjual Chinese Food, dan menu kami dapat disebut Nasi Kandar. Sejenis Nasi dengan makanan berbumbu kari gitu lah. Menunya lagi-lagi juga tidak mewah tapi cukup menggoyang lidah: kari ikan, oseng tofu, telur dadar jamur, dan beberapa masakan lainnya yang saya juga sudah lupa (lagi).

Setelah selesai makan, kami kembali ke hotel dengan melewati jalanan yang sebelasduabelas dengan Jakarta: macet, padat, klakson bertebaran di mana-mana, saling serobot meskipun nggak separah di Indonesia. Tapi jalanan di Bukit Bintang malam itu berbeda banget dengan di Singapura yang serba tertib.

Sesampainya di hotel, kami memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit meskipun kami sudah lelah sekali. Yaaa sekedar tahu seperti apa Bukit Bintang. Di kanan kiri memang bertebaran panti pijat refleksi, mulai dari yang plus-plus sampai yang bener-bener ‘nggenah’ ada semua. Tempat Pengurupan Wang Berlesen (Certified Money Changer) juga ada dimana-mana. Harus pinter-pinter milih money changer karena meski cuma beda kios walaupun bersebelahan, beda juga harga uangnya. Ada juga sepanjang jalan yang isinya Chinese food dan mongolian barbeque. Burger king, durian, dan lain sebagainya tumpah ruah di Bukit Bintang ini. Turis dari negara manapun ada: Indonesia, Afrika, India, Cina daratan, Jepang, Eropa, Amerika, Amerika Latin ada semua dan tumpah ruah di jalan ini.

Ada sesuatu yang khas: perajin kawat yang membuat kawat menjadi bentuk nama sesuai yang kita inginkan. Harganya kalau tidak salah MYR 12. Kita bisa membuat tulisan dari kawat dengan panjang maksimal 10 huruf. Waktunya pun tidak sampai 5 menit, dan ini khas (katanya) hanya ada di Bukit Bintang. Di Pojokan jalan pun juga ada sentra souvenir dengan harga yang sangat murah. Barang-barang aspal dengan kualitas mirip asli pun juga tersedia dengan harga sangat miring.

8hari-jatidiri18

Suasana Sentra Seafood, Chinese food, Mongolian food, dan BBQ Bukit Bintang

 

Setelah Pakdhe dan Budhe merasa kelelahan, kami kembali ke hotel karena memang tidak ada yang menarik lagi. Namun, saya, kakak saya, dan dua kakak sepupu saya memutuskan untuk keluar lagi dan hunting makanan India yang terkenal punya makanan dengan aroma khas rempah yang sangat kuat. Kami berempat keluar mumpung waktu masih menunjukkan pukul 21.00, waktu yang sangat sore di Bukit Bintang yang aktivitasnya 24 jam ini.

8hari-jatidiri19

Jalanan di sekitar Bukit Bintang malam itu

 

Kami menemukan sebuah warung India yang jadi satu dengan counter HP dan penjual Kebab yang berwajah timur tengah (di sepanjang jalan Bukit Bintang banyak penjual kebab yang memajang lengkap dagingnya beserta alat pengasap). Kami memesan 4 gelas teh tarik (yang katanya merupakan minuman khas Malaysia), 2 roti cane kari, dan 2 martabak domba. Ketika pesanan datang, masing-masing dari kami langsung mencicipi.

Teh tariknya rasanya benar-benar teh tarik: teh dengan aroma teh yang sangat kental ditambah dengan susu sapi dan vanili dengan sedikit busa di atas gelas, dan rasanya sueger. Tidak seperti yang dijual di toko-toko di Indonesia yang hanya teh celup ditambahi susu kental manis. Roti canenya pun khas: tidak pakai susu tapi pakai kari kambing. Kuah karinya muantab. Lebih kental dan lebih mantab daripada kuah gule Jawa timuran. Sekali coba, langsung bikin kepala pusing saking kentalnya rempah-rempah. Martabaknya pun tidak kalah huibat. Lebih huibat daripada martabak Lebaksiu Tegal atau martabak Suroboyo. Rempahnya benar-benar huhah, mantab, dan terasa. Harganya? Kami cukup membayar sekitar MYR 30 untuk 4 orang (meskipun kami sudah tambah 4 gelas teh tarik lagi).

8hari-jatidiri20

Teh tarik dan Roti Cane yang disajikan lengkap dengan kari domba

 

Meskipun kami belum puas karena masih ingin coba Nasi Beriyani dan Nasi Kandar, tapi waktu menyuruh kami untuk pulang. Sudah pukul 23.55, sementara esok harinya kami dijemput pukul 08.30. Sebelum masuk hotel, saya membeli sekaleng bir untuk relaksasi badan dan agar lebih enak tidurnya. MYR 9 untuk sekaleng Heineken (di CircleK Indonesia sekitar Rp 19.000). Hari ini saya akhiri dengan minum bir dan berendam air panas di hotel. Juaraaaa…… *padahal baru saja makan makanan berbau lemak-lemak, ntar jangan-jangan paginya masuk ICU gara-gara hipertensi…

 

About Herluinus Mafranenda

Kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 2010-2014. Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi sekarang - 2015. Anda sakit gigi? Ada gigi berlubang? Gigi sakit tiba-tiba nggak sakit lagi? Gigi goyang? Mau dibuatkan gigi tiruan? Ada sariawan, gusi bengkak-bengkak mudah berdarah, atau gangguan kesehatan mulut lainnya? Tenang saja, hubungi saya di 081802760016 atau mention di Twitter @herluinusTND khusus daerah Surabaya, Jatim dan sekitarnya. Kualitas terjamin, harga bersaing, perawatan di RSGMP FKG Unair Surabaya. Karena kesehatan Anda yang utama...

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "8 Hari Mencari Jati Diri (2): Malaysia Truly Asia"

  1. Dewi Aichi  14 April, 2014 at 19:59

    Herlu…keren abis deh ulasan perjalanannya, tulisan panjang tapi tidak membosankan dengan gaya bahasanya, karena disampaikan seperti bercerita dengan pembaca…..foto-foto sangat mewakili apa yang kau tuliskan….tapi baru bagian ke-dua nih, perjalanan masih panjang, stop beli oleh-oleh, ntar keberatan bagasi haha….

  2. Linda Cheang  11 April, 2014 at 17:23

    Penulis rupanya nggak kunjungi Jonker Walk semasa di Melaka.

  3. J C  11 April, 2014 at 06:29

    Wah, jadi tambah kepingin ke Malaka. Beberapa kali hampir ke sana, tapi selalu saja tidak jadi

  4. elnino  11 April, 2014 at 06:12

    Mantap cerita jakan2nya…. Teh tarik n roti canenya bikin ngiler…

  5. Dj. 813  10 April, 2014 at 21:56

    Herluinus Mafranenda Dwi Nugrahananto….
    Terimakasish untuk cerita Tour yang menyenangkan, walau pasti
    juga melelahkan….
    Ditunggu cerita berikutnya.
    Salam,

  6. Lani  10 April, 2014 at 14:37

    Walau SG dan MS bertetangga akan tetapi perbedaannya sgt nyata

  7. Lani  10 April, 2014 at 13:49

    AL : ditempatku no problem……….mungkin kowe kurang menyan/sajen-nya kkk

  8. Alvina VB  10 April, 2014 at 10:50

    Di sini gak bisa baca artikel ini, yg tertulis di layar: Error establishing a database connection…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *