Tiga Besar: PDIP – Golkar – Gerindra, What’s Next?

Josh Chen – Global Citizen

 

Pemilu Legislatif

Hasil sementara dari berbagai institusi/lembaga quick count sudah mulai nampak peta kekuatan hasil pemilu legislatif. Yang digadang-gadang untuk mendongkrak perolehan suara PDIP – Jokowi Effect – ternyata tidak terlalu ‘sensasional’ perolehan suara PDIP, yang ‘hanya’ sekitar 19% dengan harapan Megawati dan segenap petinggi partai, perolehan ini akan terus naik.

Golkar seperti diprediksi sejak awal, mesin politik Orde Baru ini selayaknya mesin diesel, semakin lama berjalan, semakin enak dikendarai. Faktor kemapanan mesin politik masif terbukti siapapun ketua umumya, tetap saja menangguk perolehan suara yang tidak bisa dipandang enteng.

Prabowo yang mengklaim ‘Prabowo Effect’ terbukti nyata perolehan suara Gerindra menyodok luar biasa untuk partai pendatang baru. Lepas dari sisi kontroversial sosok Prabowo, namun strateginya cukup manjur merebut hati pemilih.

Yang terbukti nyata ndlosor perolehan suaranya adalah Demokrat dan PKS. Yang satu partai yang naik daun kemudian tiba-tiba menghunjam jatuh karena sepak terjang dan tingkah polah para kader dan petingginya, yang berlomba-lomba antre korupsi (lihat artikel lama: Sandyakalaning Demokrat). Dan satu lagi partai yang nyungsep karena terlalu sibuk mengurusi selangkangan belaka. Menterinya sibuk memblokir situs-situs yang bisa menggoyang selangkangan para kader, anggota dan simpatisan partai, sementara presiden partainya sibuk koleksi pustun pemuas selangkangannya.

hasil-quick-count-pemilu-2014

Justru yang lumayan adalah PKB, yang diam-diam cukup mengagetkan lawan-lawan politiknya. Perolehan suara PKB sekitar 9% mengimbangi perolehan suara Demokrat yang notabene dianggap partai ‘mapan’. Tidak ketinggalan, Rhoma Irama mengklaim itu adalah karena ‘Rhoma Irama Effect’.

Dua partai terbukti hanya jadi penggembira dan keluar sebagai pemenang partai gurem. PKP yang digawangi Sutiyoso dan PBB dengan sukses menjadi partai gurem di Pemilu 2014 ini. Partai Nasdem (Nasional Demokrat) terbilang lumayan karena mengungguli Hanura yang di atas kertas hitung-hitungannya seharusnya lebih unggul dari Nasdem. Hanura bukan pemain baru, terlebih didukung dengan ‘ATM’ Harry Tanoesoedibjo dengan jaringan media nasionalnya, justru menghasilkan anomali luar biasa, perolehan suara yang nyaris menuju partai gurem. Hipotesanya bahwa masyarakat justru muak dengan gelontoran iklan masif WIN-HT di mana-mana.

 

Pilpres

Hitung-hitungan SBY dengan Konvensi Partai Demokrat yang tujuannya untuk menyaring para calon presiden yang sedianya akan diajukan oleh Demokrat sepertinya adalah strategi ‘wait and see’ alias ‘buying time’ melihat hasil pemilu legislatif lebih dulu. Sejak dimulainya Konvensi Demokrat sampai dengan hari ini, tidak ada deklarasi atau pengumuman resmi siapa yang diajukan Demokrat sebagai calon presiden.

Ternyata dengan hasil pemilu legislatif seperti ini, Demokrat sangat tidak layak mengajukan calon presiden. Bahkan untuk mengajukan calon wakil presiden pun belum cukup memiliki modal perolehan suara legislatif – tertinggal jauh dengan lawan-lawan politiknya.

Pasangan WIN-HT yang sudah sejak kapan-kapan dengan mantap dan percaya diri deklarasi pasangan capres dan cawapres harus puas ‘dibangunkan’ dari mimpi di siang bolongnya. Fulus ratusan miliar dari Sang ATM pemilik group media yang cukup besar di Indonesia harus direlakan terbang sia-sia.

Strategi koalisi sepertinya tidak bisa dihindari oleh PDIP untuk memuluskan jalan Jokowi menuju Istana. Jokowi Effect mungkin tidak begitu efektif di pemilu legislatif, namun untuk pilpres – déjà vu 2004 SBY Effect, bisa terjadi lagi, itupun harus dengan kalkulasi politis yang sangat matang siapa pasangan cawapresnya. Harapannya adalah dengan koalisi PDIP nantinya dengan partai manapun, tidak akan menghasilkan politik transaksi dan negosiasi sehingga menyebabkan Jokowi (jika menang) terbelenggu seperti SBY di Periode 2 kepresidenannya.

Yang paling ideal adalah jika tiga besar PDIP – Golkar – Gerindra berkoalisi. Koalisi ini akan dicatat dalam sejarah demokrasi Indonesia sebagai koalisi terkuat, mencakup sekaligus koalisi politis di parlemen dan koalisi kerakyatan, karena rakyat akan dengan senang hati memilih capres-cawapres yang diusung nantinya. Sementara partai-partai lain akan memiliki dua pilihan, merapat semua sehingga menjadi koalisi raksasa, atau di luar ketiga besar bergabung semua dan menjadi oposisi. Pertanyaannya apakah mungkin? Sepertinya tidak mungkin!

 

Skenario 1

PDIP dan Golkar. Koalisi ini paling logis dan paling mungkin. Golkar di masa pasca Orde Baru adalah partai bunglon yang dengan fleksibel menempel ke pemenang. Walaupun di pemilu legislatif 2004 dan 2009 perolehan suaranya signifikan, tapi dari dalam partai sendiri tidak ada satu pun tokoh yang bisa bersaing dengan SBY ketika itu. Pilihan satu-satunya adalah merapat ke partai penguasa, berkoalisi dan menikmati kursi empuk parlemen dan beberapa posisi menteri.

Pasangan Jokowi-JK jelas akan jadi penentu kemenangan mutlak karena massa Golkar masih jauh lebih menghormati Jusuf Kalla dibanding ketua umumnya That Lapindo Devil. Sekali lagi Golkar akan tetap mendapatkan peran dalam parlemen dan menteri. Dalam Golkar sendiri sudah terpecah-pecah dukungan untuk That Lapindo Devil tidak bulat.

Hampir tidak mungkin seandainya That Lapindo Devil bersedia menurunkan dirinya sebagai cawapres Jokowi. Kemungkinan besar Megawati dan para petinggi PDIP tidak akan setuju That Lapindo Devil berpasangan dengan Jokowi karena akan jadi blunder besar bulan-bulanan kampanye capres-cawapres lain dan jadi santapan media. Kecuali memang strategi ‘double bunglon’ dijalankan. Satu sisi That Lapindo Devil tetap maju sebagai capres – entah dengan siapa cawapresnya, dan di sisi lain, Jusuf Kalla maju sebagai cawapres Jokowi, sehingga nantinya That Lapindo Devil kalah pun, Golkar tetap ‘punya muka’ untuk merapat sebagai koalisi pemenang pilpres.

 

Skenario 2

PDIP dan Gerindra. Koalisi ini rasanya mustahil mengingat gengsi Prabowo yang begitu tinggi. Tidak akan mau Prabowo menjadi cawapres mendampingi Jokowi. Namun seandainya saja Prabowo bersedia ‘merendahkan diri’ atau menurunkan gengsinya dan merapat ke PDIP serta mengajukan diri menjadi cawapres Jokowi, duet Jokowi-Prabowo akan menyapu mayoritas suara pemilih. Menurut survey dan analisa, banyak suara Demokrat yang beralih ke PDIP dan Gerindra. Pendeknya, ‘tinggal bungkus’ paket duet Jokowi-Prabowo, parlemen dan Istana akan seiring sejalan kompak saling mendukung. Pertanyaannya apakah mungkin?

 

Skenario 3

PDIP + Demokrat dan partai-partai lain (PKB, PAN, Nasdem, dsb). Jika koalisi ini terjadi, akan menjadi satu tonggak sejarah dalam politik Indonesia karena rekonsiliasi Megawati dan SBY. Hubungan ‘dingin’ Megawati dan SBY sudah menjadi pengetahuan umum. Sepertinya lebih dari pihak Megawati yang masih merasa ‘hard feeling’ dalam dua kali Pemilu 2004 dan 2009 kalah. Satu hal positif adalah SBY dengan spontan mengucapkan selamat atas kemenangan perolehan suara PDIP walaupun masih sangat dini berdasarkan quick count. Memang sejarah selama ini mencatat hasil quick count tidak akan beda jauh dengan hasil resmi dari KPU. Dengan koalisi ini ada dua kemungkinan pasangan capres dan cawapres. Jokowi-Dahlan Iskan atau Jokowi-Pramono Edhie Wibowo. Dua nama tersebut dikenal sudah mengikuti Konvensi Demokrat untuk menyaring calon presiden. Dengan perolehan suara yang nyungsep seperti sekarang, Demokrat harus melupakan cita-cita mengajukan calon presiden.

Duet Jokowi-Dahlan Iskan bisa juga jadi pilihan mayoritas pemilih mengingat reputasi keduanya yang sampai saat ini boleh dibilang masih bersih dan di sana sini memang nyata ada prestasinya. Dahlan Iskan juga memiliki jaringan internasional yang cukup kuat. Kelemahan pasangan ini adalah keduanya bukan kader dari mesin politik masing-masing partai. Keduanya bukanlah jalur politisi.

Duet Jokowi-Pramono Edhie Wibowo walaupun tidak seluas penerimaan duet Jokowi-Dahlan Iskan, duet ini bisa jadi solusi alternatif ‘pasangan klise dan ideal’ non-militer dan militer. Latar belakang militer Pramono Edhie Wibowo – putra Sarwo Edhie Wibowo, sekaligus ipar SBY, akan memperkuat dukungan militer memuluskan jalan ke Istana.

