Pilih Memilih – Tidak Memilih Bukan Berarti Golput

Ariffani

 

Tahun ini Indonesia sedang melaksanakan pesta demokrasi, di moment ini kita diberikan hal spesial untuk memilih (yang katanya) “Wakil Rakyat”. Katanya ini momen istimewa, karena menentukan masa depan Indonesia. Semua partai berbondong-bondong mengusung mimpi dan tetek-bengek lainnya yang bisa menarik simpati rakyat di negara ini.

Aku secara pribadi sudah memiliki hak untuk memilih, tetapi nyatanya aku pribadi belum pernah memakai hak tersebut untuk memilih, beberapa kali sudah aku lewatkan hak tersebut, dimulai dari pemilih Gurbernur hingga Presiden dan caleg sampai kedua kalinya.

Ingat sekali saat pemilu tahun 90-an, kebetulan ayahku menjadi salah satu panitia, di tahun tersebut para pemilih masuk ke bilik suara untuk mencoblos, jadi semacam ruangan kamar dengan ukuran kecil begitu. Tetapi sekarang lebih simpel, hanya kotak kecil. Dulu saat aku kecil, ingin sekali untuk memiliki hak tersebut, sepertinya rasanya keren sekali setelah mencoblos. Hehehehe…

Aku sudah memiliki hak pilih pertama kali di tahun 2009, saat itu pemilihan Presiden,  tetapi karena aku sedang melaksanakan pendidikan di Tangerang, jadi aku tidak menggunakan hak pilihku, kemudian pemilu untuk Gurbernur Jatim, akupun tidak berpartisipasi, bukan karena pendidikan karena aku hanya malas pulang saja ke Surabaya.

Pengalaman lain soal pemilu kali ini datang dari cerita ibuku,  saat itu kebetulan kakekku adalah pegawai negeri, dan saat itu sekitar antara 70-80an, setiap pegawai negeri wajib untuk memilih partai yang berwarna “kuning”, dan kalau tidak bisa diancam , bahkan sampai dipukuli jika ketahuan. Karena itullah beliau tidak suka dengan pemilu karena ada kekerasan dan selanjutnya ibuku tidak pernah memakai hak pilihnya, hingga entah mengapa tiba-tiba beliau dapat wangsit untuk mencoblos saat pemilihan Gurbernur Jatim tahun lalu. Saat aku tanyakan mengapa sekarang mau nyoblos, jawaban beliau simple, hanya ingin ikut-ikut saja. Saat aku tanya lagi pilih siapa, jawaban beliau begini  “itu lho yg kumisnya gede, soalnya anaknya dia pacaran sama anak belakang rumah yang adeknya biasa maen sama adekmu”. GLODAK!?!!?

Tahun ini aku juga tidak memakai hakku dan tahun ini aku sudah mulai berpikir tentang pemilu, karena (mungkin) sudah mulai menuju dewasa dalam berpikir.  Tetapi rasa-rasanya kok aku tidak tertarik dengan semua partai ataupun caleg-caleg yang ada. terlalu bermuluk-muluk saya rasa, lagipula juga saya  tidak kenal siapa mereka.

Sebenarnya urusan pilih memilih pemimpin itu selalu terjadi dalam hidup kita, bahkan dari kecil, (itu menurut saya ya) saat sekolah dasar, sudah harus memilih ketua kelas, terus beranjut  saat bergabung dengan suatu kelompok,  entah geng atau apapun itu bentuknya.

Dan dalam sejarah penggunaan hak piih saya, yang paling saya ingat dan membekas (cieee….!!!) adalah saat pemilihan ketua senat ketika saya pendidikan 5 tahun yang lalu, saat itu, kami ditemukan dengan teman-teman dari seluruh Indonesia, jelas tidak ada yang kenal bagaimana sebenarnya teman-teman baru tersebut. Saat itu ada beberapa kandidat , dan namanya juga calon pemimpin maka para kandidat mengeluarkan ajimat dan rayuan, tetapi hanya ada 1 kandidat dengan rayuan yang simple yaitu “jika anda percaya saya silahkan pilih saya” , tidak ada kalimat yang menggebu-gebu dan bersemangat, tetapi dari ucapan tersebut, ia menghasilkan ¾ suara dari total jumlah suara yang ada. Dan memang di bawah kepemimpinan dia dan dibantu dengan wakil senat kami, segala emosi kami bisa diredam dengan baik oleh beliau (ini menurut saya saja ya). Dan ini penampakannya (mantan) ketua senat saya … hehehehe…

image002

Dan  ini seperti jadi patokan saya jika ada (yang katanya) “wakil rakyat” , datang dan mengenalkan diri dengan kata-kata yang terlalu “wah” jujur saja saya tidak respek dan tidak menyentuh hati sama sekali.

