Para Tukang Cukur Rambut

Joko Prayitno

 

Rambut memang anugrah tersendiri yang dimiliki manusia. Ia bisa merubah penampilan seseorang, bisa membuat sebuah ekspresi politik sebagai bentuk perlawanan terhadap status quo. Rambut juga menjadi sebuah simbol kesehatan yang dimanfaatkan oleh beberapa produk kecantikan untuk menjual barang mereka. Dalam banyak artian dapat dikatakan bahwa rambut memiliki makna budaya dengan berbagai macam ragamnya. Maka aktivitas mencukur rambut bukan semata-mata rutinitas untuk memendekan rambut, tetapi memiliki makna lebih dari itu.

tukang-cukur-madura-1911

Tukang Cukur Madura di Surabaya Tahun 1911 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Rambut juga merupakan cerminan ekspresi kepercayaan terhadap kekuatan ghaib. Maka proses ruwatan untuk mencukur rambut tersebut harus dilakukan seperti yang dilakukan oleh masyarakat di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Bagi anak-anak Dieng yang berambut gimbal maka mereka harus diruwat menurut tradisi Jawa untuk menghindari musibah dalam kehidupan mereka. Rambut gimbal mereka harus dicukur dalam prosesi upacara yang telah dipersiapkan lengkap dengan berbagai sesaji persembahan dan rambut yang telah dicukur dilarung di sungai atau telaga. Maka dengan begitu mereka akan terhindar dari malapetaka dalam mengarungi kehidupan mereka.

Di sisi lain pada masa pergerakan nasional, ketika nasionalisme China melanda Hindia Belanda pada tahun 1900-an banyak masyarakat China di Hindia Belanda mencukur rambut mereka yang panjang menjadi pendek untuk menunjukkan ekspresi modernitas dan kemerdekaan mereka terhadap kekuasaan feodal. Gerakan mencukur rambut menjadi simbol kesetaraan mereka terhadap bangsa-bangsa lain di dunia dan kesetaraan mereka terhadap bangsa-bangsa Eropa di Hindia Belanda. Memang rambut pendek pada masa kolonial Belanda merupakan cerminan modernitas dan kemerdekaan seseorang. Banyak kaum bangsawan Jawa yang berambut mencukur pendek rambut mereka, juga tokoh-tokoh pergerakan dengan rambut pendek bergaya Eropa.

kapper-in-de-openlucht-op-java-1936

Tukang cukur di Jawa 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Maka tidak mengherankan bila pada masa kini ekspresi seseorang dapat dituangkan dalam bentuk mencukur rambut, seperti dalam kasus-kasus politik, kemenangan seorang walikota, bupati, gubernur dan presiden dalam pemilihan umum dirayakan oleh sebagian pendukungnya dengan mencukur rambut mereka. Untuk menunjukkan kefanatikan terhadap kepercayaan, idola bahkan aliansi politik maka rambut dapat menjadi penanda yang terlihat di dalam masyarakat.

Rambut juga konsumen bagi produk-produk kesehatan dan kecantikan modern. Mulai dari minyak rambut, penumbuh rambut, cat rambut, dan produk lainnya membuat masyarakat modern banyak bergantung kepada tukang cukur, dan penata rambut profesional. Mereka-lah yang mampu membentuk bagaimana seseorang terlihat melalui bentuk rambutnya. Mencukur bukan sekedar memotong rambut, ia adalah bentuk kepercayaan, ekspresi politik, budaya dan gaya.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2014/03/13/para-tukang-cukur-rambut/

 

15 Comments to "Para Tukang Cukur Rambut"

  1. Tukang Translate  13 April, 2014 at 18:13

    Kalau persepsi Rambut Panjang gimana yah?
    Rasanya kalau persepsi rambut pendek, masih masuk di “rasa” saya, soalnya saya juga berambut pendek

  2. Lani  13 April, 2014 at 11:53

    DA : Lani hahahaha…tapi nostalgia ya…dulu kayaknya gimana gitu, nuansanya lain banget…seperti nyaman banget kehidupan di kampung, orangnya tidak neko-neko…melihat orang wara wiri, berjalan kaki tanpa alas..dan tulisan mas Joko ini memang bisa membawa kita ke masa lalu, sekita tahun 70-an gitu…yang kini sudah sangat jauh berbeda…
    +++++++++++++

    Ora ming nostalgia, tp NOSTALGILA……kkkkkk…….bener katamu zaman telah berubah, tp berubah mengarah yg tdk semuanya baik, bener lbh modern dan sebangsanya…….tp utk ketenangan, kedamaian, spt katamu ora neko2…….itu yg kita rindukan……bukannya tdk ada tp semakin menghilang gitu
    ++++++++++++++++

    Oya soal AT sama anakku itu iyaaaa..kita dalam satu taksi, anakku suka gaya rambutnya AT…maka sampai sekarang selalu bergaya seperti AT….haha…
    +++++++++++++

    Jd AT jd panutan anakmu? Gaya rambutnya, dan gaya yg lainnya? Moga2 yg dicontoh sing apik2 wae hehehe……
    Dikau kemana aja, kok ora pernah skype? Tp aku jg rodo sibuk iki, la kerja 6 hr ora mandeg je……tp seneng kerjaannya cm dagelan, ngobrol karo turis…..sambil mengarahkan mrk utk membeli.

  3. Dewi Aichi  13 April, 2014 at 02:17

    Lani hahahaha…tapi nostalgia ya…dulu kayaknya gimana gitu, nuansanya lain banget…seperti nyaman banget kehidupan di kampung, orangnya tidak neko-neko…melihat orang wara wiri, berjalan kaki tanpa alas..dan tulisan mas Joko ini memang bisa membawa kita ke masa lalu, sekita tahun 70-an gitu…yang kini sudah sangat jauh berbeda…

    Oya soal AT sama anakku itu iyaaaa..kita dalam satu taksi, anakku suka gaya rambutnya AT…maka sampai sekarang selalu bergaya seperti AT….haha…

  4. Lani  13 April, 2014 at 00:21

    KI LURAH : Lenyap????? Kemanakah mereka? gulung tikar? Kalah karo salon?

  5. J C  12 April, 2014 at 12:50

    Aku sempat ngalami tukang cukur model begini waktu kecil sampai sekitar SMP. Setelah itu tukang cukur model begini satu per satu lenyap…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.