Rasisme, White Supremacy dan Broken Hearted

Nonik (Louisa Veronica Hartono)

 

Tulisan ini diinspirasi oleh tulisan Mbak Dessi Sommalia yang berjudul “Perempuan dalam Kepungan Kapitalis” (http://baltyra.com/2014/04/04/perempuan-dalam-kepungan-kapitalis/). Tulisan itu membahas bagaimana perempuan modern saat ini terkepung dalam cengkeraman kaum kapitalis dalam bentuk iklan produk-produk kecantikan. Di bagian akhir, artikel tersebut menghimbau agar para wanita hendaknya berpikir dan bersikap kritis sebagai konsumen agar tidak kebablasan alias menjadi konsumtif dalam membeli suatu produk. Saya setuju dengan tulisan tersebut. Dalam tulisan ini, saya tertarik untuk mengemukakan pandangan dan opini saya mengenai hal yang berkaitan dengan artikel itu.

white-supremacy

Kalau kita cermati, yang menonjol dari tulisan Mbak Dessi adalah adanya dominasi warna putih. Putih menempati posisi teratas dalam hampir setiap produk kecantikan. Menjadi putih bisa dikatakan menjadi dambaan setiap wanita, entah diakui terang-terangan atau tidak (kecuali mereka yang sudah benar-benar ‘melek’, mencintai dirinya sendiri, dan sudah kebal dengan iklan-iklan pemutih). Mbak Dessi sudah membahas bagaimana mayoritas iklan kosmetik menjanjikan konsumennya untuk menjadi putih secara instan dalam waktu yang relatif singkat (emang warna kulit bisa diubah secepat itu ya?). Nah, yang hendak saya cermati di sini adalah bagaimana nuansa putih ini terkait dengan white supremacy dan rasisme.

Saya dibesarkan dalam nuansa rasisme yang meninggikan white supremacy. Sebagai keturunan Chinese (saya masih terbiasa pake kata ini nih….), sejak kecil saya diajarkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bahwa saya ini berbeda dari mereka yang non-Chinese. Sejak kecil, saya telah terpapar dengan frasa, “kita ini Tenglang (sebutan dalam bahasa Hokkien untuk orang Chinese), mereka Hwana (sebutan untuk orang pribumi)”. Perbedaan ini terlihat mencolok dalam status ekonomi. Saya melihat (dan diajarkan) bahwa orang Tenglang itu secara ekonomi lebih maju, lebih mapan, dan lebih enak hidupnya daripada Hwana, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu begitu. Ada banyak orang pribumi yang sukses, membangun rumah tangga yang harmonis, sedangkan orang Tenglang juga tidak sedikit yang melarat dan hidup malas-malasan, keluarga juga banyak yang berantakan.

Saat saya SMP dan SMA, saya memilih untuk masuk sekolah negeri. Sikap ini termasuk jarang di kalangan teman-teman Tenglang saya yang notabene memilih sekolah swasta dan Katolik, yang banyak orang Tenglangnya juga. Sedangkan sekolah negeri itu identik dengan “akeh Hwana-ne” alias banyak orang pribuminya. Tapi saya tidak peduli. Saya malah merasa bangga karena saya berani mengambil sikap yang melawan arus. Saya memilih sekolah negeri, karena di kota saya, kualitas SMP dan SMA negeri itu jauh lebih bagus daripada yang sekolah swasta.

Buat saya, adalah hal yang bodoh bila orang mengikuti arus mainstream masuk ke sekolah swasta hanya karena alasan “banyak Tenglang-é”. Saya gak merasa takut, meskipun kadang-kadang dicinak-cinakké juga oleh beberapa guru. Namun saya masa bodoh dengan perlakuan itu. Dari semua teman saya yang Tenglang, hanya dua orang (saya dan teman saya) yang masuk ke SMP negeri, ditambah dua orang lainnya yang masuk ke SMA negeri. Jadi, di seluruh angkatan dimana kira-kira ada 450 murid, murid yang Tenglang itu cuma ada empat orang hehehehe. Dan nyatanya saya juga bisa berteman baik dengan teman-teman yang non-Chinese. Saya tidak merasa didiskriminasikan oleh mereka, dan saya juga berprestasi di sekolah. Dan, sikap ini didukung oleh papa saya. Jadi, walaupun saya “diajarkan” bahwa kita ini berbeda, saya melihat dari teladan papa saya sendiri yang tidak pernah membeda-bedakan Tenglang dan Hwana dalam bergaul.