Yang saya herankan mengapa yang tidak memilih itu selalu di bilang “GolPut”, GolPut menurut saya hanya untuk warga/sekolompok orang yang tidak memihak mana-mana dan tidak mau berbuat  apa-apa untuk negara ini terutama, atau orang yang tidak mau berperan sebagai apapun untuk negara ini. ini hanya renungan gila saya saja. Hehehehhe…..

Saya sendiri tidak mau di bilang “GolPut”, karena saya masih punya piihan, tetapi memilih kan soal kenyamanan hati dan pikiran, sama seperti anda dalam memilih apa yang mau anda makan, apa yang ada mau minum, atau apa yang anda lakukan. Dan karena pemilu kali ini saya tidak mau memilih adalah saya tidak merasa nyaman untuk menggunakan hak suara saya saja. Sebenarnya ada kekhawatiran, takutnya hak suara saya dipakai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menambah suara, tetapi balik ke keyakinan saya sendiri, toh jika memang melakukan hal tersebut, sama saja mereka membohongi negara ini. (kalau ini terlalu tinggi (sepertinya) khayalannya, hehehehe.. )

Bagi saya untuk masa depan Indonesia tidak harus dengan memilih saat pemilu, banyak hal lain, misalnya saat anda tidak membuang sampah sembarangan, mentaati lalu lintas. Oke, mungkin ini sudah sering dilakukan dan klise, dan tidak bermakna, tetapi saya yakin maih banyak hal lain yang anda sendiri tahu apa yg harus di lakukan.  Hahahahaha….

Jadi Intinya adalah seperti gambar di bawah ini :

image003

Artikel ini hanya luapan emosi semata , jika menghasilkan effek yang tak terduga atau di dalamnya ada tempat-tempat, orang dan kejadian yang sama, hal tersebut  memang (tidak) sengaja. Anggap saja angin lalu.

 

15 Comments to "Pilih Memilih – Tidak Memilih Bukan Berarti Golput"

  1. ariffani  19 April, 2014 at 07:21

    hahahahhaa.. okelah opa DJ, semoga opa dn keluarga jg selalu sehat dn dlm lindungan-Nya…

    happy weekend

  2. Dj. 813  19 April, 2014 at 00:13

    ariffani 18 April, 2014 at 07:53

    @pak DJ : jika boleh memilih sepertinya pilih yg berdasi panjang saja bukan yg berdasi kupu2,, hehehhehehehe….. tapi ini milihnya buat apa ya Opa DJ?
    ————————————————————-

    Ariffani….
    Memilih buat apa saja boleh…
    Hahahahahahahaha…..
    Salam manis dari Mainz dan semoga sehat selalu.

  3. ariffani  18 April, 2014 at 07:53

    @pak DJAS: saya setuju sama idenya Pemilu di ganti Pesuar, !!!??

    @bu LANI : meski sudah bukan WNI tapi jiwa masih Indonesia kan bu?? hehehehe….sepertinya saya masih ingat itu pemilu sekitar tahun 90an/ 2000an ya ,, yg pemilu dgn partai seabrek-abrek,, hahahhahaha .. bukannya presiden INdonesia yg skrg jg penyanyi ya bu… tapi saya nda tau apa judul albumnya.

    @pak DJ : jika boleh memilih sepertinya pilih yg berdasi panjang saja bukan yg berdasi kupu2,, hehehhehehehe….. tapi ini milihnya buat apa ya Opa DJ?

    @pak HAN : sama seperti bu LANI, kmrn juga setuju jika Pak JC jd presiden

    @Pak JC. jangan memilih lagi pak jika tidak nyaman hatinya.. hehehehhe…..

  4. ariffani  18 April, 2014 at 07:25

    @bu WESIATI : satoe terimakasih

    @bu HENNIE : semoga saja pilihan anda dapat menjadikan Indonesia untuk lebih baik lagi, terimakasih juga atas pujiannya

    @mbak DEWI : ini hanya luapan emosi semata,.. terimkasih jika di bilng mencerahkan .. hehehehe,,,,

    @mbak NIA : setidaknya ada sisi baik dari pemilu , kmrn juga seneng banget liat jalanan tangerang sepi ,, ya pada pemilu semua …..

  5. J C  18 April, 2014 at 07:14

    Lhaaaa ini namanya berani mengambil sikap menyatakan bahwa tidak memilih bukanlah golput, karena tidak memilih adalah pilihan dan sudah memilih untuk tidak memilih.

    Aku beberapa kali tidak memilih juga kok (dan bukan golput )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.