Sementara di parlemen dengan koalisi PDIP, Demokrat, Nasdem, PKB dan PAN (mungkin juga lainnya) jelas akan sangat kuat mendukung kebijakan atau strategi yang diajukan oleh duet Jokowi – dengan Dahlan Iskan ataupun Pramono Edhie Wibowo.

 

Skenario 4

Menurut harian Kompas hari ini (11 April 2014), peta koalisi sudah mulai terbentuk gambarnya. Disebutkan Gerindra merapat ke Demokrat dan PDIP ke Nasdem. Merapatnya Gerindra ke Demokrat akan menghasilkan capres dan cawapres Prabowo-Dahlan Iskan atau Prabowo-Pramono Edhie Wibowo atau Prabowo-Gita Wirjawan. Ketiga kemungkinan pasangan ini memang lumayan, tapi masyarakat masih gamang memandang Demokrat yang terbukti adalah sarang mega-korupsi yang kader-kader serta petingginya berduyun-duyun ‘menunjukkan prestasi’ rampokannya. Sementara Prabowo masih dibayangi ketidakjelasan perannya di peristiwa Mei 1998. Pasangan Prabowo-Dahlan Iskan bisa jadi lawan berat Jokowi dan cawapresnya. Sementara PDIP jika merapat ke Nasdem dan PKB, besar kemungkinan akan mengajukan Jokowi-Jusuf Kalla karena JK juga diajukan oleh PKB.

 

Yang paling mengkuatirkan adalah jika Gerindra dan siapapun koalisinya akan menjadi oposisi yang sangat jelas bakalan mengganjal jalannya pemerintahan Jokowi. Terlebih jika menelisik lebih jauh ‘dendam’ Prabowo mengenai Perjanjian Batu Tulis dan melajunya Jokowi sebagai capres. Sepertinya Demokrat tidak akan mengambil sikap oposisi mengingat setidaknya ‘sopan santun politik’ SBY yang selama ini masih terjaga dalam koridor yang pantas. Melihat sifat SBY, dia akan berusaha seluas mungkin merangkul berbagai kalangan supaya harmonis dan tidak terjadi friksi yang tidak perlu.

Bagaimana selanjutnya? Kita lihat nanti setelah KPU keluar hasil resmi Pemilu Legislatif dan bagaimana partai-partai ‘mengemudikan’ haluannya memilih koalisi masing-masing. Satu hal yang pasti dalam Pemilu Legislatif ini adalah nasib mengenaskan PPP dan Hanura yang berhasil menjadi ‘golongan partai gurem’. Mengingat sejarah dan reputasi dua partai yang lumayan, hasil kali ini sungguh pukulan yang luar biasa.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

27 Comments to "Tiga Besar: PDIP – Golkar – Gerindra, What’s Next?"

  1. Alfred Tuname  20 April, 2014 at 21:34

    bermain di dua kaki merupakan sindrom partai Golkar. post power syndrome. golkar selalu merasa terus berkuasa setelah orba. karenanya, politik plintat-plintut selalu menjadi langgam politik golkar. mungkin persoalannya bukan pada Golkar, tetapi pada siapa yang menahkodai Golkar …. salam demokrasi.

  2. J C  20 April, 2014 at 19:22

    Ini bakalan jadi awal kegagalan Prabowo di pilpres, gandengan dengan partner yang salah. Sudah usang komoditas jualan AGAMA di masa sekarang ini, karena justru terbukti partai yang berbasis AGAMA justru termasuk jajaran “papan atas” rusak, kisruh, korup dan mbundhet…

    http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/04/20/103213/2559797/1562/prabowo-dan-suryadharma-blusukan-ke-ponpes-di-rembang-jateng?991101mainnews

  3. J C  20 April, 2014 at 19:18

    Satu lagi analisa dan prediksi yang terbukti:

    http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/04/20/183359/2560064/1562/hadapi-pilpres-golkar-bakal-main-politik-dua-kaki?9911012

    Artikel ini tayang 11 April, dan hari ini 20 April…

  4. J C  15 April, 2014 at 15:29

    awesome: antri foto siapa ya?

    pak Hand: ammiiiiinnn….ayooo saja…

  5. Handoko Widagdo  14 April, 2014 at 19:24

    Saya lebih setuju skenario Jokowi-JC.

  6. awesome  14 April, 2014 at 17:35

    wkwkwkwk … yg bikin antrian fotonya .. XD

  7. J C  13 April, 2014 at 14:07

    Lani: ladalaaaahhh kok malah mau njorokke aku tho…walah, walah…maraki kejlungup iki…

    Alvina: itulah, terkadang media luar negeri memang lebay luar biasa, revolusi lah, pertumpahan darah lah, dsb…

    ariffani: laaah ini malah berkonspirasi bareng Lani mau membuat aku kejlungup, kejengkang juga…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *