Sepotong Jalan Es

Alfred Tuname

 

“Bu, jangan disapu dulu. Biarkan aja. Sebentar saya siram”, celetuk pak Made kepada seorang ibu. Ibu itu sedang asik menyapu kotoran dedaunan yang jatuh. Dedaunan kering memang biasa jatuh di tempat itu. Apa lagi sekarang musim kering, tempat itu nyaris terus kotor.

Ibu itu menghentikan sapunya sejenak. “Ahh  pak Made, ada-ada saja. Mau siram gimana, pagi-pagi saja udah loyo”, kata ibu itu sambil meletakkan tangannya di pinggang. Pak Made hanya tersenyum simpul. Orang-orang di sekitar situ tertawa cekikikan. Mereka saling paham candaan itu. Itu sudah biasa di Bali.

Ibu itu pun melanjutkan sapu. Dikumpulkan sampah dedaunan dan dibuang di tempat sampah organik yang sudah disediakan. Ia membersihkan kotoran itu dengan telaten seakan ia sedang membersihkan frasa-frasa kotor yang selalu ia dengar dari pria-pria jahil. Pria-pria tua sering juga menghujam tubuhnya dengan pandangan mata yang aneh, seakan sedang ingin mencangkul tubuhnya.

Namanya ibu Satin. Ia masih muda, tetapi tidak lagi seharum kamboja. Ia memiliki seorang putri yang sedang duduk di SMP Madrasah. Ia mencari penghidupan di Bali setelah suaminya meninggal. Suaminya adalah seorang nelayan, tetapi meninggal dalam kecelakaan kecil saat perahu kecilnya menabrak kapal Ferry yang banyak berseliweran di Selat Bali.

***

“Pak, kopi Bali ya, satu”. Seorang memesan kopi pada pak Made yang setiap hari menjual minuman dan rokok.

“Minum di sini atau bungkus?”

“Minum di sini saja pak”.

Pak Made menjual kopi dan rokok setiap hari. Bersama istrinya, ia ramah menjual dagangannya. Kadang, mereka bergantian menjual dagangannya itu. Tempat itu sangat ramai, sebab letaknya di sebelah pintu keluar rumah sakit. Jalan itu hanya sepotong tapi ramai. Orang-orang menyebutnya jalan Es. Di sekitar jalan Es, suasana selalu adem. Para pengunjung rumah sakit senang bernaung di tempat itu. Ujung jalan jalannya ada perempatan sebagai jalan keluar dan masuk rumah sakit.

Mothers Love

Di perempatan itu ada sebuah patung Bunda yang sedang menggendong anaknya. Mungkin saja, rumah sakit ingin disimbolkan dengan seorang ibu; ibu yang sepanjang hayat mencintai anaknya dengan merawatnya sejak lahir hingga dewasa, setia dalam setiap perkara kecil maupun besar. Sebagai seorang ibu, rumah sakit menampung pasien sangat banyak. Orang sering menyebutnya rumah sakit Bali-Nusra (Nusa Tenggara). Hal itu karena rumah sakit itu menampung pasien dari Bali, NTB dan NTT. Tentu tidak hanya menampung, tetapi juga merawatnya hingga sembuh.

“Pak, nasi bungkusnya berapa?”, tanya seorang pria dengan dialek bukan Bali.

“Bu, nasi bu!”, teriak pak Made memanggil penjual nasi bungkus.

Seorang ibu berlari dari seberang jalan. Ibu yang menyapu itulah sang penjual nasi bungkus. Ia mendekati calon pembeli.

“Beli berapa bungkus?” tanya sang ibu.

“Enam bungkus bu”.

“Oke. Orang mana de?”. Ibu itu mengambil plastik jinjing.

“Orang NTT bu”.

“Oh, orang NTT”.

“Siapa yang sakit?”

“Bapa kecilku yang sakit”

“Maskudnya?”