Sayangnya, stereotip bahwa Tenglang itu lebih mapan secara ekonomi daripada orang pribumi sudah tertanam di benak saya, walaupun saya tahu kenyataannya tidak seperti itu. Lebih lanjut, stereotip ini terbawa ke urusan percintaan :p. Saat tinggal di kampung halaman, saya sering dinasihati (?) dan dengar orang bilang, “Kalau mau menikah harus dengan yang sejenis (alias dengan sesama Tenglang). Nek iso, jangan sampe mbek Hwana (kalau bisa, jangan dengan orang pribumi)”. Pandangan ini tentu terpengaruh dari pandangan sebelumnya bahwa orang Hwana itu malas dan lebih tidak beruntung secara ekonomi, pandangan yang sekarang saya tentang dan itu nggak beneeer.

Selain dari segi ekonomi, saya rasa stereotip bahwa Tenglang lebih tinggi derajatnya daripada Hwana itu juga didasari atas warna kulit. Orang Chinese lebih terang warna kulitnya, lebih bersih, lebih “putih”. Dan lagi-lagi, yang lebih putih itu dianggap lebih superior dibanding yang berkulit gelap.

Dari buku-buku yang saya baca, saya mengetahui bahwa diskriminasi atas dasar etnisitas dan warna kulit ini sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Belanda membuat berbagai aturan, hukum, dan kelas-kelas dengan pembedaan hak dan kewajiban bagi orang-orang di Hindia Belanda (Bertrand, 2004: 59). Kelas satu adalah ras kulit putih atau orang Eropa, kelas dua adalah orang Chinese, dan ketiga orang pribumi. Nah, stereotip berdasarkan warna kulit ini secara tidak langsung menanamkan konsep white supremacy di benak masyarakat. Dalam hal warna kulit, orang yang berkulit putih itu somehow dianggap lebih tinggi, lebih pinter, lebih sukses, dan pasti kaya. Padahal sejak tinggal di Eropa, saya tahu bahwa nggak semua orang bule (alias orang kulit putih) itu kaya. Banyak yang miskin malah. Yang jelek juga banyak hahahaaha…

Tapi saya ga akan bahas soal ekonomi saat ini. Yang ingin saya ulas itu hubungan warna kulit seseorang dengan urusan cinta hehehehe. So, balik ke poin saya sebelumnya, stereotip untuk menikah hanya dengan yang Tenglang itu tidak berhenti sampai di situ. Beberapa keluarga Chinese yang saya tahu di kota saya, termasuk mama saya sendiri, menganggap bahwa kalau menikah dengan orang bule-yang-berkulit-putih itu sebagai suatu prestasi, karena anak-anaknya bakal cakep-cakep ;D. Kalau seseorang bisa entuk wong bule, apalagi kalau anak cewek yang dapat orang bule, waaah, rasanya harkat dan martabat keluarga itu terangkat tinggiiii sekali. Orang tua rasanya sungguh bangga punya mantu bule. (Tentu tidak semua keluarga seperti itu. Masih ada juga kok yang kolot, dimana anak harus menikah dengan orang seetnis untuk menjaga kemurnian ras :p). Dan mindset ini terbawa juga oleh diri saya. Jujur-jujuran, dalam memilih pasangan hidup, preferensi pertama saya adalah dengan ras kaukasian, kemudian dengan ras mongoloid, dan terakhir orang kulit hitam.

no-racismDi Swiss, saya sempat berhubungan dekat dengan dua orang bule. Asal negara ga penting, asal dia kulitnya putih, buat orang Indonesia berarti si doi sama dengan bule :p. Ga sampe pacaran, tapi benih-benih suka telah bertumbuh dalam diri saya (ya ampun serasa kisah sinetron aja -___-‘). Apes sekali karena hubungan ini tidak berlanjut berhubung si doi berubah pikiran….

Entah karena apa, saya ga tau dan rasanya ga ada manfaatnya kalau saya tahu deh. Saat sudah ga berhubungan lagi, saya butuh waktu yang lumayan lama untuk melupakan dia. Setiap kali teringat hal-hal baik yang dia lakukan, saya jadi galau dan nangis-nangis sendiri :’(  Belum pernah saya merasa sebegini suka terhadap orang. Tapi rasa suka saya ini lebih disebabkan karena doi tahu banyak tentang Indonesia, bahkan bisa bahasa Indonesia dengan lancar. Kan keren gitu, kalau saya bisa sama bule yang juga kenal dengan negara saya. Perbedaan budaya bisa dijembatani dan secara bahasa juga ga ada masalah. Apa daya, itu tidak terjadi, dan saya patah hati karenanya.

Nah, saya juga pernah ditembak orang dari Afrika, tapi saya tolak, karena saya ga ada rasa sama dia. Tapi ya buka-bukaan aja, rasa ketidaksukaan saya dengan dia itu banyak dipengaruhi oleh faktor ras. Tahu sendirilah, pandangan masyarakat kita terhadap orang (maaf) negro itu seperti apa. Bahkan di pelajaran sejarah sepanjang saya sekolah, saya masih ingat betul bahwa Benua Afrika itu diidentikkan dengan Benua Hitam.

Dan kata ‘hitam’ itu entah kenapa kok diasosiasikan dengan keterbelakangan, kemiskinan, kemunduran. Coba, kalau kita denger kata Afrika, apa yang keluar di benak kita? Pasti ga jauh-jauh dari kelaparan, perang saudara, kemiskinan, padang gurung yang kering kerontang. Well…. Partly true sih…. Karena banyak negara Afrika yang dikategorikan sebagai least developed countries atau low income countries :(  Banyak program-program PBB yang bertempat di Afrika, entah itu development program atau humanitarian program. Maklum saya belajar hal-hal yang begituan, dan sering sekali Afrika itu digambarkan sebagai benua miskin yang harus ditolong dan mendapat bantuan dari para donor. Padahal tidak semuanya seperti itu. Ada negara Afrika yang maju (walaupun of course gak seperti Eropa atau Amerika), seperti Ghana, Botswana, Afrika Selatan, dan Namibia.

Tapi ya…. Secara ga langsung, gambaran Afrika yang seperti itu juga mempengaruhi sudut pandang saya terhadap orang-orangnya juga! Dalam hal ini, hitam diasosiasikan dengan kata jelek. Which is, again, not true. Karena saya juga punya banyak teman dari Afrika yang cantik dan ganteng.

Ah, kok jadi melantur ke mana-mana. Kembali ke point saya. Jadi, waktu saya ditembak teman Afrika saya itu, saya menolak karena rasisme saya masih kuat. Itu terjadi lebih dari setahun yang lalu. Ketika itu saya merasa harga diri saya rendah sekali. Ada perasaan bersalah. Waktu itu saya bingung sekali, apa sebenarnya alasan saya menolak?? Apakah karena warna kulit, atau memang karena tidak ada rasa? Saya sempat rada jijik dengan diri sendiri, masak saya menolak orang hanya gara-gara warna kulit!!! Enggak banget….

Tapi setelah itu saya legaaa karena ada kejadian dimana saya naksir sama orang Afrika dan Afro-Amerika. Dua kali. Saya seneng, karena itu berarti saya ga rasis. Or setidaknya, saya bisa kok kesengsem sama yang hitam manis hehehe. Horeeee :D. Sempet terpikir buat minta jadian (alamaaaak, tepok jidat) dengan teman yang nembak saya dulu itu, tapi setelah saya pikir-pikir, saya urungkan niat, karena saya masih ga ada rasa sama dia. Dan saya “lega” lagi, karena ternyata alasan saya untuk tidak menjalin hubungan dengan dia lebih karena tidak ada rasa saja, bukan karena alasan rasis. Kami masih berteman hingga sekarang, dan tetap ngobrol kalau ketemu.

