Moral dan Tuhan

Itsmi – Nederland

 

Seorang atheis hidup tanpa Tuhan. Sementara bagi orang beragama Tuhan itu identik dengan batasan-batasan moral. Karena itu, orang beragama pada umumnya menilai bahwa seorang ateis tidak bermoral. Tentu dengan penilaian seperti itu akan berakibat dalam kehidupan sehari-hari . Contoh yang sederhana, banyak famili saya yang tinggal di Indonesia tidak mau nama mereka dikaitkan dengan saya di Facebook karena saya atheis.

morality-religionPenelitian dari lembaga Amerika Pew Research di 40 negara mengenai moral dan kepercayaan, hasilnya mengatakan bahwa, semakin miskin suatu negara maka lebih erat memegang Tuhan sebagai panduan moral.

Namun dalam pendapat saya, pola keyakinan itu bukan berhubungan dengan kaya atau miskinnya seseorang, tapi dengan tingkat inteligensinya. Lebih tinggi IQ seseorang kebutuhan pada Tuhan pun berkurang. Itulah kenapa tidak heran kalau Negara kaya seperti Skandinavia dan Belanda kebanyakan tidak ber-Tuhan. Hal ini karena orang yang inteligensi lebih tinggi biasanya lebih kaya atau income nya lebih tinggi.

Dan tentu orang yang IQ nya tinggi pasti akan bertanya bagaimana moral dan Tuhan itu sebenarnya?

Orang yang beragama mengaitkan moral dengan Tuhan karena mereka melihat Tuhan itu dasar dari nilai-nilai kehidupan. Dengan berpikiran begini, berarti Tuhan-nya Paus, Ulama atau Rabi, harus mematuhi moralitas. Dengan kata lain, Tuhan terikat pada moralitas.  Kalau kita berpikir lebih lanjut, berarti moral sudah ada di mana Tuhan terikat pada moral, dan tentunya Tuhan bukan fundamen dari moral tapi moral itu di atas Tuhan, karena sebelum adanya Tuhan, moral sudah ada.

Lebih jauh lagi, orang beragama sering kali menetapkan sesuatu dengan alasan itu dari Tuhan. Seperti misalnya mengatakan bahwa darah orang yang berlainan agama itu halal, atau aturan-aturan lain yang tidak manusiawi. Orang dengan intelegensia tinggi akan berpikir apakah Tuhan sebodoh dan sekejam itu?

Jadi, apakah ini alasan moral dan etik dimana kita bisa setuju dan mendukungnya? Jadi apa saja yang Tuhan mau hingga kita harus mengikutinya? Bagaimana bilamana Tuhan itu ternyata Setan? Atau Tuhan itu penjahat, apakah kita harus ikuti?

Orang beragama akan mengatakan bahwa Tuhan itu baik, maka semua perintahNYA harus diikuti. Dan seseorang itu baik bila dia mengikuti perintah Tuhan. Tapi apakah ini kita harus mengikuti aturan-aturan yang tidak manusiawi dan menjadikannya sebagai aturan moral?

Bilamana Tuhan itu dasar dari moral, bagaimanapun kita tidak tahu apa sebenarnya alasan moralnya.  Di mana kita harus mencari tahu? Mencari di Perjanjian Lama? Tidak ada bukti otentik bahwa itu benar-benar dari Tuhan atau karangan manusia saja.

Tentu banyak yang berpikir bahwa kita perlu Tuhan, di mana kejahatan di hukum dan kebaikan mendapat pahala. Tapi kalau Tuhan memberikan hukuman pada orang yang berbuat jahat dan yang baik mendapat pahala, apa artinya ‘baik’ di sini?