“Adik dari bapaku sakit”

“Aduh kasihan ya… Sakit apa? Sudah lama sakitnya?”

“Katanya, tumor. Balum lama juga sakitnya. Dirujuk dari rumah sakit di NTT”.

life is beautiful

“Ohhh… semoga cepat sembuh ya bapa kecilnya. Ini, Rp 36.000 semuanya. Air-nya sekalian?” tanya ibu itu sambil memberikan plastik berisi enam buah nasi bungkus.

“Tidak bu. Air sudah ada. Ini bu duitnya. Pas ya?”

Ibu penjual nasi hanya mengangguk. Pemuda itu pergi dan ibu itu membersikan lagi tempat jualannya itu.

***

“Apa kabar dok?”

Pak Made menyapa dokter Wayan yang berada di seberang jalan. Dokter Wayan berjalan di atas trotoar bersih sambil memperhatikan ikan-ikan kecil di dalam kolam. “Kabar baik”, jawab dokter sembari mengangkat tangannya.

Dokter Wayan menyebrang jalan kecil. Ia mendekati tempat nongkrong Pak Made. Dokter Wayan biasa berkumput di situ. Bercerita dan bahkan berdiskusi dengan orang-orang yang kebetulan ada di situ, di tampat pangkalan sopir ojek, angkot dan taksi. Dokter Wayan sangat senang ngobrol bersama para sopir dan orang-orang yang kebetulan ngopi di situ. Ia orangnya sangat sederhana, meskipun berprofesi basah. Ia sangat ceria dan suka bercanda. Wajahnya cerah.

Dokter Wayan tidak seperti dokter-dokter muda lainnya yang glamour. Dokter-dokter muda di rumah sakit itu seperti gantungan pakaian dengan model-model terbaru. Mungkin mereka berprofesi sebagai model, lalu nyambi sebagai dokter. Mereka tampak sebagai dokter lantaran jas putih yang mereka kenakan. Tampang yang begitu angkuh sering kali menteror pasien-pasien kelas ekonomi. Kadang, para pasien ini semakin menderita ketika harus berhadapan dengan dokter-dokter metroseksual tersebut. Begitu pula halnya dengan perawat-perawat yang tiba-tiba punggungnya terasa berat ketika bertemu para dokter muda itu di koridor rumah sakit.

Ketika rumah sakit menjadi panggung pamer pada dokter muda, dokter Wayan memilih untuk bercengkrama dengan manusia-manusia di sekitar rumah sakit.

“Dok, istrahat?”, tanya seorang sopir yang sering akrab bercanda bersama dokter Wayan.

“Iya. Capai. Barusan saya melakukan pemerikasaan pasien tumor”.

“Tumornya ganas, dok?”

“Tidak. Tapi baguslah ia cepat sadar dengan tumornya itu”.

“Pasien orang mana, dok?”

“Orang Timur sana, orang NTT”.

“Oh, orang NTT”.

Pak Made tak mampu menahan rasa ingin tahunya. Mungkin juga sedang bingung, lalu bertanya “lah, kalo tumor itu tidak ganas, kenapa dirujuk di rumah sakit ini? Apa di NTT sana tidak ada rumah sakit yang bagus juga ya dok?” Dokter Wayan hanya tersenyum. Diam, tak beri satu komentar pun.

“Sudahlah, tidak usah urus soal itu Made. Mungkin di sana ada faktor x sehingga tidak ada dokter yang urus soal itu. Biasalah, sejak ada proyek Jaminan Sosial, rumah sakit malas-malas urus pasien kelas ekonomi. Benar kan, dok?”

Beberapa sopir yang ikut nimbrung diam menundukkan kepala. Mereka merasa ada yang tidak beres dengan komentar seorang sahabat mereka. Mereka mengira dokter Wayan akan tersinggung.

“Benar itu. Saya setuju. Kadang, manajemen rumah sakit memang tidak adil. Ada rumah sakit yang mata duitan. Para direkturnya bergaji besar, sementara para pegawainya hidup melarat dengan gaji kecil. khususnya rumah sakit pemerintah. Kalau rumah sakit swasta itu wajar, sebab orientasinya keuntungan. Pasien harus bayar mahal untuk membayar para pegawai rumah sakit, termasuk dokter dan perawat”.

Mendengar jawaban dokter Wayan itu, kondisi menjadi cair kembali. Para sopir senyum-senyum mendengar jawaban dokter.

Husss, asap rokokmu itu. Jangan dihisap dalam-dalam. Nanti kepulan asapnya kena dokter”, marah seorang sopir kepada temannya.

“Santai saja. Tidak apa-apa. Saya menghormati hak politik Anda”, jawab dokter dengan nada santai.

“Oh ya dok, kalau manajemen rumah sakitnya gimana?”, tanya Made sambil melirik matanya ke arah bangunan megah rumah sakit.

“Yah, baca saja informasinya di koran-koran. Kalian pasti tahu baik dan buruknya manajemen rumah sakit. Kalau tidak tanya saja tuh pak satpam yang sudah lama menjaga rumah sakit”, komentar dokter sambil menunjuk seorang satpam yang datang.

Pembicaraan pun semakin seru dan santai sebab pak satpam juga bergabung. Ia memesan kopi Bali dan duduk di samping dokter Wayan.

“Apa kabar?, tanya dokter Wayan sambil menyentuh punggunnya dengan akrab.

“Baik dok”, jawab satpam itu.

Di sepotong jalan Es, para sopir, dokter Wayan dan satpam terus bercerita. Tawa dan canda membuat suasana siang itu menjadi teduh. Kadang lirikan nakal mereka sesekali mempir pada derai rambut mahasiswi Kampus Lontar yang sedang lewat. Kadang juga sesekali terdengar celetuk-celetuk banyak tafsir dalam suara ibu Satin yang ikut nimbrung.

 

29 Maret 2014

Alfred Tuname

Backlink: http://www.weeklyline.net/sastra/20140412/sepotong-jalan-es.html

 

13 Comments to "Sepotong Jalan Es"

  1. J C  18 April, 2014 at 07:09

    Cerita keseharian seperti ini sangat menyentuh perasaan. Selain politis, Alfred memang piawai merangkai kata untuk kisah-kisah seperti ini…

  2. Dewi Aichi  18 April, 2014 at 02:12

    Eh ada satu yang ku kagumi….Ki Ageng Similikithi….

  3. Dewi Aichi  18 April, 2014 at 02:10

    Aku tak mengenal dokter yang seperti dalam cerita ini.

  4. Alvina VB  16 April, 2014 at 22:14

    Cerita yg apik bung Alfred. Apa masih ada dr. di Jakarta spt dr. Wayan? Kl. di daerah-daerah, saya percaya pasti masih ada.

  5. Handoko Widagdo  16 April, 2014 at 12:46

    Tulisan Alfred selalu bermakna dalam.

  6. djasMerahputih  16 April, 2014 at 12:24

    Kebetulan masih di Bali dan wrg kopi tempat nongkrong Djas juga punya pak Made. Banyak cerita kehidupan terurai lugas di sana.
    Sebuah potret kehidupan yg menyentuh nurani.

    Thanks artikel ciamiknya bang Alfred.

    Salam Kehidupan.
    //djasMerahputih

  7. Lani  16 April, 2014 at 11:53

    AT : aloha cah bagus……….salut jempol wolu wes………! Gmn kabar? Sehat kan?

  8. awesome  16 April, 2014 at 11:24

    serasa ikut nongkrong di sebelahnya

  9. HennieTriana Oberst  16 April, 2014 at 10:05

    Suka sekali dengan kehidupan dan obrolan sehari-hari yang sederhana seperti ini.

  10. wesiati  16 April, 2014 at 09:31

    satoe : apik banget…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.