Nah, ada kejadian dimana ada kawan saya yang menikah dengan orang bule, yang berambut pirang dan bermata biru :D. Tentu pernikahan ini disambut gembira oleh keluarganya. Nah, suatu saat teman saya ini iseng-iseng tanya sama keluarganya, “Kalau si X (suaminya) itu berkulit hitam, kalian mau terima gak?” Dan mereka itu bilang enggak loh :O   Entah mereka bilang enggak secara langsung atau hanya tersirat, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, kalau suaminya itu orang kulit hitam, mereka tidak akan menerima layaknya jika dia berkulit putih.

So…. Point saya apa ya?? Well, pengalaman dan latar belakang saya, bagaimana saya dididik, mengajarkan bahwa rasisme itu nggak baik. Seperti yang Mbak Dessi bilang, yang putih tidak selalu baik, tidak selalu cantik. Dari “pengalaman” saya di atas, justru teman saya yang Afrika itu memperlakukan saya dengan lebih baik dan lebih menghormati saya daripada yang bule. Saya masih merasa kagum sekaligus heran kalau melihat orang kulit putih yang berpacaran atau menikah dengan orang kulit hitam. Bagi mereka itu wajar dan hal yang biasa, tapi bagi saya yang dibesarkan di mana orang yang berkulit terang mempunyai posisi lebih tinggi daripada orang berkulit hitam, itu masih sesuatu yang baru. Saya tahu itu wajar, tapi saya belum benar-benar bisa memahami atau mak pleeeeng masuk di dalamnya.

Padahal, orang kulit putih sendiri tidak menganggap ada masalah untuk menikah atau berpacaran dengan mereka yang berbeda etnis dan warna kulit. Saya sering melihat orang bule yang menikah dengan orang Asia: Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, bahkan Asia Tengah. Bos tempat saya magang dulu, istrinya berasal dari Tibet. Saya juga banyak melihat orang bule yang menikah dengan orang Afrika, walaupun tidak sesering seperti pasangan Bule-Asia. Orang Indonesia di Swiss yang menikah dengan bule juga banyak loh! Tapi, hingga saat ini saya belum pernah ketemu dengan orang Indonesia yang menikah dengan orang Afrika.

Jadi…. Apakah masyarakat kita masih dipenuhi dengan stereotip mengenai ras dan warna kulit dalam bergaul, terutama soal urusan cinta? Saya ga tahu. Dan saya rasa tergantung dengan pribadi masing-masih sih. Tapi saya rasa, cara dan lingkungan tempat seseorang dibesarkan itu berperan besar dalam membentuk pola pikirnya saat dia bergaul dengan orang-orang lain yang berbeda fisik darinya. Institusi dan agen pendidikan, alias sekolah dan guru, juga berperan besar dalam mendidik murid-muridnya soal hal ini. Dan saya beserta sedulur Sasayu, menganggap bahwa orang Indonesia masih kental dipengaruhi oleh white supremacy, walaupun tentu nggak semua orang begitu. Dikaitkan dengan tulisannya Mbak Dessi, rakyat kita masih gampang dipengaruhi oleh iklan kosmetik yang ingin memutihkan kulit. Padahal orang bule sendiri banyak yang kepingin mencoklatkan diri dengan berjemur terus-terusan di bawah sinar matahari, kadang sampe wudo mblejet karena kulit coklat itu dipandang eksotis hehehe…

racism

Saya pribadi termasuk orang yang bisa bergaul dengan siapapun tanpa melihat asal-usul dan warna kulit, tapi stereotip yang terlanjur tertanam di benak saya tentang Tenglang, Hwana, dan bule itu mau ga mau mempengaruhi saya juga soal pilih-pilih pasangan. Seiring berjalannya waktu, stereotip itu memang perlahan-lahan pudar ketika saya semakin membuka diri dalam bergaul dan terbuka dengan orang dari berbagai negara. Pengalaman mengajarkan saya bahwa ada mau orang kulit putih kek, kuning, coklat, sawo matang, merah, itu semua disambungkan oleh satu hal: cinta. Semuanya memiliki kemampuan untuk mencintai tanpa memandang asal-usul dan warna kulit.

Hmmm…. Kompleks memang. Ruwet ya? C’est la vie.

Komentar dan tanggapan dari pembaca sekalian dipersilakan :)  Syukur-syukur ada yang bisa berbagi cerita atau pengalaman. Seperti biasa, saya yakin komentar dari para Baltyrans sekalian akan sangat memperluas wawasan saya.

 

Peluk hangat dari Swiss,

Nonik

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "Rasisme, White Supremacy dan Broken Hearted"

  1. Alvina VB  14 April, 2014 at 09:34

    Nonik, baru sempet baca artikel ini hari ini, sorry ketinggalan sepur. Kl bagi saya pribadi, warna kulit atau ras bukanlah halangan, yg penting pribadi orgnya: pendidikannya, kel.nya kaya apa, kl sejalan, sama visi dan tujuan hidupnya ya klop aja. Mengikuti jejak org tua serta Oma dan Opa dua belah pihak yg kawin campur (Oma saya dari papi org Belanda yg lahir di Sumatra dan menikah dgn org Chinese dari Sumatra juga, mereka kl gak salah dijodohkan spy gak perang dagang di sana, he..he… sedangkan Oma saya dari mami org Betawi asli dan Opa saya org Mongolia, generasi pertama yg lahir di Betawi). Jadi, ya saya ngikutin model2 saya dunk, he..he… ya kawin campur lagi biarin ruame tenan kaya United Nations gitu, he..he…Ttp kl pengalaman saya pribadi waktu muda duluuuu, sorry gak mau stereotype loh ya…jangan ada yg tersinggung di sini loh… mungkin generasi saat ini sudah lain lagi, gak kolot spt jadul. Generasi saya dulu kl dpt cowok Ind (baik yg asli/ yg keturunan apalagi) minta ampyun kolotnya, mereka bilang dgn PDnya: kl kamu jadi istri saya, nanti tinggal di rumah ngurus anak, semua keperluan kamu saya cukupi, wuih…. ini mau tersanjung/ tersinggung? emangnya sapi apa suruh beranak pinak dan dikasih makan, diem aja, ya emoh lah ya….saya lebih suka milih pasangan yg memperbolehkan saya bebas merdeka (ttp tanggung jawab loh ya… utk beraktivitas di dlm dan luar rumah, gak spt burung dlm sangkar emas, no way… bisa stress berat kl gitu. Ttp selalu ada exception/ pengecualian ya…ada loh cowok bule yg ingin istrinya di rumah aja dan ngurusin anak, spt kenalan saya org Asia sampe depress gitu, ya istri kaya property suaminya, semua keperluan dipenuhi ttp istri musti tunduk dgn maunya suami. Ttp ada lagi cowok yg males kerja, contohnya gak usah jauh2 salah satu tetangga saya di sini dari middle east yg demen liat istrinya kerja, dia yg diem di rumah ngurusin anak-anaknya sejak masih kecil sampe udah remaja saat ini. Anak2 deket sama bpknya dibanding sama ibunya kl saya perhatikan. Jadi ras gak bisa jadi tolak ukur saya rasa jaman sekarang ini, semua tergantung dari pendidikan dari rumah/ dari org tuanya dulu gimana.

  2. phie  14 April, 2014 at 00:31

    Nonik hahaha…ya begitulah pengalaman hidup di negara lain lbh ada kesempatan mengenal berbagai mcm ras. Dr dulu msh single smp beranak nih msh aja suka diajak kenalan ama org2 item african-american, mrk demen yg ginuk2 sih hehe! Iya memang soal cinta itu jg selera, kya yg ci Lani dan Nia bilang. Jg krn pengalaman dulu di tanah air kan aku bukan yg tinggi langsing berambut panjang, ga ada yg ngelirik lah. Maap sombong ya…di sini smp kewalahan byk yg naksir hehehe! Nikmati masa2 ini…tdk akan terulang lg. Oya, aku lari ke sini jg krn papaku ga mo dpt mantu hwana…ga realistis emang beliau, kya anaknya putih aja jd menarik cowo2 tenglang! Pdhl cowo tenglang yg dulu dtg ngapel di kos model2 duduk kaki diangkat dan pake sandal jepit ya emoohhh! Wis dpt bule sisan biar ga ada protes haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.