Apakah arti baik itu bila kita yang berpikir dan mengambil tanggung jawab sendiri? Bila kita mampu berpikir sendiri tentang moral yang wajar, itu artinya kita tidak perlu Tuhan.

religion-morality

Bagaimana kalau melakukan kebaikan berdasarkan aturan dari ‘Sesuatu yang tidak terlihat’? Bukankah ini bisa di katakan bentuk etik dari ketakutan? Jadi melakukan sesuatu bukan karena kebaikan tetapi kita melakukannya karena ada upah atau hukumannya. Apakah itu etik?

Jadi Tuhan sebenarnya tidak di perlukan dan orang yang berpikir bahwa Tuhan itu dasar dari moral sebenarnya tidak punya penjelasan yang masuk akal.

Akhirnya, semuanya kembali lagi kepada kita sebagai manusia, bagaimana kita bersama bisa memutuskan apa artinya norma yang etis dan bisa diterima semua orang.

 

28 Comments to "Moral dan Tuhan"

  1. Itsmi  17 May, 2014 at 18:26

    Zelot, saya tahu orang jawa merasa dirinya sebagai sentral tetapi tetap tidak sopan bicara di umum pakai bahasa Jawa. Karena apa.pun perasaanmu mengenai sentralistis, bukan semua orang bisa mengerti bahada jawa kecuali di kampungmu.

  2. Zelot  17 May, 2014 at 01:26

    Jan keblinger tenan
    akhire pasti bingung dewe golek pengakuan

  3. Itsmi  1 May, 2014 at 14:07

    Hidup itu pilihan, bullshit. Teori ini yang dari Amerika ini, harus di pikirkan lagi, jangan hanya comot begitu saja, karena teori ini banyak akibatnya dalam hidup sehari hari…. selamat berpikir

  4. Itsmi  1 May, 2014 at 14:03

    Kalau pada umumnya orang berkata hidup itu pilihan bukan berarti itu juga pilihan….. mat berpikir… teori teori ini yang datang dari Amerika, harus di pikirkan lagi… jangan terimah begitu aja..

  5. awesome  28 April, 2014 at 12:17

    wkwkwk … baca kometar terakhir itsmi …
    hidup itu pilihan,
    mau jadi atheist atau theist itu pilihan,
    mau jadi homo atau hetero itu juga pilihan … eh kayanya koq ga nyambung …
    masak kalo itsmi ada yg ngelarang jadi atheist, terus kamu mau jadi theist?
    dipaksa pun juga paling skin deep alias nggak dari hati (benar2 percaya) khann ?
    tapi di forum terbuka seperti ini, marilah kita berdiskusi dengan dewasa, jangan bawa2 emosi
    melalui diskusi seperti ini, khann kita jadi lebih tahu adanya perbedaan di antara kita, dan mengerti kenapa aku sama kamu koq beda ya ….
    indahnya berbagi, indahnya perbedaan, bukan begitu?

    selamat hari senin, lagi jam makan siang nich kalau buat mbak2 kantoran seperti saya … permisi dulu ..
    kangen you all
    baltyra memang forum paling oke dech untuk ngobrolin yg beda2 gini
    have a great day ya prens *kiss*

  6. Itsmi  21 April, 2014 at 15:54

    Kembang Bakung, trims ya saya dibolehkan oleh kamu jadi ateis…

  7. Itsmi  21 April, 2014 at 15:47

    Pilih mana kalian kalau paskah masuk gereja dan dengar khotbah si pastor dan pendeta atau pergi dengan keluarga bersepeda santai pergi ke tempat rekreasi dan duduk di teras sambil makan dan minum, dan selkaligus cuci mata… ?

  8. J C  21 April, 2014 at 12:34

    Kembang Bakung, terima kasih ucapan Paskah’nya. Saya tidak ingat apakah Kembang Bakung merayakan juga atau tidak, jika merayakan, saya ucapkan Selamat Paskah juga untuk Kembang Bakung sekeluarga.

    Hahahaha…benar, benar, minimal dengan beragama kita punya hari raya yang bisa dirayakan. Entahlah Itsmi merayakan apa tuh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.