Bono

Bayu Amde Winata

 

“Jika nanti bertemu dengan banjir, ambil tengah saja bang, jalannya lebih keras jika di tengah.”

Ucapan ini sayup-sayup terdengar saat mata saya masih terpejam.  Dalam gelapnya malam, dua mobil sedang menempuh perjalanan yang mendebarkan. Jalan aspal yang sudah empat jam menemani kami, berubah menjadi jalan kerikil. Suara benturan antara kerikil dan gardan mobil membangunkan saya dari tidur yang sejak keberangkatan tadi dilakukan.  Mata saya tidak sengaja melihat papan petunjuk jalan yang disorot oleh lampu mobil ”Teluk Meranti 55 km.“ Inilah tujuan kami. Perjalanan ini semakin lama, karena di beberapa segmen jalan perkerasan terjadi banjir. Saat dinihari, tibalah kami di Kampung Teluk Meranti, sebuah perkampungan yang terletak di muara sungai Kampar. Kami di sambut oleh keramahan Bang Kawi. Beliau adalah salah satu panitia dalam acara yang nantinya akan diadakan di desa ini.

Keesokan harinya kampung ini tengah bersiap menyambut hajatan besar yang di namakan Festival Bekudo Bono. Apa itu Bono? Bono adalah sebuah fenomena alam yang termasuk ke dalam gelombang tidal bore. Gelombang ini terbentuk  dari benturan arus laut dengan arus di muara sungai. Saat bulan purnama ataupun bulan baru, permukaan laut yang berada di Selat Malaka menjadi naik dan melahirkan gelombang pasang yang menyapu masuk kedalam Sungai Kampar sejauh 50 sampai dengan 60 km. Ketika sisi depan dari gelombang ini masuk ke muara sungai yang menyempit dan bertemu dengan perairan dangkal Sungai Kampar lahirlah gelombang yang dikenal dengan sebutan Bono. Ketinggian Bono dapat mencapai 2 meter dan melaju ke arah hilir melawan arus sungai selama kurang lebih 2 jam dan nantinya akan menghilang. Terdapat 6 sampai 13 gelombang berurutan tergantung dari dalam maupun kontur sungai yang ada. Itu berdasarkan kajian ilmiah.

Namun, dari sudut pandang seni tutur dari masyarakat tempatan.  Ada beberapa versi dari Bono, ada yang bercerita bahwa Bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah Sungai Kampar. Karena Belanda saat itu tidak bisa masuk ke dalam muara sungai Kampar, pihak Belanda menembak gelombang ini dengan menggunakan meriam. Akibatnya, bono ini mati dan berkurang jumlahnya dari 7 menjadi 6. Sedangkan versi yang lain, menceritakan Datuk Kampar yang merupakan orang sakti pada zaman dahulu mengambil gelombang sungai Kampar segenggam tangan dan memasukkannya ke dalam tempurung kelapa. Fungsi dari gelombang ini adalah sebagai benteng pertahanan dari serangan para perompak yang akan menyerang daerah ini. Datuk Kampar berpesan kepada masyarakat “jika nanti matahari setinggi ubun-ubun (jam 12 siang), akan terjadi sebuah gelombang yang besar.” Masyarakat kampung  penasaran dan menunggu kedatangan dari gelombang ini. Saat waktu yang telah ditentukan tiba, terjadilah gelombang besar. Masyarakat kampungpun berteriak. “bono kata datuk, bono kata datuk“ Bono dari perkataan mereka ini memiliki arti benar. Perkataan inilah yang mungkin menjadi awal muasal kata bono.

Dahulu, bono sangat ditakuti oleh masyarakat. Mereka takut jika nantinya tenggelam dan diseret bono. Namun sekarang, mereka mulai mencoba akrab dengan bono. Saat sedang berada di sebuah rumah makan, saya berkenalan dengan pemuda kampung yang bernama Edi, dia adalah pemuda lokal yang sekarang menjadi seorang peselancar. Dia menawarkan kepada saya untuk mencoba “kegilaan bono.” Hal menarik ini sungguh sayang untuk dilewatkan. Kebetulan, kedatangan saya bersamaan  dengan kedatangan seorang peselancar asing dari Perancis yang bernama Mathis. Dengan menggunakan speed boat khusus yang dibawa oleh bang Edi. Berangkatlah kami menuju tempat berselancar yang dikenal dengan nama Tanjung Baru atau nama lokalnya ada Tanjung Bebau. Dibutuhkan waktu satu jam perjalanan untuk bisa mencapai tempat ini. Tiba di Tanjung Bebau, saya belum bisa menikmati “kegilaan“ dari bono. Ternyata kami harus menunggu terlebih dahulu.

