Mr. Tambourine Man

Pratiwi Setyaningrum

 

 

/cring..!/

 

Suara tamborin menyayat di deru angin. Menggemakan pesanmu. “Aku. Pamit.”

—————-

 

“Sore begini, setahun kemudian”. Ya, kau benar belaka. Begitulah. Aku kembali ke kotamu. Kota yang berawal dari satu kotak kecil di layar digital. Menjelma jendela dari sebuah ruang bangsal rumah sakit yang kosong, berdinding dan perabot serba putih sewarna kain blacu. Hanya berisi kau, lalu selang-selang yang saling-silang menancapi tubuhmu, lalu denging mesin, dan ranjang, lalu ketakutan. Ketika akhirnya Aku benar-benar masuk ke ruang itu, aku tersentak. Mata itu. Mengalahkan dominasi putih di sana, mata itu meledakkan kesakitan.

Aku tak pernah suka warna putih, sungguh. Putih itu monoton. Ia tak seperti pelangi yang warna-warni. Putih adalah jiwa dengan keinginan yang setengah-setengah. Terlalu mapan. Bosan. Dan bosan adalah posisi stagnan. Enggan yang keterlaluan. Sedangkan bagiku, hey, hidup itu kembang api. Ya. Hanya yang menyala warna-warnilah yang menarik. Di dalam komposisinya yang rumit, dalam warna-warni warna ada aroma alam yang membual-bual. Dan segemerincing Tamborin. Meriah. Ke sana ke mari. Ada tanya yang menantang. Membuat jantungku berdebaran penuh antisipasi: “Ke mana kita malam ini?”

Dan ini, putih. Putih selalu membuatku dendam. Dahulu ayah akhirnya tak sanggup bertahan dan pergi meninggalkan keluarganya setelah terkungkung di ruangan putih seperti itu, tersiksa oleh sakit berbulan-bulan, tersiksa dikungkung putih sekian lama, putih yang memisahkannya dari putranya berbulan-bulan pula. Seolah masih kurang puas, putih itu kembali berulah. Tak sampai seratus hari kepergian ayah, kakekku pun musti meringkuk pula, tak berdaya mengisi hari-harinya di ruangan putih itu kerna sakit yang mirip dengan mendiang ayah. Hari-hari berlalu sangat lambat namun penuh kekawatiran, serta kesedihan, tiada tara.

Aku sendiri pernah terkungkung di tengah warna putih begitu lama. Sendirian menghadapi kesakitan. Cukup lama untuk mempertemukan satu musim kemarau dengan musim kemarau berikutnya. Kehilangan banyak hal. termasuk senyum, selama bertahun-tahun berikutnya. Maka. Oh, ini tak bisa dibiarkan. Meninggalkanmu terkungkung dalam putihnya kesakitan. Aku tak rela. Setiap yang hidup berhak untuk mengenyam kebahagiaan. Setiap tubuh berhak untuk merasakan yang namanya bebas dari kesakitan. Setiap yang hidup berhak untuk berlari, tertawa, bercerita, dan bercinta. Setiap yang hidup, berhak untuk merasakan hidup.

Melihatmu di sana. Di ruang putih itu. Hidupku retak. Tak ada lagi rima pembentuk harmoni. Tak ada lagi musik yang menandak nyaring. Maka Tubuhku mulai memberontak. Tubuh, tak seharusnya diam saja dan mengalah pada kesakitan dalam bentuk apapun. Hidup, tak boleh mengalah pada putih yang penuh dengki, katanya ngeyel. Seberapapun gigih akal sehatku menahannya. Hey, idiot, memangnya tubuh yang tergeletak itu milikmukah? Namun tubuh yang esensi ini mulai mengambil keputusannya sendiri. Hanya ia sendiri yang paling tahu apa yang dibutuhkannya. Tidak! Ini revolusi! katanya. Putih itu. Aku, musti mengotorinya, untuknya…

Maka aku mulai menjalankan obsesi tubuhku. Mengotori putih yang menguasai tubuhmu. Kuingat awalnya kau hanya diam. Hanya menelengkan kepala mendapatiku mulai dengan berani, mengotori ruang itu dengan memasang matahari sekuning nenas, di sudut paling jauh. Dalam perbincangan kita, ruang itu mulai berubah. Putih yang diam-diam kuberi pepohonan: pinus, cemara, trembesi, yang kemudian sambil senyum-senyum mulai kau tanami rerumputan: rumput gajah, rumput teki, tanaman menjalar. Lalu bunga-bunga. Lalu hewan-hewan kecil di habitatnya: kupu-kupu, kadal, kelinci, semut, ulat bulu. Di plafonnya yang kusam kutebarkan awan kelabu dan aneka burung. Tak lupa juga sungai dan telaga. Hingga kemudian perlahan di dalam ruang putih itu kita menemukan pegunungan, pedesaan. Aku teringat seseorang pernah berkata, “Bernafaslah selembut aliran air, hembuskan semerdu kepak sayap merpati, dan tegakkan punggungmu setegar kayu, mengayunlah senada warna, maka kau akan mampu mendengar petuah semesta”, kataku. Kulihat matamu sedikit menggenang. Menatapku dengan sayup. Kau tersenyum manis. Dan dadaku gemerincing.

Malam makin tua. Tenggelam dalam perbincangan, makin bersemangat pula kau dan aku, menjadikan ruang itu hiruk-pikuk: Jalan raya, rumah-rumah, tiang-tiang listrik. Dan di malam hari, kita pasang lampu-lampu. Ya, lampu-lampu. Warna-warni. Kau malu-malu mengatakan ingin banyak tersenyum, aku ingin membuatmu lebih banyak tertawa. Ya, kita tengah membuat Pasar Malam. Sirkus, peramal, badut-badut lucu. Gajah-gajah pintar. Pemain akrobat. Kemudian aku mulai memainkan tamborin, dan semua orang menari berkeliling. Irama tamborin membuatmu menyanyi, dan kita semua tertawa. Kita tak lagi sendirian, sayang. Malam itu, ruang penuh selang saling-silang itu pun menjelma kota. Kota warna-warni.

 

/Cring!/

——————

 

Tak ada, yang namanya kebebasan itu. Selalu ada batas-batas. maka mari menarikannya. Dan nikmati keterbatasan itu. Bisa! kataku. Kau tertawa. Dan dadaku, gemerincing.

Namun malam itu mendadak kau tersentak, tak mampu bernapas. Kedua tanganmu mencekal seprei hingga jemarimu berbuku-buku putih, paru-parumu mengejar udara yang seolah pergi dari ruangan. “Serangan dini”, erangmu, lalu pingsan. Nafasmu hilang. Aku bingung musti bagaimana. Kupanggil-panggil namamu, kau bergeming. Seolah kulihat bayanganmu melayang keluar dari tubuhmu. Tidak, jangan pergi, kembali! Aku menjerit, berteriak memanggil suster. Suara kaki berlarian memecah kesunyian malam. Perintah-perintah tertahan penuh cemas. “Sudah kuperingatkan kau tak boleh membuatnya bersemangat!” kakakmu memarahiku, mengusirku dari ruangan kita. Mesin-mesin mengerikan di bawa masuk, melalui jendela kaca kulihat lebih banyak lagi suntikan. Dentum alat pacu jantung memukul dadamu. Tubuhmu terpental-pental tak berdaya. Satu kali. Dua kali. Tiga. Mesin-mesin itu pun berusaha memanggilmu kembali. Keluargamu saling berpelukan, berdoa agar engkau bisa kembali, semua berkumpul di dekat pintu yang tertutup, rapat seperti mulutku yang terkatup.

Lima menit. Sepuluh, lima belas menit. Tiba-tiba pintu terbuka. mereka dengan ribut mendorong brankar dengan mukamu dibekap oksigen. Membawamu pergi. Operasi. “Jantungnya bocor lagi. Berdoalah,” seorang suster menepuk bahuku sebelum berlalu. Suara gesekan ubin dengan roda-roda besi brankar itu keras membahana di lorong rumah sakit yang sepi, menyayat habis gendang telingaku.

Seratus lima puluh lima menit dua puluh satu detik kemudian. Badai meninggalkan kesunyian yang seru. Tinggal aku sendiri, mengelus pipimu yang pucat. Bibirmu tipis kelabu. Matamu pejam. Aku tak mengerti, sayang, apa yang terjadi dengan tubuhmu. Selang-selang saling-silang itu mengapa masih ada di sana? Denyut ritmis mesin di sebelahmu itu masih juga mengawasi detak jantungmu. Seharusnya begitu putih itu telah hilang, maka kau pun sehat kembali. Seharusnya dengan adanya kota yang telah kita bangun dengan hingar ini, maka kau akan mulai berlari. Seharusnya ketika kau mulai menyanyi dan tertawa maka kehidupan telah berhasil kita rebut. Seharusnya. “Kembalilah!”, erangku meledak di dada. Matamu perlahan membuka. Kesakitan yang pekat kembali meruah dari sana. Membual-bual. Namun kau tersenyum.

Hatiku karam.

——————

 

Suara tamborin bergetar di deru angin. Bersama genangan kenang yang lekat di mataku. Kata-katamu masih mengiang. Sambil mengelus rambutku lalu mengacaunya kembali, dan mengelusnya kembali, saat aku tumbang putus asa, terduduk di lantai dan menangis di telapak tanganmu yang indah, namun tipis tembus pandang, katamu,

“Ya, kau akan kembali ke kota ini. Di hari wisudamu.”

“Benarkah?”

“Ya! di sore seperti ini. Dan aku akan menyambut kepulanganmu dengan menyanyi dan menarikan tarian tamborin, lengkap dengan lonceng kecil diikat di pergelangan kaki; cring, cring, cring..”, bisikmu.

“Tak perlu, kau nanti lelah!”, protesku panik.

“Tidak tidak. Aku harus! Itu perlambang, bahwa kelincahanmu, memahami kehidupan, memaknai luka, telah sempurna!”, tegasmu pula. Meski tak begitu memahaminya, saat itu aku hanya tersenyum. Tak lagi mengiyakan ataupun protes.

Seandainya saja kau bisa melihat dirimu sendiri saat itu, sayang. Dengan mata dan pipi cekung itu, kau begitu ceria. Terlalu ceria. Hanya itu yang mampu kutangkap, yang terekam dalam ingatan. Waktu itu aku terlalu sibuk, menggeram menahan luh yang mengancam jatuh. Keceriaan yang kau jejalkan di telingaku gagal menipu mataku dari temuannya pada wajah pias dan tubuh mengkerut di ranjang putih itu. Ah putih itu. Aku menggeram diam-diam. tangan terkepal hingga bergetar. Lalu. mata itu. Matamu, sayang. Jendela jiwa. Dan yg kulihat, kesakitan yg pekat.

Sungkur ini, betapa tidak untuk kau lihat, sayang. Begitulah pikirku ketika tiba-tiba berdiri dan pamit.

Luka, terdengar mengambang di kata “iya” mu yg terpenggal.

—————–

 

Langit sore buram. Pepohonan, jalan setapak, semua buram. Aku tegak terpaku di tanah basah. Mataku terus menancap di sebuah batu nisan putih. Buram. Lalu ke selembar kertas putih dengan beberapa baris tulisan tanganmu. Dan selembar foto hitam putih, seorang gadis berpipi cekung sedang melenggok menari, matanya tertawa, sebuah tamborin di genggaman. Noda basah membentuk bola-bola. Melukai tulisan di dalamnya. Buram.

“Jakarta, Dua belas bulan tepat sejak kau pergi.

Selamat datang kembali sayang, aku tahu kau telah memenangkannya. Maaf aku tak bisa menghadiri wisudamu. Kau pasti tampak gagah dengan Toga di kepala. Namun aku memenuhi janjiku untuk menari untukmu. Sayang, akhir-akhir ini aku begitu memikirkannya. Tenggelam. Sebuah kata yang terdengar mengerikan. Namun sesungguhnya? Sensasi. Itu kata yang pertama kali melintas di kepalaku saat aku perlahan menyadari arti dan makna dari kata tenggelam. Tenggelam adalah ketika kau sedang. Dalam rangka. Gambaran situasinya adalah seperti air yang menetes sebutir dari kran dan saat meluncurnya kau buat beku di tengah jalan.

Kau membarikade kepulangannya dipelukan dasar wastafel yang licin dan putih. Pecah yang dinantikan. Posisi melayang. Atau lagu yang dipangkas menjelang coda. Hening yang ditunggui. Ini adalah ketika kita hilang dari keramaian dunia. Jika kita telah ditemukan, maka makna dari kata tenggelam itu menguap. Gugur. Kau ingin tahu bagaimana sensasi rasanya tenggelam? Mungkin ‘seperti’ bisa dikatakan sebagai penggambaran yang paling mendekati sensasi dari tenggelam. Tetapi tidak pernah lebih mendekati. Kita hanya bisa memetaforakannya. Misalnya seperti masuk ke dunia lain. Seperti mabuk. Seperti tercekik. Tercekam. Sakauw. Fatamorgana. Kota warna-warni. Dunia baru. Surga. Sebut saja semuanya. Sedikit membantu. Tetapi tak pernah lebih mendekati. Tak pernah.

Dan, tenggelam. Itu yang terjadi setiap kali membacamu, sayang. Orang yang tenggelam memang mustinya ditolong. Ia bisa mati. Tetapi jangan. Kali ini, aku tak ingin diselamatkan. Aku lebih suka begini. Tenggelam, dan menjadi tamborin di dadamu.”

Aku pulang. Seperti yang kau bilang. Ya, dan kau menyambutku. Terima kasih. Terima kasih. Indah, tarianmu, nyanyianmu, indah sekali..

Lalu berkeping besi bundar pipih di dadaku mulai resah bertabrakan.

tambourine-man

Hey! Mr Tambourine Man, play a song for me

I’m not sleepy and there is no place I’m going to

Hey ! Mr Tambourine Man, play a song for me

In the jingle jangle morning I’ll come followin’ you.

Though I know that evenin’s empire has returned into sand

Vanished from my hand

Left me blindly here to stand but still not sleeping

My weariness amazes me, I’m branded on my feet

I have no one to meet

And the ancient empty street’s too dead for dreaming.. (*

 

———————

pratiwi setyaningrum, 10 Nopember 2011

*) Bob Dylan-Mr.Tambourine Man – versi akustik

 

2 Comments to "Mr. Tambourine Man"

  1. Dj. 813  19 April, 2014 at 22:27

    Doea…
    Mr. Tamborin Man….

  2. djasMerahputih  19 April, 2014 at 20:06

    Satoe: Tamborin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.