Hello Kitty dan Gambaran New York

Toha Adog

 

Saya belum pernah ke New York. Tapi saya kira, saya telah mendapatkan gambaran yang lebih dari cukup tentang New York, walau sebenarnya tak ada kata cukup tentang sebuah penggambaran. Tak hanya tentang sisi New York yang wajar, saya juga mendapatkan gambaran tentang New York dari sisi yang paling imajinatif, surealis, tidak wajar dan kadang mengada-ada. Dan saya kira, memang, tak ada kota lain yang begitu sering digambarkan, melalui film, gambar, tulisan ataupun fotografi, sesering dan serumit kota New York. Gambaran itu datang secara terpecah-pecah seperti mosaik dan lantas tersusun untuk saling melengkapi di dalam kepala saya.

Gambaran terakhir tentang New York saya dapatkan dari sebuah foto esai karya Joana Toro. Gambaran ini bersifat realis. Berwarna, dan walau sering belatar di pusat keramaian, justru terasa sepi. Foto esai berjudul “I am Hello Kitty” tersebut memaparkan New York yang penuh satir dan ironi. Jadi, sebenarnya, gambaran itu tidaklah terlalu baru (ada banyak film, komik, tulisan, dan karya foto bernada serupa sebelumnya).

new-york01

Photo by Joana Toro.(lens.blogs.nytimes.com)

 

new-york02

Photo by Joana Toro.(lens.blogs.nytimes.com)

 

new-york03

Photo by Joana Toro.(lens.blogs.nytimes.com)

Pada awalnya, Joana Toro, seorang fotografer perempuan Kolombia, datang ke New York untuk belajar bahasa Inggris. Dan dari seorang kawan sekamarnya, yang pernah membuat sebuah boneka Presiden Obama untuk performancenya, dirinya lalu berkenalan dengan “tokoh-tokoh” terkenal kelas dunia, semacam Mickey dan Mini Mouse, Hello Kitty, Elmo, Liberty, Dora the Explorer, Sponge Bob, dan juga Woody (Toy Story).

Dari sinilah, setelah melalui berbagai proses, ia lalu mendapatkan gagasan fotografinya. Tapi bukan tokoh-tokoh tersebut yang lantas menjadi subyek utama fotografinya, melainkan orang di dalam tokoh-tokoh itu. Di dalam? Ya tokoh-tokoh itu sebenarnya hanyalah kostum-kostum untuk kepentingan promosi, yang sering beredar di jalanan dan keramaian New York, di mana kostum itu harus dimasuki dan dikenakan oleh manusia sungguhan agar benar-benar menjadi hidup.

Dan para manusia sungguhan yang bekerja untuk menghidupkan tokoh-tokoh itu seringkali adalah para imigran yang memang membutuhkan uang, seperti dirinya. Maka janganlah heran apabila sosok di dalam Woody ternyata adalah seorang lelaki bekas tentara dari Peru. Dan juga jangan heran ketika ada Mickey Mouse yang ternyata tidak berbahasa Inggris. Atau, yang paling menusuk, adalah ketika sosok Liberty (simbol kebebasan Amerika) justru akhirnya harus berurusan dengan polisi setempat karena masalah dokumen. Sungguh penuh ironi dan paradoks, demikian kata Joana Toro sendiri.

Joana Toro tak hanya menjadi pengamat luar. Pada akhirnya, demi berbagai alasan, termasuk uang tentu saja, ia pun menjajal pekerjaan “menjadi tokoh” tersebut. Ia berkeliling menyusuri keramaian, semisal di Times Square, dengan tubuh barunya yang jauh lebih terkenal dari dirinya yang anonim di kota sebesar New York. Setelah mencoba berbagai karakter, ia pun akhirnya merasa nyaman dengan Kitty. Menurutnya, dan ini adalah bagian yang saya suka dalam pengakuannya, karakter Hello Kitty cukup disenangi oleh anak-anak perempuan dan mereka memperlakukannya dengan manis, semisal tidak memukul punggungnya dari belakang seperti yang pernah ia dapatkan ketika menjadi Mickey Mouse. (Ada apa dengan Mickey?)

Saya rasa tulisan David Gonzales tentang proyek “I am Hello Kitty” di web lens.blogs.nytimes.com (di samping foto-foto Joana Toro yang memang demikian kuat), membantu menghadirkan New York dalam gambaran yang menyentuh, walau seperti yang saya bilang, tema tentang kehidupan imigran dan berikut ironinya bukanlah sebuah tema baru.

Foto esai Joana Toro telah ikut menghadirkan gambaran tentang kota New York kepada saya. Gambaran ini akan bernegoisasi dengan gambaran-gambaran lain yang beragam, yang telah saya miliki terlebih dulu, yang mengendap di kepala saya, semisal gambaran tentang kota New York yang meledak melulu seperti yang digambarkan di banyak film laga. Atau New York yang pendendam dan tanpa hukum (komik the Punisher). Atau New York yang gemerlap dan genit (semisal dalam film Sex and the City). Atau juga New York yang romantis (film When Harry Met Sally). New York yang sedang tumbuh dan sesak (novel grafis Contract With God), New York yang lenyap melarut dalam absurditas diri seseorang (Synecdoche New York). New York yang kikuk (Annie Hall). Atau juga New York yang hancur dan porak poranda setelah dihajar Monster kadal (film Godzilla versi Amerika).

Saya kira, berbagai gambaran tersebut akan saling bernegosiasi secara rumit dan terus-menerus di dalam kepala saya. Sebuah negosiasi dengan hasil dan proses yang berbeda untuk tiap-tiap orang.

 

toha adog, maret 2014

 

5 Comments to "Hello Kitty dan Gambaran New York"

  1. HennieTriana Oberst  11 April, 2014 at 08:15

    Suka sekali dengan tulisan ini.
    Gambaran kehidupan kota besar yang menjadi impian para pendatang untuk menggapai impian mereka.

  2. J C  11 April, 2014 at 06:28

    Hahaha…ungkapan di sini sepertinya betul. Seakan-akan kita semua sudah lengkap dan paham sekali gambaran tentang kota New York… dari film-film Hollywood…

  3. Dj. 813  10 April, 2014 at 22:00

    Bung Toha Adog….
    Terimakasih untuk tulisannya.
    Akan lebih membantu, bila anda berkomunikasi dengan mbak Kornelya yang langsung tinggal di New York.
    Mungkin akan lebih lengkap.
    Salam,

  4. Lani  10 April, 2014 at 13:51

    AL : entah mengapa mmg kdg begitu error…..error…..mungkin lurahnya kehabisan kemenyan hahaha………

  5. Alvina VB  10 April, 2014 at 10:46

    Baru bisa on line..tadi tulisannya error.Komen besok bro!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.