Saat berada  di tengah sungai, secara samar telinga saya menangkap suara seperti geraman. Bang Edi berkata ke saya “itu suara bono, dan gelombangnya nanti akan menuju ke kita.” Setelah 40 menit kemudian, bang Edi berkata “Lihat!” Dan saya melihat dinding air setinggi dua meter dengan lebar sekitar  satu kilo meter berwarna coklat kemerahan seolah berlari mengejar  speed boat kami. Saat menunggu bono, mesin speed boat memang tidak dimatikan. Hal ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan saat dikejar oleh Bono.

BN 1

BN 2

Raungan suara mesin bersaut sautan dengan geraman bono. Jarak antara gelombang dan  kami sekitar tujuh meter.  Perasaan saya tidak bisa digambarkan. Adrenalin terasa mengalir dengan deras  tidak lama kemudian.  “Mathis, JUMP!” teriak bang Edi. Saya pun melihat Mathis terjun dan mencoba berselancar di Bono, dia terlihat menikmati gelombang besar yang sedang mengejar kami. Saya pun sibuk mengabadikan perkasanya Bono. Namun, hal ini bukanlah inti dari permainan. Baru dua menit berselancar, Mathis pun terjatuh. Bang Edi berkata. “Kita jemput.” Dengan terburu-buru saya memasukkan kamera ke dalam dry bag. Speed boat kami masuk dan menembus iring-iringan gelombang. Boat kami diaduk-aduk di dalam Bono. Rasa nya seperti mengikuti arung jeram namun dengan sensasi yang lebih dahsyat. GILA.

BN 3

BN 4

Perahu kami drop dari ketinggian dua meter ke nol meter, lalu kembali diangkat oleh gelombang setinggi satu meter. Dan sekarang, saya sedang berada di tengah gelombang untuk  menjemput Mathis. Adrenalin saya benar-benar dipompa hingga maksimal. Perahu kami zig- zag menembus gelombang. Terlihat tangan Mathis melambai. Jemput Mathis. Perjalanan kami lanjutkan kembali.

Kami mengejar sang raksasa. Raungan mesin perahu sudah tidak saya pedulikan lagi. Kembali masuk ke dalam Bono, dan berzig-zag untuk mendahului. Sekarang posisi kami berada di depan. Jarak antara perahu dan gelombang sekitar 20 meter. Kali ini berganti driver boat. Rio yang mengambil alih perahu. Bang Edi dan Mathis bersiap akan turun ke Bono. “Hold on Mathis,” kata bang Edi. Kecepatan perahu kami pelan-pelan diturunkan karena jarak antara kami dan gelombang terlalu jauh. Sang raksasa tidak mau kalah, dia terlihat seperti mengejar kami. Tidak lama kemudian bang Edi berteriak. “JUMP!” Mathis langsung meloncat dan disusul oleh bang Edi. Saya bisa menyaksikan permainan menarik antara peselancar lokal dan peselancar asing. Mereka berdua seolah-olah sedang “menari”. Namun bang Edi jatuh terlebih dahulu dan lima menit kemudian Mathis pun selesai “menari” dengan gelombang ini. Jemput, terjun dan menembus gelombang adalah kegiatan yang saya habiskan di tengah sungai Kampar.

BN 5

BN 6

BN 7

Setelah satu setengah jam kemudian, tibalah kami di Tanjung Sesendok atau bagi bahasa lokalnya adalah Tanjung Sesenduk. Di sini terlihat para peselancar lokal yang sedang berdiri di atas sungai untuk menyambut Bono. Mereka sedang latihan, karena besok hingga tiga hari ke depan mereka akan mengikuti Festival Bekudo Bono.

Langsung saja rombongan kami bergabung bersama rombongan pemuda desa. Kali ini, Rio dan Mathis memilih ikut turun bermain. Bono pun datang. Para pemuda ini dengan penuh keriangan  “menari” di atas gelombang. Speed boat kami mengikuti permainan mereka hingga Bono pecah menjadi pasang biasa di dekat kampung. Kami pun kembali ke kampung.

Dahulu, Bono adalah gelombang yang di takuti. Sedangkan sekarang, Bono menjadi tempat bermain baru terutama bagi pecinta selancar.

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Bono"

  1. bayu winata  4 June, 2014 at 22:09

    mba Lani: iya mba, air lautnya mengalir masuk dan bertemu dengan air sungai bono sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi, kalo lagi musim pasang, gelombang sungai bono bisa mencapai 4 sampai enam meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi seluruh badan sungai. kmrn ga ada yang kaya gitu mba

  2. Lani  16 April, 2014 at 13:38

    BW : Makane ktk melihat foto diartikel rodo aneh juga……..ombaknya kecoklatan???? Jebule mmg ini pertemuan air sungai dan laut jd banyak lendutnya ya?????

    Yg plg mengasyikkan dan mendebarkan ktk melihat surfer digulung ombak trs berada ditengah gulungan itu………spt dilorong biru gitu…….bener2 indah tp jg bikin deg2-an……berpacu dgn adrenalin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *